Aktivitas Makan Mempengaruhi Emosi Seseorang

makan

Ekspresi marah dan sedih adalah bagian dari emosi. Untuk bisa mengontrol emosi tersebut, maka diperlukan energi yang bersumber dari makanan. Didalam tubuh, makanan yang berupa karbohidrat akan dipecah menjadi gula darah. Selanjutnya gula darah akan dibakar menjadi energi selama proses metabolisme tubuh.

makan mempengaruhi emosi
ilustrasi: zenfatloss.com

Pengaruh aktivitas makan terhadap pengambilan keputusan telah diteliti oleh peneliti Universitas Princeton. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa 1.112 keputusan yang dikeluarkan oleh hakim ada kaitannya terhadap aktivitas makan. Keputusan hukuman yang dibuat setelah sarapan atau istirahat makan siang  akan menyebabkan 65% tersangka mendapatkan keputusan hukuman yang ringan. Apabila dijelaskan secara mendetail, pemberian hukuman yang ringan turun dari 65% (setelah sarapan) menjadi nol (sebelum makan siang), dan naik kembali menjadi 65% (setelah makan siang). Meskipun hubungan antara aktivitas makan dan dibuatnya keputusan hukuman ringan secara statistik berhubungan erat, namun peneliti belum bisa memastikan apakah kecenderungan ini dapat dimanipulasi dengan istirahat sejenak dan makan akan mengembalikan kecenderungan hakim untuk memberikan putusan hukuman yang ringan.

Baca juga:
f1-medium
Grafik pengaruh makan terhadap pengambilan keputusan hakim Sumbu Y adalah persentase keputusan hukuman yang diinginkan (ringan) dan sumbu X adalah jam setelah makan. (Danziger et. al/pnas)

Penelitian yang senada dilakukan oleh Bushman dari Ohio State University. Para ilmuan menguji apakah kadar gula darah dalam tubuh akan mempengaruhi kontrol emosi seseorang. Mereka mengukur kadar gula 107 pasangan yang telah menikah selama 12 tahun. Pasangan ini diminta untuk menancapkan jarum kepada boneka dan menekan tombol speaker. Semakin marah pasangan tersebut maka akan semakin banyak jumlah jarum yang ditancapkan dan semakin lama tombol speaker ditekan. Hasil yang diterbitkan di jurnal pnas (Proceedings of the National Academiy of Sciences of the USA) tersebut menunjukkan bahwa semakin rendah kadar gula (semakin lapar) maka semakin banyak jumlah jarum yang ditancapkan dan semakin lama tombol speaker ditekan. Meskipun tidak signifikan, perempuan menancapkan jarum lebih banyak dibandingkan laki-laki saat kadar gula darah mereka rendah (lapar). Hasil dari penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk membatasi kemarahan seseorang dengan cara memberikannya makanan sebagai sumber kontrol diri.

Jadi, jika teman dan pasangan anda marah-marah, mungkin kadar gula daranya sedang rendah. Solusinya? Ajaklah dia makan.

Abdul Halim

 

 

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Abdul Halim

Abdul Halim

Menamatkan program ST dan MT di Jurusan Teknik Kimia ITS. Sedang menempuh PhD di University of Tsukuba. Meneliti pemanfaatan bio-nanomaterial untuk pengolahan limbah cair.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *