Agar Anggota Timmu Merasa Pekerjaannya Bermakna

Oleh: Lewis Garrad dan Tomas Chamorro-Premuzic

Sudah banyak diketahui cerita tentang seorang cleaning service di NASA yang, ketika ditanya oleh JFK (John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat) apa pekerjaan dia, jawabnya “aku membantu mengantarkan manusia ke bulan“. Anekdot ini sering dipakai untuk menunjukkan bagaimana pekerjaan paling biasa bisa dilihat penuh makna dengan cara pandang yang tepat dibawah kepemimpinan yang baik.

Hari ini, makin hari makin banyak pekerja membutuhkan lebih dari sekedar gaji yang baik. Uang mungkin menarik masyarakat untuk bekerja, tapi tujuan, makna, harapan dan nilai dari pekerjaan menentukan baik jabatan dan seberapa keras mereka akan bekerja selama mereka menjadi karyawan. Menemukan makna dalam pekerjaan telah menjadi sesuatu yang sangat penting sampai-sampai terdapat peringkat untuk pekerjaan paling bermakna. Meskipun ada banyak faktor yang menentukan daya tarik suatu pekerjaan, namun yang memiliki sumbangsih terhadap perbaikan orang lain berada pada peringkat teratas (contohnya kesehatan dan kegiatan sosial). Menariknya, studi meta analisis mengindikasikan hanya terdapat hubungan kecil antara gaji dan kepuasan pekerjaan. Seorang pengacara yang bergaji 500 juta rupiah setahun tidak lebih menarik dari desainer freelance yang menghasilkan 110 juta rupiah setahun.

Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa mereka yang merasa pekerjaannya bermakna lebih baik dalam kesehatan, kesejahteraan, kerja tim dan minat. Mereka menjadikan halangan sebagai lompatan dan cenderung melihat kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar dibandingkan melihatnya sebagai kegagalan. Dengan kata lain, ketika mereka di tempat kerja cenderung tumbuh dan berkembang ketika mereka merasa pekerjaan mereka bermakna. Itulah mengapa bisnis dengan tujuan yang jelas dan kuat cenderung memiliki performa keuangan yang lebih baik. Bukan sebuah kejutan lagi bahwa perusahaan-perusahaan paling sukses juga merupakan tempat terbaik untuk bekerja.

Beberapa dekade terakhir, penelitian menunjukkan bahwa para pemimpin berperan secara signifikan dalam membantu karyawannya agar paham mengapa keberadaan mereka penting. Lebih jauh, karakteristik kepemimpinan yang dapat membuat lingkungan bermakna dan bertujuan untuk menarik karyawan adalah cerminan dari kepribadian pemimpin – yang mana telah terbukti berdampak kuat terhadap performa tim dan organisasi

Lebih detail, hasil penelitian menyarankan bahwa ada empat karakteristik kepribadian yang menjadi kunci dalam menentukan kemampuan seorang pemimpin membuat pekerjaan menjadi lebih bermakna yaitu:

Mereka orang yang penuh penasaran dan ingin tahu. Penelitian menunjukkan bahwa masyarakat cenderung untuk merasa pekerjaannya bermakna ketika mereka merasa seperti sedang berkontribusi untuk membuat sesuatu yang baru – khususnya ketika mereka merasa dapat mengeksplor, menghubungkan dan memiliki sebuah dampak. Para pemimpin ini membantu mereka menemukan makna dalam pekerjaan melalui eksplorasi, pertanyaan, dan mengikutsertakan anak buahnya dalam ide-ide masa depan. Disatu sisi, pemimpin ini membantu para karyawan menemukan sesuatu yang bermakna dengan menyediakan segala kemungkinan yang lebih besar bagaimana suatu pekerjaan dapat diselesaikan, kebalikannya terlalu memberi petunjuk dan mengatur segala hal. Pemimpin ini juga cenderung merasa bosan dan benci akan hal-hal yang monoton, sehingga mereka akan selalu mencari orang-orang dengan ide-ide baru dan membuat pengalaman kerja mereka lebih menarik.

Mereka penuh tantangan dan tekun. Salah satu masalah terbesar organisasi yang harus diselesaikan adalah stagnasi dan rasa nyaman yang mengikuti kesuksesan, meskipun telah diantisipasi. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang optimis yang menyangka melakukan dengan baik tidak mencoba sekeras orang yang menyangka untuk gagal atau terhambat. Para pemimpin yang menyisakan ambisi di depan wajah kegagalan dan kesuksesan sekaligus, dan mereka yang mendorong orang-orangnya untuk tetap tidak puas dengan semua pencapaian mereka, menancapkan tujuan dengan lebih dalam pada tim dan organisasi mereka. Sebagai hasilnya para karyawan merasakan kemajuan, penemuan dan perkembangan, yang mana melahirkan pengalaman kerja yang lebih positif dan bermakna.

Mereka merekrut nilai dan kecocokan budaya. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang hanya menemukan sesuatu yang bernilai jika berkaitan dengan kebutuhan dan motivasi utama mereka. Inilah mengapa kecocokan nilai antar individu personal dan budaya organisasi tempat mereka bekerja adalah gaya dorong penting dari performa mereka. Faktanya, kamu lebih baik tidak merekrut orang terbaik, melainkan mereka yang benar-benar cocok dengan organisasimu. Nilai berperan seperti kompas internal atau lensa yang meneruskan arti ke seluruh dunia. Para memimpin yang menaruh perhatian pada nilai masing-masing individu umumnya lebih merekrut orang-orang yang akan lebih mudah terhubung dengan para kolega dan organisasi mereka, semua yang membantu menggerakkan kepada sebuah makna.

Mereka dapat mendelegasikan. Kebanyakan orang benci micro managing. Bos yang terlalu berkuasa dan mengatur adalah problem serius tidak berperannya para karyawan. Hal ini menyebabkan tak terlihatnya dampak kerja dan membuat mereka merasa tidak bernilai. Kebalikannya, para pemimpin yang tahu bagaimana memberikan tanggung jawab umumnya lebih memberikan ruang untuk bereksperimen dan tumbuh. Lebih spesifik, mereka membantu orang-orangnya mencetak aturannya sendiri-sesuatu yang para peneliti juluki “job crafting“. Karyawan yang menyesuaikan sendiri pekerjaan mereka cenderung lebih merasa penting dan bernilai karena mereka merasa bahwa manager mereka mempercayainya.

Catat bahwa keempat karakteristik kepribadian diatas semuanya harus ada. Seorang bos yang penuh rasa ingin tahu tetapi tidak mewakilkan tanggung jawab mungkin terus akan membuat karyawannya bersiap siaga karena ketidak tentuan dan ketidak terdugaannya – sebuah cara pasti menyakiti performa dan moral. Seorang bos yang penuh tantangan tetapi tanpa rasa ingin tahu mungkin datang sebagai perundung (tukang bully), sedangkan seorang bos yang mendelegasikan tetapi tidak memberikan tantangan akan terlihat seperti seorang gampangan. Singkatnya, ada perbedaan antara membuat pekerjaan bermakna dan membuatnya menyenangkan atau mudah, seperti perbedaan besar antara karyawan yang tertarik dan bahagia. Sedangkan ketertarikan menghasilkan antusiasme, gairah, dan motivasi-semuanya meningkatkan performa sehingga sangat bernilai untuk organisasi-kebahagiaan cenderung membawa kepada kepuasan. Untuk menjadi pemimpin yang baik, fokus untuk membantu para karyawan menemukan arti dari pencapaiannya, dari pada hanya membuat mereka menikmati waktunya di kantor.

Sumber: Garrad, L. dan Chamorro-Premuzic, T. How to Make Work More Meaningful for Your Team, Harvard Business Review, 9 Agustus 2017.

Lewis Garrad, Seorang psikolog organisasi bersertifikat, spesialis di Sirota, bekerja di perusahaan psikologi dari Mercer. Spesialis bidang desain dan program penelitian perilaku karyawan dan intervensi. Hubungi dia di Twitter: @lewisgarrad

Tomas Chamorro-Premuzic adalah CEO dari Hogan Assessment Systems, Seorang Profesor Psikologi Bisnis di University College London, dan dosen di Columbia University. Hubungi dia di Twitter: @drtcp atau at www.drtomascp.com. Buku terbarunya, The Talent Delusion, diterbitkan pada bulan Februari 2017.

Penerjemah: Abdul Halim

Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Abdul Halim

Abdul Halim

Menamatkan program ST dan MT di Jurusan Teknik Kimia ITS. Sedang menempuh PhD di University of Tsukuba. Meneliti pemanfaatan bio-nanomaterial untuk pengolahan limbah cair.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar