Awas ada Risin, Racun Mematikan Disekitar Kita

Berbicara tentang racun, mungkin kita akan teringat akan kasus-kasus keracunan yang disengaja ataupun tidak. Contohnya kasus racun yang mematikan dan sempat heboh sejagat Indonesia yaitu kasus sianida. Tetapi, disini ada racun yang lebih mematikan lagi daripada sianida dan keberadaannya kadang dekat dengan sekitar kita. Namanya Risin.

Apa itu risin? Mungkin kata “Risin” asing terdengar di telinga kita. Risin adalah protein beracun yang terkandung pada jarak pohon (Ricinus communis). Di Indonesia, biji Jarak Pagar atau Jarak Pohon juga biasa disebut Biji Kasturi (dari kata Castor Bean). Minyak jarak juga disebut minyak Kastroli [1].

Buah jarak pohon (Sumber: ichastore.com

Kasus racun risin yang mematikan ini sempat heboh sewaktu meninggalnya Kim Jong-nam saudara tiri  Kim Jong-un presiden Korea Utara. Dua orang pembunuh Kim Jong-nam dilaporkan menyemprotkan racun Risin atau tetrodotoxin ke wajah Kim Jong-nam. Akibatnya Kim Jong-nam meninggal dalam kurun waktu 15-20 menit [2].

Selain itu, kasus risin juga terjadi pada pembunuhan George Makrov. George makrov merupakan seorang penulis dari bulgaria. Dia diyakini meninggal dunia akibat adanya pembunuhan karena ia terkenal dengan pengkritik hebat untuk pemimpin tertinggi di negaranya. Ia mati setelah menginjak ujung payung yang runcing. Dan kabarnya setelah itu ia langsung meninggal setelah 5 – 6 jam. Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata di payung tersebut sudah dibubuhi bubuk racun risin [3].

Daya meracun (toksisitas) risin murni sangat tinggi, beberapa butir sebesar kristal garam dapur sudah cukup untuk membunuh manusia. Dosis mematikan pertengahan (LD50) untuk manusia adalah sekitar 22 mikrogram per kilogram berat badan (sekitar 1,78 miligram untuk satu orang dewasa berukuran tubuh sedang  atau 1228 dari tablet aspirit standar), dengan paparan melalui suntikan atau pernapasan.

Satu butir biji jarak bisa membunuh seorang remaja. Racun ini akan bekerja lebih efektif jika dibentuk ekstrak bubuk dan dihirup, atau disuntikkan. Tanpa diekstrak, racun akan terlindungi lapisan biji. Seseorang tidak akan keracunan jika menelan bulat-bulat biji jarak, karena biji memiliki lapisan pelindung untuk melindungi inti biji. Meski begitu, seseorang bisa keracunan jika membakar biji jarak, membelah cangkang, dan mengkonsumsi isinya [1].

Tingkat racun biji jarak dapat disebabkan oleh beberapa komponen, diantaranya saponins, lectin (curcin), phytates, protease inhibitors, curcalonic acid dan phorbol ester. Phorbol ester yang mengaktivasi sasaran selular penting protein kinase C (PKC) merupakan komponen paling aktif yang harus dihilangkan jika minyak atau biji digunakan sebagai sumber nutrisi hewan dan manusia [4]. Cara kerja risin ini adalah menghambat sintesis protein dalam sel eukariotik yang berakibat pada kematian sel.

Walaupun cara kerja dari racun risin ini sangat cepat, mematikan, dan mudah untuk ditemukan. Jangan sampai pengetahuan kita mengenai racun ini malah menjadi altenatif untuk melakukan kejahatan ya. Dengan kita tahu bahwa disekitar kita terdapat racun yang mematikan, kita harusnya lebih awas dan hati-hati lagi dalam mengolah sesuatu. Yah..walaupun terkadang kita nggak bakalan percaya kalau itu bisa menjadi racun yang sangat mematikan.

 

Referensi :

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Risin (Diakses pada tanggal 3 februari 2018)
  2. https://tekno.tempo.co/read/847547/7-fakta-tentang-risin-racun-pembunuh-kim-jong-nam (Diakses pada tanggal 3 februari 2018)
  3. https://dunia.tempo.co/read/513050/bulgaria-tutup-kasus-umbrella-killing-markov (diakses pada tanggal 3 februari 2018)
  4. Wink, M., C. Koschmieder, M. Sauerwein and F. Sporee. 1997. Phorbol Ester of J. Curcas. Biological Activities and potential Applications. In Gubyts. Mittelbach and Traby. Biofuel and Industrial Product from Jatropha curcas : 160-166.
Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Silvia Wahyuni

Silvia Wahyuni

Wa ma Indallahi Khoir. Mahasiswi Kimia Universitas Jambi. Penikmat buku dan Cinta Qur'an.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar