Memanen Energi dari Bakteri dan Limbah Cair

Bagikan Artikel ini di:

Limbah Cair dari Industri. summerlandenvironmental.com.au

Oleh: Bimastyaji Surya Ramadan*

Penggunaan energi fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam sebagai sumber energi utama bagi sektor industri, transportasi, dan domestik menimbulkan berbagai macam persoalan. Produk akhir dari energi fosil berupa gas CO2 dan emisi gas lainnya telah memicu terjadinya perubahan iklim. Masalah ini kemudian melahirkan inisiatif gerakan hijau yang secara global berusaha untuk melakukan tindakan-tindakan preventif, inovatif, dan kreatif dalam mengatasi masalah ini. Energi terbarukan menjadi solusi bagi permasalahan krisis energi tersebut karena menawarkan dampak lingkungan yang kecil, meningkatkan keamanan energi, memfasilitasi pengembangan teknologi bersih serta menggunakan sumber daya alam yang sangat minim. Meskipun begitu, penggunaan energi terbarukan memiliki banyak kendala, terutama pada hasil, proses serta biaya produksi dan investasi yang tinggi untuk pengembangannya [1].


Limbah merupakan produk samping dari suatu proses produksi yang sudah tidak dapat digunakan lagi. Meskipun begitu, limbah masih mengandung sejumlah energi yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi masa depan. Pemanfaatan limbah sebelum benar-benar dibuang/dihancurkan menjadi alternatif untuk mengurangi biaya pengolahan dan meningkatkan keberlanjutan sistem pengolahan. Efisiensi energi dapat dicapai apabila energi yang tersimpan dalam limbah dapat dimanfaatkan dengan baik. Digester anaerob dan fermentor merupakan contoh teknologi pengolah limbah yang dapat menghasilkan biogas sebagai bahan bakar alternatif pengganti minyak bumi [2]. 


Mohon maaf Artikel ini terpotong. LOGIN atau DAFTAR untuk membaca lebih lanjut (GRATIS).
     

Ayo Ajukan Pertanyaaan :)