Aturan 20 Jam – Bagaimana Menguasai Sesuatu, Apapun Itu

master-your-strength-quote

The major barrier to skill acquisition isn’t intellectual… it’s emotional.
Josh Kaufman

Rintangan utama dalam menguasai suatu keterampilan/keahlian baru bukanlah terletak pada keterbatasan intelektual….Tetapi semata-mata karena menyangkut perasaan
Josh Kaufman

 

 

 

 

Di era Internet of Things (IoT) saat ini, informasi dapat sangat cepat bergerak dari satu ujung dunia ke ujung dunia lainnya. Kita seakan-akan tidak memiliki waktu untuk mempelajari informasi baru dari arus informasi yang tidak dapat dibendung. Oleh karena itu, hal yang paling penting untuk dipelajari dan dikuasai adalah “teknik belajar cepat“. Bagaimana kita dapat mempelajari hal yang baru, menguasainya, dan menjadi ahli, tentu dengan proses yang cepat, se-efisien, dan se-efektif mungkin.

Sekalipun kita fokus di suatu bidang, misalkan di bidang kimia organik, setiap harinya telah disintesis senyawa kimia baru yang lebih sempurna dibanding sebelumnya. Senyawa kimia organik yang mungkin dulu kita kenal efektif untuk mengobati suatu penyakit, sekarang sudah ada senyawa kimia baru yang jauh lebih efektif lagi, dengan struktur kimia yang berbeda, dengan perlakuan yang berbeda, dan dengan metode sintesis yang berbeda.

Pada artikel ini akan dibahas mengenai “bagaimana belajar dan menguasai suatu hal baru, apapun itu, dengan teknik praktek selama 20 jam”. Artikel ini didasarkan pada penelitian Josh Kaufman yang dipresenasikan pada TEDx. John Kaufman adalah penulis dari buku bestseller internasional no 1 yang berjudul “The Personal MBA: master the Art of business” dan juga “The First 20 Hours; mastering the Toughest Part of Learning Anything”, selain itu beliau juga adalah seorang guru yoga.

Umumnya penelitian-penelitian tentang bagaimana menguasai sesuatu menyebutkan bahwa untuk dapat menguasai suatu keahlian baru dibutuhkan sekitar 10.000 jam. Teknik ini terkenal sebagai “aturan 10.000 jam”. Jadi jika kita ingin mempelajari sesuatu, menguasai hal tersebut, dan menjadi ahli, sehingga dapat menjadi orang top di bidang yang kita kuasai, dibutuhkan waktu selama 10.000 jam. Namun pertanyaannya, apakah saat ini kita memiliki waktu 10.000 jam? Apakah kita tidak terlambat untuk memulainya di usia ke sekian dengan konsekuensi fokus di 10.000 jam terdepan? 10.000 jam setara dengan jam kerja (8 jam sehari) selama 5 tahun. Setelah mengetahui fakta yang didasarkan pada penelitian ini, biasanya banyak orang yang ciut nyalinya, “Saya tidak akan bisa mempelajari dan menguasai hal baru lagi”.

Aturan 10.000 jam didasarkan atas penelitian pada orang-orang yang ahli dan top dibidangnya, dilakukan oleh Profesor di Universitas Florida, K. Anders Ericsson. Profesor Ericsson meneliti atlet profesional, musisi tingkat dunia, master catur, dan ahli-ahli top dunia lainnya, tentang berapa lama waktu yang mereka butuhkan sampai bisa menjadi ahli. Yang Profesor Ericsson temukan adalah dengan semakin keras berlatih, dengan semakin lama berlatih, maka semakin baik kemampuan orang tersebut dalam bidang yang hendak dikuasainya, dan dibutuhkan waktu sekitar 10.000 jam untuk mencapai hal itu. Aturan 10.000 jam tersebut didukung oleh penulis terkenal tingkat dunia lainnya, yakni Malcolm Gladwell , dalam bukunya yang berjudul “Outliers:The Story of Success” . Terdapat bab khusus dalam buku tersebut yang menjelaskan mengenai aturan 10.000 jam. Berlatih dengan keras, berlatih dengan lama, dan kamu akan menjadi ahli, menempati posisi puncak di bidang yang kamu kuasai.

Pesan sebenarnya yang disampaikan oleh Prof. Ericsson adalah dibutuhkan waktu 10.000 jam untuk berada di puncak bidang yang sangat kompetitif (banyak pesaing), pada bidang yang sangat khusus. Kemudian setelah buku “The Outliers” diterbitkan tiba-tiba aturan 10.000 jam itu menjadi pakem untuk mempelajari suatu hal hingga menguasai. Jadi pesan yang awalnya dibutuhkan waktu 10.000 jam untuk menguasai bidang yang sangat kompetitif, menjadi 10.000 jam untuk menjadi ahli di suatu hal, menjadi 10.000 jam untuk menjadi bisa, menjadi 10.000 jam untuk mempelajari suatu hal.

Baca juga:
c
Grafik pengaruh waktu terhadap kemampuan seseorang
  • Sebenarnya, berapa lama waktu yang dibutuhkan dari belajar sesuatu yang tidak tahu sama sekali hingga dapat menguasai hal tersebut?
  • Ingin menguasai bahasa baru?
  • Ingin menguasai teknik menggambar?
  • Ingin menguasai teknik memasak?
  • Atau ingin menguasai apapun itu?

Hanya 20 jam.

Definisi menguasai yang dimaksud disini adalah dapat melakukan sesuatu dengan baik.
Nyatanya dibutuhkan 20 jam saja, yakni dengan fokus, berlatih dengan sungguh-sungguh untuk menerapkan apa yang dipelajari, kemudian kita akan terkejut, bahwa 20 jam kita bisa melakukan dengan baik apa yang telah kita pelajari. Jadi dengan belajar dan latihan selama 20 jam, maka kita dapat menguasai hal yang baru.

20 jam adalah 45 menit sehari selama 1 bulan. 20 jam tidaklah susah untuk dilakukan. Namun, 20 jam tersebut tidaklah dilakukan secara sembarangan. Terdapat 4 langkah mudah dan cerdas untuk menguasai sesuatu selama 20 jam;

1. Memecah keahlian yang hendak dikuasai menjadi keahlian-keahlian yang lebih kecil

Tentukan dengan tepat apa yang kita ingin kuasai ketika telah selesai belajar dan berlatih. Lihatlah keahlian tersebut, pecah menjadi potongan-potongan kecil, keahlian yang lebih kecil. Beberapa hal yang kita anggap suatu keahlian pada dasarnya adalah kumpulan dari beberapa keahlian, yang membutuhkan usaha dan waktu yang berbeda. Semakin kita dapat memecah keahlian tersebut, semakin besar kemampuan kita untuk menentukan apa bagian dari keahlian itu yang dapat membantu saya dalam mengekspresikan diri? Setelah kita bisa memecah keahlian-keahlian kecil, maka pelajari keahlian kecil yang paling penting pertama kali, terus sedikit demi sedikit, hingga dapat menguasai suatu keahlian secara penuh dan utuh.

2. Belajar dengan mengevaluasi diri sendiri

Dalam mempelajari sesuatu, dapatkan 3 hingga 5 sumber tentang apa yang ingin dipelajari, dapat berupa buku, CD, kursus, dapat berupa apapun itu. Tetapi jangan jadikan alat tersebut untuk menunda berlatih. Tidak cukup hanya belajar saja, melainkan juga harus latihan. Contohnya, anda telah mengumpulkan 20 sumber yang berupa buku tentang programming, kemudian anda berkata “Saya akan mulai belajar tentang programming ketika saya telah selesai membaca 20 buku”. Itu adalah penundaan. Yang harus kita lakukan adalah belajar dengan cukup kemudian dilatih, kemudian dievaluasi apa proses yang masih salah dari latihan tadi. Jadi belajar merupakan cara efektif untuk menjadi lebih baik, perhatikan ketika kita membuat kesalahan, evaluasi, kemudian kita melakukan sesuatu yang berbeda untuk memperbaiki sesuatu yang salah tersebut.

3. Buang penghalang untuk berlatih

Penghalang untuk berlatih dapat berupa televisi, internet, semua hal tersebut yang dapat mengganggu pada saat kita duduk, belajar, dan berlatih. Semakin kita bisa membuang penghalang dengan usaha yang tidak menguras tenaga, sehingga dapat membuat kita tetap berlatih, maka semakin mudah dan sering kita untuk duduk belajar dan berlatih bukan?

4. Jangan baper (bawa perasaan) ketika berproses menguasai suatu hal yang baru
Kebanyakan keahlian memiliki apa yang disebut dengan penghalang frurstasi. Jadi sebelum kita dapat menguasai sesuatu, kita akan melewati fase-fase frustasi, dan banyak sekali orang yang tidak dapat melalui penghalang ini. Ketika kita tahu bahwa kita masih bodoh dalam hal yang ingin kita kuasai padahal kita tidak suka terlihat bodoh, maka itu akan membuat kita frustasi. Takut ditertawai, dikritik, diejek, dan dihina orang karena terlihat bodoh adalah penghalang utama dari kita untuk menguasai sesuatu. Apapun yang hendak kita kuasai, pada dasarnya bukanlah penghalang intelektual, bukanlah susahnya proses belajar, tetapi adalah menyangkut perasaan, emosi. Kita takut, malu, dengan perasaan bodoh tidak melakukan sesuatu dengan baik dan benar. Lihat video motivasi berikut:

Ya, kita dapat menguasai sesuatu, apapun itu, selama 20 jam (saja) !

Sumber:

 

Baca juga:

Bagaimana Cara Efektif Belajar FISIKA?

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Nur Abdillah Siddiq

Nur Abdillah Siddiq

Mahasiswa S3 Fisika ITS, menekuni bidang Optoelektronik dan Elektromagnetika Terapan. Sangat mencintai aktivitas membaca dan mendesain. Profil lebih lengkap dapat dilihat di www.facebook.com/fisrek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *