Hasil Penelitian Menunjukkan Masalah Hidup Membuat Kita Semakin Kuat

Pernah mengalami masalah atau bertemu dengan orang yang memiliki banyak masalah?

Mungkin kita pernah mendengar cerita dari orang tua kita yang melalui masa mudanya dengan jerih payah. Lantas orang tua kita menceritakan jerih payahnya tersebut dengan rasa bangga karena telah melaluinya. Mungkin pernah juga kita merasa biasa saja saat menghadapi suatu masalah karena pernah mengalami hal yang lebih berat. Ternyata, hambatan atau ujian ini jika dapat kita atur dengan benar, maka akan memberikan kekuatan kepada kita [1].

Banyak peribahasa atau perumpamaan untuk membangkitkan semangat saat ujian hidup datang. Misalkan saja, menganggap ujian sebagai sebuah tes apakah kita anak naik kelas atau tidak. Seorang filosof Jerman, Friedrich Nietzsche mengatakan, “that which does not kill us, make us stronger“. Dalam kitab suci umat Islam, Al Qur’an, banyak ayat motivasi untuk terus berusaha dan tidak berputus asa terhadap ujian yang diberikan Allah. Misalkan dalam surat Al Baqarah 286 yang menegaskan bahwa Allah tidak memberikan ujian diluar kemampuan hamba-Nya. Dan dipertegas pula dalam surat Al Insyirah 5-6 bahwa dalam setiap kesulitan ada kemudahan [2].

Hasil Penelitian Tentang Stress dan Kondisi Pikiran yang Ternyata Saling Berkaitan  

Penelitian yang dilakukan oleh Seery [3] mengungkapkan bahwa ujian hidup yang kita alami dapat memberikan kekuatan kepada kita dalam menjalani hidup. Seery melakukan survey terhadap 2398 orang responden di Amerika Serikat secara acak. Responden memberikan data tentang kepuasan hidup dan ujian hidup yang telah mereka alami. Dalam penelitiannya tersebut, diperoleh bahwa dalam batas tertentu ujian justru membuat mereka semakin tegar untuk menghadapi ujian berikutnya. Adanya masalah hidup membuat mereka memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang merasa tidak pernah mengalami masalah. Akan tetapi, penelitian ini memiliki keterbatasan tidak menilai kualitas ujian setiap respondennya. Satu ujian yang biasa bagi satu orang bisa berarti lebih besar bagi orang lain. McGonigal dalam bukunya The Upside of Stress, menuliskan bahwa seseorang yang memiliki “growth mindset” cenderung akan lebih sabar dan menggunakan ujian yang diperolehnya sebagai tempaan mental. Hal tersebut menyebabkan orang dengan growth mindset  bisa lebih tabah dikemudian hari. Pikiran kita memiliki peranan penting bagaimana merespon stres dari setiap permasalahan hidup [4]

Pikiran kita tidak hanya merangsang efek psikologis munculnya rasa percaya diri atau menjadi merasa bersemangat,tetapi juga berpengaruh terhadap metabolisme dalam tubuh. Seperti yang ditemukan oleh Alia Crum bahwa, mereka yang menganggap aktifitas bekerja adalah sebagai olah raga menunjukkan penurunan berat badan dan tekanan darah dibandingkan dengan mereka yang menganggap bekerja sebagai beban [5]. Survey yang dilakukan dengan memberikan minuman yang sama dengan label berbeda (satu gelas dengan label bahwa minuman tersebut mengandung banyak kalori dan gelas lain mengandung sedikit kalori) menunjukkan respon yang berbeda terhadap kadar Ghrelin, hormonal pengatur rasa kenyang [6]. Meskipun jumlah kalori yang terkandung sebenarnya sama. Demikian juga dengan stress, apakah berefek positif atau negatif, tergantung bagaimana pikiran kita.

Ref.
  1. McGonigal, K., (2016), The Upside of Stress: Why Stress is Good for You, and How to Get Good at It”, New York
  2. Al Qur’an Surat Al Baqarah 286 dan Al Insyirah 5-6
  3. Seery, M. D., Holman, E. A., & Silver, R. C. (2010). Whatever does not kill us: Cumulative lifetime adversity, vulnerability, and resilience. Journal of Personality and Social Psychology, 99(6), 1025-1041
  4. Crum, A. J., Salovey, P., & Achor, S. (2013). Rethinking stress: The role of mindsets in determining the stress response. Journal of Personality and Social Psychology, 104(4), 716-733
  5. Alia J. CrumEllen J. Langer, (2007), Mind-Set Matters: Exercise and the Placebo Effect, Psychological Science, 18 (2) 165 – 171
  6. Crum, A. J., Corbin, W. R., Brownell, K. D., & Salovey, P. (2011). Mind over milkshakes: Mindsets, not just nutrients, determine ghrelin response. Health Psychology, 30(4), 424-429.

 

Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Abdul Halim

Abdul Halim

Menamatkan program ST dan MT di Jurusan Teknik Kimia ITS. Sedang menempuh PhD di University of Tsukuba. Meneliti pemanfaatan bio-nanomaterial untuk pengolahan limbah cair.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar