Lembaga Survey untuk Menggiring Opini Publik. Hati-hati, Jangan Mau Dibodohi!

karikatur_lembaga_survey
Hati-hati, Jangan Mau Dibodohi oleh Lembaga Survei (Sumber gambar: www.prismajurnal.com)

Ditulis oleh Diah Ayu Suci Kinasih-Ketiga contoh dibawah ini adalah penggalan hasil survei dari 3 lembaga survei yang berbeda, objeknya 1 yakni pilkada jakarta, tetapi hasilnya berbeda-beda? Mana yang harus kita percayai? Mengapa harus ambil pusing?


“Survey SMRC :Pemilu DKI Ahok masih belum dapat penentang yang sepadan. IRMC melakukan simulasi dengan mengunakan 22 responden bakal calon dalam pemilu DKI di seluruh WNI di provinsi DKI Jakarta yang punya hak pilih dalam pemilu 2017. Survei dilakukan pada 24 Februari 2017 hingga 29 Juni 2016 terhadap 820 responden dengan teknik wawancara . Ahok tetap yang paling tinggi, sudah mayoritas, 53,4%. Kemudian Yusril Ihza Mahendra 10,4%, Tri Rismaharini 5,7%, Sandiaga Uno 5,1%, Yusuf Mansur 4,6%, dan calon lain di bawah 3%. Yang tidak tahu sebanyak 9,4%. survey ini menggunakan margin of error sebesar ±3,9% dengan tingkat kepercayaan sebesar 95%”


“Lembaga survei Poltracking Indonesia: Tri Rismahardini dan Sandiaga Uno Unggul. Dari hasil simulasi head to head pasangan, pasangan Tri Rismaharini dengan Sandiaga Uno unggul 38.21 % persen dibandingkan pasangan Ahok dengan Djarot yang hanya mendapatkan 36.92 persen. Survei tersebut dilakakukan pada WNI di DKI Jakarta berusia 17 tahun keatas dengan jumlah sampel sebanyak 1.200 responden pada tangggal 6-9 september 2016. Margin of error survey ini adalah 2,83% pada tingkat kepercayaan 95%.//


Indonesia Development Monitoring (IMD) : pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno di peringkat pertama dengan perolehan suara sebanyak 47,3 %. Kemudian disusul pasangan Agus Harimurti – Sylviana sebanyak 17,3 %; dan pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) – Djarot dipilih sebanyak 16,2 %. Sedangkan yang tidak memilih diperoleh sebanyak 19,2 %. Survei IMD dilakukan pada 24 September sampai 29 september 2016 dengan jumlah Responden 3067 dari 7,4 juta warga DKI Jakarta yang punya hak pilih pada Pilkada 2017. survei dilakukan dengan mengunakan metode multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan 98% dan margin of error ±2.1 %.


Sekarang dekat dengan pilkada DKI banyak hasil survei bertebaran di mana-mana. Sehingga berbagai lembaga survey bak sedang berlomba merilis hasil risetnya event besar tersebut. Hampir setiap hari ada saja lembaga survey yang melakukan publikasi yang hasilnya pun berbeda-beda sebagaimana contoh hasil survey diatas. Hal ini menimbulkan banyak perbedaan pendapat dalam menyikapi hasil survei tersebut.

Lalu mengapa survei tersebut dilakukan? Kita selalu memilki keterbatasan dalam memahami segala hal tentang populasi. Dalam konteks ilmu statistik (Statistika), segala hal ini disebut parameter, yakni karakteristik populasi yang─seringkali ─tidak diketahui secara pasti nilainya, terutama ketika unit yang merupakan anggota populasi sangat besar jumlahnya. Sehingga kita memerlukan suatu parameter untuk mengetahui parameter dari populasi tersebut.

Untuk lebih jelasnya akan kita bahas lebih jauh lagi…

>>Survei
Berdasarkan KBBI survei merupakan teknik riset dengan memberi batasan yang jelas atas data , penyelidikan dan peninjauan. Survei (survey) atau self-administered survey adalah metode pengumpulan data primer dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden individu. Jadi dapat disimpulkan survei adalah metode untuk mengumpulkan informasi dari kelompok yang mewakili sebuah populasi.

Secara kuantitatif survei, dilakukan dengan mengamati sebagian –kecil – anggota dari suatu populasi untuk memperoleh gambaran mengenai parameter mengenai populasi yang ingin kita ketahui. Sebagian kecil anggota populasi yang diamati ini disebut sampel, yang karakteristiknya dapat mewakili parameter populasi. Gambaran mengenai parameter populasi yang diperoleh berdasarkan karakteristik sampel pada prinsipnya hanyalah estimasi atau perkiraan. Survei dapat dilakukan dengan : melibatkan sejumlah besar responden, bertanya ke orang, Menggunakan kuesioner dalam Tempo yang relatif singkat.

Tujuan penelitian survei adalah mengetahui gambaran umum karakteristik dari populasi. Penelitian survei digunakan untuk mengumpulkan informasi berbentuk opini dari sejumlah besar orang terhadap topik atau isu tertentu. Ada tiga karakteristik utama dari penelitian survei yaitu: informasi dikumpulkan dari sekelompok besar orang untuk mendeskripsikan beberapa aspek atau karakteristik tertentu, informasi dikumpulkan melalui pengajuan pertanyaan baik tertulis maupun lisan dari suatu populasi, informasi diperoleh dari sampel, bukan dari populasi.
Perbedaan Survei dan Sensus

Selain survei, cara lain untuk mengetahui paramater suatu populasi adalah sensus. sensus adalah penghitungan jumlah penduduk, ekonomi, dan sebagainya yang dilakukan oleh pemerintah dalam jangka waktu tertentu, misalnya waktu sepuluh tahun, dilakukan secara serentak dan bersifat menyeluruh dalam batas wilayah suatu negara untuk kepentingan demografi negara yang bersangkutan; cacah jiwa dll.

Contoh kegiatan sensus adalah Sensus Penduduk yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010 lalu (SP210). Pada SP2010, populasi yang dimaksud adalah semua penduduk yang tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada saat sensus dilakukan, tanpa terkecuali. Dari SP2010 kemudian diperoleh sejumlah parameter populasi (penduduk Indonesia pada Mei 2010), misalnya, jumlah penduduk menurut karakteristik tertentu: jenis kelamin, umur, pendidikan yang ditamatkan, dan wilayah

Karena semua anggota populasi diamati, gambaran mengenai parameter populasi yang diperoleh lewat sensus sangat akurat. Namun, ada harga yang harus dibayar untuk itu, yakni biaya yang sangat mahal dan sumber daya manusia (tenaga) yang tidak sedikit. SP2010, misalnya, telah menghabiskan hampir 4 triliun uang negara dan melibatkan sekitar 500 ribu orang petugas sensus. Selain itu, keharusan untuk mengamati semua anggota populasi mengakibatkan varian parameter populasi yang dapat dipotret menjadi sangat terbatas.

>>Jadi secara umum, perbedaan survei dan sensus
1. sampel yang diamati
– survei : hanya melibatkan beberapa sampel dari sebuah populasi
– sensus : melibatkan seluruh populasi
2. Biaya
– survei : biaya relatif lebih sedikit
– sensus : biaya relatif lebih mahal
3. Waktu
– survei : relatif lebih singkat
– sensus : lebih lama
4. Akurasi Data
– survei : tidak terlalu akurat, pengambilan data pada sebagian populasi
– sensus : akurat, karena melibatkan seluruh populasi

Apakah yang menyebabkan suatu survei bisa salah?

  1. Margin Error
    Perlu diingat bahwa survei dilakukan terhadap sample (contoh), yaitu sebagian dari populasi, bukan seluruhnya. Jadi, sangat wajar jika hasil survei tidak tepat 100% dengan hasil sebenarnya.
    Kesalahan yang muncul akibat pengambilan sampel tidak bisa dihindari dalam setiap pengukuran pendapat umum atau jajak pendapat. Oleh karena itu peneliti harus menetapkan sampling error tertentu yang muncul dari kesalahan dalam pengambilan sampel. Penentuan sampling error lazim dikenal dengan margin error (ME). Penetapan sampling error atau margin error akan berimplikasi pada jumlah sampel yang diambil dalam mewakili populasi pemilih di sebuah Kabupaten/Kota atau Propinsi.

  2. Non Sampling Error
    Non-sampling error merupakan error yang terjadi di luar akibat penggunaan sampel, melainkan terjadi saat proses pelaksanaan survei. Jika pada suatu survei, non sampling error terjadi sangat besar walaupun sampling error/margin error yang ditetapkan kecil maka tetap saja akan hasil yang diperoleh menjadi tidak akurat.
    Beberapa jenis non-sampling error diantaranya adalah non-response (responden tidak merespon saat disurvei), innacurate response (responden memberikan respon yang salah), selection bias (responden yang terpilih bukanlah individu yang tepat/sesuai dengan tujuan survei), dishonest interviewer (pewawancara tidak jujur dalam mengisi kuisioner), dan human error (pewawancara melakukan kesalahan yang tidak disengaja saat mengisi kuisioner).
    Non sampling error banyak disebabkan human error dalam hal ini pewawancara sebagai ujung tombak survey pendapat umum atau jajak pendapat. Hal tersebut bisa muncul dari pemahaman pewawancara terhadap materi pertanyaan, pemahaman pewawancara dalam prosedur penetapan sampel atau kemampuan pewawancara dalam proses wawancara dengan pemilih (face to face interview).
    Untuk menghindari terjadinya non sampling error. Ada berbagai metode untuk meminimalisasi non-sampling error, diantaranya adalah reward (pemberian hadiah kepada individu yang bersedia menjadi responden), callbacks (menghubungi kembali responden untuk memvalidasi respon yang diberikan saat disurvei), dan trained interviewers (menyeleksi dan melatih pewawancara sebelum melakukan survei).

  3. Pengaruh Politik
    Saat ini, media massa memiliki andil besar dalam membangun opini publik. Oleh karena itu, banyak oknum tertentu (partai politik) berusaha memanfaatkan media massa untuk memengaruhi opini publik. Salah satu alat yang digunakan adalah hasil survei, karena hasil survei merupakan hasil penelitian sehingga dianggap publik sebagai informasi faktual dan terpercaya.
    Beberapa diantaranya rela membayar lembaga survei untuk mengeluarkan hasil survei yang cenderung berpihak kepada mereka untuk membangun mindset masyarakat agar nantinya berpihak atau mendukung mereka. Akibatnya, banyak lembaga survei yang tidak independen (memiliki muatan politis) saat melakukan survei atau jajak pendapat karena tergiur dengan bayaran mereka. Fenomena ini sering terjadi terutama ketika memasuki masa kampanye pemilihan umum (pemilu) seperti sekarang ini.

Apa Yang Harus Dilakukan?

1. Harus Skeptis Terhadap Hasil Survei
Sayang nya, publik acapkali tidak terlalu memerhatikan hal-hal di atas, atau juga mungkin tak tahu. Padahal, hasil sebuah survei─terutama yang di-publish di media, walaupun bisa saja didasarkan pada metodologi yang goyang (shaky method)─memiliki magnitude yang sangat kuat dalam mengarahkan dan memengaruhi opini publik. Singkat kata, diperlukan sikap skeptis dari masyarakat terhadap hasil suatu survei. Kita tidak boleh langsung percaya dan menelan bulat-bulat hasil yang disuguhkan.

2. Telaah lebih jauh
Telaah lebih jauh untuk mengetahui apakah hasil survei tersebut benar adanya dan tidak memiliki muatan politis. jika ingin menjadikan hasil survei sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Yang terpenting, jangan gunakan hasil survei untuk ikut-ikutan memengaruhi orang lain atau malah menebar kebencian hanya demi mendukung pihak tertentu tertentu dan menjatuhkan lawannya.
Kesimpulan

Hasil survei salah bisa saja terjadi, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Oleh karena itu, bijaklah dalam memahami atau memanfaatkan hasil survei. Gunakanlah hasil survei untuk sekadar memperluas wawasan.

Referensi:

  • http://www.saifulmujani.com/blog/2016/07/23/pemilu-dki-ahok-belum-dapat-penantang-sepadan
  • http://news.okezone.com/read/2016/09/15/338/1490274/hasil-survei-terkini-ahok-keok-di-pilgub-dki //
  • http://nusantarakini.com/2016/09/30/hasil-survey-imd-jelang-pilkada-dki-pasangan-anies-sandi-unggul/
  • http://www.eurekapendidikan.com/2015/01/penelitian-survei.html //
  • http://www.kompasiana.com/kadirsaja/haruskah-percaya-dengan-hasil-survei_550e1e03a33311bc2dba7e93
  • http://youthproactive.com/201608/speak-up/hasil-survei-salah-bisakah-dipercaya/
  • http://yayan-s-fisip.web.unair.ac.id/artikel_detail-70863-Survey%20%20Opini%20Publik-TEKNIK%20SAMPLING%20RISET%20OPINI%20PUBLIK.html
  • http://youthproactive.com/201608/speak-up/hasil-survei-salah-bisakah-dipercaya

Penulis: Diah Ayu Suci Kinasih, untuk menghubungi lebih lanjut 082333878288

 

pilkada-dinasti

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Nur Abdillah Siddiq

Nur Abdillah Siddiq

Mahasiswa S3 Fisika ITS, menekuni bidang Optoelektronik dan Elektromagnetika Terapan. Sangat mencintai aktivitas membaca dan mendesain. Profil lebih lengkap dapat dilihat di www.facebook.com/fisrek

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar