Sains Membuktikan Kita Mampu Membeli Kebahagiaan

 Mampukah uang membeli kebahagiaan? Atau pernah mendengar pepatah bahwa uang tidak dapat membeli kebahagiaan? Mungkin pepatah tersebut perlu direvisi.

large-orang-indonesia-dan-caranya-berbahagia-yang-sederhana1471414972
Ternyata kebahagiaan itu dapat dibeli

Jika uang tidak mampu membeli kebahagiaan, mungkin kita tidak menghabiskan uang itu secara benar!

Disisi lain, banyak yang berpikir, terutama kaum hedonis, bahwa semakin kaya, semakin tinggi gaji seseorang maka akan semakin bahagia. Anda tidak sendirian, berdasarkan hasil survey terhadap 109 mahasiswa diperoleh bahwa mereka menganggap bahwa menghabiskan uang untuk diri sendiri akan membuat bahagia dibandingkan dengan menyumbangkan kepada orang lain. Demikian juga dengan mendapatkan uang yang lebih banyak membuat lebih bahagia dibandingkan dengan mendapatkan uang yang lebih kecil, berdasarkan anggapan mereka.

Akan tetapi, hasil penelitian dari M. Norton ini menunjukkan fakta yang berbeda. Mereka melakukan survey terhadap 632 orang Amerika tentang seberapa besar penghasilan mereka, berapa banyak yang mereka habiskan untuk kebutuhan pribadi dan untuk sumbangan terhadap orang lain, terhadap seberapa tinggi perasaan bahagia mereka. Hasil analisa menunjukkan bahwa, tidak ada hubungan yang signifikan antara besarnya penghasilan terhadap tingkat kebahagian mereka. Menariknya, justru tingkat kebahagiaan mereka berkaitan erat dengan jumlah uang yang mereka habiskan untuk sumbangan kepada orang lain.

Meningkatkan penghasilan adalah sesuatu yang penting, tetapi bagaimana cara menghabiskan uang itu juga penting.

Selanjutnya, mereka diminta menilai tingkat kebahagiaan mereka sebelum mendapatkan bonus tahunan dan setelah mereka mendapatkan bonus tahunan. Termasuk survey berapa besar jumlah uang bonus tersebut yang mereka habiskan untuk keperluan pribadi dan keperluan orang lain. Besar kecilnya bonus tahunan yang banyak orang kira akan berkaitan erat dengan tingkat bahagia, ternyata tidak berpengaruh signifikan. Sedangkan bagaimana mereka menghabiskan uang apakah untuk keperluan pribadi atau keperluan orang lain memiliki peran yang signifikan. Mereka yang menghabiskan uang untuk sumbangan akan lebih bahagia dibandingkan dengan mereka yang menghabiskan uang untuk keperluan pribadi.

Hasil ini juga diperkuat dengan survey terhadap 46 orang. Mereka diberi uang sebesar 5$ dan yang lainnya sebesar 20$ untuk dihabiskan hingga jam 5 sore. Mereka diminta untuk membelanjakan uang untuk keperluan pribadi dan lainnya digunakan untuk sumbangan. Setelah jam 5 sore mereka diminta untuk mengukur tingkat kebahagiaan mereka. Mereka yang membelanjakan uang untuk sumbangan memberikan tingkat kebahagiaan dibandingkan dengan mereka yang membelanjakan uang untuk keperluan pribadi. Tingkat kebahagiaan ini tidak dipengaruhi oleh seberapa banyak mereka mendapatkan uang apakah 5$ atau 20$.

Menyumbang untuk kegiatan yang spesifik lebih membahagiakan dibandingkan dengan menyumbang yang lebih abstrak. Misalkan mereka yang menyumbang untuk keperluan membeli perlengkapan tidur untuk mencegah penyakit malaria memberikan tingkat bahagia yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang diminta menyumbang ke UNICEF yang lebih umum. Mereka yang menyumbang pertama akan merangsang untuk menyumbang berikutnya yang berdampak pada bahagia berkelanjutan. Hubungan antara tingkat kebahagiaan dan uang yang dihabiskan untuk keperluan sosial ini berlaku umum di hampir semua negara termasuk bayi berumur 2 tahun. Hasil penelitian ini mendorong bagaimana menghabiskan uang menjadi sepenting bagaimana mendapatkan uang.

Daftar pustaka:

Diperbaiki 9 Agustus 2017

 

Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Abdul Halim

Abdul Halim

Menamatkan program ST dan MT di Jurusan Teknik Kimia ITS. Sedang menempuh PhD di University of Tsukuba. Meneliti pemanfaatan bio-nanomaterial untuk pengolahan limbah cair.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar