Penakluk Kuantum dari Ujung Timur Pulau Garam

persamaan schrodinger dan asas pertidaksamaan Heisenberg

Persamaan Schrodinger dan asas pertidaksamaan Heisenberg (beserta foto Heisenberg), dua persamaan fundamental dalam Mekanika Kuantum

“Bhuuk”, terdengar suara buku setebal 336 halaman terjatuh. Buku itu sudah lusuh, compang-camping di bagian ujung-ujungnya, bopeng-bopeng, kertasnya sudah berwarna agak kekuningan, sampulnya pun tak berbentuk sampul, tak karuan. Buku tersebut jatuh dari pegangan seorang pemuda di halaman parkir sepeda masjid Jami’ Sumenep. Seakan tak rela jika harus berpisah dengan buku lusuh tersebut, pemuda itu membawa kemanapun buku itu pergi, termasuk ketika sedang sholat. Dia berfikir bahwa membaca buku setelah selesai dzikir sholat akan menambah kemudahan dalam mempelajarinya. Dan buku itu tidak sengaja terjatuh, dengan penuh kasih sayang dia membersihkan permukaan buku yang menyentuh tanah dengan kibasan tangannya dan bahkan mengelap dengan sarungnya. Kini sang buku sudah mantap diletakkan di keranjang sepeda mini, pikirnya.

Buku itu begitu istimewa bagi dirinya, buku yang diyakininya dapat menjadi modal untuk memasuki “dunia baru”. Dunia kuantum. Disaat istilah kuantum begitu populer digunakan di masyarakat umum untuk membuat sesuatu tampak waw dan laris, istilah tersebut sangat dibenci oleh teman-temannya sejurusan Fisika, cukup banyak yang alergi dengan kata “kuantum”. Menurut teman-temannya, “kuantum” lah yang membuat wisuda mereka tertunda, “kuantum” lah yang membuat pening tidak tidur semalaman demi menghafal rumus sepanjang 1 baris, “kuantum” lah yang membuat malu karena kuliah berbarengan dengan adik tingkat, dan seterusnya, begitu banyak akibat-akibat mengerikan karena kuantum sehingga menjadi wajar bahwa mahasiswa fisika kebanyakan, cukup alergi dengan kata kuantum. Bahkan cita-cita temannya adalah dilahirkan pada zaman Mojopahit, agar tidak pernah berkenalan dengan kuantum dan tidak perlu mempelajarinya.

Buku yang berada di keranjang sepedanya itu adalah buku “Quantum Physics” karangan Stephen Gasiorowich. Dia selalu terpukau ketika membaca halaman demi halaman. Keterpukauannya sangat beralasan, karena teknologi saat ini adalah dampak dari apa yang sedang dibacanya, adalah non sense jika membicarakan teknologi canggih dan mutakhir tanpa melibatkan kuantum. Adanya handphone, laptop, mobil, pesawat, dan semua yang memakai chip adalah dampak langsung dari kuantum. Entah kali keberapa dia telah membaca buku tersebut, yang jelas dirinya merasa selalu saja menemukan hal baru atau gagasan baru ketika selesai membaca buku tersebut. Membaca buku 5 kali berarti 5 gagasan, begitu pula membaca 10 kali berarti 10 gagasan. Dia lupa telah membaca buku itu beberapa kali, yang dia ingat adalah kecintaannya begitu besar kepada kuantum.

Cintanya telah menemukan muara, film Ant Man yang menjadi muaranya. Gairahnya terhadap kuantum menjadi semakin menyala-nyala setelah tidak sengaja menonton film itu di ruang multimedia perpustakaan umum Sumenep. Dengan niat menonton film hanya untuk melepas lelah dan penat karena seharian tidak menemukan buku yang dicarinya, Quantum Mechanics karya Merzbacher, pemuda itu merasa begitu terilhami dengan film itu. Film itu bercerita tentang profesor yang sangat menguasai ilmu kuantum dan berhasil mengubah jarak elektron ke proton menjadi lebih dekat. Seperti kita ketahui bersama bahwa didalam atom, 99,98% nya adalah ruang hampa. Di film Ant Man, sang profesor mampu “memadatkan” atom sehingga benda seukuran manusia dewasa dengan tinggi 170 cm dapat di padatkan ke dalam ukuran 1.7 mm saja, seukuran semut. Dia pulang dari perpustakaan dengan semangat meletup-letup, ilmu ini harus direalisasikan, batinnya bergejolak.

Serangkaian cerita diatas terjadi pada 17 tahun yang lalu, saat ini ditahun 2032, Indonesia telah menjadi negara paling maju dan paling sejahtera. Dari Sabang sampai Merauke bahkan tidak dapat dijumpai kaum dhuafa, semuanya berkecukupan. Tidak lain adalah sumbangsih dari pemuda di ujung timur pulau garam. Madura menjadi sentral dari pusat riset Indonesia, sentra-sentra riset yang dahulunya berada di Serpong, sekarang dipindahkan ke Madura. Hal tersebut sangat beralasan, batuan kapur yang sangat melimpah di Madura, telah di rekayasa secara kuantum untuk memiliki sifat superkonduktor pada temperatur ruang. Isolatornya yang berbahan dasar NaCl, tersedia dengan melimpah disana.

Dengan adanya superkonduktor tersebut, tidak ada rugi-rugi daya dalam proses transmisi listrik oleh PLN. Listrik dapat masuk ke pelosok-pelosok negeri tanpa perlu dibangun gardu penguat. Seluruh daerah di Indonesia mendapatkan listrik. Dari listriklah proses kemajuan dimulai, BTS mulai dibangun, internet mulai masuk, pemuda-pemuda desa tak perlu menuju kota maupun luar negeri untuk belajar, dengan akses internet berkecepatan tinggi, kuliah di ITS, di UI, dsb dapat di akses dengan mudah. Cukup di depan proyektor, sang guru memberikan arahan untuk memperhatikan, sekali-kali videonya di pause untuk disisipkan penjelasan yang lebih mendetail. Bahkan bagi pemuda yang sudah diberikan pelajaran bahasa Inggris dan menguasainya, dapat melihat proses kuliah di MIT melalui channel Youtube MIT Course Ware.

Bersambung dari Pemuda yang sedang mengulang mekanika kuantum, sumenep 20 Mei 2016.

Baca artikel lain tentang Kuantum: Pahlawan Revolusi Teknologi itu bernama Mekanika Kuantum

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Nur Abdillah Siddiq

Nur Abdillah Siddiq

Mahasiswa S3 Fisika ITS, menekuni bidang Optoelektronik dan Elektromagnetika Terapan. Sangat mencintai aktivitas membaca dan mendesain. Profil lebih lengkap dapat dilihat di www.facebook.com/fisrek

Satu tanggapan untuk “Penakluk Kuantum dari Ujung Timur Pulau Garam

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar