Membuat Tantangan Jadi Kesempatan di Era Disrupsi

Bagikan Artikel ini di:

Kengerian era disrupsi yang dikenal

Dalam kondisi mata dan otak tinggal 5 watt karena kurang tidur, lagi-lagi saya mendapat posting-an WA tentang betapa menakutkannya era Disruption. Kali ini atas nama Nana Padmosaputro, yang kata beliau

  • Menikah muda dan banyak anak itu berbahaya, karena persaingan dunia akan sangat mengerikan.
  • Jangan bangga masuk universitas bermodal hafalan ayat (mungkin maksudnya hafal ayat-ayat kitab suci).
  • Pasar global dan tsunami Iptek bisa membuat anak cucu kita mati berdiri sambil memeluk kitab suci yang entah akan menolong dengan cara apa.
  • Dan statemen-statemen lain yang intinya masa depan akan sangat mengerikan.

Saya ndak habis berpikir, ini siapa yang mulai kok banyak orang pada ketularan kesalahpahaman dan kegalauan masal yang salah kaprah. Maka ijinkan saya posting lagi penjelasan panjang lebar. Semoga anda tidak ikut tertular virus panik dan salahpaham ini.

Tantangan baru

“Zaman Baru Memang Melahirkan Tantangan Baru, Tapi Juga Sekaligus Melahirkan Kesempatan Baru”. Dulu tahun 1964 sekelompok ekonom panik karena lahirnya “komputer”. Dipimpin 2 peraih nobel ekonomi mereka bikin analisa panjang lebar dan memberikan surat peringatan ke presiden Amerika waktu itu, Lyndon Johnson agar waspada bahwa jutaan pekerjaan akan lenyap. Diantara yang lenyap adalah jutaan petugas juru ketik dan para Akuntan junior karena mereka akan digantikan komputer. Dan 50 tahun kemudian, saat ini memang sudah tidak ada lagi jutaan pekerjaan juru ketik dan juru hitung, tapi lahirlah puluhan juta ahli komputer dengan segala hal yang berhubungan dengan komputer. Dari software engineer sampai gamer dan coder. Dan justru di Era kerjaan kelas rendah diambil alih robot dan komputer, maka ini saatnya semangat karena manusia jadi ter-upgrade martabatnya untuk hanya melakukan pekerjaan yang lebih “manusiawi” dimana komputer dan robot tidak bisa melakukannya.

Pekerjaan manusiawi

Dan apakah pekerjaan yang lebih manusiawi itu? Yang menggunakan kecerdasan emosi dan spiritual manusia. Bukan lagi kecerdasan otak dan kekuatan otot manusia yang ndak akan lagi bisa menandingi kecerdasan AI dan kekuatan otot robot yang better, cheaper, faster. Maka justru saat inilah kita perlu memeluk erat kitab suci dan bergandengan tangan sesama manusia dengan sepenuh kasih, apapun perbedaan primordial kita (agama, suku, status sosial). Karena dangan begitu justru kecerdasan spiritual dan emosi/sosial kita akan melejit dan sanggup menaklukkan tantang era exponensial abad ini (bukan sekedar era disrupsi yang hanya merupakan fase ke-3 dari 6 fase era eksponensial). So guys, jangan takut atau galau apalagi khawatir dengan era disrupsi. Ini hanya tahap ke-3 yang bikin goncangan hebat, tapi semua ini akan berakhir indah menuju era “Abundance” di tahap ke-6. Asalkan kita tetap setia pada kemanusiaan kita dengan selalu menjaga kewarasan kita lewat hubungan yang mesra dengan Tuhan dan sesama manusia.

Pekerjaan baru

Singularity University menyebut tahap ke-6 (Abundance) ini sebagai: Era “The Have” and “Super Have”. Jadi diharapkan tidak ada lagi yang “The Have Not”. Masih akan ada perusahaan-perusahaan besar yang mendominasi, seperti GAFA (Google, Amazon, Facebook, Apple), plus second tier seperti IMI (Intel, Microsoft & IBM). Tetapi akan sangat banyak perusahaan-perusahaan kecil yang ikut sejahtera. Dan tentu saja melahirkan jenis-jenis pekerjaan baru yang tidak pernah ada sebelumnya. Diantara yang sekarang sudah bermunculan dimana 10 tahun lalu tidak ada: Youtuber, Instaseleb, Buzzer, Drone Operator, dsb. Dan anak-anak kita akan mendapati jenis-jenis pekerjaan baru yang saat inipun belum ada. Dan ini jumlahnya diperkirakan 65%. Maka siapkanlah mereka untuk pekerjaan-pekerjaan baru tersebut. Yang intinya robot dan Artificial Intelligence tidak bisa melakukannya, atau manusia akan menjadi pelengkap yang mengendalikan 2 teknologi itu.


Bagaimana dengan orang-orang yang kurang berdaya (buruh-buruh, dll)? Elon Musk dalam World Government Forum di Dubai kemarin, memberi solusi: maka Universal Basic Income (UBI) akan menjadi perlu. UBI: semua orang usia 20-55 tahun akan dapat transferan dari pemerintah sejumlah biaya hidup minimal tanpa syarat tanpa kecuali. Tentunya ini hanya bisa dibiayai jika pekerjaan-pekerjaan level bawah sudah bener-benar diambil alih oleh robot dan AI, sehingga ada surplus produktifitas. Maka untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, orang tidak lagi didefinisikan berdasarkan jenis pekerjaannya. Pencarian makna hidup kita tidak lagi berhenti di pekerjaan atau karir, dan perintah Allah dalam Al-Quran bahwa Tujuan Hidup kita (pusat makna hidup kita) adalah Ibadah (bukan pekerjaan) akan benar-benar terealisasi.

Btw, untuk kecerdasan intelektual seperti hafalan dan logika sederhana, AI sudah melampaui manusia sudah lama. Dan sesuai Law of More yang trend selama 100 tahun terakhir tidak berubah, sekitar tahun 2035-2040, komputer seharga 1000 dolar diperkirakan punya kecepatan processing melampui otak manusia (10 Terabyte/second). Semoga demikian adanya.

Foto: http://www.tahawultech.com
Tetap semangat

Intinya mari Tetap semangat dan Optimis sambil terus Mengupgrade diri dan anak-anak kita di bidang-bidang dimana Robot dan AI tidak bisa melampaui manusia. Yaitu, di Kecerdasan Spiritual, Emosi & Sosial. Bismillah. Semoga kita semua selamat dan sejahtera dunia akhirat. Nothing to worry about if we are well prepared. Dan lagi-lagi saya ingin mengingatkan, (terutama menjelang tahun-tahun politik 2018-2019) dimana siap-siap hoax akan merajalela dari segala penjuru dan dari semua kubu. Serta kebencian dan kesalahpahaman akan jadi komoditas utama: “dalam hidup yang tinggal separo hembusan nafas ini, jangan tanam apapun selain CINTA, jangan tebarkan apapun selain BERKAH”

Baca juga:

– Era Disrupsi atau Era Kreasi?
– Mengapa Anda Perlu Move-On dari Demam Era “Disruption”, Dan Fokus Persiapan Menyongsong Era “Abundance”

Bloomington, 13 November 2017
Ahmad Faiz Zainuddin
Pendiri Logos Institute
Mahasiswa MBA di Warwick Business School (UK)
dan Kelley Business School (USA)

Dipost oleh warstek berdasarkan persetujuan dari penulis.

     
Warung Sains Teknologi

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri. Sampai saat ini, sains dan teknologi berkesan ekslusif yang hanya ada di laboratorium dan tidak mampu secara langsung berdampak kepada masyarakat. Akibatnya masyarakat, pemerintah dan industri tidak menjadikan sains sebagai sarana mengatasi permasalahan atau membuat kebijakan. Untuk itu, warstek hadir untuk menjawab tantangan tersebut.

Ayo Ajukan Pertanyaaan :)