Sebuah Investigasi Multitasking: Hal-Hal yang Dilakukan Mahasiswa Saat Belajar

Gambar 2. Tampilan meja belajar mahasiswa dalam laboratorium pengamatan yang dilengkapi kamera dari berbagai sisi, dsb.

Perangkat pengamatan utama yang digunakan diantaranya kamera POV (Point of View) (Gambar 3a) dan mobile eyetracker (Gambar 3b) yang digunakan oleh setiap mahasiswa. Kamera POV digunakan untuk merekam layar computer yang digunakan dan mobile eyetracking digunakan untuk merekam dan mengirimkan hasil intepretasi gerakan mata mahasiswa selama belajar dalam bentuk tingkat ketegangan mata.

Gambar 3a. Kamera POV (Point of View)
Gambar 3b. Mobile Eyetracking

Proses pegamatan dilakukan dalam waktu 180 menit dengan membagi hasil pengamatan menjadi tiga bagian yaitu persentil ke 25, 50 dan 75. Hasil pengamatan berupa frekuensi dan durasi aktivitas multitasking dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 4. Tabel hasil pengamatan aktivitas dan durasi gangguan multitasking media

Selama proses pengamatan, rata-rata mahasiswa mengalami 35 gangguan selama 3 jam belajar mandiri dan terlibat dengan prilaku multitasking selama 26 menit (sekitar 14% dari sesi belajar) di luar mendengarkan musik. Khusus aktivitas mendengarkan musik, ternyata banyak mahasiswa (59%) mendengarkan musik untuk sebagian atau keseluruhan dari sesi tersebut, dengan jumlah rata-rata waktu terlibat dengan sumber gangguan selama 73 menit (lebih dari 40% sesi penelitian).

Data hasil penelitian pada Gambar 4. Menunjukan suatu hal yang menarik, yakni ada perbedaan signifikan dalam pendekatan mahasiswa untuk memasukkan multitasking media ke dalam kebiasaan belajar mereka. Misalnya, mahasiswa pada persentil ke 25 dari durasi gangguan hanya rata-rata 9 menit yang terlibat gangguan dan sama sekali tidak mendengarkan musik. Sebaliknya, siswa pada persentil ke-75 rata-rata 36 menit terlibat dengan gangguan, dan mendengarkan musik rata-rata 140 menit saat belajar. Perbedaan ini mewakili divergensi yang jelas dalam pola belajar, dan kemungkinan memiliki dampak signifikan pada kinerja pekerjaan rumah dan nilai mahasiswa. Hal ini juga membuktikan bahwa mahasiswa mungkin tidak secara akurat memperkirakan frekuensi penggunaan teknologi dalam perilaku multitasking media.

Gambar 5. Hubungan antara perilaku multitasking, kelelahan subjektif dan motivasi mengerjakan pekerjaan rumah

Selanjutnya hubungan antara perilaku multitasking, kelelahan subjektif dan motivasi mengerjakan pekerjaan rumah dapat dilihat pada Gambar 5. Data hasil penelitian pada Gambar 5. menunjukkan bahwa kelelahan subjektif ditemukan meningkat selama 3 jam belajar mandiri, sementara pengaruh positif dan motivasi mengerjakan pekerjaan rumah menurun sepanjang sesi pengamatan. Motivasi mengerjakan pekerjaan rumah yang tinggi dan self-efficacy (efikasi diri) untuk berkonsentrasi pada pekerjaan rumah dikaitkan dengan pendeknya durasi perilaku multitasking, sementara pengaruh negatif yang lebih tinggi dikaitkan dengan durasi multitasking yang lebih besar selama sesi belajar.


Penelitian semacam ini memberikan kontribusi besar untuk menjawab pertanyaan mengapa mahasiswa terlibat dalam perilaku multitasking selama belajar, dan dapat menjadi langkah awal menuju pengembangan intervensi yang ditargetkan untuk mengurangi perilaku multitasking melalui peningkatan mood, motivasi, dan self efficacy mahasiswa.

Multitasking pada hal ini ditekankan pada aktivitas yang berkaitan dengan penggunaan lebih dari satu media teknologi dalam satu waktu saat sedang belajar mandiri atau mengerjakan PR. Aktivitas  tersebut diantaranya, membaca dan mengirim pesan, membuka browser yang tidak berhubungan dengan tugas, menonton video, berkirim email, dsb. Mood dan motivasi ditingkatkan dengan harapan mahasiswa tidak menjadikan prilaku multitasking media sebagai pelarian dari kebosanan. Self efficacy (efikasi diri) yang merupakan tingkat kepercayaan diri mahasiswa akan kemampuannya juga ditingkatkan dengan tujuan meningkatkan konsentrasi mahasiswa dalam belajar.

Bagaimana Sahabat Warstek? Apakah Anda juga mengalami gangguan dalam belajar berupa prilaku multitasking seperti pada penelitian tersebut? Salah satu cara menghindari gangguan berupa prilaku multitasking dapat diawali dengan mengetahui dampak-dampak negatif dalam penggunaan media multitasking secara berlebihan.

Baca juga: Mengenal Radiasi Sinar Biru yang Dipancarkan Gawai (Gadget) – Dapatkah Menyebabkan Kebutaan?

Selain itu hal yang harus diperhatikan adalah prilaku multitaskers yang tinggi berakibat pada ketidakmampuan dalam menyaring informasi yang tidak relevan dari yang relevan. Multitaskers yang tinggi juga dapat mengurangi kemampuan untuk mengorganisir  mental dan mengalami kesulitan ekstra untuk fokus di antara tugas-tugas. Hal ini telah dibuktikan dengan eksperimen terkenal yang dimuat di laman Psychology Today terkait multitasker, bahwa  pemain basket yang fokus menembak bola basket, gagal memperhatikan seorang pria berkostum gorila berjalan melewati dirnya. Sedangkan pemain bola basket yang ternyata merupakan multitaskers yang yang tinggi berhasil melihat  pria berkostum gorila berjalan melewati dirinya tapi kehilangan fokus untuk menembakkan bolanya.

Walaupun begitu, bukan berarti Kita tidak dianjurkan untuk memiliki aktivitas lain selain kuliah saat menyandang gelar mahasiswa. Selagi bermanfaat untuk diri sendiri bahkan orang lain, lakukan saja. Fokus itu bukan satu ya Sahabat Warstek, tapi satu-satu.

 

Referensi:

[1] Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Satuan_kredit_semester diakses pada 26 Januari 2018

[3] Jacobsen, W. C., & Forste, R. (2011). The Wired Generation: Academic and Social Outcomes of Electronic Media Use Among University Students. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking. Vol. 14(5), 275–280.

[4] Leone, C. M., & Richards, M. H. (1989). Classwork and homework in early adolescence: the ecology of achievement. Journal of Youth and Adolescence. Vol. 18(6), 531–548.

[5] Wallis, C. (2006). genM: the multitasking generation. Time, 167(13). http://content.time.com/time/magazine/article/0,9171,1174696,00.html. Diakses pada 26 Januari 2018

[6]Calderwood, C., Ackerman, P. L., & Conklin, E. M. (2014). What else do college students “do” while studying? An investigation of multitasking. Computers & Education. Vol. 75, 19-29.

 

Tombol ajaib ini akan mengirimkan artikel Warung Sains Teknologi ke beranda Facebook Anda:


(klik tombol diatas)

Artikel yang berhubungan:

Warstek.com disponsori oleh:

     
Septian Ulan Dini

Septian Ulan Dini

Septian Ulan Dini, pembelajar yang saat ini sedang menempuh studi S1 di Pendidikan Fisika Unila. Bercita-cita keliling dunia dan membentuk inkubator inventor muda di Indonesia.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar