Antibiotik Baru dari Tangkuban Perahu

Keberagaman alam di Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Indonesia terhitung memiliki 147 gunung berapi tersebar di seluruh pulau. Di Jawa Barat sendiri terdaftar 17 gunung api, salah satunya Gunung Tangkuban Perahu, dimana peneliti Institut Teknologi Bandung dan LIPI melakukan identifikasi dan skrining terhadap 5 (lima) mikroorganisme yang berasal dari sampel tanah gunung berapi tersebut. Tidak banyak masyarakat di Bandung yang mungkin tahu, bahkan sebagian masyarakat di Indonesia pada umumnya mungkin tidak menyangka bahwa terdapat mikroba yang hidup di tanah mengandung sulfur dan juga memiliki potensi sebagai agen antibiotik. Tanah vulkanik merupakan sumber potensial untuk bahan baku pembuatan obat-obatan yang berasal dari alam. Antibiotik adalah hasil metabolit sekunder, yaitu komponen yang  dihasilkan oleh organisme tertentu (misal asam amino tertentu, asam lemak, terpen dll.), yang berfungsi untuk membunuh bakteri, fungi dan virus yang menginfeksi dan bersifat patogen. Di Indonesia sendiri kasus kematian akibat resistensi antibiotik, antimikroba pada umumnya, mencapai 700.000 per tahun pada 2014 lalu, apabila perkembangan dan penyebaran infeksi ini berlanjut dan belum dapat diatasi dengan baik, maka diperkirakan pada tahun 2050 mendatang angka kematian akibat resistensi ini dapat mencapai 10 juta jiwa. Oleh sebab itu, salah satu upaya dengan menemukan sumber antibiotik baru dengan aktivitas antimikroba yang lebih efektif dirasa tepat saat ini.

54bakter9_kebal
foto: pubinfo.id

Para peneliti dari Institut Teknologi Bandung dan LIPI berhasil melakukan tahap isolasi, identifikasi dan skrining terhadap 5 (lima) mikroorganisme yang diperoleh dari sampel tanah gunung berapi Tangkuban Perahu untuk mengeksplorasi lebih jauh potensi mikroorganisme sebagai agen antibiotik seiring meningkatnya kejadian resistensi terhadap antibiotik. Mikroorganisme yang berhasil diidentifikasi adalah tiga strain Actinomycetes dan 2 strain fungi, dimana kedua strain tersebut dikenal sebagai sumber berbagai metabolit sekunder yang bermanfaat untuk mengatasi infeksi pada manusia. 

Actinomycetes merupakan kelompok  bakteri gram positif yang umum ditemukan di tanah dan sebagian besar kelompok tersebut adalah penghasil berbagai antibiotik dan beberapa komponen antimikroba lainnya. Sementara, Fungi merupakan kelompok talofita, dimana strukturnya tidak tersusun atas akar, batang maupun daun, yang dikenal luas sebagai jamur. Beberapa jenis fungi menghasilkan antibiotik yang sudah umum dikenal, semisal penisilin. Beragam komponen antimikroba yang dapat dihasilkan dari dua kelompok tersebut  menjadikan penemuan terhadap strain spesifik menjadi hal yang menarik untuk dicari tahu lebih dalam.

Baca juga:
Gambar 1. Penampakan Hifa dan Spora pada Isolat (A) TP1; (B) TP 2; (C) TP 3; (D) TP 4; dan (E) TP 5 dalam Media Agar Kentang Dekstrosa (Perbesaran 100x) [1]

Setelah mengetahui taksonomi, morfologi dan fisiologi dari strain yang diisolasi, para peneliti kemudian melakukan fermentasi dan uji bioaktivitas terhadap isolat strain. Hasil uji terhadap bioaktivitas ke-5 strain menunjukkan bahwa semua isolat menghasilkan aktivitas antibiotik. Bioaktivitas, uji resistensi dan uji patogen bakteri tertinggi diperoleh pada strain yang teridentifikasi sebagai Streptomyces galbus. Selain itu, uji pada kaldu fermentasi strain Streptomyces galbus mendapatkan hasil  uji  dengan availability of T47D cell  terendah. Streptomyces galbus memiliki potensi antikanker yang tinggi. Menurut para peneliti, temuan potensi antibiotik baru akan lebih  menjanjikan apabila isolasi dan skrining actinomycetes dan fungi  dilakukan pada beragam sumber tanah vulkanik lainnya yang dinilai memiliki potensi keberadaan dua kelompok tersebut. Lebih lanjut, hasil penelitian  ini juga menunjukkan bahwa kedua strain dari kelompok tersebut dapat bermanfaat untuk berbagai aplikasi, baik untuk mengendalikan penyakit infeksi menular hingga potensi untuk penemuan obat baru.

Gambar 2. Skrining Bioaktivitas Strain pada Uji Kaldu Fermentasi [1]

Sebagai bagian dari masyarakat,  kita bisa mengambil peran serta  dalam upaya penanggulangan resistensi antimikroba melalui langkah kecil, seperti menghabiskan antibiotik yang diberikan sesuai saran dokter dan tidak mengkonsumsi antibiotik secara berlebihan, apalagi mendesak untuk diberikan antibiotik ketika sakit saat itu tidak diperlukan.

Sumber:

[1] Andayani S dkk, HAYATI Journal of Biosciences 22 (4), 2015, 186-190

[2] Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI, “Mari Bersama Atasi Resistensi Antimikroba”, 31 Mei 2016 (diakses 15 maret 2017)

[3] Volcano Discovery, “Volcanoes of Indonesia (147 Volcanoes), https://www.volcanodiscovery.com/indonesia.html (diakses 12 Maret 2017)

 

[/um_loggedin]

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Nailul Izzah

Nailul Izzah

Pembelajar | Penikmat kopi | DIII Teknik Kimia Undip Alumni | Semarang | nailul.izzah91@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *