Era Disrupsi atau Era Kreasi?

Anda Pilih Mana?

Disruption Vs. Creation
Competition Vs. Collaboration
Paranoia Vs Optimism
Zero-Sum Game Vs Abundance

Akhir-akhir ini sedang populer istilah “Disruption” di media massa, seminar-seminar dan diskusi-diskusi di media sosial. Tak kurang dari Guru Besar FE UI, Prof. Rhenald Kasali menulis buku khusus tentang era disrupsi ini, dan menggambarkannya sebagai era yang menakutkan bagi perusahaan-perusahaan mapan. Judul bukunya pun terasa sangar: “Disruption: Menghadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan dalam Perdaban Uber”. Tapi benarkah era disruption itu begitu menakutkan, dipenuhi zero-sum game yang berdarah-darah, dimana tokoh protagonisnya biasanya adalah para startups yang dibackup para investor gajah untuk “membunuh” dinosaurus (perusahaan mapan) yang sudah harus punah? Haruskah era disruption itu dijadikan bahan untuk menakut-nakuti dan meimbulkan paranoia, seakan-akan dunia ini sedang memasuki zaman persaingan ketat habis-habisan? Saya tidak sependapat.

Disruption adalah istilah yang dipopulerkan oleh Clayton Christensen sebagai kelanjutan dari tradisi berpikir “harus berkompetisi, untuk bisa menang (for you to win, you’ve got to make some body lose)” ala Michael Porter. Duet maut profesor selebritis Harvard Business School ini telah mendominasi dunia bisnis dalam 22-37 tahun terakhir. Kalau ada dua teori paling diingat oleh lulusan MBA, biasanya ya dua teori ini: Disruptive Innovation (Christensen) dan Competitive Strategy (Porter). Beliau berdua ini telah sangat berjasa untuk turut serta menjadikan dunia bisnis mulai awal tahun 1980-an (porter) dan akhir tahun 90-an (Christensen) di penuhi aura persaingan sengit antar perusahaan dalam pertarungan hidup-mati. Tapi masih akan seperti inikah dunia bisnis 10-30 tahun mendatang? saya kira tidak perlu, jika kita mau.

Adalah W Chan Kim and Renée Mauborgne, dua profesor INSEAD yang pertama kali di tahun 2005, tepat 10 tahun setelah istilah “Disruption” dipopulerkan Christensen, berteriak bahwa kita tidak perlu “bersaing” untuk sukses, bahwa kita tidak perlu “mengalahkan” untuk bisa menang dalam berbisnis. Dan 12 tahun kemudian, dalam bukunya yang baru terbit, “Blue Ocean Shift”, Duet Profesor INSEAD ini menegaskan kembali, “tidak perlu mendisrupsi siapapun untuk bisa sukses besar”. Viagra tidak melakukan “disruption” ke perusahaan apapun untuk menjadi salah satu obat paling sukses. Microfinance ala Muhammad Yunus tidak mengggangu atau berkompetisi dengan Bank manapun untuk memberimanfaat pada ratusan juta orang miskin. Kalau boleh memberi contoh kasus lokal: SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique), training yang saya kenalkan 11 tahun lalu, tidak bersaing atau mengganggu eksistensi training-training lain yang sudah ada sebelumnya.

Mengapa mereka ini bisa sukses besar tanpa melakukan “disruptive innovation”? karena mereka melakukan inovasi yang “beyond-disruption”. Mereka menciptakan pasar baru, tanpa perlu bersaing dengan yang sudah ada. Dan mereka sukses besar tanpa harus mengalahkan siapapun. Karena mereka ini melakukan “non-disruptive creation”. Jadi apakah anda masih berbagga diri atau bersemangat mau melakukan “Disruption”? kalau saya tidak berminat. Atau anda takut setengah mati perusahaan mapan anda jadi korban disruption seperti Kodak, Nokia, Mall & Pusat Grosir, atau Taxy Konvensional? Tidak perlu, jika anda punya “Abundance Mind-Set” dan segera menerapkan “Blue Ocean Shift” atau “Exponential Organization” seperti P&G, Apple, Google, Amazon, dan perusahaan-perusahaan gajah mapan lain yang tetap bisa bergerak lincah seperti kancil.

Peter Diamandis, Co-Founder dari Singularity University, malah bergerak lebih jauh lagi. Dengan data-data yang sangat meyakinkan, dia berargumen bahwa dunia ini akan semakin berkelimpahan (abundance) dalam 10-30 tahun ke depan. Maka kita tidak perlu takut atau panik dengan era disruption. Toh Disruption yang digambarkan “sangar dan kejam” itu hanya fase ke-3 dari 6 fase “Exponential Shock” yang ujung-ujungnya adalah “Keberlimpahan buat Semua”. Tinggal masalahnya dalam era transisi besar-besaran ini anda mau jadi penonton saja, atau mau jadi pemeran utamanya? mau cuman ketakutan dan terkaget-kaget melihat satu persatu perusahaan besar itu tumbang, atau mau ikut aktif menciptakan masa depan yang lebih baik buat semua penduduk bumi? Sekarangpun kalau kita jeli, kita sudah berkelimpahan dalam banyak hal.

  • Baru beberapa tahun lalu kita perlu bayar mahal untuk telpon interlokal. Sekarang hampir gratis, bahkan video-call sekalipun, ke belahan dunia manapun.
  • Gabungan teknologi yang ada dalam HP yang anda pegang sekarang ini, bisa anda beli dengan harga sepersepuluh ribu dibanding 25 tahun lalu.
  • Informasi yang bisa anda akses di Google sekarang ini, jauh lebih banyak dibanding informsi yang dimiliki Presiden Amerika beserta seluruh jajaran Inteligence nya 20 tahun lalu. Dan kedepan:
  • Listrik akan bisa anda dapatkan secara murah karena panel tenaga surya makin lama makin murah.
  • Bensin, solar, minyak tanah tidak anda perlukan lagi, karena hampir semua mobil, kompor dan truk logistik bertenaga listrik yang murah itu.
  • Dan karena harga listrik dan minyak adalah penggerak utama harga barang-barang, maka ini akan berefek domino bikin harga bahan-bahan pokok lain, transportasi, dll. ikut lebih murah.
  • Dalam sektor kesehatan, DNA sequencing, untuk pengobatan segala macam penyakit, yang dulunya perlu biaya ratusan juta, akan lebih murah dari biaya menyiram toilet.
  • Materi kuliah di kampus terbaik di dunia yang seharga 5 Milyar/4 tahun, bisa anda akses gratis sekarang. Plus semua ilmu yang dulu hanya bisa diakses di kampus-kampus elit, sekarang bisa di akses oleh anak desa di pedalaman Maluku misalnya.
  • Dan seterusnya, dan seterusnya.

Peter Diamandis menjelaskan secara detail dan ilmiah semua fakta yang jauh lebih banyak lagi dalam bukunya, “Abundance: Why the Future is Better than You Think”. Intinya, ada cukup banyak sumber daya yang berlimpah untuk semua orang, jadi buat apa kita rebutan dan bersaing? mengapa kita tidak kerja sama saja unt meraih kesejahteraan bersama, termasuk dng kompetitor kita? (insya Allah bersambung…)

Baca juga: Membuat Tantangan Jadi Kesempatan di Era Disrupsi
Baca juga: Mengapa Anda Perlu Move-On dari Demam Era “Disruption”, Dan Fokus Persiapan Menyongsong Era “Abundance”

Bloomington, 11 Oktober 2017
Ahmad Faiz Zainuddin
Pendiri Logos Institute
Mahasiswa MBA di Warwick Business School (UK)
dan Kelley Business School (USA)

Dipost oleh warstek berdasarkan persetujuan dari penulis.

Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Warung Sains Teknologi

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri. Sampai saat ini, sains dan teknologi berkesan ekslusif yang hanya ada di laboratorium dan tidak mampu secara langsung berdampak kepada masyarakat. Akibatnya masyarakat, pemerintah dan industri tidak menjadikan sains sebagai sarana mengatasi permasalahan atau membuat kebijakan. Untuk itu, warstek hadir untuk menjawab tantangan tersebut.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar