Kita Semua Berbakat dalam Matematika, Penelitian Ilmu Syaraf Membuktikannya

Artikel ini membahas bagaimana penelitian ilmu saraf mengubah cara kita mempelajari matematika di masa depan dan mengungkapkan bahwa semua orang pada hakikatnya berbakat dalam matematika

Artikel ini disadur dari tulisan Jo Boaler (Profesor Pendidikan Matematika Universitas Standford) yang berjudul The Myth of Being ‘Bad’ at Math

Kemajuan dalam ilmu syaraf merevolusi pendekatan kita terhadap pendidikan, dan kemajuan tersebut memiliki dampak yang sangat penting dalam cara seorang pendidik mengajar matematika. Kemajuan ini menantang asumsi dasar kita tentang matematika, asumsi yang membuat pelajar tidak mau mendalami matematika.

Asumsi yang paling populer dan paling merusak adalah bahwa beberapa orang berbakat dalam bidang matematika sedangkan yang lain tidak berbakat dalam matematika.

Orangtua mempercayainya, beberapa guru mempercayainya, dan akibatnya para pelajar juga mempercayainya. Untungnya, bukti penelitian yang melawan asumsi berbahaya ini banyak sekali, berkat penemuan terbaru dalam ilmu syaraf tentang plastisitas otak manusia.

Jika Anda ke London kemudian naik taksi “Black Cabs”, Anda mungkin tidak tahu seberapa hebatnya kemampuan sang pengemudi. Ternyata untuk menjadi sopir taksi di London, Anda harus belajar selama dua sampai empat tahun. Di akhir masa pendidikan, Anda akan melakukan tes dengan sebutan yang keren, “The Knowledge” yang menguji apakah Anda telah mengenal 25.000 jalan dan 20.000 tempat di London atau tidak.  Dalam kasus ini ilmuwan syaraf telah menemukan, bahwa masa pendidikan 2 sampai 4 tahun tersebut secara signifikan memperluas hippocampus pengemudi, bagian khusus otak yang menyimpan informasi spasial (ruang). Saat pengemudi berhenti bekerja atau pensiun, ternyata hippocampus mereka menyusut lagi. Sebelumnya ilmuan tidak pernah tahu bahwa otak itu ternyata bersifat fleksibel.

Beberapa saat setelah penelitian tersebut dipublikasikan, ada gadis berusia sembilan tahun yang harus dibuang separuh otaknya (belahan di otak ada 2, pada gadis ini dibuang salah 1 belahannya). Pembuangan tersebut dilakukan karena gadis tersebut mengalami kejang yang tidak dapat dikendalikan oleh dokter. Para dokter dan ilmuwan menyangka bahwa dia akan lumpuh seumur hidup, karena belahan otak mengendalikan keseluruhan gerakan bagian tubuh pada bagian yang berlawanan (otak sebelah kiri mengendalikan gerak tubuh bagian kanan seperti tangan kanan, kaki kanan, dan sebaliknya). Namun secara mengejutkan ternyata belahan otak yang tersisa dapat menumbuhkan belahan otak yang tidak ada (yang telah dibuang). Kemudian terjadi sambungan antara sel-sel syaraf (sinapsis) otak yang begitu cepat sehingga dalam beberapa bulan, gadis tersebut dapat berlari dan bermain lagi.

Penelitian lain yang sangat penting bagi pendidik adalah program pelatihan tiga minggu, di mana orang yang beraktivitas selama 10 menit sehari selama tiga minggu dapat mengubah struktur permanen otak mereka. Contoh seperti ini menunjukkan bahwa banyak batasan yang ditujukan pada kapasitas diri kita itu sebenarnya terlalu dipaksakan.

Setiap anak dan siswa itu berbakat dalam matematika hingga kalkulus. Namun mengapa banyak sekali siswa yang merasa tidak berbakat dalam matematika sehingga menyimpulkan bahwa dirinya tidak cocok mempelajari matematika?

Jawaban yang sederhana adalah bahwa pendidik tidak mengajar matematika dengan cara yang benar, secara konseptual maupun filosofis. Sekolah terus menerus memilih siapa yang mahir dalam matematika – dan siapa yang tidak – pada usia yang sangat muda, sehingga menyebabkan terjadi pembagian kelompok siapa yang berbakat dalam matematika dan siapa yang tidak. Hal seperti ini harus segera dirubah.

Mitos lain yang juga sangat penting untuk dihadapi adalah gagasan tentang “dinding” dalam matematika. Menurut mitos populer ini, Anda bisa mengikuti dan mengambil semua kelas matematika yang Anda sukai sampai Anda menyentuh dinding Anda sendiri, dan kemudian Anda tidak bisa melangkah lebih jauh karena ada dinding tersebut. Faktanya: Tidak ada “dinding” dalam mempelajari matematika.

Carol Dweck menulis sebuah buku pada tahun 2006 yang memberikan dampak besar bagi pelajar. Buku tersebut didasarkan pada banyak sekali hasil penelitian, dan dalam buku tersebut diungkap bahwa setiap orang memiliki satu dari dua pola pikir. Orang dengan pola pikir berkembang (growth mindset) percaya bahwa semakin giat Anda belajar maka Anda akan semakin cerdas; Orang dengan pola pikir tetap (fixed mindset) percaya bahwa dirinya tetap, yakni pintar atau tidak, dan menurut orang dengan fixed mindset orang pintar tidak akan bodoh dan orang bodoh tidak akan menjadi pintar. Sekitar separuh orang di Amerika memiliki pola pikir tetap, dan separuh lainnya memiliki pola pikir berkembang. Ironisnya, lebih banyak orang yang memiliki pola pikir tetap tentang matematika daripada pelajaran lainnya. Carol menemukan bahwa pelajar dengan pola pikir berkembang telah berprestasi lebih banyak. Mereka dapat mencapai beraneka prestasi karena pola pikir berkembang sejalan dengan perilaku tertentu seperti lebih gigih dan lebih bersedia untuk belajar dari kesalahan.

Perbedaan Growth Mindset dan Fixed Mindset

Cara orang tua memuji anaknya membantu menentukan pola pikir mana yang akan anak pilih. Ini sangat penting bagi orang tua; orang tua harus mengubah cara berbicara dengan anak-anaknya sendiri. Anak-anak mendapatkan pola pikir tetap dari pujian yang salah. Saat kita memuji anak-anak karena pintar, mereka berpikir, oh bagus, aku pintar; Dan kemudian, ketika mereka salah karena mengikuti cara mereka sendiri, mereka berpikir, oh, ternyata saya tidak begitu pintar. Oleh karena itu, sangat penting untuk tidak memuji anak karena kondisi atau sifatnya, tapi hanya memuji untuk apa yang tekah mereka lakukan. Tidak apa-apa untuk mengatakan, “Ayah senang sekali kamu mempelajari itu Nak,” tapi tidak dengan, “Nak, kamu sangat pintar.”

Tim Program Penilaian Siswa Internasional (PISA, Programme for International Student Assessment) telah mengumpulkan banyak data tentang bagaimana siswa mempelajari matematika, keyakinan mereka tentang matematika, dan bagaimana hal itu berkaitan dengan prestasi mereka. Salah satu temuan besar adalah bahwa pelajar dengan pencapaian terendah di bidang matematika adalah mereka yang menghafal matematika. Pelajar dengan prestasi tertinggi adalah mereka yang melihat matematika sebagai sesuatu yang sangat menarik dan memiliki manfaat yang besar. Pelajar yang berprestasi tersebut, kebetulan juga tidak takut melakukan kesalahan dalam belajar matematika.

Kita sekarang tahu bahwa ternyata membuat kesalahan dalam matematika dapat menumbuhkan otak. Hasil scan MRI pada orang yang mengambil tes matematika mengungkap bahwa setiap kali pengambil tes membuat kesalahan, sebuah sinaps (bagian sel syaraf) menyala di otak mereka. Sebenarnya ada dua sinapsis yang mungkin; yang pertama berasal dari orang-orang yang membuat kesalahan, dan yang kedua datang dari pemberitahuan bahwa mereka telah melakukan kesalahan.

Ini berarti pendidik butuh agar pelajar di kelas matematika untuk mengerjakan soal yang lebih menantang, dan membuat lebih banyak kesalahan. Sayangnya, sebagian besar kelas matematika di Amerika disiapkan sedemikian rupa sehingga anak-anak harus mendapatkan jawaban matematika dengan benar. Pendidik ingin siswanya mendapatkan jawaban harus dalam bentuk benar, tapi ternyata hal ini tidak baik untuk siswa. Siswa butuh melakukan kesalahan dan berjuang memperbaiki kesalahannya.

Selain itu, untuk menguasai matematika maka pelajar harus berpacu dengan waktu. Ini adalah hal penting lainnya yang ilmuwan syaraf memberitahu kita: Matematika tidak boleh dikaitkan dengan kecepatan belajar.

Sebenarnya kita tahu bahwa ujian matematika yang berdurasi waktu menyebabkan banyak kecemasan yang dirasakan oleh siswa, bahkan sebelum ujian itu dimulai. Adalah fakta bahwa informasi matematika disimpan di bagian memori kerja (working-memory section) pada otak, dan bila seseorang mengalami stres maka ingatannya terhambat. Seorang ahli matematika (matematikawan) tidak harus cepat dalam matematika. Sebenarnya beberapa matematikawan terbesar tidak cepat sama sekali; Mereka menyelesaikan persoalan matematika secara perlahan-lahan dan dalam.

Salah satu contoh dari Matematikawan terbesar yang lamban dalam matematika adalah Laurent Schwartz. Beliau merasa bodoh di sekolah karena paling lambat mengerjakan soal matematika di kelasnya. Namun ternyata beliau berhasil memenangkan Fields Medal (penghargaan akademik tertinggi dalam bidang bidang matematika). Dalam otobiografinya, beliau menulis:

“Hingga kelas XI SMA, saya menganggap diri saya bodoh, dan saya khawatir tentang kebodohan itu dalam waktu yang lama. Saya masih sama lambannya. Menjelang akhir kelas XI, saya sampai pada kesimpulan bahwa kecepatan tidak ada hubungannya dengan kecerdasan. Yang paling penting adalah pemahaman yang mendalam dan mengetahui hubungan diantara satu dengan yang lain dalam mempelajari sesuatu”

Pendidik harus mampu memisah matematika dengan kecepatan belajar dan pengerjaan soal di kelas. Serta berhenti mengatakan anak-anak yang berpikir pelan bahwa mereka tidak berbakat dalam matematika atau tidak bisa belajar matematika.

Guru dan orang tua harus menyampaikan pesan yang benar. Itu sangat penting. Kita tahu bahwa ketika seorang ibu memberi tahu anak perempuannya bahwa anaknya tidak mahir atau tidak berbakat dalam matematika di sekolah, prestasi putri perempuan mereka dalam matematika akan turun. Guru bisa sama mengecilkan hati bahkan saat mereka mencoba membantu dengan mengatakan hal-hal seperti, “Jangan khawatir, matematika bukanlah bidangmu”. Tapi orang tua dan guru juga bisa sangat memotivasi, bahkan dengan sedikit usaha. Sebuah studi eksperimental terbaru menunjukkan fakta menarik ini. Dua kelompok di kelas bahasa Inggris tingkat SMA menerima hasil koreksi pada karangan bahasa Inggris yang mereka buat. Guru bahasa Inggris tersebut menambahkan satu kalimat tambahan ke salah satu kelompok. Apa yang guru tersebut temukan adalah bahwa anak-anak yang mendapat satu tambahan kalimat maka lebih berprestasi setahun kemudian. Kalimat yang guru tersebut tambahkan adalah : “Saya memberi Anda koreksi ini karena saya percaya pada kemampuan Anda.”

Pendidik perlu menunjukkan kepada siswa bahwa pendidik percaya pada kemampuan siswa, pendidik perlu memberi siswa kesempatan untuk gagal dan berjuang, pendidik perlu mengkomunikasikan kepada siswa bahwa kesalahan dan perjuangan itu baik, dan pendidik perlu berhenti menentukan siapa yang bisa dan siapa yang tidak bisa mengerjakan soal matematika, termasuk siapa yang berbakat dan siapa yang tidak berbakat dalam matematika.

Perubahan seperti itu akan menghasilkan hasil yang sangat mengesankan di kelas matematika, di mana ada jurang yang begitu luas antara apa yang dipikirkan siswa tentang apa yang dapat mereka lakukan dan kemampuan mereka sebenarnya.

Baca artikel menarik lainnya: Cara Mengukur Kedalaman Sumur atau Jurang Hanya Dengan Batu dan Stopwatch

Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Nur Abdillah Siddiq

Nur Abdillah Siddiq

Mahasiswa S3 Fisika ITS, menekuni bidang Optoelektronik dan Elektromagnetika Terapan. Sangat mencintai aktivitas membaca dan mendesain. Profil lebih lengkap dapat dilihat di www.facebook.com/fisrek

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar