Trend Fashion Berkelanjutan : Kain Berbahan Dasar Susu Sapi

Susu sapi merupakan minuman pelengkap kebutuhan gizi manusia yang banyak diolah menjadi produk lain seperti keju dan yoghurt. Anda pasti belum tahu bahwa susu sapi ternyata dapat dimanfaatkan lebih luas lagi, yaitu sebagai bahan dasar serat kain. Seorang mikrobiolog sekaligus desainer baju asal Jerman, Anke Domaske, berhasil membuat kain dengan bahan dasar susu sapi. Susu sapi yang didapatkan untuk produksi kain tersebut diperoleh dari susu yang tidak lolos uji kelayakan konsumsi di industri susu. Di Jerman, setiap tahunnya terdapat kurang lebih 2 ton susu yang tidak lulus uji kelayakan konsumsi dan dibuang begitu saja karena belum bisa dimanfaatkan. Qmilch, perusahaan yang dibangun Anke Domaske, membantu pemanfaatan susu sapi yang tereliminasi dari uji kelayakan konsumsi menjadi produk yang layak pakai.

Serat Kasein dari Susu Sapi www.ippinka.com

Serat yang didapatkan dari susu sapi termasuk dalam serat kasein. Serat jenis ini sebenarnya telah digunakan dalam industri pakaian di Amerika dan Eropa sejak tahun 1930-an. Pasca Perang Dunia II, serat kasein dipakai untuk pengganti serat wol dan dikenal sebagai serat ramah lingkungan. Serat kasein yang diproduksi Qmilch untuk menjadi kain diproses dengan menggunakan bahan-bahan alami dengan bahan campuran kimia berbahaya yang relatif rendah. Anke yakin bahwa kain yang berbahan dasar serat kasein memiliki banyak kelebihan khususnya bagi masyarakat yang memiliki gaya hidup berkelanjutan. Masyarakat yang memiliki gaya hidup berkelanjutan ini cenderung berpikir untuk berbelanja barang-barang yang diproduksi tanpa menghasilkan limbah berbahaya dan menggunakan bahan-bahan alami pada prosesnya.

Keunggulan Kain Berbahan Dasar Serat Kasein

Kain dari Serat Kasein

Produksi kain dari serat kasein ini terbilang efektif, karena tidak menggunakan banyak energi ataupun campuran air. Susu sapi yang diperoleh Anke sudah dalam wujud bubuk, sehingga hanya perlu memasukkannya ke mesin produksi, dan menambahkan campuran lainnya seperti air dan pewarna. Menurut Anke, untuk pembuatan 1 kilogram kain berbahan serat kasein hanya memerlukan paling banyak 2 liter air dan pemanasan hingga suhu 80o C. Proses produksinya bahkan hanya membutuhkan waktu 5 menit dengan limbah yang sangat sedikit. Industri tekstil seperti ini selain ramah lingkungan, juga menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.

Kain yang dihasilkan dapat menyerap warna lebih baik, bahkan dapat diwarnai langsung saat proses pembuatan. Permukaan dari serat kasein yang lembut dapat mencegah timbulnya alergi pada kulit. Serat kain yang dibuat dengan kelembaban rendah bisa mencegah pertumbuhan bakteri-bakteri penyebab penyakit seperti Eschericia coli dan Staphyllococcus aureus.

Baju dari Serat Kasein sustainingworld.com

Walaupun berbahan dasar susu sapi, bukan berarti kain dari serat kasein ini tidak dapat dicuci. Kain tersebut dapat dicuci seperti pakaian pada umumnya, sekalipun menggunakan mesin cuci. Keunggulan lainnya, kain tersebut sudah lulus uji ketahanan api dan juga dapat melindungi kita dari sinar UV ketika dipakai. Anke menjelaskan, kain tersebut cocok digunakan pada beberapa industri seperti industri otomotif, teknologi medis, dan aksesoris rumah. Bagaimana? Apa Sahabat Warstek tertarik untuk mencoba pakaian yang berbahan dasar susu sapi tersebut?

 

Sumber :

Hasna Ningsih

Hasna Ningsih

Seorang penulis lepas yang telah menempuh pendidikan Sarjana Biologi di Universitas Padjadjaran.

3 tanggapan untuk “Trend Fashion Berkelanjutan : Kain Berbahan Dasar Susu Sapi

  • 05 Februari 2018 pada 21:47
    Permalink

    Kalau di Indonesia, susunya apakah ada uji kelulusan kelayakan konsumsi seperti di Jerman? Karena kalau lihat di petani susu , susunya langsung diminum tanpa ada uji apapun.

    Balas
    • Zakaria Husein Abdurrahman
      06 Februari 2018 pada 08:15
      Permalink

      membantu menjawab, ya kak Hasna dan Kak Siddiq, di Indonesia ada uji kelayakannya, antara lain di koperasi susu atau semisal akan masuk ke industri. CMIIW

      Balas
    • Hasna Ningsih
      07 Februari 2018 pada 18:31
      Permalink

      Benar yang Mas Zakaria katakan, saya pernah mengunjungi salah satu koperasi susu yang lumayan besar, lalu pihak koperasi menjelaskan bahwa tidak semua susu dapat diminum, harus melalui beberapa uji, dan yang paling penting adalah uji kandungan mikroba. Ketika susu yang disetor mengandung mikroba berbahaya diatas ambang batas, maka otomatis susu tersebut dibuang tanpa bisa dikonsumsi :((

      Balas

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar