Kupas Tuntas Biopolimer

Polimer adalah material yang dibentuk oleh satuan struktur berupa monomer yang berulang. Polimer dibuat berasal dari sintetis, semisintesis, dan polimer yang tersedia di alam atau alami. Polimer sintesis adalah polimer yang banyak dan umum digunakan, namun permasalahan muncul berkaitan dengan produk habis pakai (limbah) maupun dengan sumber bahan baku untuk sintesis polimer itu sendiri. Limbah polimer sintesis menimbulkan pencemaran lingkungan yang sulit diurai, sedangkan bahan baku polimer sintesis berasal dari minyak bumi yang merupakan sumber tak terbarukan yang dapat habis sewaktu-waktu. Maka dari itu, banyak aplikasi dan penelitian tentang polimer beralih pada polimer alami.

Polimer alami atau disebut juga sebagai biopolimer adalah material polimer yang berasal dari alam. Biopolimer dapat digolongkan ke dalam dua jenis, yaitu:

  • Polimer yang diproduksi oleh sistem biologi seperti oleh hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme
  • Polimer yang disintesis secara kimia tetapi merupakan turunan dari senyawa alami yang diproduksi oleh sistem biologi seperti gula dan asam amino (Allan, 1993).

Polimer pada Tabel 1 merupakan beberapa contoh polimer yang diproduksi oleh sistem biologi yang terbentuk dari struktur monomer biokimia yang mempunyai fungsi untuk menjalankan fungsi kehidupan bagi makhluk hidup.

Polimer alami salah satu contohnya adalah pati, yang merupakan bentuk polimer sebagai penyimpan energi. Pati termasuk dalam jenis polisakarida dan merupakan kopolimer yang tersusun atas dua jenis unit penyusun yang berbeda, yaitu amilose dan amilopektin yang bisa dipisahkan menurut kelarutan.

Tabel 1 Contoh Bentuk Biopolimer


Polimer Monomer Bentuk dan Fungsi
Asam nukleat Nukleotida RNA dan DNA (pembawa informasi genetik pada organisme)
Protein Asam amino-alfa Enzim (katalis biologis), rambut dan jaringan (material struktural dan faktor pertumbuhan), racun (alat pertahanan pada organisme berbisa)
Polisakarida Gula Selulosa dan kitin (material struktural), pati (penyimpan energi)
Polihidroksi

Alkanoat

Asam lemak Penyimpan energi

Amilosa memiliki berat molekul 30.000 sampai 1 juta yang berarti memiliki DP 295 sampai 9804, sedangkan amilopektin memiliki berat molekul diatas 1 juta yang berarti memiliki DP minimum sebesar 3610, namun tentu masih dibawah polimer sintesis. Derajat polimerisasi ini termasuk bernilai kecil, bila dibandingkan dengan polietilen. Dengan berat molekul terendah 100.000 dan tertinggi hingga 6.000.000, DP yang dimiliki polietilen mencapai 3572 hingga 214.286. Harga ini masih jauh diatas DP selulosa yang mempunyai DP yang cukup besar diantara polimer alami hingga 15.000 (Stevens, 2001). Kecilnya DP mengindikasikan bahwa polimer alami mempunyai rantai yang pendek. Pendeknya rantai ikatan ini menjadikan kelemahan bagi polimer alami dalam hal ketahan (durabilitas), namun menjadikan kebihan dalam hal mampu urai (degradabilitas), dimana semakin rendah berat molekul dan derajat polimerisasi, maka polimer akan semakin cepat terdegradasi.

Tombol ajaib ini akan mengirimkan artikel Warung Sains Teknologi ke beranda Facebook Anda:


(klik tombol diatas)

Artikel yang berhubungan:

Warstek.com disponsori oleh:

     
Nur Abdillah Siddiq

Nur Abdillah Siddiq

Mahasiswa S3 Fisika ITS, menekuni bidang Optoelektronik dan Elektromagnetika Terapan. Sangat mencintai aktivitas membaca dan mendesain. Profil lebih lengkap dapat dilihat di www.facebook.com/fisrek

Ajukan Pertanyaaan atau Komentar