Bagian otak ini mempengaruhi kita saat mengambil keputusan

Gambar 1. Pengambilan Keputusan [Image: Pexels.com]
 

Manusia dengan segala keunikannya dikaruniai banyak kelebihan dibanding makhluk lainnya. Salah satunya, kemampuan yang telah diketahui melibatkan otak, termasuk saat manusia mempelajari situasi yang dapat membantunya mengambil sebuah keputusan. Proses ini melibatkan pertimbangan  berdasarkan pada pengalaman atau informasi yang telah tersimpan dalam otak;  apakah harus mengambil resiko atau memilih aman, tetap berpegang pada keadaan atau  membuat perubahan, akan jadi untung atau rugi. Sikap-sikap tersebut ternyata melibatkan  bagian otak tertentu dan sejumlah protein  hingga mempengaruhi  bagaimana seseorang mengambil keputusan. Hal tersebut dipelajari oleh peneliti behavioral neuroscience dari UCLA  dengan melakukan pengamatan melalui perilaku hewan uji tikus.

Laporan penelitian yang dirilis oleh salah satu peneliti sekaligus ketua tim, Dr. Alicia Izquierdo, menunjukkan bahwa akan adanya keterkaitan pada daerah orbitofrontal cortex dan basolateral amygdala, dimana masing-masing daerah tersebut diketahui saling berperan dalam proses pengambilan-keputusan seseorang. Pada orbitofrontal cortex, daerah otak tersebut telah dilaporkan berperan untuk hal-hal yang bersifat motivasi bagi seseorang, seperti keinginan makan/ minum, perilaku emosi seseorang dan interaksi sosial. Kedua daerah itu diamati untuk mempelajari bagaimana daerah otak tersebut bekerja, apakah aktif atau tidak,  selama proses pengambilan keputusan terjadi.

Gambar 2. Foto hasil pengamatan bagian otak yang aktif ditandai dengan penanda warna neuronal nuclei yang diamati secara photomicrograph A. Penampakan bagian Orbitofrontal cortex; B. Penampakan bagian Basolateral amygdala [1. Izquierdo, dkk., 2017/ eLIFE]

Sekelompok tikus yang telah dilatih mengikuti pola perilaku tertentu, kemudian diamati perilaku dan perubahannya selama studi. Tikus tanpa fungsi basolateral amygdala yang aktif dengan baik ditemukan lebih lambat dalam mempelajari perubahan lingkungan yang terjadi. Selanjutnya, tikus dengan orbitofrontal cortex yang tidak berfungsi aktif,  sama sekali tidak mampu mempelajari perubahan situasi lingkungan yang terjadi. Namun, dalam percobaan tidak terdapat pengulangan situasi untuk mengetahui apakah dengan tidak berfungsi secara aktif kedua daerah  tersebut membuat tikus benar-benar tidak mampu mempelajari situasi lingkungannya.

Gambar 3. Orbitofrontal cortex [Gambar: Wikipedia]
Gambar 4. Basolateral amygdala [Gambar: Wikipedia]

Dr. Izquierdo menyatakan kepada media massa UCLA bahwa peran basolateral amygdala tidak kalah dibanding orbitofrontal cortex selama studi dilakukan. Bagaimana kedua daerah tersebut saling berkaitan secara anatomi dan keduanya berperan pada saat pengambilan-keputusan, khususnya dalam keadaan  penuh ketidakpastian yang menyebabkan tikus uji cenderung memilih untuk tidak mengambil resiko karena dapat kehilangan rewards sesuai pola yang telah diatur oleh tim peneliti. Tikus memilih tidak mengambil resiko agar mendapat rewards, pada keadaan tersebut didapati basolateral amygdala tikus aktif dengan baik dan berdampak pada meningkatnya kadar protein GluN1 yang muncul karena dipicu oleh pengalaman atas ketidakpastian, suatu mekanisme adaptasi neuron (neuroadaptation). Pengetahuan tentang aktif/ tidak aktif dan keterkaitan dua daerah spesifik ini, menurut dr. Izquierdo, di masa depan dapat membantu pengobatan secara tepat dengan menarget daerah otak yang menderita gangguan tertentu secara spesifik, salah satunya autisme. Namun demikian, dr. Izquierdo menyatakan bahwa penelitian lebih jauh pada otak manusia tetap harus dilakukan, karena bagaimanapun otak manusia memiliki orbitofrontal cortex dan basolateral amygdala yang berbeda dengan ekspresi protein yang berbeda pula.

Sumber:

[1] Izquierdo, Alicia. Stolyarova, Alexandra. “Complementary contributions of basolateral amygdala and orbitofrontal cortex to value learning under uncertainty”. eLife 2017;6:e27483 doi: 10.7554/eLife.27483

[2] Rolls ET. “The functions of the orbitofrontal cortex”. Brain Cogn. 2004 Jun;55(1):11-29.

[3] UCLA Newsroom. “Changes in brain regions may explain why some prefer oder and certainty, UCLA behavioral neuroscientists report”. http://newsroom.ucla.edu/releases/changes-in-brain-regions-may-explain-why-some-prefer-order-and-certainty (diakses pada 28 Juli 2017)

 

 

Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Nailul Izzah

Nailul Izzah

Pembelajar | Penikmat kopi | DIII Teknik Kimia Undip Alumni | Semarang | nailul.izzah91@gmail.com

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar