Tanaman Dapur yang Berpotensi Sebagai Penolak Nyamuk

Keberadaan nyamuk selalu menjadi momok yang menyeramkan. Meskipun tidak selalu menimbulkan penyakit, tapi sekedar mendengar suara nyamuk yang terbang di sekitar telinga atau rasa gatal akibat gigitannya pun sudah cukup untuk membuat kita jengkel. Apalagi banyak penyakit serius yang menggunakan nyamuk sebagai inang atau vektor, seperti penyakit demam berdarah, malaria juga kaki gajah.

Hingga saat ini, telah banyak produk-produk  anti nyamuk yang beredar dimasyarakat dengan bentuk beragam, diantaranya adalah obat nyamuk oles atau lotion, obat nyamuk bakar, serta obat nyamuk semprot. Ketiga jenis anti nyamuk ini umum digunakan oleh masyarakat. Namun, keluhan akibat penggunaannya produk tersebut terus dilaporkan. Penggunaan obat nyamuk bakar dapat menimbulkan iritasi hingga infeksi saluran pernapasan, selain itu penggunaan obat nyamuk oles dan semprot juga dapat menyebabkan iritasi serta alergi kulit. Penggunaan ketiga jenis produk obat nyamuk ini juga tidak dianjurkan untuk digunakan pada anak di bawah usia 6 bulan (Hartawan 2016).

Selain penggunaan obat nyamuk secara mandiri, penyemprotan atau fogging menggunakan insektisida sintetik juga sering digalakkan di masyarakat guna menghambat pertumbuhan nyamuk.  Jenis insektisida sintetik yang umum digunakan yakni  organoklorin dan piretroid (Kemenkes RI 2010). Namun studi menemukan bahwa penggunaan dua jenis insektisida sintetik ini menimbulkan mekanisme resistensi  yang dikenal dengan knockdown resistance (kdr), dimana resistensi ini disebabkan seleksi strain oleh insektisida. Mekanisme ini terjadi karena adanya mutasi noktah pada gen yang menyandi protein target sehingga merubah konformasi bagian sodium channel, sehingga tidak dapat dibuka oleh molekul insektisida (Stenhouse et al. 2013). Mekanisme kdr akibat penggunaan insektisida ditemukan pada nyamuk Aedes aegypti yang dilaporkan mengalami mutasi pada bagian domain II dari gen VGSC (voltage gated sodium channel) (Widiastuti  et al.  2015). Oleh karena itu, adanya jenis insektisida lain perlu dikembangkan sehingga penggunaannya aman dan potensi menyebabkan resistensinya rendah.

Banyak penelitian telah banyak dilakukan untuk memperoleh penolak nyamuk alami yang aman digunakan. Beberapa tumbuhan disekitar kita dilaporkan berpotensi sebagai penolak nyamuk. Pertama adalah daun tembakau. Daun tembakau mengandung zat aktif nikotin yang merupakan senyawa alkaloid. Zat nikotin ini dalam bidang pertanian digunakan sebagai pestisida dan mampu membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti. Daun tembakau dengan dosis 100% mampu menolak 92% gigitan nyamuk selama 1 jam (Boesri  et al. 2015).

Kedua adalah daun cengkeh (Syzygium aromaticum). Penggunaan ekstrak daun cengkeh dosis 100% mampu menolak nyamuk sebanyak 93,5% selama 1 jam. Adanya daya tolak nyamuk akibat ekstrak cengkeh karena mengandung 70-93% eugenol. Senyawa eugenol diketahui sebagai anti jamur, anti septik, dan anti serangga.

Tanaman yang ketiga yakni serai wangi. Serai wangi dengan dosis 100% selama 1 jam mampu menolak 95,5% nyamuk (Boesri  et al.  2015). Serai wangi diketahui mengandung geraniol, sitronelol, sitronelal, dan sitral. Sitronelol dan geraniol adalah bahan yang digunakan sebagai penolak serangga (Kardinan 2003).

Keempat adalah daun salam. Selain bermanfaat untuk menyedapkan makanan, ternyata daun salam memiliki potensi sebagai penolak nyamuk. Penggunaan daun salam dosis 50% selama semalaman dalam kondisi tempat tertutup, mampu menolak nyamuk sebesar 95,5% (Oktiansyah  et al. 2013). Daun salam mengandung minyak atsiri dan terpenoid dari jenis seskuiterpen dan triterpen (Harismah dan Chusniatun 2016). Senyawa dari golongan terpenoid diduga yang berperan sebagai senyawa penolak nyamuk. Terpenoid diketahui komponen senyawa yang memiliki bau dan mudah menguap (Djatmiko  et al. 2011).

Tanaman yang terakhir yakni daun pepaya. Daun pepaya dengan dosis 30% selama 6 jam, mampu menolak nyamuk sebesar 91,3%. Nilai ini bahkan lebih besar dibandingkan lotion komersial yang diuji bersamaan, hanya mampu menolak nyamuk sebesar 87,4%. Daun pepaya ini menjadi sangat potensial, karena mudah dijumpai, murah, dan tentu saja memiliki efektivitas yang tinggi sebagai penolak nyamuk. Daun pepaya mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. Senyawa flavonoid tersebut yang berperan sebagai insektisida (Fadlilah  et al. 2017).

Masing-masing ekstrak tanaman dapur ini dapat dibuat sebagai lotion yang penggunaannya dengan cara dioles. Langkah-langkah pembuatan lotionnya yaitu daun (tembakau, cengkih, salam, dan pepaya) dan batang serai wangi dicuci bersih dan dipotong kecil. Selanjutnya, diblender dan ditambahkan alkohol. Campuran diinkubasi selama 24 jam agar ekstraknya keluar, setelah dibiarkan semalam, campuran tersebut disaring. Untuk mendapatkan ekstrak yang murni, campuran hasil saringan dipanaskan dengan penangas air atau langsung menggunakan evaporator, agar alkoholnya hilang. Ekstrak yang dihasilkan lalu ditambahkan krim dingin. Lotion anti nyamuk dari bahan dapur siap digunakan (Prihastuti  et al. 2012 dengan modifikasi). Keuntungan dari penolak nyamuk dari bahan herbal adalah rendahnya efek samping yang ditimbulkan serta mudah terdegradasi secara alami sehingga ramah lingkungan.

 

Daftar Pustaka

  • [Kemenkes] Kementrian Kesehatan RI. 2000. Rencana strategis program pemberantasan penyakit bersumber binatang (PPBB). Ditjen PPM dan PLP.
  • Boesri H, Heriyanto B, Susanti L, Handayani SW. 2015. Uji repelen (daya tolak) beberapa ekstrak tumbuhan terhadap gigitan nyamuk Aedes aegypti vektor demam berdarah dengue. Vektor. 7(2): 79-84.
  • Djatmiko M, Yance A, Sri MH. 2011. Uji aktivitas repellent fraksi n-heksan ekstrak etanolik daun mimba (Azadirachta indica A. Juss) terhadap nyamuk Aedes aegypti. Jurnal Ilmu Farmasi dan Klinik. 24-30.
  • Fadlilah ALN, Cahyati WH, Windraswara R. 2017. Uji daya proteksi ekstrak daun pepaya (Carica papaya L) dalam sediaan lotion dengan basis PEG400 sebagai  repellent terhadap  Aedes aegypti. Jurnal Care. 5(3): 318-328.
  • Harismah K dan Chusniatun. 2016. Pemanfaatan daun salam (Eugenia polyantha) sebagai obat herbal dan rempah penyedap makanan. WARTA LPM. 19(2): 110-118.
  • Hartawan T. 2016. Bahaya obat anti nyamuk, apapun bentuknya. https://cantik.tempo.co/read/820637/bahaya-obat-anti-nyamuk-apa-pun-bentuknya. Di akses 15 Januari 2018.
  • Kardinan A. 2003. Tanaman Pengusir dan Pembasmi Nyamuk. Bogor: Agromedia Pustaka.
  • Oktiansyah R, Riyanto, Tibrani MM. 2013. Potensi ekstrak daun salam (Syzygium polyanthum Wight.) sebagai penolak nyamuk Culex qunquefasciatus Say. dan sumbangannya pada pembelajaran Biologi di SMA. [skripsi]. Palembang: Universitas Sriwijaya.
  • Prihastuti D,Sari MW, Sadhewo B, Fathurrahman N. 2012. Pemanfaatan batang tanaman brotowali (Tinospora crispa) sebagai lotion antinyamuk. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA. Universitas Negeri Yogyakarta.
  • Stenhouse S, Plernsub S, Yanola J, Lumjuan N, Dantrakool A. 2013. Detection of the V1016G mutation in the voltage-gated sodium channel gene of Aedes aegypti (Diptera: Culicidae) by allelespecific PCR assay, and its distribution and effect on deltamethrin resistance in Thailand. Parasit Vector. 6:263
  • Widiastuti D,Sunaryo, Pramestuti N, Sari TF, Wijayanti N. 2015. Deteksi mutasi V1016G pada gen voltage-gated sodium channel pada populasi  Aedes aegypti (Diptera: Culicidae) di Kabupaten Klaten Jawa Tengah dengan metode allele-specific PCR. Vektor. 7(2): 65-70.

Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Dian Rahma Pratiwi

Dian Rahma Pratiwi

Botanical Student. Bogor Agricultural University

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar