Mama Bergelar PhD: Perempuan Double Agent

Ilustrasi: Robert Neubecker/sciencemag.org

Kartini abad 21 terus berkarya memberikan kebaikan untuk bangsa. Para wonderwomen ini bukan mereka yang tidak tembus kena peluru atau mengalahkan preman dengan tendangan mematikan. Para wonderwomen ini adalah para wanita yang multitalenta penuh karya. Salah satunya adalah meneliti. Menjadi ibu, istri dan juga peneliti bukan perkara gampang. Bagaimana para PhD mama ini mengatasinya? Simak hasil wawancara tim warstek berikut dengan salah satu ahli nuklir muda Indonesia Dr. Nuri Trianti.

  1. Ada pepatah orang desa mengatakan, “anak perempuan sekolah setinggi apapun akan kembali ke dapur juga”, pepatah itu sudah berpuluh tahun yang lalu. Menurut anda, apakah setuju dengan pepatah tersebut? Apakah pepatah tersebut benar? Apa yang sebenarnya mendorong anda untuk terus sekolah hingga jenjang tertinggi?

Pepatah tersebut tidaklah salah, seorang perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak pada hakikatnya dalam rumah tangga/keluarga memiliki peran yang melekat. Hal tersebut terlepas dari latar belakang jenjang pendidikan ataupun status sosialnya, yaitu sebagai seorang istri dan sebagai seorang ibu.

Pendidikan bagi seorang ibu menurut saya sangat penting. Peran sebagai ibu sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak-anak yang selanjutnya akan menjadi generasi penerus bangsa. Melihat kehidupan anak-anak pada zaman sekarang rasanya jauh berbeda dengan kehidupan kita saat masa kanak-kanak dulu. Seorang ibu harus serba tahu dan up to date, agar perannya tidak terkikis oleh kerasnya kehidupan zaman sekarang. Alangkah bahagianya anak-anak kita jika dididik oleh seorang ibu yang smart (dalam arti yang luas). Selain itu, peran sebagai istri tentu penting juga, suami membutuhkan support dan pengingat saat sedang berkarir serta memimpin keluarga, di balik lelaki yang hebat terdapat wanita yang hebat (tentu ini berlaku untuk sebaliknya).

Seorang perempuan dengan pendidikan tinggi tentu memiliki pola pikir dan cara pandang yang luas sehingga besar harapan untuk dapat membuahkan sikap yang senantiasa bijak dalam menghadapi berbagai kondisi. Hal ini merupakan salah satu motivasi saya untuk menuntut ilmu selagi masih ada kesempatan dengan catatan selalu berusaha untuk seimbang dengan urusan di rumah. Sarana menuntut ilmu bukan hanya di bangku sekolah/kuliah, pergaulan di lingkungan yang kondusif tentu akan memberikan ilmu-ilmu baru yang nyata. Dan saat pulang ke rumah, ada suami dan anak-anak yang menanti aplikasi terbaik dari ilmu yang didapatkan oleh seorang istri (ibu) selama menuntut ilmu di luar rumah.

  1. Bagaimana pandangan keluarga atau masyarakat melihat seorang perempuan yang sedang kuliah S3? Dan bagaimana pandangan mereka saat ditengah kuliah hamil dan melahirkan?

Pandangan keluarga alhamdulillaah baik dan sangat mendukung. Sejak kecil orang tua saya selalu memotivasi agar dapat berusaha terbaik untuk mencapai cita-cita, selain itu do’a orang tua senantiasa mengiringi setiap langkah saya. Menjalani proses mengandung dan melahirkan di tengah kuliah tentu menjadi tantangan tersendiri. Dukungan moral dari orang-orang terdekat, terutama orang tua dan suami sangat diperlukan. Karena tanpa dukungan orang-orang terdekat, mungkin akan timbul masalah yang menjadikan baik perkuliahan maupun kehamilan/persalinan menjadi tidak optimal. Pilihan hidup yang kita jalani, sedapat mungkin dikomunikasikan dengan baik dengan orang-orang terdekat. Sebisa mungkin mencari titik temu yang nyaman bagi semua pihak. Lebih lanjut mengenai kehamilan dan persalinan di tengah perkuliahan, pihak kampus pun memberi keleluasaan dan support supaya keduanya dapat dijalani dengan optimal selama tidak melanggar aturan yang diberlakukan, misal tidak melewati batas waktu studi dan tidak melalaikan tugas-tugas kuliah. Tidak mudah memang membagi waktu saat mengandung, melahirkan, dan mengurus bayi dengan tugas perkuliahan serta riset di kampus, namun alhamdulillaah sudah bisa dilewati. Sangat terasa memang ketika tuntutan dan kewajiban kita semakin banyak maka kita kan lebih terlatih untuk lebih pandai membagi waktu sehingga semua pihak selalu diusahakan untuk dapat terpenuhi haknya dengan baik.

  1. Apa peran suami, keluarga dan masyarakat melihat sosok perempuan yang sekolah tinggi?

Alhamdulillaah suami saya sangat open mind dan mendukung penuh saya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Komunikasi yang baik antara suami istri serta trust terhadap pasangan menjadi kunci agar kita bisa melewati fase-fase kehidupan dengan tentram. Keluarga dan masyarakat tentu memiliki ekspektasi yang lebih terhadap seorang perempuan yang sekolah tinggi. Ekspektasi tersebut harus dijawab dengan konstribusi bagi keluarga dan masyarakat secara lebih luas agar ilmu yang diperoleh selama pendidikan tinggi dapat bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat ini merupakan salah satu anugerah bagi perempuan yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi.

  1. Sebagai seorang istri, ibu, dan mahasiswi/peneliti. Perasaan jenuh atau negatif apa yang seringkali atau pernah muncul dan bagaimana menanggapi hal itu?

Terkadang muncul rasa bersalah di dalam diri saya. Perasaan khawatir akan tumbuh kembang anak karena tidak 24 jam diawasi oleh ibunya, serta perasaan kurang optimal menjalani peran sebagai seorang istri. Sering kali juga merasa iri dengan perempuan yang bisa full time ada untuk keluarga, namun hal tersebut juga sekaligus memotivasi saya untuk berusaha yang terbaik memenuhi peran saya dan memperbanyak quality time dengan keluarga.

Selain itu, rasa lelah fisik tentu tidak bisa dielakan. Setiap orang membutuhkan penyegaran di sela-sela aktivitas kesehariannya. Saya menyenangi travelling bersama suami dan anak. Meet up dengan teman yang senantiasa dapat memberikan penguatan rohani dan teman yang juga sudah memiliki anak balita. Dalam pertemuan tersebut saya cukup mendapatkan charge energi karena bisa berbagi pengalaman terutama tentang parenting. Untuk menghindari perasaan jenuh yang berkepanjangan, rules-nya yaitu berusaha menyelesaikan pekerjaan luar rumah di luar rumah saja. Dengan demikian, ketika di rumah, kita bisa lebih menikmati quality time dengan keluarga. Hal yang cukup saya gemari dan rutin dilakukan adalah berdiskusi bertukar pikiran dengan suami tentang berbagai hal yang kami jalani dan rencanakan ke depannya.

  1. Apa momen paling spesial selama menjadi seorang mahasiswa sekaligus ibu?

Momen paling spesial ketika sedang mengandung anak pertama. Saat itu saya sedang disibukkan dengan penyelesaian tesis magister. Alhamdulillah masa tersebut (kurang lebih 8 bulan lamanya antara merawat kandungan serta menyusun tesis) terlewati dengan baik dan saya dapat melampaui ujian tesis dengan baik. Selain itu, tepat satu hari setelah saya mengikuti kegiatan wisuda S2, anak pertama saya lahir. Setelah lulus S2 saya langsung melanjutkan jenjang S3.

Momen spesial lainnya ketika menyelesaikan program S3 saya harus terpisah dengan suami yang sedang studi S3 di luar negeri. Selain itu, saya juga memiliki tanggung jawab pekerjaan sebagai tenaga kontrak di kampus. Tantangan baru saat itu adalah menjalani peran sebagai ibu dan sekaligus sebagai ayah. Peran ibu sudah terbiasa dilakukan selama ini, namun untuk mengantikan peran ayah sementara, lumayan harus putar otak untuk kreatif cari permainan yang seru, yang sering kali Syifa lakukan dengan ayahnya. Di samping itu, saat itu anak saya sudah mulai mandiri dan mengikuti kelompok bermain (play group) sehingga cukup memberi saya waktu untuk menyelesaikan disertasi di saat anak saya beraktivitas di play group. Selama terpisah dengan suami dan harus mengurus anak sendirian, saya selalu memohon kepada Allah agar diberikan kekuatan dan segala puji bagi Allah, akhirnya saya dapat melewati sidang promosi doctor.

  1. Pesan apa yang ingin disampaikan kepada seluruh wanita Indonesia yang sedang berkarir di dunia sains?

Terus berkarya! Selagi kita masih bisa, selagi masih ada kesempatan, selagi masih sehat dan muda. Tularkan keingintahuan kita terhadap ilmu pengetahuan yang merupakan ayat-ayat kauniyah kepada anak-anak kita sehingga mereka pun dapat memahami dasar penciptaan manusia dan alam semesta. Dengan demikian mereka akan lebih mudah mengenal kebesaran Tuhannya dan terdorong untuk semakin sering mengingat-Nya.

Saya seringkali merasa terpacu untuk lebih kreatif berjuang mengisi peran ibu yang optimal di samping urusan-urusan di luar rumah. Di rumah kita akan tetap menjadi seorang ibu dan istri, maka usahakan selesaikan pekerjaan luar rumah, di luar rumah saja. Selalu minta izin kepada suami atas apa yang akan kita lakukan, karena keberkahan Allah akan turun lewat ridha suami.

Jangan lupa terus bersyukur kepada Allah. Semakin kita bersyukur maka Allah akan melipatkan nikmat bagi kita. Pada kondisi apapun kita berada, kemampuan apapun yang kita miliki, maka terdapat sedekah yang harus kita keluarkan dari setiap sendi-sendi tubuh kita. Salah satu rasa syukur yang paling baik adalah dengan berbagi rasa syukur tersebut dengan orang lain yang membutuhkan.

Wallaahu a’lam bishawab..

nuri_trianti
Wawancara bersama Dr. Nuri Trianti
Baca artikel selanjutnya:

Ibu Hamil Mengalami Perubahan Pada Otaknya

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Abdul Halim

Abdul Halim

Menamatkan program ST dan MT di Jurusan Teknik Kimia ITS. Sedang menempuh PhD di University of Tsukuba. Meneliti pemanfaatan bio-nanomaterial untuk pengolahan limbah cair.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar