Mission (not) Impossible: Cara Lebah Terbang yang Memukau

Bagikan Artikel ini di:

“According to all known laws of aviation, there’s no way that a bee should be able to fly. Its wings are too small to get its fat little body off the ground. The bee, of course, flies anyway. Because bees don’t care what humans think is impossible.” (Bee Movie, 2007)

Sekitar awal abad ke-20 ada mitos yang berkembang bahwa lebah (dan serangga pada umumnya) mustahil dapat terbang. Proporsi ukuran sayap dengan badan lebah menjadi sebab mengapa ada yang berpikir demikian. Pendapat itu juga didukung oleh hasil hitung-hitungan fisikawan di zaman itu. Ludwig Prandtl, misalnya, yang pada akhirnya membuat banyak orang percaya bahwa kasus terbang lebah adalah fenomena yang menyalahi hukum fisika. Kini satu abad telah berlalu. Apakah hal ini memang suatu anomali?


Sebenarnya cara terbang lebah telah lama terungkap. Bahkan kini telah ada microrobot menyerupai lebah buatan sebuah laboratorium di Harvard University yang mampu terbang. Kesalahpahaman yang terjadi dalam kasus ini mungkin disebabkan oleh minimnya teknologi pada waktu itu. Manusia mengetahui cara burung terbang jauh-jauh hari sebelumnya. Prinsip Bernoulli yang mampu menjelaskan kasus burung dan pesawat terbang dengan baik, kembali dipakai dalam kasus lebah. Wajar jika melihat bentuk sayap lebah yang kaku dan sama sekali tidak airfoil, mereka berkesimpulan bahwa hal ini mustahil dilakukan. Mereka belum tahu bahwa lebah dan burung memiliki cara terbang yang berbeda. Seratus tahun yang lalu, teknologi masih belum semaju sekarang. Meski kamera slow motion telah ada di masa itu, namun kemampuannya belum secanggih saat ini.

Prinsip Bernoulli dalam Fenomena Burung Terbang 


Mohon maaf Artikel ini terpotong. LOGIN atau DAFTAR untuk membaca lebih lanjut (GRATIS).
     

Ayo Ajukan Pertanyaaan :)