Indonesia dan UEA Akan Membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Terbesar di Dunia

Indonesia telah menargetkan bauran pengembangan energi baru terbarukan (EBT) pada 2025, yakni sebesar 23%[1]. Hal ini sejalan dengan potensi EBT yang dimiliki Indonesia. EBT seperti energi angin, matahari, gelombang laut belum optimal dikembangkan sebagai pembangkit listrik skala besar dan komersial. Pada bulan desember 2017, pemerintah Indonesia telah menyelesaikan proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap di Sulawesi Selatan dan akan mulai beroperasi pada tahun 2018. Langkah tersebut diambil agar rasio elektrifikasi Indonesia tidak tertinggal jauh dari negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura dan Brunei.

Selain itu, pemerintah Indonesia yang diwakili oleh PT. Pembangkit Jawa Bali (PJB) telah menandatangani kontrak kerjasama dengan Masdar (perusahaan EBT asal UEA) untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung di waduk Cirata, Purwakarta. Kapasitas PLTS terapung Cirata adalah 200 MW yang akan menghabiskan lahan waduk seluas 225 hektar[2]. Waduk cirata memiliki luas 6.000 hektar dan berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang mampu memproduksi energi listrik sebesar 1 GW. PLTS tersebut membutuhkan 700.000 pelampung sebagai tempat penyimpanan panel surya[2]. Selain menghasilkan listrik, PLTS terapung berfungsi untuk mengurangi pertumbuhan ganggang di sekitar waduk.

Baca juga: India dan Jerman Akan Memproduksi Kereta Listrik Bertenaga Sel Surya dan Gas Hidrogen

Gambar 1. Penandatanganan kontrak pembangunan PLTS terapung pertama di Indonesia antara PJB dan Masdar[1]

Potensi energi matahari di Indonesia sangat besar yakni sekitar 4,8 kWh/m2 atau setara dengan 112.000 GW[3]. Potensi tersebut harus bisa dimanfaatkan dengan maksimal, salah satunya dengan PLTS terapung. Nilai investasi PLTS terapung Cirata adalah US$ 300 juta yang akan dibangun pada tahun 2018 dan mulai beroperasi secara bertahap pada tahun 2019-2020[4].

Pembangunan PLTS terapung terbagi menjadi 4 tahap yang masing-masing tahap berkapasitas 50 MW. Pembangunan tahap I direncanakan beroperasi secara komersial pada kuartal kedua tahun 2019. Sementara pembangunan tahap 2 hingga 4 diproyeksikan beroperasi pada kuartal pertama tahun 2020. Harga jual listrik dari pengembang swasta ke PLN harus lebih kecil dari Biaya Pokok Penyediaan (BPP). Untuk wilayah Jawa Barat, Nilai BPP sebesar US$ 6,5 sen per kWh atau setara dengan Rp. 865 per kWh. Tarif listrik ini mengacu pada Peraturan Menteri ESDM No. 50/2017 tentang Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan untuk Penyediaan Listrik[5]. Direktur PT. PJB, Iwan Agung Fisrtantara, mengatakan bahwa proyek ini adalah yang terbesar untuk proyek sejenis dan proyek ini dapat mengakselerasi pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) serta memperkuat kerjasama antara Indonesia dan UEA.

Baca juga: Perbandingan Setiap Generasi Sel Surya

Gambar 2. Proyek PLTS terapung Cirata[6]

PJB dan Masdar menyebut proyek ini merupakan PLTS terapung terbesar di dunia karena kapasitas PLTS tersebut sebesar 200 MW. Kapasitas tersebut lebih besar dari PLTS terapung di China (150 MW) dan Korea Selatan (100 MW)[2]. Masdar menambahkan jika pembangunan PLTS terapung Cirata berhasil, maka hal itu akan membuka jalan untuk pembangunan PLTS terapung di 60 waduk Indonesia lainnya.

Perlu diketahui, kapasitas PLTS secara nasional hingga tahun 2017 baru mencapai 80 MW. Target kapasitas PLTS terpasang pada tahun 2025 adalah 6.400 MW[4]. Pemerintah Indonesia berharap dengan banyaknya kerjasama di bidang EBT, target bauran EBT 23% pada tahun 2025 dapat tercapai. “Pemerintah sangat terbuka untuk para investor datang ke Indonesia. Kami menawarkan bisnis yang sehat, tentu saja dengan tarif yang lebih rendah dari Biaya Pokok Penyediaan (BPP)” Tambah Arcandra Tahar, Wakil Menteri ESDM[5].

Baca juga: Sel Surya Perovskite (PSC) : Sel Surya Organik Masa Depan

 

Referensi

[1] Wijiatmoko, B. 2017. PLTS Terapung Pertama di Indonesia Segera Dibangun. http://ebtke.esdm.go.id/post/2017/11/29/1831/plts.terapung.pertama.di.indonesia.segera.dibangun (Diakses pada 26 Januari 2018)

[2] Kenning, T. 2017. Masdar and Indonesian Power Giant to Build World’s Largest Floating Solar Plant. https://www.pv-tech.org/news/masdar-and-indonesian-power-giant-to-build-worlds-largest-floating-solar-pl (Diakses pada 26 Januari 2018)

[3] Kementerian ESDM. Matahari Untuk PLTS di Indonesia. http://www3.esdm.go.id/berita/56-artikel/5797-matahari-untuk-plts-di-indonesia-.html (Diakses pada 26 Januari 2018)

[4] Panggabean, G.A. 2017. PLTS Terapung Cirata, PJB dan Masdar Tak Masalah Harga Jual Listrik Lebih Murah. http://industri.bisnis.com/read/20171128/44/713580/plts-terap (Diakses pada 26 Januari 2018)

[5] Primadhyta, S. 2017. Indonesia-Uni Emirate Arab Garap PLTS Terapung Terbesar di Dunia. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20171129094906-85-258827/indonesia-uni-emirat-arab-garap-plts-apung-terbesar-di-dunia (Diakses pada 26 Januari 2018)

[6] Masdar. 2017. PT Pembangkita Jawa-Bali and Masdar sign PDA for 200 MW Floating Solar PV Plant. http://www.masdar.ae/en/media/detail/pt-pembangkitan-jawa-bali-and-masdar-sign-pda-for-200mw-floating-solar-pv-p#energy (Diakses pada 26 Januari 2018)

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Fauzi Yusupandi

Fauzi Yusupandi

Mahasiswa S2 Teknik Kimia ITB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *