Ilmuwan Indonesia Banyak yang Mendunia, Serius?

Profesi ilmuwan di Indonesia tidaklah setenar insinyur dan dokter. Seringkali mereka dikenal sebagai orang yang kerjaannya hanya menurunkan  rumus, melakukan eksperimen, mengutak-atik (instrumen, bakteri, reaksi kimia), selalu pakai jas laboratorium atau bunny suit, dan kuper (kurang pergaulan).

Namun tanpa disadari, ternyata peran ilmuwan tidak bisa dipandang sebelah mata. Lewat penemuannya, banyak hal yang bisa kita gunakan sampai saat ini, padahal hal tersebut bisa jadi hanya dianggap sebagai mimpi di masa lalu.

Contohnya dulu manusia mustahil untuk dapat terbang, sekarang kita bisa terbang dengan menggunakan pesawat terbang, salah satu penemuan penting yang mengevolusi hidup manusia.

Dulu kita tidak bisa berkomunikasi jarak jauh, namun sekarang kita bisa melakukan itu dengan menggunakan telepon. Bahkan di masa depan diperkirakan kita dapat menambang emas hanya dengan menggunakan rekayasa bakteri[1].

Ilmuwan-ilmuwan di dunia telah banyak membuktikan keajaiban alam semesta ini, membuktikan bahwa betapa luar biasanya keteraturan sistem yang diciptakan oleh-Nya.

Namun bagaimana dengan kiprah ilmuwan Indonesia?

Berbicara masalah ilmuwan, Indonesia tak kalah hebat rekam jejaknya dengan negara-negara yang dianggap maju. Sederet ilmuwan-ilmuwan Indonesia telah mengharumkan nama bangsa di kancah Internasional, temuannya telah dipakai oleh berbagai lembaga dunia seperti NASA, misalnya teknologi pemindai 4 dimensi ciptaan Dr. Warsito Purwo Taruno, Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT). Teknologi ini mampu memindai dari dalam ke luar dinding pesawat meskipun dinding pesawatnya terbuat dari baja dan material-material yang tak tembus cahaya. Tak hanya digunakan oleh NASA, temuan beliau juga luas digunakan di Exxon Mobil, BP Oil, Shell, ConocoPhillips, Dow Chemical[2].

Dr. Warsito Purwo Taruno berpose didepan poster yang menjelaskan aplikasi ECVT untuk men-scan otak

Ilmuwan lainnya yang sangat terkenal adalah Prof. DR. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie. Kita tahu pak Habibie yang menemukan dasar-dasar keretakan pesawat terbang, menghitung Crack Propagation sampai skala atom kemudian oleh dunia dikenal dengan Faktor Habibie, Teori Habibie, dan Fungsi Habibie. Hal inilah yang membuatnya dikenal sebagai Mr. Crack.

Kemudian ada pula Dr. Khoirul Anwar sebagai penemu konsep dua FFT (Fast Fourier Transform), sebagai bentuk koreksi bahwa Dr. Khoirul Anwar bukanlah penemu murni 4G. Di dalam buku PABXII, Dr. Khoirul Anwar menyatakan, “Saya tidak menulis sebagai penemu 4G LTE karena 4G LTE sendiri seharusnya memang tidak ditemukan, melainkan disepakati”[3][4][5].

Dr. Khoirul Anwar adalah penemu konsep dua FFT (Fast Fourier Transform)

Ada juga Dr. Oki Gunawan, beliau adalah ilmuwan Indonesia yang sekarang menjadi peneliti di IBM Thomas J. Watson Research Center, Amerika Serikat. Ilmuwan Indonesia ini yang juga peraih medali perunggu di olimpiade fisika internasional (IPhO) 1993 sekaligus penemu efek “Punuk Unta” bersama rekannya Dr. Yudistira Virgus[6].

Di bidang fisika partikel ada Haryo Sumowidagdo. Beliau meraih gelar Ph.D di Florida State University, sedangkan S1 dan S2 ditempuh di Depatemen fisika Universitas Indonesia. Fisikawan Indonesia ini merupakan salah satu orang dibalik penemuan partikel Tuhan (Higgs Boson). Haryo Sumowidagdo bekerja di CERN (Conseil Européene Pour La Recherche Nucléaire) yakni Organisasi Eropa untuk Penelitian Nuklir eksperimen. Beliau berperan dibagian yang merancang perangkat lunak untuk memantau aktivitas partikel Higgs-boson LHD (Large Hadron Collider) atau mesin penumbuk atom[7]. Selain berkarir di CERN, beliau juga berkarir di LIPI.

Menerima Penghargaan Achmad Bakrie XIII di tahun 2015, fisikawan asal Bali ini juga menempati peringkat pertama ilmuwan Indonesia menurut Webometrics dengan H-Indeks mencapai angka 126 dengan citation 81.079[8][9].

Haryo Sumowidagdo, berkarir di LIPI dan CERN

Selain ilmuwan-ilmuwan yang telah disebutkan diatas, masih banyak ilmuwan-ilmuwan Indonesia lainnya yang tidak terekspose ke media. Itulah serangkaian penemu-penemu Indonesia, sekaligus pembuktian bahwa masih banyak ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang berpengaruh di dunia, mengantarkan Indonesia menjadi negara yang layak untuk diperhitungkan.

Lalu menapa ilmuwan indonesia ketika berada di negerinya sendiri seolah mati gaya? Hal ini karena berbagai regulasi dari penguasa yang masih terlalu rumit, dana untuk riset masih sangat minim, dan berbagai permasalahan lainnya sehingga untuk melakukan penelitiannya ilmuwan-ilmuwan Indonesia tersendat-sendat dan mengalami kesulitan.

Baca juga:

Dana riset dari pemerintah terhadap penelitian di Indonesia sampai tahun 2016 masih menghabiskan 0,2 %. Tidak mengherankan jika daya saing Indonesia (di ASEAN) masih rendah (Tirto, 2017).

Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristikdikti) mencoba terus membangun Science and Technology Index yang diberi nama Sinta, dengan harapan untuk mendukung iklim riset di Indonesia supaya dapat bangkit dan bersaing. Sekaligus sebagai pemantik untuk calon-calon ilmuwan dan ilmuwan agar lebih giat dalam melakukan penelitian dan pengembangannya.

Selain minimnya dana riset, hal yang membuat seorang ilmuwan seolah mati gaya adalah kurangnya respect atau dihargai dari sebagian besar kalangan membuatnya tenggelam semakin dalam bak ditelan bumi[10][11][12][13][14].

Untuk itulah sebagai orang Indonesia dengan bangga mengajak semua kalangan untuk berpartisipasi membangun Indonesia di bidang masing-masing, jangan lupa untuk tetap respect kepada ilmuwan. Karena berkat jasa mereka kita dapat merasakan pesatnya pembangunan sains & teknologi hingga kini, bahkan di masa depan nanti.

Salah satu parameter kualitas sebuah bangsa adalah ditentukan dari kemajuan sains & teknologinya, ilmuwan merupakan salah satu yang memiliki andil. Berhenti mengangap “Ilmuwan” itu kecil dan rendahan. Karena yang dianggap tinggi pun tidak menjamin menjadi yang terbaik, justru sesuatu hal besar lahir dari hal-hal kecil yang dianggap remeh dan rendahan.

 

Daftar Pustaka:

[1] Munir, M dan Arida W.B. Bacterial Gold Mining: Pertambangan Emas di Dasar Laut yang Ramah Lingkungan Menggunakan Bakteri yang Dimodifikasi Secara Genetik (Inspirasi Bioteknologi dari QS. An-Nahl; 14 dan QS. Fathir: 12). https://www.researchgate.net/profile/Misbahul_Munir4/publication/281208471_Bacterial_Gold_Mining_Pertambangan_Emas_di_Dasar_Laut_yang_Ramah_Lingkungan_Menggunakan_Bakteri_yang_Dimodifikasi_secara_Genetik_Inspirasi_Bioteknologi_dari_QS_An-Nahl_14_dan_QS_Fathir_12/links/55db627308ae9d65949360a0.pdf (Diakses Tanggal 4 Maret 2018).

[2] MITI Indonesia. 2012. Dr. Warsito, Sang Penemu ECVT yang Menggemparkan Dunia Riset Tomografi. http://miti.or.id/dr-warsito-sang-penemu-ecvt-yang-menggemparkan-dunia-riset-tomografi/ (Diakses Tanggal 4 Maret 2018)

 [3] DetikINET. 2016. Khoirul Anwar Luruskan Polemik ‘Penemu 4G LTE’. https://inet.detik.com/telecommunication/d-3166713/khoirul-anwar-luruskan-polemik-penemu-4g-lte (Diakses Tanggal 14 November 2017)

[4] Anwar, K. 2014. Mimpi Saat Menjadi Mahasiswa: Standard ITU vs Penemu 4G LTE. https://www.facebook.com/notes/khoirul-anwar/mimpi-saat-menjadi-mahasiswa-standard-itu-vs-penemu-4g-lte/10152680897647239/ (Diakses Tanggal 14 November 2017)

[5] Beritagar. 2016. Khoirul Anwar Tegaskan Dirinya Bukan Penemu 4G. https://beritagar.id/artikel/sains-tekno/khoirul-anwar-tegaskan-dirinya-bukan-penemu-4g (Diakses Tanggal 14 November 2017)

[6]. Beritagar. 2017. Efek Punuk Unta Temuan Fisikawan Indonesia. https://beritagar.id/artikel/sains-tekno/efek-punuk-unta-temuan-fisikawan-indonesia (Diakses Tanggal 14 November 2017)

[7] Kompas. 2012. Fisikawan Indonesia di Balik Perburuan “Partikel Tuhan”. https://sains.kompas.com/read/2012/07/06/18252729/Fisikawan.Indonesia.di.Balik.Perburuan.Partikel.Tuhan [Diakses tanggal 4 Maret 2018]

[8] Google Scholar. 2018. Suharyo Sumowidagdo. https://scholar.google.com/citations?user=tHo-39QAAAAJ (Diakses Tanggal 14 November 2017)

[9] Webometrics. 2017. Ranking of Scientists  in Indonesian Institutions according to Google Scholar Citations public profiles. http://www.webometrics.info/en/node/96 (Diakses Tanggal 4 Maret 2018)

[9] LIPI. 2004. Dana Riset Indonesia Paling Rendah di ASEAN. http://lipi.go.id/berita/dana-riset-indonesia-paling-rendah-di-asean/252 (Diakses Tanggal 14 November 2017)

[10] Tirto. 2017. Muramnya Wajah Dunia Riset Indonesia. https://tirto.id/muramnya-wajah-dunia-riset-indonesia-bsF6 (Diakses Tanggal 14 November 2017)

[11] Tirto. 2016. Dana Riset Indonesia Paling Rendah di Asia Tenggara. https://tirto.id/dana-riset-indonesia-paling-rendah-di-asia-tenggara-chUP (Diakses Tanggal 14 November 2017)

[12] Warsiman. 2014. Ilmuwan Indonesia Kurang Beruntung.  http://warsiman.lecture.ub.ac.id/ilmuwan-indonesia-kurang-beruntung/ (Diakses Tanggal 14 November 2017)

[13] LIPI. 2009. Peneliti Indonesia Kuarang Dihargai. http://lipi.go.id/berita/peneliti-indonesia-kurang-dihargai/3223 (Diakses Tanggal 14 November 2017)

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *