Memanen Cabai Saat Musim Hujan

Ditulis oleh Fuad Hasan – Menanam cabai di musim hujan memerlukan teknik budidaya dan perawatan yan cukup intensif dibandingkan jika menanam cabai pada musim kemarau.  Menanam cabai pada musim hujan bukanlah musim yang ideal bagi budidaya cabai, sehingga biasanya menanam cabai pada musim hujan disebut sebagai bertanam cabai di luar musim (off season). Menanam cabai pada musim hujan akan menghadapi kendala cuaca yang tidak kondusif  bagi tumbuh kembangnya tanaman cabai secara normal. Musim hujan ditandai dengan curah hujan yang tinggi dan kelembaban yang tinggi. Beberapa hal akan memicu berkembangnya organisme pengganggu tanaman baik hama maupun penyakit tanaman sehingga risiko kegagalan  panennya menjadi lebih besar.

Walaupun demikian menanam cabai pada musim hujan mempunyai potensi untuk memperoleh keuntungan yang tinggi. Harga yang tinggi pada saat musim hujan menjadi incaran para petani. Kenaikan harga cabai pada saat musim hujan ini disebabkan suplai cabai menurun drastis karena pada saat musim hujan hanya sedikit yang mengusahakan tanaman cabai karena risiko kegagalanya sangat besar.

Curah hujan yang tinggi atau iklim yang basah tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman cabai. Pada keadaan tersebut tanaman akan mudah terserang penyakit, terutama yang disebabkan oleh cendawan, yang dapat menyebabkan bunga gugur dan buah membusuk. Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman cabai merah adalah sekitar 600-1200 mm per tahun.

Sinar matahari sangat diperlukan sejak pertumbuhan bibit hingga tanaman berproduksi. Namun demikian, tanaman cabai termasuk ke dalam kelompok tanaman C3 tidak menghendaki sinar matahari secara penuh. Tanaman dari kelompok C3 memiliki titik kompensasi cahaya rendah dan dibatasi oleh tingginya fotorespirasi. Oleh karena itu, peningkatan suhu dan intensitas cahaya matahari menyebabkan tanaman cabai merah tidak dapat tumbuh optimal.

Penggunaan greenhouse (rumah naungan) merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi intensitas cahaya matahari yang tinggi. Pada fase bibit, semua jenis tanaman tidak tahan terhadap intensitas cahaya matahari penuh. Pada tanaman kelompok C3 termasuk tanaman cabai, naungan tidak hanya diperlukan pada fase bibit, tetapi diperlukan juga sepanjang siklus hidup tanaman tersebut. Dampak penggunaan naungan terhadap iklim mikro antara lain:

  1. Intensitas cahaya matahari berkurang sebesar 30-40%
  2. Aliran udara di sekitar tajuk berkurang
  3. Kelembaban udara di sekitar tajuk lebih stabil (60-70%)
  4. Laju evapotranspirasi berkurang
  5. Terjadi keseimbangan antara ketersediaan air dengan tingkat transpirasi tanaman

Pada budidaya cabai merah, dapat membuat rumah naungan sederhana ialah bangunan yang terdiri atas rangka yang terbuat dari besi, kayu atau bambu dengan atap yang terbuat dari plastik UV. Struktur bangunan naungan harus dirancang sesuai dengan kondisi cuaca di Indonesia. Bahan plastik UV dapat memantulkan sinar matahri langsung yang mengarah ke rumah naungan yang dapat mengurangi intensitas cahaya pada tanaman cabai.

Misalnya, rumah naungan seluas 1000 m2 dengan ukuran 40m x 25m. Rumah nanungan dengan luasan lebih dari 1.000 m2, jika terjadi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang membahayakan dapat mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Bangunan screenhouse merupakan bangunan semipermanen yang kerangkanya terbuat dari bambu.

Tiang dasar menggunakan pasak untuk menyambungkan bambu satu sama lain sehingga tidak mudah goyang. Tiang terdiri dari tiang utama, tiang ke-2,ke-3, dan tiang ke-4, palang dada, palang dinding, atap 1 dan atap 2, juga bentangan siku-siku yang menjadikan bangunan tersebut kuat. Tinggi tiang utama adalah 6,5 meter, tiang kedua 5,5 meter, tiang ketiga  4,5 meter, tinggi tiang keempat 3,5 meter. Jarak antar tiang adalah 3,5 meter.

Pemasangan dinding untuk rumah naungan perlu diperhatikan hati-hati. Pembuatan dinding rumah naungan ditujukan untuk mengatur sirkulasi udara. Tidak menjadi masalah jika rumah naungan tidak mempunyai dinding, atau hanya membuat atap saja. Pembuatan dinding pada rumah naungan bisa mengakibatkan terperangkapnya hama/penyakit yang justru akan membawa dampak negatif bagi pertumbuhan tanaman cabai jika sanitasi dalam rumah naungan tidak terjaga dengan baik.

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, mengantisipasi agar tanaman cabai selama musim hujan tidak terancam gagal.  Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan selama menanam cabai pada musim hujan,antara lain :

  1. Memperbaiki drainase di sekitar pertanaman

Air yang menggenang menjadi pemicu berkembangnya OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) baik hama maupun penyakit tanaman cabai. Memperbaiki saluran pembuangan air perlu dilakukan sehingga air mengalir dengan lancar.

  1. Mengatur tinggi bedengan

Membuat bedengan yang lebih tinggi akan mengurangi tingginya kelembaban tanah karena banyaknya air, pembuatan bedengan tanaman yang lebih tinggi daripada ketika menanam cabai di musim kemarau.  Tinggi bedengan bisa menjadi 60-70 cm yang biasanya hanya 50 cm.

  1. Mengatur jarak tanam yang lebih lebar

Untuk mengurangi kelembaban udara yang tinggi di sekitar pertanaman dan untuk memberikan keleluasaaan cahaya matahari masuk ke sekitar tanaman cabai, cabai ditanam dengan jarak tanam yang lebih lebar dengan pola zig zag/segitiga.  Beberapa petani yang sudah berpengalaman sering memakai pola ini dengan jarak tanam 60×70 cm, walalupun populasinya menjadi berkurang akan tetapi mempermudah pemeliharaan tanaman dan memberikan iklim mikro yang lebih baik bagi tanaman cabai.

  1. Menggunakan Mulsa Pulsa Hitam Perak

Pemakaian mulsa plastik hitam perak untuk mengntrol kelembaban tanah serta mengurangi penyebaran penyakit karena cipratan tanah yang terkena hujan yang kemungkinan mengandung bibit penyakit/patogen.

  1. Pemantauan perkembangan organisme pengganggu tanaman (OPT) secara intensif

Perkembangan OPT baik hama maupun penyakit sangat cepat pada musim hujan karena cuaca yang mendukung perkembanganya. Oleh karena mengatur pemantauan perkembangan OPT ini sejak awal untuk mengantisipasi dan mengendalikan OPT sejak awal secara intensif terpadu.

  1. Memperhatikan sanitasi sekitar pertanaman

Membersihkan areal pertanaman dari rerumputan liar, gulma atau tanaman lainya yang bisa menjadi inang/tempat hidup sementara bagi hama / penyakit.

  1. Penggunaan pestisida dengan perekat dan perata untuk efektifitas penggunaan pestisida

Pada musim hujan penggunaan pestisida untuk mengendalikan hama/penyakit harus lebih diefektifkan dengan menggunakan bahan perekat perata sehingga pestisida mempunyai daya lekat dan daya sebar yang lebih tinggi karena tidak mudah tercuci oleh air hujan dengan intensitas tinggi.  Bahan perekat perata yang biasa dipakai oleh petani antara lain Agristic, untuk bahan perekat perata lainya silahkan dipakai dengan rekomendasi petugas teknis atau penyuluh pertanian setempat.

  1. Penggunaan naungan plastik / paranet untuk pelindung tanaman.

Untuk mengurangi terpaan air hujan dengan intensitas tinggi, dapat menggunakan naungan dengan plastik atau paranet.  Naungan plastik bisa berbentuk rumah plastik sederhana (green house) maupun berbentuk naungan memanjang sepanjang bedengan tanaman.  Tentu harus diperhitungkan pembiayaanya sebelum menggunakan rumah plastik atau paranet ini.

Tentang penulis:

Fuad Hasan. Lahir di Pekalongan, 24 Oktober 1991. Merupakan alumni dari Universitas Jenderal Soedirman Fakultas Pertanian Program Studi Agribisnis, 2009-2014. Pernah menjadi Redaktur Pelaksana Majalah LPM Agrica (2011), Staf Bidang Ilmiah dan Pustaka Himpunan Mahasiswa Sosio Agro Ekonomika, dan Menteri Komunikasi dan Informasi
Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian. Terpilih menjadi Asisten Mata Kuliah Ilmu Usaha Tani selama 3 tahun berturut-turut. Penulis bisa dihubungi via e-mail: hasanfd24@gmail.com.

 

Baca juga Tak Disangka, Tanah Liat Bisa Digunakan untuk Mengolah Limbah Nuklir

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Warung Sains Teknologi

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri. Sampai saat ini, sains dan teknologi berkesan ekslusif yang hanya ada di laboratorium dan tidak mampu secara langsung berdampak kepada masyarakat. Akibatnya masyarakat, pemerintah dan industri tidak menjadikan sains sebagai sarana mengatasi permasalahan atau membuat kebijakan. Untuk itu, warstek hadir untuk menjawab tantangan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *