Proyek ITER untuk Riset Reaktor Fusi Nuklir telah Mencapai Setengah Jalan

Energi listrik merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi umat manusia dalam kehidupan sehari-hari. Energi listrik digunakan untuk berbagai keperluan proses industri, pembangunan, perekonomian, sampai kepada kebutuhan sehari-hari seperti memasak nasi, menyalakan lampu, menyetrika pakaian, memanas ruangan, dll. Sumber energi di dunia sampai pada 2015, banyak dihasilkan oleh tiga (3) besar sumber energi yaitu, pertama minyak (oil) sebesar 32.94%, kedua batubara (coal) sebesar 29.20%, dan yang ketiga gas sebesar 23.85% [1]. Tapi, sumber energi fosil seperti batubara menciptakan masalah pencemaran udara yang dapat menyebabkan pemanasan global dan berakibat semakin naiknya suhu permukaan bumi yang akan berdampak pada mencairnya es di kutub.

Persentase penggunaan sumber energi total di dunia dari 2005-2015 (Sumber: https://www.worldenergy.org/publications/2016/world-energy-resources-2016/)

Melihat dari permasalahan tersebut ilmuwan-ilmuwan diseluruh dunia saling berkolaborasi untuk mencari alternatif energi bersih tanpa emisi yaitu energi yang berasal dari reaksi fusi nuklir. Energi yang dihasilkan oleh fusi nuklir diproleh dengan cara merancang reaktor fusi agar dapat menghasilkan panas dan tekanan yang setara dengan inti matahari sehingga dapat memicu reaksi fusi nuklir. Pada proses reaksi fusi nuklir terjadi penggabungan inti ringan (Hidrogen dan Litium) dengan meniru pada proses reaksi fusi pada inti matahari menjadi inti yang lebih berat serta melepaskan sejumlah energi yang besar.

Secara teori reaksi fusi lebih menguntungkan dari pada reaksi fisi nuklir karena energi rata-rata yang dihasilkan tiap sma (satuan massa atom) lebih besar reaksi fusi dari pada reaksi fisi. Kemudian, inti yang terbentuk pada reaksi fusi merupakan inti stabil, kecuali Tritium (Hidrogen berisotop 3) yang memancarkan radiasi beta lunak. Hal ini dapat menghilangkan permasalahan pada kontaminasi pada saat pengoperasian dan bahaya radiasi. Setiap proses penggabungan inti ringan menjadi inti lebih berat akan menghasilkan energi bersih tanpa emisi karbon yang sangat besar secara terus-menerus [2,3].

Sebuah proyek besar untuk penelitian reaktor fusi nuklir yang saat ini telah mencapai setengah jalan pembangunan menuju selesai. Proyek tersebut bernama ITER (International Thermonuclear Experimental Reactor) yang terletak di Perancis Selatan dengan biaya pembangunan sekitar 20 miliar euro ($ 23,7 miliar). ITER merupakan proyek raksasa pembangunan reaktor fusi riset yang diluncurkan pada tahun 2006 oleh tujuh mitra yaitu 28 negara Uni Eropa, Amerika Serikat, China, Rusia, Jepang, India dan Korea Selatan. Menurut Direktur Jenderal ITER, Bernard Bigot, mengatakan bahwa proyek tersebut akan mulai dinyalakan untuk memanaskan atom hidrogen dengan suhu super panas (hingga 100 juta derajat celcius atau setara dengan 7 kali panas inti matahari) pada tahun 2025, sehingga nantinya menjadi penghasil plasma pertama.

Proses pembangunan ITER (Sumber: https://phys.org/news/2015-05-star-power-iter-nuclear-fusion.html#nRlv)

Pada saat dinyalakan nantinya ITER akan menghasilkan sejumlah energi panas dan tidak akan digunakan untuk menghasilkan listrik. Para ilmuwan berharap hal ini akan menunjukkan bahwa reaktor fusi tersebut dapat menghasilkan lebih banyak energi daripada mengkonsumsi listrik untuk menyalakannya sendiri. Ada banyak eksperimen fusi lainnya, tetapi desain ITER dianggap sebagai yang paling canggih dan praktis.

Pembangunan ITER juga sempat terancam mengalami penundaan pembangunan dikarenakan tersendat masalah biaya yang disebabkan oleh Amerika Serikat memotong sekitar setengah biaya pembangunan dari 9% total anggran dari negara tersebut. Anggaran biaya terbesar berasal dari Uni Eropa yaitu sekitar 45% dari biaya proyek ITER. Direktur Jenderal ITER, Bernard Bigot telah pergi ke Washington, untuk mendesak pejabat pemerintahan atas AS termasuk Menteri Energi Rick Perry untuk menegakkan komitmen Amerika. Bigot mengatakan bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron telah menulias surat kepada Trump (Presiden AS) untuk mendesak guna mempertimbangkan kembali pemotongan anggaran [4,5,6].

Berikut video setengah jadi dari proyek ITER,

Refrensi:

  1. World Energy Council, World Energy Resources 2016 (PDF) (https://www.worldenergy.org/publications/2016/world-energy-resources-2016/) diakses pada tanggal 29 desember 2017
  2. Dadang, Wayan. 2017. “Reaktor Fusi Nuklir Siap untuk Menjawab Tantangan Kebutuhan Energi di Masa Depan dengan Emisi Karbon yang Bersih“. Ikatan Ilmuan Indonesia Internasional, 14 Juni 2017 (http://i-4.or.id/id/2017/06/14/reaktor-fusi-nuklir-siap-untuk-menjawab-tantangan-kebutuhan-energi-di-masa-depan-dengan-emisi-karbon-yang-bersih/) diakses pada tanggal 29 desember 2017
  3. Amiruddin, Achmad. 2015. “Kimia Inti, Radiokimia dan Penggunaan Radioisotop“. Jakarta: BATAN
  4. Direktur ITER. 2017. “Nuclear fusion project faces delay over US budget cuts: director“. Physics Org, 7 Desember 2017 (https://phys.org/news/2017-12-nuclear-fusion-director.html) diakses pada tanggal 29 desember 2017
  5. Jordans, Frank. 2017. “Nuclear fusion project hails halfway construction milestone“. Physics Org, 6 Desember 2017 (https://phys.org/news/2017-12-nuclear-fusion-hails-halfway-milestone.html) diakses pada tanggal 29 desember 2017
  6. Mollard, Pascale. 2015. “Star power: Troubled ITER nuclear fusion project seeks new path“. Physics Org, 22 Mei 2017 (https://phys.org/news/2015-05-star-power-iter-nuclear-fusion.html#nRlv) diakses pada tanggal 29 desember 2017
Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Wayan Dadang

Wayan Dadang

Mahasiswa S1 Teknik Elektro Universitas Sriwijaya, menekuni Kecerdasan Buatan, Sistem Kontrol, dan Robotika. Mencintai kegiatan membaca Paper Sains, Belajar, Menulis, dan Riset.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar