Spektrograf Espresso: Instrumen 10x Lebih Kuat untuk Mencari Kehidupan Luar Angkasa

This shot from the NASA/ESA Hubble Space Telescope shows a maelstrom of glowing gas and dark dust within one of the Milky Way’s satellite galaxies, the Large Magellanic Cloud (LMC). This stormy scene shows a stellar nursery known as N159, an HII region over 150 light-years across. N159 contains many hot young stars. These stars are emitting intense ultraviolet light, which causes nearby hydrogen gas to glow, and torrential stellar winds, which are carving out ridges, arcs, and filaments from the surrounding material. At the heart of this cosmic cloud lies the Papillon Nebula, a butterfly-shaped region of nebulosity. This small, dense object is classified as a High-Excitation Blob, and is thought to be tightly linked to the early stages of massive star formation. N159 is located over 160 000 light-years away. It resides just south of the Tarantula Nebula (heic1402), another massive star-forming complex within the LMC. It was previously imaged by Hubble’s Wide Field Planetary Camera 2, which also resolved the Papillon Nebula for the first time.

Teknologi telah banyak mengubah kehidupan umat manusia dari yang masalah sederhana hingga yang sangat kompleks. Masalah sederha yang dapat diselesaikan oleh teknologi seperti urusan mencuci dan menyetrika pakaian, sedangkan yang sangat kompleks seperti instrumen LIGO, Virgo, Kecerdasan Buatan berupa Deep Learning  untuk mendeteksi Gelombang Gravitasi[1][2].

Baca juga Penggunaan Deep Learning dalam Membantu Mendeteksi Gelombang Gravitasi dan Langkah Baru dalam Observasi Objek Alam Semesta Melalui Gelombang Gravitasi

Gambar 1. Teleskop di Observatorium Paranal di gurun Atacama di Chile utara dimana instumen Espresso terpasang[3]

Pencarian kehidupan di luar bumi menjadi sebuah topik penelitian yang sangat menarik dibidang astonomi. Hal itu terbukti dengan terpasangnya sebuah teleskop di Observatorium Paranal di gurun Atacama, Chile utara. Pada teleskop tersebut terpasang sebuah instrumen yang disebut sebagai Espresso (Echelle Spectrograph for Rocky Exoplanet and Stable Spectroscopic Observations). Instrumen Espresso merupakan sebuah teknologi mutakhir yang sangat presisi dan berfungsi sebagai spektrograf dengan 10x lebih canggih dari yang sudah ada sebelumnya yaitu proyek HARPS (High Accuracy Radial Velocity Planet Searcher).  Misi penting dari Espresso adalah untuk sebuah misi besar dalam mencari tanda-tanda adanya kehidupan luar bumi.

Teleskop Espresso akan terhubung dengan empat teleskop yang sangat besar yang disebut sebagai VLT (Very Large Telescope). Gabungan dari teleskop tersebut akan digunakan untuk sebuah misi besar dalam mencari planet dan kehidupan yang mirip seperti di Bumi. Teleskop VLT tersebut menjadi sangat penting dalam menganalisis cahaya bintang-bintang dalam menentukan apakah ada planet-planet yang mengorbitnya. Kemudian, dari planet-planet tersebut akan diambil data-data penting seperti ada atau tidaknya atmosfir, apakah sebuah planet tersebut mengandung oksigen, nitrogen, atau korbon dioksida, dan juga untuk mengetahui apakah ada air yang dapat menopang kehidupan.

Gambar 2. Desain instrumen Espresso[4][5]

Astronom Itali yaitu Gaspare Lo Curto mengatakan bahwa Espresso pertama kalinya akan tersedia diempat teleskop sekaligus. Berdasarkan hal tersebut terdapat kemungkinan besar untuk menemukan planet yang mirip dengan Bumi seperti ukuran, massa, dan kondisi kehidupan.

Gurun Atacama, Chile utara merupakan sebuah tempat yang sangat cocok untuk jenis eksplorasi luar angkasa, karena minim polusi cahaya dan sedikit atau bahkan tidak ada awan adalah syarat utamanya. Oleh karena itulah ESO (European Southern Observatory) menjalankan program VLT di tempat tersebut dan bahkan banyak dari teleskop didunia yang terpasang di lokasi tersebut. Sehingga, pada 2020 gurun Atacama diharapkan menjadi tuan rumah terbesar untuk terpasangnya sekitar 70 persen total infrastruktur astronomi di dunia.

Sebelumnya di gurun tersebut juga telah terpasang spektograf serupa yang disebut HARPS (High Accuracy Radial Velocity Planet Searcher), tapi hanya bisa mengukur planet jauh lebih besar dari Bumi dan kurang mendukung adanya kehidupan. Instrumen HARPS juga terletak di gurun Atacama yang terpasang pada observatorium La Silla, tetapi dihubungkan ke teleskop yang kurang kuat daripada VLT[3][4].

Refrensi:

  1. Dadang, Wayan. 2018. “Auto Machine Learning (AutoML): Sebuah Kecerdasan Buatan yang Mampu Membangun Kecerdasan Buatan Sendiri dari Google“. Warstek, 4 Februari 2018 (https://warstek.com/2018/02/04/automl/2/) diakses pada 11 Februari 2018
  2. Zahara, Maya R. 2018. “Langkah Baru dalam Observasi Objek Alam Semesta Melalui Gelombang Gravitasi“. Warstek, 18 Januari 2018 (https://warstek.com/2018/01/18/gravitasi/) diakses pada 11 Februari 2018
  3. Sanchez, Miguel. 2018. “The black box set to revolutionize the search for life beyond Earth“. PhysOrg, 9 Februari 2018 (https://phys.org/news/2018-02-black-revolutionize-life-earth.html) diakses pada 11 Februari 2018
  4. Miley, Jessica. 2018. “A Machine Called ‘Espresso’ Could Be the Answer to Finding Life in Space“. Interesting Engineering, 10 Februari 2018 (https://interestingengineering.com/a-machine-called-espresso-could-be-the-answer-to-finding-life-in-space?utm_medium=ppc&utm_source=onesignal&utm_campaign=onesignalpush) diakses pada 11 Februari 2018
  5. European Southern Observatory (ESO), ESPRESSO – Echelle SPectrograph for Rocky Exoplanet and Stable Spectroscopic Observations (https://www.eso.org/sci/facilities/develop/instruments/espresso.html) diakses pada 11 Februari 2018

Page: 1 2

Wayan Dadang :Mahasiswa S1 Teknik Elektro Universitas Sriwijaya, menekuni Kecerdasan Buatan, Sistem Kontrol, dan Robotika. Mencintai kegiatan membaca Paper Sains, Belajar, Menulis, dan Riset.