Penjelasan Ilmiah pada Kasus Jennifer Dunn yang Susah Lepas dari Jeratan Narkoba

Sejak 31 Desember 2017, infotainment Indonesia sibuk menyiarkan terciduknya artis bernama Jennifer Dunn atau yang biasa dipanggil Jedun. Jedun diciduk Polda Metro Jaya karena kembali tersandung kasus Narkoba. Sebelumnya Jedun sudah terjerat kasus narkoba ditahun 2005 pada saat usia Jedun masih 15 tahun, dilanjutkan pada 2009 ketika usianya 19 tahun yang berakibat pada penahanan jeruji besi hingga 2012[1].

Hal ini tentu saja menimbulkan pertanyaan, mengapa seseorang yang telah terjerat narkoba menjadi sangat susah untuk berhenti menjadi pemakai narkoba? Bahkan Jedunpun tak mampu lepas dari Narkoba selama 12 tahun.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pertama kita harus paham tentang mekanisme komunikasi bagian-bagian dalam otak. Otak mengatur fungsi dasar tubuh manusia, termasuk kemampuan untuk menafsirkan dan menanggapi semua hal yang kita alami dari membentuk pikiran, emosi, hingga perilaku. Narkoba tentu saja akan menyerang otak karena mempengaruhi bagaimana manusia berfikir hingga berperilaku.

Mekanisme komunikasi antar bagian otak

Otak manusia merupakan organ tubuh yang paling kompleks dan rumit.  Otak terdiri dari miliaran neuron atau sel saraf. Jaringan neuron akan mengordinasi dan mengatur segala hal yang kita rasakan, pikirkan, dan lakukan. Jaringan neuron melewatkan pesan (sinyal listrik dan kimia) secara bolak-balik di antara struktur yang berbeda di dalam otak, sumsum tulang belakang, dan saraf di bagian tubuh lainnya (sistem saraf perifer) melalui neurotransmiter. Neurotransmiter diterima oleh reseptor yang terdapat pada neuron dan menyebabkan aktifnya neuron tersebut. Ketika neuron aktif, maka pesan tersebut akan diterima  dan diteruskan pada neuron lainnya berdasarkan mekanisme “kunci dan gembok”. Mekanisme khusus tersebut memastikan bahwa setiap reseptor akan menerima dan meneruskan pesan hanya setelah berinteraksi dengan jenis neurotransmiter yang tepat[2].

Untuk mengirim pesan, sel syaraf otak (neuron) mengeluarkan zat kimia (neurotransmitter) ke dalam ruang (sinaps) didekat neuron lainnya. Neurotransmitter melewati sinaps dan menempel pada protein (reseptor).

Jenis neurotransmitter berbeda-beda sesuai dengan pesan yang dibawanya, seperti asetilkolin terlibat dalam pendengaran dan memori, dopamin terlibat dalam perasaan bahagia dan emosi, serotonin terlibat dalam rasa lapar, dan glutamat yang terlibat dalam proses pembelajaran[3].

Bagaimana narkoba bekerja didalam otak?

Narkoba adalah bahan kimia yang mempengaruhi otak dengan cara masuk ke dalam sistem komunikasi otak. Tentu saja hal ini akan mengganggu cara neuron dalam mengirim, menerima, dan memproses pesan/informasi.

Beberapa jenis narkoba seperti ganja dan heroin dapat mengaktifkan neuron karena struktur kimianya meniru neurotransmiter. Kesamaan dalam struktur kimia tersebut dapat “menipu” reseptor dan memungkinkan narkoba untuk menempel pada reseptor dan mengaktifkan neuron. Meskipun narkoba meniru bahan kimia otak yang asli (neurotransmitter asli), narkoba tidak mengaktifkan neuron dengan cara yang sama seperti neurotransmitter asli. Hal inilah yang menyebabkan pesan tidak dikirimkan secara normal melalui jaringan neuron.

Narkoba jenis lain seperti amfetamin atau kokain dapat menyebabkan neuron melepaskan sejumlah neurotransmiter asli dalam jumlah yang tidak normal (dalam jumlah berlebih). Gangguan ini menghasilkan pesan yang sangat diperkuat, yang pada akhirnya mengganggu saluran komunikasi dalam otak. Seperti bahagia yang berlebihan (nge-fly), atau halusinasi yang juga berlebihan (sakau).

Bagaimana cara kerja narkoba menghasilkan sensasi kesenangan dan kebahagiaan?

Sebagian besar penyalahgunaan narkoba menargetkan sistem penghargaan dalam otak dengan membanjiri jalur komunikasi antar neuron dalam otak dengan dopamin. Istilah sistem penghargaan (reward system) mengacu pada sekelompok bagian di otak yang dapat diaktifkan dengan memberi rangsangan (aktivitas tertentu seperti makan, beribadah, mendengarkan musik, dll) atau penguatan (misalnya narkoba)[4]. Saat terkena rangsangan yang mengaktifkan sistem penghargaan, neuron merespons dengan meningkatkan pelepasan neurotransmitter dopamin.

Dopamin adalah neurotransmitter yang ada di bagian otak yang mengatur pergerakan, emosi, motivasi, dan perasaan senang. Bila diaktifkan pada tingkat normal, sistem ini memberi penghargaan pada perilaku alami kita dalam bentuk perasaan senang dan bahagia seperti setelah makan, mendengarkan musik, beribadah, dll. Kadar dopamin yang berlebih akibat narkoba dapat menghasilkan efek euforia atau sensasi kebahagiaan dan kesenangan yang tiada tara.

Bagaimana stimulasi dopamin berlebih mengajarkan pengguna narkoba untuk terus memakai narkoba?

Otak kita dirancang untuk memastikan bahwa kita akan mengulangi kegiatan yang mendukung kualitas hidup dengan menghubungkan kegiatan tersebut dengan kesenangan dan penghargaan. Kapan pun sistem penghargaan ini diaktifkan, otak mencatat bahwa ada sesuatu yang penting yang perlu diingat, dan mengajarkan kita untuk melakukannya lagi dan lagi tanpa memikirkannya. Karena penyalahgunaan narkoba menstimulasi sistem penghargaan, maka pemakai narkoba akan terus “belajar” untuk terus menyalahgunakan narkoba.

Mengapa penghargaan karena narkoba lebih adiktif dari pada penghargaan karena aktivitas normal?

Pada penyalahgunaan narkoba, pengguna narkoba dapat melepaskan 2 sampai 10 kali jumlah dopamin dari pada aktivitas normal seperti makan, beribadah, mendengarkan musik, berhubungan seksual, dll. Dalam beberapa kasus, pada saat narkoba diisap atau disuntikkan maka efek kebahagiaannya bisa bertahan lebih lama dari pada yang dihasilkan oleh aktivitas normal. Efek dari kebahagiaan yang begitu kuat ini sangat memotivasi orang untuk memakai narkoba lagi dan lagi. Inilah sebabnya mengapa para ilmuwan kadang-kadang mengatakan bahwa penyalahgunaan obat terlarang adalah sesuatu yang dapat kita lakukan dengan sangat mudah.

Sebagian besar penyalahgunaan narkiba menargetkan sistem penghargaan otak dengan membanjiri jalur komunikasi dalam otak dengan neurotransmitter dopamin.

Apa yang terjadi dengan otak pemakai narkoba jika Anda terus memakai narkoba?

Bagi otak, perbedaan antara penghargaan karena aktivitas normal dan penghargaan karena narkoba dapat digambarkan sebagai perbedaan antara seseorang yang berbisik ke telinga Anda dan seseorang berteriak melalui mikrofon. Sama seperti disaat kita menurunkan volume musik yang terlalu keras, maka otak menyesuaikan diri dengan lonjakan dopamin yang berlebihan dengan memproduksi lebih sedikit dopamin atau dengan mengurangi jumlah reseptor yang dapat menerima sinyal. Akibatnya, tanpa memakai narkoba maka dopamin pada pengguna narkoba dapat menjadi sangat rendah, dan kemampuan pengguna narkoba untuk mengalami kesenangan berkurang. Inilah sebabnya mengapa seorang pengguna narkoba akhirnya merasa hidupnya datar, serasa tidak bernyawa, depresi, dan tidak dapat menikmati hal-hal yang sebelumnya menyenangkan.

Ketika sekali mengkonsumsi narkoba, maka orang tersebut perlu untuk terus memakai narkoba lagi dan lagi hanya untuk menjadikan kadar dopaminnya kembali normal. Tentunya tindakan ini hanya membuat masalah menjadi semakin buruk, seperti lingkaran setan. Selain itu, seiring berjalannya waktu maka pengguna narkoba akan mengkonsumsi narkoba dalam dosis yang lebih tinggi untuk menghasilkan dopamin yang lebih banyak yang disebut dengan efek toleransi.

Bagaimana pengaruh jangka panjang penyalahgunaan narkoba terhadap struktur otak?

Tingkat toleransi neurotransmiter akan terus berkembang seiring digunakannya narkoba, akibatnya akan terjadi perubahan besar pada jaringan neuron otak dan berpotensi membahayakan kesehatan otak secara permanen. Misalnya neurotransmitter jenis lain yang bernama glutamat. Glutamat mempengaruhi sistem penghargaan dan kemampuan untuk belajar. Bila konsentrasi optimal glutamat diubah oleh penyalahgunaan narkoba, otak mencoba mengkompensasi perubahan ini yang dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif. Fungsi kognitif terdiri dari unsur-unsur memperhatikan (atensi), mengingat (memori), mengerti pembicaraan/berkomunikasi (bahasa), bergerak (motorik) dan merencanakan/melaksanakan keputusan (eksekutif).

Penyalahgunaan narkoba jangka panjang dapat memicu proses “belajar” pada sistem memori secara tidak sadar. Apabila pemakai narkoba melakukan aktivitas atau mengalami kondisi tertentu sebelum memakai narkoba misal karena stres berat kemudian memakai narkoba, maka proses “belajar” akan terjadi secara tidak sadar. Yang dimaksud proses belajar adalah sistem memori akan mengingat secara otomatis aktivitas/kondisi tertentu sebelum mengkonsumsi narkoba. Dampak dari proses belajar tersebut akan menjadi pemicu untuk memakai narkoba meskipun telah berhenti memakai narkoba. Refleks “belajar” ini akan bertahan sangat tahan lama dan dapat mempengaruhi orang yang pernah menggunakan narkoba bahkan setelah bertahun-tahun tidak lagi memakai narkoba.

Apalagi perubahan otak yang terjadi karena penyalahgunaan narkoba?

Pemaiakan narkoba secara terus-menerus dapat menyebabkan kenaikan toleransi atau kebutuhan dosis narkoba yang lebih tinggi untuk menghasilkan efek kebahagiaan yang serupa. Hal itu juga dapat menyebabkan kecanduan yang dapat mendorong pengguna untuk mencari dan mengkonsumsi obat secara kompulsif (tindakan yang biasanya dilakukan secara berulang untuk mengurangi kecemasan). Kecanduan narkoba dapat mengikis kontrol diri seseorang dan kemampuan untuk membuat keputusan yang tepat, sekaligus menghasilkan dorongan intens untuk terus mengkonsumsi narkoba.

Jadi tidaklah mengherankan jika Jedun masih memakai narkoba selama 12 tahun, karena secara penjelasan ilmiah sangatlah susah untuk lepas dari jeratan narkoba. Namun hal ini bukan berarti tidak mungkin. Dengan kemauan yang keras, lingkungan yang benar-benar kondusif, maka pemakai narkoba dapat lepas dari jeratan narkoba seperti contohnya adalah Almarhum Ustadz Jeffry Al-Buchori.

 

Referensi:

[1] Rekam Jejak Jennifer Dunn dan Kasus Narkoba, Dari Umur 15 Tahun Sudah Kenal NAZA. Dalam Tribunnews.com diakses pada 7 Januari 2017.

[2] Drugs, Brains, and Behavior: The Science of Addiction. Dalam Drugabuse.gov diakses pada 7 Januari 2017.

[3] Five Most common Neurotransmitters. Dalam Quizlet.com diakses pada 7 Januari 2017.

[4] Know your brain: Reward system. Dalam Neuroscientificallychallenged.com diakses pada 7 Januari 2017.

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Nur Abdillah Siddiq

Nur Abdillah Siddiq

Mahasiswa S3 Fisika ITS, menekuni bidang Optoelektronik dan Elektromagnetika Terapan. Sangat mencintai aktivitas membaca dan mendesain. Profil lebih lengkap dapat dilihat di www.facebook.com/fisrek

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar