Apakah ATM (Amati-Tiru-Modifikasi) itu Plagiat?

Tampaknya topik mengenai penjiplakan atau lebih keren disebut ‘plagiarisme’ masih relevan jika diungkit dan dibahas. Seringkali peniruan menjadi suatu masalah besar jika sudah menyangkut hak cipta dan paten1.

Segala yang berhubungan dengan uang sangat mudah menimbulkan polemik. Tentu hal ini perlu dipelajari betul, karena menyangkut hak orang lain. Dalam dunia kepenulisan populer dikenal istilah “Amati, Tiru, Modifikasi” (ATM) yang sering dianjurkan oleh para penulis profesional, karena karangan apapun pada dasarnya tidak ada yang murni dari pengarang2. Tentu hal tersebut tetap memiliki kode etik mengenai penjiplakan.

Salah satu aturan mengenai batasan penjiplakan ini dimaksudkan supaya pekerjaan ummat manusia ke depannya menjadi lebih irit. Jika suatu tulisan atau pekerjaan mengenai penelitian dan pengembangan sudah dilakukan oleh orang lain, lebih bagus jika kita menyempurnakan pekerjaan tersebut. Sehingga tidak menumpuk pekerjaan sama yang sebenarnya sudah selesai atau belum diperlukan lagi.

Tidak masalah jika mampu membuat dengan metode yang disusun sendiri untuk suatu tujuan tertentu, seperti kejadian antara Fuzzy Logic (FL) dan Artificial Neural Network (ANN). Awalnya keduanya dianggap berbeda sama sekali, apalagi FL dianggap ‘ngaco’ karena menentukan derajat keanggotaan secara reasoning atau dikira-kira. Meski mampu membuktikan kehandalannya dalam teknik kendali non linier, salah satunya karena mampu mengadaptasi variabel manusiawi. Sedangkan ANN yang diadaptasi dari otak tikus yang dibedah mempunyai keunggulan pada learning meski membutuhkan proses lama karena nilai awalnya diacak hingga benar-benar ketemu, terutama jika rentangnya sangat lebar sehingga begitu banyak kombinasi angka yang dihasilkan.

Suatu ketika muncul istilah ‘Neuro Fuzzy’ yang menggabungkan keunggulan Fuzzy Logic dan ANN, salah satunya untuk menciptakan sistem dengan pengendali adaptif cerdas yang mampu meniru cara belajar pakar atau human expert3.

Kemudian, notasi sigma dan delta yang digunakan Newton tidak beda dengan notasi integral derivatif Leibniz. Keduanya tetap bisa digunakan dalam satu perhitungan yang sama meski notasi Newton lebih sering muncul dalam deret dan statistika. Sedangkan untuk perhitungan tingkat lanjut, terutama di bidang ilmu terapan, lebih representatif menggunakan notasi integral derivatif Leibniz yang bisa diutak-atik menggunakan fungsi dan persamaan4.

Dalam dunia ilmiah, ada jurnal-jurnal yang sedemikian banyak dari masa ke masa. Terkadang judul-judul yang ada sangat identik, berikut isinya yang bisa saja tidak terlalu berbeda. Mengingat peluang suatu kejadian semakin besar berikut banyaknya kejadian berulang. Meskipun itu dihasilkan manusia yang tidak sama isi setiap kepalanya5.

Adanya beberapa kejadian semacam ini memicu kesepakatan mengenai plagiarisasi. Adanya paten dan hak cipta bisa menjadi sumber penghasilan yang membuat semangat para penemu. Siapa lahir duluan, menemukan duluan, dia berhak memberi nama, semisal mengapa harus disebut “Hukum Newton” bukan “Hukum Susilo”. Meski ada pengecualian pada kasus Alexander Graham Bell dengan Antonio Meucci, karena masalah (lagi-lagi)”uang”.6

Ada dagelan programmer,“mengambil dari satu sumber dinamakan menjiplak, mengambil dari banyak sumber disebut karya ilmiah”. Memang yang namanya ide tidak bisa diklaim sebagai milik kepala pencetusnya semata. Bisa jadi ada banyak kepala memiliki ide serupa, sehingga jika ide ini memiliki pengikut atau kaum, maka menjadi suatu ideologi. Dalam Pembelajaran Agama Islam, hal ini disebut ‘madzhab’, yaitu pemahaman mengikuti pakar dalam metode fiqh. Tak masalah seseorang membuat madzhab sendiri, jika mampu menyusun metode secara konkrit dan komprehensif. Ibarat Operating System, jika tidak pas malah dihinggapi ‘bug’ terus menerus.

Istilah ‘ide’7 ini kemungkinan mengambil dari Bahasa Arab “al huda”,8 dengan jama’ muannats salim “hidayah”.9 Dalam ajaran Islam, hidayah hanya bisa diberikan Allah, Sang Maha Pemberi Hidayah (Hadi), kepada siapa yang dikehendaki. Sehingga secara istilah menjadi berbeda dengan “ide” yang penulis sebut sebelumnya. Jika “ide” memang sama dengan “hidayah”, maka manusia sekedar mencetuskannya di kalangan manusia, sedangkan Allah lah yang sebenarnya memilikinya. Memang jika ilmu itu asalnya dari Allah, dicari dari berbagai sisi ketemunya sama.

Jadi, selama ada kata modifikasi setelah meniru, hal tersebut bukanlah plagiarisme.

 

Referensi:

1. Eko Triono, Kemungkinan Muasal Pertengkaran Penulis Kita

2. Jacob Julian, Formula Rick and Morty untuk Menginspirasi Penulis yang Buntu

3. Dr. Ir. Son Kuswadi, Kendali Cerdas, Penerbit Andi, Yogyakarta

4. Drs. Sartono Wirodikromo, Matematika 2000 Untuk SMU Jilid 5 Untuk Kelas 2, Penerbit Erlangga, hal. 76-77

5. Kuliah Nofria Hanafi, S.ST.,MT. dan Dr. Ir. Son Kuswadi, Rekayasa Kendali,

6. Kuliah Raden Sanggar Dewanto,ST,MT,PhD., Rekayasa Mekanika Dinamika,

7. Achmad Warson Munawir, Kamus Munawir, Yogyakarta.

8. Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, Penerbit Erlangga, hal. 177

9. Dawam Mualim, Metode Al Mualim, Pondok Pesantren Al Ma’rifah, Bontang.

10. Ustaz Auni Mohamad,#028 | Sejarah Babylon 2.0 | Ustaz Auni Mohamad | May 2016, Sekitar 1:10:11 – 1:17:08

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar