Manifesto Pergerakan Kaum Intelektual

Bagikan Artikel ini di:

sekedar

Prolog : Berawal dari satu pertanyaan sederhana.

Di tulis oleh Zulkaida Akbar  – Salah satu imbas positif dari dicetuskanya politik etis oleh pemerintah Belanda adalah lahirnya kaum pelajar Indonesia yang sadar untuk berjuang demi terwujudnya kemerdekaan Indonesia. Mereka berkumpul, berorganisasi dan kemudian mengikrarkan visi kemerdekaan dalam nuansa persatuan.Akhirnya, Bangsa Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945, hanya berselang 37 tahun sejak organisasi Budi Utomo yang dimotori kaum pelajar dideklarasikan. Sebelumnya, ratusan tahun perjuangan menggapai kemerdekaan menemui kegagalan, sementara sekelompok pemuda terpelajar tersebut hanya membutuhkan 37 tahun untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

Persoalanya jelas tidak sesederhana itu, namun yang patut kita ambil pelajaran adalah bahwa jumlah kaum pelajar Indonesia yang menjadi motor penggerak perjuangan saat itu jauh lebih sedikit dibanding kaum pelajar yang dimiliki Indonesia saat ini. Saat itu, hanya mereka yang merupakan anak pejabat atau anak orang kaya yang berhak mengenyam pendidikan tinggi.Oleh karena itu, satu pertanyaan yang patut kita ajukan saat ini adalah mengapa kaum pelajar Indonesia saat ini yang jumlahnya jauh lebih banyak seakan tergerus oleh zaman (tidak adaptif) serta tidak mampu menciptakan perubahan yang signifikan bagi Bangsa Indonesia (tidak progresif)? Tulisan ini ditujukan untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan berpijak pada beberapa sepihan gagasan yang kemudian dirangkai untuk menjawab pertanyaan : “apa yang harus dilakukan kaum pelajar Indonesia saat ini agar adaptif dan progresif sehingga mampu berperan sebagai lokomotif perubahan yang mampu membawa Indonesia menjadi Bangsa yang terhormat?”

Gagasan pertama : Tentang Peranan Kaum Intelektual

James Watt tak sekedar membuat mesin uap, yang ia buat adalah sesuatu yang melahirkan revolusi industri dan pada akhirnya mengubah tatanan sosial secara global. Dari sanalah lahir marxisme, dikotomi borjouis-proletar dan kolonialisme. Oppenheimer tak sekedar membuat bom atom, yang Ia buat adalah sesuatu yang pada akhirnya menentukan konfigurasi politik global. Pun demikian dengan Shockley yang tak sekedar membuat transistor, yang ia ciptakan menjadi landasan revolusi teknologi informasi dan kini telah menjelma menjadi alat untuk infiltrasi budaya serta rekayasa sosial.

kongresbudiutomo
Suasana Kongres Pertama Budi Utomo – Organisasi Pemuda Berpendidikan yang Peduli pada Masa Depan Bangsa

Sejarah memang membuktikan bahwa kaum ilmuwan (intelektual) senantiasa berada didepan dalam gerak sejarah dan peradaban. Mungkin inilah yang membuat Michael hart menempatkan sebanyak 37 ilmuwan dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di Dunia. Contoh lainnya adalah revolusi Prancis yang diilhami pemikiran beberapa filsuf tentang demokrasi.

Contoh diatas merupakan ilustrasi terkait peran seorang intelektual sebagai lokomotif peradaban. Kaum pelajar sebagai bagian dari kaum intelektual harus menyadari peranan dan tanggung jawabnya yang besar, yakni lebih dari sekedar calon pengisi teknostruktur pembangunan. Karena sejatinya kaum pelajar sebagai bagian dari kaum intelektual adalah para lokomotif perubahan dan peradaban.

Gagasan Kedua : Tentang Integritas Keilmuan

Seorang yang terpelajar adalah seseorang yang sedang menekuni minimal satu bidang keilmuan. Dan setiap bidang ilmu memiliki karakternya sendiri, narasinya sendiri serta mengandung nilai moral dan karakter yang unik. Oleh karena itu, setiap pelajar sejatinya dituntut untuk memiliki integritas terhadap keilmuan yang tengah digelutinya. Integritas ini tak hanya tercermin dalam pemahaman akan ilmu pengetahuan melainkan juga pada karakter yang diajarkan melalui nilai moral yang terkandung pada setiap bidang ilmu tersebut.

Sebagai contoh, penulis akan mengetengahkan nilai moral dari keilmuan fisika, bidang ini digeluti penulis selama menjalanai studi strata satu di Institut Teknologi Bandung. Nilai moral ini tercermin dari sosok seorang fisikawan.

Fisikawan adalah seorang seniman. Fisikawan memandang alam semesta dengan pemaknaan penuh atas keindahan dan harmoni yang sempurna. Seorang pelukis mengungkap keindahan semesta dengan kanvas dan tinta, sementara fisikawan menghayati keindahan semesta lantas mengungkapkanya diatas persamaan matematika. Alkisah ketika pertama kali muncul persamaan Maxwell, ada yang berkomentar :”Apakah seorang Dewa yang menuliskannya?” komentar ini adalah spontanitas seorang fisikawan selepas melihat persamaan Maxwell yang simetri, rapi dan tersusun indah serta komprehensif (dapat ditulis dalam bentuk diferensial atau integral).

Sebagai tambahan, seorang fisikawan biasanya adalah seorang yang Romantis. Seseorang yang mampu mengungkap keindahan dan harmoni yang terselubung dalam bahasa matematika tentunya juga mampu mengungkapkanya dalam untaian kata. Fisikawan adalah seorang yang humanis. Seseorang yang bisa menghargai semesta yang mati tentunya mampu menghargai yang hidup. Humanisme ini tercermin dalam keseharian beberapa tokoh fisika. Einstein menangis bersama beberapa fisikawan lain saat Jepang di Bom. Kemudian mereka berseloroh :”Manusia tidak pernah tahu apa yang dilakukannya!” Abdus Salam menyumbangkan hadiah nobelnya guna membangun ICTP yang visinya adalah menjembatani kesenjangan antara barat dan timur. Demikian pula dengan Chen nin yang, Yukawa, Plank dan sebagainya.

Fisikawan adalah seorang yang keras kepala, tak pernah menyerah dalam menggapai impian. Kepler menunggu hingga 20 tahun untuk sampai pada perumusan ketiga hukumnya. Masatoshi Kosiba bukan seorang yang cemerlang, dia harus berjuang keras sampai akhirnya Ia mendapat nobel atas penemuan Neutrino. Currie harus menempuh sekian kilometer ketika harus “nyambi” mengajar demi mendukung pendidikannya, Currie juga harus mengolah berton bahan dengan tungku panas untuk sekedar mendapat beberapa gram radioaktif.

Fisikawan adalah pahlawan pembela kebenaran. Galileo harus menerima tahanan rumah karena mempertahankan keyakinannya akan heliosentris. Seringkali seorang fisikawan memiliki karakter yang kuat dan pribadi yang unik. Beberapa contohnya adalah Dirac sang jenius pertapa, Feynman yang eksentrik atau Schrodinger sang jenius pecinta. Contoh lainnya adalah Bohr yang disegani karena kesahajaan dan kepemimpinannya. Mereka terikat kuat oleh ikatan pencarian tertentu. Seperti ikatan antara Einstein (Jerman) dan Eddington (Inggris) meski mereka saat itu berada pada pihak yang saling berperang saat perang dunia 2 berlangsung.

Fisikawan juga seorang Filsuf. Dibalik formula matematik yang rumit, kompleksitas alat eksperimen, tersembunyi hasrat manusia merdeka yang meyakini kebenaran tertentu :” Bahwa alam semesta digerakan oleh hukum yang sederhana, berjalan dengan simetri yang luar biasa serta harmoni yang membentuk keindahan dan keagungan”.

Menurut Mohamad Hatta, karakter seorang insan akademis adalah senantiasa mencari dan membela kebenaran ilmiah. Kaum pelajar Indonesia saat perjuangan menggapai kemerdekaan memiliki integritas terhadap keilmuan yang sedang digeluti. Pada akhirnya mereka sampai pada pemaknaan atas tanggung jawab seorang insan akademis meski latar belakang kelimuan mereka berbeda-beda.

Gagasan Ketiga : Kita Hanya Sedikit Lupa

Jalaludin rahmat dalam buku berjudul Rekayasa Sosial pernah menyatakan bahwa untuk melakukan rekayasa sosial dibutuhkan tiga hal : Ide,tokoh dan gerakan yang masif. Lantas, ide atau “desire” apa yang harus kita tanamkan untuk melecutkan kita semua menjadi bangsa yang lebih beradab? Salah satu kunci untuk menjadi manusia sukses adalah kepercayaan diri, dengan demikian sebuah bangsa yang ingin maju tentunya juga harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Namun, ketika sebuah pertanyaan sederhana penulis lontarkan kepada sekelompok mahasiswa : ” Seperti apakah bangsa Indonesia menurut kamu?” sebagian besar dari mereka menjawab : Korup, Pemalas, Dilecehkan dunia Internasional (pecundang) dan sebagainya. Hal ini mengisyaratkan sebuah bentuk kepercayaan diri sebuah bangsa yang rendah. Lantas Apakah Benar bahwa bangsa kita demikian buruknya?

Apakah benar bahwa bangsa kita pecundang? Alkisah, pasukan Gurkha adalah pasukan sewaan yang terkenal garang dan hebat. Mereka diiringi banyak mitos, salah satunya adala pisau andalan mereka yang konon bisa membelah orang. Saat perang Malvinas (inggris melawan argentina), menyerahnya argentina diindikasikan salah satunya karena ketakutan terhadap Gurkha, dan dalam perang tersebut tak ada satupun Gurkha yang mati. Namun, sekian puluh Gurkha mati di Surabaya. Siapakah yang berhasil menewaskan Gurkha? Apakah tentara atau prajurit tangguh yang menewaskan mereka? Bukan, Gurkha-gurkha itu mati oleh pemuda-pemuda berusia belia; arek-arek Surabaya yang hanya bermodalkan bambu runcing dan hasrat untuk tetap merdeka.

Dalam buku Perang Eropa dipertontonkan kehebatan Churcill dan pasukan Inggris. Dan salah satu sumber menyatakan bahwa selama perang dunia 2 tak satupun Jendral Inggris yang mati. Namun, seorang Jendral Inggris mati di Surabaya. Lagi-lagi oleh sekelompok pemuda yang hanya bermodalkan bambu runcing dan hasrat untuk tetap merdeka. Kemarahan Inggris membawa malapetaka bagi Surabaya yang dihujani serangan dari darat, laut dan udara. Bayangkan dalam kondisi sedemikian riuh, ada saja yang nekat memanjat atap hotel Yamato untuk sekedar mengganti bendera merah, putih, biru menjadi dwi warna merah-putih.

Kita bisa menelusuri sejarah perang lebih lanjut. Saat sebuah Negara menyerah kalah, biasanya masih tersisa sekian banyak pasukan dan senjata, jarang sekali sampai habis tak bersisa (puputan). Namun di Nusantara ini pernah terjadi pertahanan harga diri hingga meletus perang puputan. Setidaknya ada di Bali, dipimpin oleh I Gusti ktut Jelantik dan di Aceh waktu rakyat Aceh mempertahankan benteng kutoreh. Hal ini adalah cerminan sebuah hasrat merdeka yang diwujudkan dalam perang habis-habisan tanpa sisa dengan mengorbankan jiwa dan raga.

Jadi apa benar kita adalah bangsa yang pecundang? Tidak, kita adalah bangsa yang pemberani. Kita hanya sedikit lupa dengan masa lalu kita.

Apakah benar bahwa kita adalah bangsa yang korup? Alkisah, pernah ada di Nusantara kita seorang bergelar Ratu Sima dari Kalingga. Beliau terkenal sebagai seorang Raja yang adil, jujur dan tegas. Pemerintahan Ratu Sima terkenal bersih. Hal ini mengundang penasaran seorang dari Arab yang ingin mengujinya dengan meletakan emas permata disana. Tak satupun rakyat yang berani menyentuhnya sampai suatu ketika sang pangeran calon pewaris tahta menyentuh emas permata tersebut. Tanpa ampun, ratu sima menghukum buah hatinya. Salah satu versi sejarah menyebut sang pangeran akhirnya dipotong kakinya.

Jadi apa benar kita adalah bangsa yang korup? Tidak, setidaknya pernah terjadi di Nusantara kita ketika hukum ditegakan, keadilan diwujudkan. Mungkin kita hanya sedikit lupa dengan masa lalu kita.
Apakah kita adalah bangsa yang bodoh? Tersebutlah Sastra Lisan Bujang Tan Domang dari Riau yang mengisyaratkan keramahan ekologis jauh sebelum kita mengenal terminologi “Sustainable Development”. Jendral Sudirman pernah membuat Belanda kocar-kacir dengan Inovasinya terhadap strategi perang Inggris saat menusuk Birma (kita mengenalnya sebagai siasat gerilya). Dengan bantuan Laksamana Nala, Gadjah mada dalam waktu singkat berhasil mengubah pola pertahanan yang bersifat kontinental menjadi berbasis maritim. kita bukanlah bangsa yang bodoh. Kita hanya sedikit lupa dengan masa lalu kita.


Sebuah bangsa membutuhkan mimpi atau “desire” yang kuat untuk dapat menjadi besar. Vladmir putin bersama rekan-rekan eks KGB memiliki desire “The Great Rusia”. Kaum Yahudi memendam desire “tanah yang dijanjikan”. Orang Korea berkata : ”Baja, baja, Baja dan Kalahkan Jepang”. Lantas apa yang harus menjadi Desire kita?

Andaikan Indonesia adalah bangsa yang “nakal” maka untuk menghancurkan Singapura dan Malaysia cukup dengan membakar beberapa pulau terluar. Mereka akan sesak napas karna asap. Cukup dengan memasang perompak atau ranjau di laut untuk menghancurkan perekonomian dunia karna perairan kita sangat ramai digunakan sebagai jalur pengiriman barang (termasuk suplai minyak china). Kesetimbangan iklim global akan terganggu jika hutan di Kalimantan dan Papua dihancurkan. Kesadaran bahwa Indonesia memegang peranan kunci dalam keseimbangan tatanan global, bisa dijadikan titik pijak untuk menemukan “desire” yang akan memompa semangat generasi muda dalam membangun bangsanya.

Berpikir positif, memiliki kepercayaan diri yang kokoh serta “desire” yang kuat adalah prasyarat agar kita bisa menjadi bangsa yang maju.

Gagasan Keempat : Pembacaan atas dunia dan Indonesia

Pola pergerakan mahasiswa, pamuda dan kaum pelajar Indonesia terkait erat dengan cara pembacaan terhadap dunia dan Negara Indonesia. Banyak cara dalam membaca dunia. Sebagian melihat dunia sebagai pengangkangan yang satu terhadap yang lain : barat terhadap timur, utara terhadap selatan, kapitalis terhadap Negara-negara dunia ketiga dsb (teori ketergantungan). Orang-orang Postmodern membaca dunia yang telah menjadi perang imagologi, bukan lagi perang ideologi. Orang marketing mungkin membaca dunia saat ini sebagai zaman venus (simbol perempuan : emosi, persepsi) dan bukan lagi zaman mars (simbol laki-laki : logika). Dalam zaman venus ini suatu produk tak hanya dinilai berdasarkan fungsinya saja melainkan juga bagaimana si produk mampu menyentuh emosi konsumen dengan memainkan persepsi. Orang Geopolitik akan melihat dunia yang bergeser distribusi kekuatannya dari uni polar (hegemoni Amerika) menuju ke multi polar (uni eropa, china, India, amerika latin dll).

Ada pula yang membaca masyarakat dunia saat ini sebagai masyarakat paska kapitalis yang salah satu cirinya adalah masyarakat pengetahuan. Dalam masyarakat ini ,pengetahuan, inovasi dan kreativitas memegang peranan utama didalam keberjalanan peradaban. Hal ini tercermin salah satunya dari latar belakang orang-orang terkaya dunia saat ini yang berasal dari innovator-inovator teknologi informasi.

Rekan-rekan dari organisasi pergerakan yang membaca dunia sebagai pengangkangan yang satu terhadap yang lain, membaca Indonesia dengan terminologi seputar kemiskinan, korup serta menganggap permasalahan ini disebabkan oleh tirani yang berkuasa tentu akan melahirkan pola pergerakan yang digerakan spirit perlawanan. Aksi-aksi yang dilakukan akan penuh dengan nuansa heroisme, kenangan masa lalu dan gelegar jargon perjuangan dan perlawanan. Masih relevankah dengan situasi kekinian?

Tentu akan berbeda dengan rekan-rekan yang membaca dunia sebagai sebuah masayarakat pengetahuan yang terintegrasi secara global, membaca Indonesia sebagai sebagai salah satu Negara dengan garis pantai terpanjang, sebagai negeri yang memiliki sekian banyak varietas endemik , kemudian membaca universitas sebagai produsen pengetahuan utama di Indonesia serta menyimpan segudang potensi besar.

Lantas bagaimana seharusnya kaum pelajar harus membaca dunia?
ada wacana menarik yang bercerita tentang The Rulling Class of Indonesia. Wacana The Rulling Class tersebut berasal dari pemikiran Anis Basweidan. Sederhananya, the rulling class merujuk pada kelompok pemuda pada satu massa yang pada akhirnya menjadi pemimpin/elit Indonesia di masa depannya. Setidaknya sudah ada tiga generasi the rulling class.

The Rulling Class pertama adalah pemuda-pemuda yang beruntung mendapat pendidikan Belanda saat politik etis dicetuskan. Mereka adalah generasi Soekarno,hatta dan sebagainya. Mereka memimpin Indonesia saat kemerdekaan. Era berikutnya adalah era mempertahankan kemerdekaan. Pada masa itu tumbuh kesatuan-kesatuan militer. The Rulling class kedua adalah pemuda yang turut dalam kesatuan-kesatuan militer. Pada akhirnya mereka memimpin Indonesia saat orde baru. The Rulling Class berikutnya adalah para aktivis mahasiswa yang turut ambil bagian dalam pergolakan dan peralihan orde lama ke orde baru. Merekalah yang kini banyak menjadi elit politik nasional. Dari sini muncul pertanyaan :”Siapakah the Rulling class berikutnya?”

Ada yang mengusulkan bahwa the rulling class berikutnya adalah pemuda-pemuda yang tergabung dalam kelompok entrepreneur. Jika dahulu orang yang memiliki akses politik secara otomatis akan menguasai akses bisnis dan industri maka pada masa mendatang yang terjadi adalah sebaliknya, orang yang menguasai akses bisnis dan industri akan mudah juga menguasai politik.

Namun Entrepreneur disini bisa juga dimaknai secara luas, yakni tak sekedar orang yang berbisnis. Entrepreneur adalah sekumpulan karakter Inovatif, kreatif serta hasrat untuk senantiasa menciptakan nilai tambah.

Untuk dapat mewujudkan generasi Indonesia yang adapif dan progresif, pola perjuangan kaum pelajar Indonesia harus dilandaskan atas pembacaan yang tepat terkait situasi dunia dan masa depan Indonesia.

Gagasan Kelima : Tentang Visi Masa Depan dan Khayalan pada suatu saat

Apa yang dilakukan oleh pemuda saat ini menentukan bagaimana Indonesia 30 tahun mendatang. Oleh karena itu, pemuda Indonesia haruslah membiasakan diri untuk mengasah ketajaman gagasannya terkait wujud Indonesia masa depan. Dan gagasan ini akan lahir ketika kaum pelajar mau berkumpul, berdialektika dalam budaya akademik yang baik, yaitu budaya yang mencerminkan integritas keilmuan kaum pelajar Indonesia.

Suatu saat saya pernah mengkhayalkan kehidupan mahasiswa di suatu universitas dimana pada suatu hari kuliah Fisika Kuantum terpaksa diberi perpanjangan waktu karena sang dosen harus melerai perdebatan keras dua kelompok mahasiswa yang berdebat terkait apakah ketidakpastian Heissenberg muncul karena keterbatasan manusia dalam mengamati alam yang sesungguhnya pasti, atau memang lahir dari sifat hakiki alam yang memang berjalan dengan tidak pasti. Hal ini mirip seperti pertengkaran Bohr dan Einstein. Einstein :” Tuhan tidak bermain dadu dalam penciptaan semesta !”. Bohr :” Tuhan tak hanya bermain dadu, Dia juga melemparkannya ketempat yang tak kita ketahui.

Saya berkhayal akan mendengar perbincangan yang hebat di kantin-kantin kampus. Saya mendengar perbincangan mahasiswa Teknik Industri terkait haruskah efisiensi menjadi satu-satunya nilai dalam proses produksi, perbincangan mahasiswa Teknik Lingkungan terkait haruskah konservasi ekologi akan selalu bertentangan dengan aktualisasi potensi ekonomi serta perdebatan tentang “deep ecology versus anthroposentris”, pembahasan mahasiswa Planologi dan Teknik Kelautan terkait pola tata ruang dan infrastuktur yang harus dibangun untuk menggeser pola pembangunan Indonesia dari basis kontinental ke basis maritim, pembahasan mahasiswa Biologi dan Farmasi terkait pemanfaatan keanekaragaman hayati untuk meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan masyarakat. Saya juga berkhayal mendengar perdebatan mahasiswa Fakultas Kebumian tentang bagaimana caranya lifting minyak bisa naik 50 %.

Saya berkhayal akan melihat boulevard kampus setiap hari ramai dipenuhi oleh pameran karya-karya mahasiswa. Disini saya melihat karya mahasiswa Teknik Mesin berupa pompa Hidraulik Ram (bekerja dengan prinsip water hammer effect) yang sedianya akan didistribusikan untuk menyelamatkan ribuan petani yang sumber airnya berada dibawah sawah serta tak mampu untuk membeli Pompa Diesel.
Disajikan pula karya mahasiswa Teknik Fisika berupa alat pengering jagung sehingga ribuan petani jagung mampu menyimpan jagungnya lebih lama tanpa beresiko menjadi tape jagung. Ada pula karya mahasiswa Teknik Elektro berupa pembangkit listrik mikro hidro yang akan didistibusikan ke daerah yang belum teraliri listrik. Kemudian ditampilkan pula BDS (Business Development Service) yang dibangun bersama oleh mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen serta mahasiswa Teknik Informatika untuk membantu membenahi manajemen operasi ratusan konveksi di Bandung. Disini mahasiswa Teknik Informatika mendistribusikan software akuntansi sederhana sementara mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen membantu akses permodalan dan konsultasi manajemen.

Sains. Teknologi dan seni adalah motor peradaban. Ketika intelektualitas bersanding dengan seni, maka kemanusiaan akan lahir. Kemudian saya mengkhayalkan bahwa di universitas yang sama, yang ada di seluruh Indonesia selain terwujud obolan dikantin dan keramaian boulevard seperti tersebut diatas juga aka nada keramaian lain berupa orkestra yang menampilkan karya Mozart, teater yang membawakan drama Shakespeare dan Epos Mahabarata. Banyak pula sajian kreativitas “putra-putri daerah” yang mengemas kearifan lokal daerahnya dalam teatrikal modern seperti Sastra lisan bujang tan domang dari Riau, Hikayat Sabil, Hikayat hang tuah dan sebagainya.

Generasi muda yang adaptif dan progresif akan mewarnai aktivitasnya dalam perjuangan untuk rakyat yang diilhami semangat keilmuan baik sains, teknologi maupun seni.

Epilog : Kesatuan Gagasan untuk Mewujudkan Generasi Kaum Pelajar Indonesia yang Adaptif dan Progresif’

Selepas berkesempatan mengunjungi Malaysia tiga tahun lalu, penulis berkesimpulan bahwa satu orang Indonesia sejatinya lebih unggul dibanding satu orang Malaysia serta setara dengan satu orang Jepang. Namun, sepuluh orang Malaysia akan mengalahkan sepuluh orang Indonesia dan tiga orang Jepang akan mengalahkan sepuluh orang Indonesia. Bangsa Indonesia sejatinya tidak kekurangan orang pintar. Namun Bangsa Indonesia memiliki kelemahan dalam membentuk kerjasama serta kesatuokoh.

Oleh karena itu, kata kunci dari keseluruhan gagasan tersebut diatas adalah kolaborasi. Sudah saatnya kaum muda dan terpelajar Indonesia berkumpul, membangun visi akan masa depan Indonesia dalam nuansa Pergerakan Kaum Intelektual. Pergerakan ini akan efektif ketika berada dalam satu organisasi atau jejaring antar organisasi akademik.

Organisasi pergerakan ini memiliki konsepsi yang dilandaskan atas kesadaran bahwa kaum intelektual memiliki peran sebagai lokomotif peradaban serta berkewajiban untuk memiliki integritas terhadap bidang ilmu yang digelutinya.

Organisasi pergerakan ini juga menjadi wadah dimana budaya akademik disuburkan, serta menjadi tempat dimana visi masa depan Indonesia digagas. Organisasi ini bergerak berdasarkan nilai-nilai inovasi dan kreativitas sehingga mampu menjadi tempat kaderisasi para calon pemimpin bangsa untuk belajar memimpin perubahan.

Soekarno memiliki “revolusi” yang tertulis tak hanya di Istana Negara melainkan juga di gang-gang kumuh di kota-kota. Soeharto juga memiliki “pembangunan nasional” yang diucapkan tak hanya pada pidato presiden melainkan juga sampai pada lurah-lurah di desa-desa. Oleh karena itu, Organisasi Pergerakan Kaum Intelektual ini (apapun wujudnya) harus mampu menawarkan “desire” terhadap seluruh rakyat Indonesia. Yakni “desire” yang mampu memompa optimisme dan gelora serta hasrat berjuang seluruh komponen bangsa.Organisasi ini adalah tempat dimana generasi muda yang adaptif dan pprogresif dibentuk.

     
Nur Abdillah Siddiq

Nur Abdillah Siddiq

Mahasiswa S3 Fisika ITS, menekuni bidang Optoelektronik dan Elektromagnetika Terapan. Sangat mencintai aktivitas membaca dan mendesain. Profil lebih lengkap dapat dilihat di www.facebook.com/fisrek

Satu tanggapan untuk “Manifesto Pergerakan Kaum Intelektual

  • 02 Agustus 2017 pada 00:17
    Permalink

    I know this site offers quality based articles and other material, is there any other sitte whnich presents these information in quality?

    Balas

Ayo Ajukan Pertanyaaan :)