Plastik, Manusia dan Lingkungan : Si Jagonya Kemasan Plastik (PET)

Banyak yang menyatakan bahwa botol dengan bahan Polyethylen Terephtalate (PET) merupakan botol yang mudah terurai ikatan kimianya, larangan memakainya berulang untuk media penyimpan air minum sering sekali terdengar. Adapula yang menyebutkan bahwa tidak disarankan memakainya untuk air panas, karena akan membuat ikatan komponen polimer PET bermigrasi ke benda (makanan atau minuman) yang ada di dalamnya dan akan berbahaya bila terkonsumsi oleh manusia.

Pernyataan – pernyataan seperti itu masih sering kita dengar dan wajar saja apabila masih banyak digaungkan masyarakat. Selain untuk menjaga agar tidak adanya gangguan kinerja organ tubuh yakni dengan masuknya benda asing berupa plastik khususnya PET, masyarakat dunia juga dapat lebih bijak dalam penggunaan plastik. Oleh karena itu, baiknya kita kritisi terlebih dahulu fakta menarik seputar plastik yang berjenis PET ini, baik dalam hal kesehatan atau hal lainnya.

Sejarah PET

PET mulai dikembangkan pada pertengahan tahun 1940 oleh DuPont Tim. Mereka sedang dalam usaha pencarian PET untuk bahan tekstil yang berupa fiber dan akhirnya bahan itu diberi nama “dakron”. Kemudian, masih merupakan kelompok DuPont tim, John Rex Whinfield bersama timnya mendapatkan hak paten “PET” pada tahun 1941. Setelah berselang beberapa tahun, pada akhir tahun 1950-an , seorang ilmuwan menemukan cara untuk membentuk PET menjadi bentuk lembaran, dari sana PET mulai digunakan sebagai bahan untuk kertas film di bidang fotografi dan kertas rontgen[2][14].

Barulah pada tahun 1970-an, teknologi stretch-blow molding PET ditemukan. Teknologi ini menghasilkan benda berongga, seperti botol yang memiliki orientasi molekular biaksial (dua sumbu). Orientasi biaksial meningkatkan sifat fisik, kejernihan, dan sifat penghalang gas, yang semuanya penting dalam produk seperti botol[9].

Teknologi Stretch Blow Molding Bottle

Teknologi tersebut juga membuat PET film berbentuk botol yang tahan pecah dan mempunyai bentuk yang cukup kuat namun ringan. Sehingga pada tahun 1973 PET berbentuk botol dipatenkan dan pada tahun 1977 merupakan tahun kali pertama PET botol di daur ulang.

PET secara kimiawi

PET merupakan salah satu senyawa kimia yang wujudnya adalah plastik. Bahan dasar dari semua jenis plastik pembungkus adalah senyawa etilen yang berasal dari gas alam atau minyak mentah. Sehingga biasanya untuk skala komersialisasi, terdapat dua proses yang bisa dilakukan untuk memproduksi PET yaitu produksi dengan bahan ethylene glycol (EG) dengan dimethyl terephtalate (DMT) dan produksi dengan bahan ethylene glycol (EG) dengan terephtalic acid (TPA) . DMT dan TPA merupakan kelompok asam dan EG (ethanediol) adalah alkohol. Proses utama yang terjadi dalam polimerisasi PET adalah proses kondensasi, dimana molekul berekasi dan mempunyai produk samping berupa air. Proses tersebut diawali dengan pemanasan TPA/DMT dan EG bersama sehingga terbentuk monomer bis-hydroxyethyl-terephthalate  (BHET)[3][5].

Gambar 1. Proses pembentukan PET [10] (Telah di-edit)

Proses ini dilakukan dengan bahan EG berlebih sehingga pada saat proses akhir dilakukan pemisahan EG dan didapatkanlah PET dengan wujud cairan kental. Setelah itu, PET diekstruksi dan air dikeringkan untuk mendapatkan PET dengan bentuk amorf seperti kaca. Bentuk tersebutlah yang pada akhirnya akan didistribusikan ke industri kemasan ataupun industri makanan dan minuman untuk dijadikan plastik kemasan.

Fakta PET

  • Produksi dan penggunaan

PET merupakan salah satu bahan yang paling banyak digunakan di dunia. PET juga merupakan bahan yang sangat ringan, beberapa tahun terakhir beratnya secara konstan berkurang dan pada tahun 2013, European Federation Bottled Water (EFBW) menyatakan beratnya berkisar 20 – 30 gram saja untuk 1 botol PET. Hasil itu merupakan salah satu prestasi untuk setidaknya dapat mengurangi biaya lingkungan dan biaya produksi yang dikeluarkan.

PET hingga saat ini paling banyak digunakan sebagai pembungkus makanan dan minuman. Permintaan PET sebagai bahan pembungkus pada tahun 2014 ialah sebanyak 16 juta ton dan diperkirakan akan terus bertambah hingga mencapai 20 juta ton pada tahun 2019[10]. Botol PET satu kali penggunaan (dengan ukuran 0,5 L) kuat untuk menahan beban 50 kali beratnya di dalam air[8].

  • Bahaya PET

Hal ini yang mungkin masih berkecamuk di pikiran kita. Banyak informasi mengatakan bahwa PET tidak bisa digunakan berulang untuk penyimpanan air minum. Alasan utamanya adalah kekhawatiran bahan kimia yang terkandung di dalam botol tersebut migrasi ke dalam air minum yang ada didalamnya. Faktanya, tidak ada bahan kemasan yang benar – benar inert (tidak bereaksi), mungkin rasa dari makanan akan terserap oleh kemasan PET dan dari hal itu dapat kita simpulkan bahwa komponen dari kemasan PET dapat migrasi ke dalam benda di dalamnya.

Penelitian lebih lanjut mengenai kandungan berbahaya, lebih tepatnya antimony (katalis) menyatakan bahwa antimony yang terkandung di dalam kemasan botol untuk air mineral akan terurai dan melebihi batas Maximum Contaminant Levels (MCLs) dengan kondisi dipanaskan pada suhu 65°C dalam dua minggu atau dipanaskan pada suhu 80°C dalam 2 hari[1] sedangkan untuk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang disimpan di suhu di bawah 60°C dalam 4 minggu kondisinya masih aman untuk dikonsumsi[4].

Selain itu, EFBW tim telah membahasnya bahwa nilai komponen berbahaya (antimony (katalis), acetaldehyde, monomer EG , TPA atau DMT)  di dalam PET masih jauh di bawah batas standar apabila tidak dilakukan perlakuan khusus layaknya percobaan (seperti dipanaskan ataupun direaksikan dengan bahan kimia tertentu). Pemberitaan yang sempat ada pada tahun 2009, yaitu tentang gangguan sistem endokrin akibat migrasi kandungan kemasan PET botol ke dalam air mineral pun tidak dapat diverifikasi setelah dilakukan studi lebih lanjut.

  • Daur Ulang

PET merupakan bahan yang 100% dapat di daur ulang. Selain kemasan botol, PET resin hasil daur ulang dapat juga digunakan untuk memproduksi pakaian, onderdil kendaraan, karpet dan lain – lain. Angka daur ulang PET di USA dan Eropa berturut – turut sekitar 31% dan 52% pada tahun 2012 [7].

 

Referensi :

[1] Aghaee , E. M. 2014. “Effects of storage time and temperature on the antimony and some trace element release from polyethylene terephthalate (PET) into the bottled drinking water”. Tehran University of Medical Sciences : Tehran. Iran.

[2] Demilel, Biral dkk. .2011. “Crystallization Behavior of PET Materials”.

[3] European Federation Bottled Water (EFBW). 2013. “The Facts about PET”. Rue de l’Association 32 : Brussels.

[4] Heriady, Setia, Anita S. dan Nasution S. 2015. “Jurnal ilmu Lingkungan : Migrasi Formaldehid Pada Air Minum Dalam Kemasan (AMDK)”. Universitas Riau : Riau.

[5] International Life Sciences Institute (ILSI).2000. “Packaging Materials : 1. POLYETHYLENE TEREPHTHALATE (PET) FOR FOOD PACKAGING APPLICATIONS”. ILSI Europe : Brussels. Belgium.

[6] Marcus, Miranda. 2015. “ jawaban dari pertanyaan : When I microwave food I sometimes forget to lift the plastic wrap and it melts onto the food a little. How dangerous is eating melted plastic? (Quora)”https://www.quora.com/When-I-microwave-food-I-sometimes-forget-to-lift-the-plastic-wrap-and-it-melts-onto-the-food-a-little-How-dangerous-is-eating-melted-plastic (diakses tanggal : 10 Februari 2018)

[7] PET Resin Association. 2015. “About PET”. (online) Link : http://www.petresin.org/faq.asp (diakses tanggal : 11 Februari 2018)

[8] Plastic & Chemical Trading. 2016. “8 Fun Facts About PET Plastic – Part 1”. Link : http://plastrading.com/2016/09/28/8-fun-facts-about-pet-plastic-part-1/ (diakses tanggal 11 Februari 2018)

[9] PETform. 2014. “Strecth blow moulding PET bottles”. (online) link: http://www.petform.net/styled/Stretch-Blow-Moulding-PET-Bottles/Stretch-Blow-Moulding-PET-Bottles.html (diakses tanggal : 12 Februari 2018)

[10] Sangalang, Arvin, Seunghwan Seok and Do Hyun Kim. 2016. “Practical Design of Green Catalysts for PET Recycling and Energy Conversion”.

[11] Stover, Richard L. and team the Ecology Center. 1996. The Ecology Center : “Report of the Berkeley Plastics Task Force”

[12] United States Environmental Protection Agency. “Organic Chemical Process Industry”

[13] United States Environmental Protection Agency. “National Primary Drinking Water Regulations”. (online). Link : https://www.epa.gov/ground-water-and-drinking-water/national-primary-drinking-water-regulations (diakses tanggal : 11 Februari 2018)

[14] wikipedia. 2018. Polyethylen Terephthalate. (online) link : https://en.wikipedia.org/wiki/Polyethylene_terephthalate (diakses tanggal : 11 Februari 2018)

 

Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Audia Wira Rachmadi

Audia Wira Rachmadi

Mahasiswa S2 Teknik Kimia

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar