Keistimewaan Ternak Kerbau dan Teknis Pemeliharaannya di Indonesia

Kerbau merupakan salah satu jenis ternak yang berkembang di Indonesia. Kerbau merupakan ternak yang istemewa karena merupakan jenis ternak yang erat kaitannya dengan beberapa kebudayaan yang ada di Indonesia, seperti upacara-upacara adat yang ada di tanah toraja, menggunakan kerbau dalam ritualnya.

Begitu pula dengan beberapa kuliner khas Indonesia banyak yang menggunakan daging atau pun susu kerbau sebagai bahan bakunya,seperti : Soto kudus, Sate kerbau, dadih dari Sumatera Barat dan sebagainya. Kerbau umumnya diternakan oleh masyarakat sebagai ternak kerja dan sebagai tabungan. Meskipun tidak sepopuler jenis daging dari ternak lain, namun ternak kerbau mampu membantu menyumbang kebutuhan daging nasional.

Berdasarkan data dari kementerian pertanian (2017) produksi daging nasional kerbau menghasilkan produksi daging sebesar  0.6  juta ton pada tahun 2016. Hal ini menunjukan bahwa kerbau memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai penghasil produksi daging.

Selain jumlah produksi daging yang tinggi, kerbau juga memiliki keunggulan lain yaitu dalam hal konversi pakan. Kerbau mampu mengkonversi pakan dengan kualitas rendah namun produksi yang dihasilkan tetap optimal. Hellyward et al (2000) menyatakan bahwa kerbau (Bubalus bubalis) merupakan ternak yang istimewa karena memiliki kemampuan khusus dalam mencerna makanan yang berkualitas rendah untuk dapat bertahan hidup.

Selain itu ternak kerbau memiliki daya adaptasi yang baik meskipun berada di lingkungan yang jelek.  Mufiidah et al (2013) menyatakan bahwa kerbau memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan sapi karena mampu bertahan hidup dalam kawasan yang relatif sulit terutama dalam hal ketersediaan dan kualitas pakan.

Peran ternak kerbau bagi kehidupan peternak masih sangat penting. Menurut Suhubdy (2007) terdapat tiga alasan utama mengapa kerbau mempunyai peran penting. Pertama, ternak kerbau memberikan kontribusi yang cukup besar bagi kehidupan peternak dan petani di pedesaan sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD) walaupun tanpa dukungan pemerintah dan tanpa perbaikan pola hidup. Kedua, ternak kerbau masih dapat berproduksi dan bereproduksi dengan baik pada kondisi alam dan agroekosistem yang sangat kritis, misalnya wilayah lahan kering bagian Timur Indonesia (Pulau Sumbawa, Sumba, Flores dll). Ketiga, ternak kerbau dapat mengubah pakan yang sangat rendah.

Nilai mutu gizinya seperti limbah pertanian dan rumput alam yang memiliki kandungan serat kasar  sangat tinggi, menjadi daging dan susu yang bergizi bagi manusia. Miskiyah dan Usmiati (2006) juga menyatakan bahwa kerbau memiliki bobot karkas yang lebih tinggi dibandingkan sapi lokal. Bobot hidup kerbau rawa sebesar 370 kg, akan memiliki bobot potong sebesar 360 kg, dengan karkas panas sebesar 171.5 kg.

Selama ini para peternak kerbau di Indonesia umumnya menerapkan sistem ekstensif dan semi intensif dalam pemeliharaannya. Sistem ekstensif yaitu ternak digembalakan di ladang penggembalaan. Sedangkan untuk sistem semi intensif yaitu ternak di gembalakan pada siang hari dan dikandangkan pada malam harinya. Berdasarkan hal tersebut, maka teknis pemeliharaan ternak kerbau di Indonesia belum memperhatikan aspek keuntungan. Peternak masih mengandalkan ketersediaan pakan dari alam. Peternak belum menerapkan sistem intensif dimana kebutuhan pakan dan lingkungan benar-benar dikontrol oleh peternak itu sendiri, sehingga keuntungan yang dihasilkan bisa optimal.

Berdasarkan hasil penelitian Sari et al (2015) di kabupaten Gayo Luwes  menujukan bahwa berdasarkan aspek teknis pemeliharaan yang meliputi makanan dan tata laksana pemeliharaan ternak kerbau masih berada di bawah nilai standar dari yang ditetapkan oleh Direktorat Jenederal Peternakan tahun 1992.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa ternak kerbau memiliki keistimewaan dalam hal konversi pakan dan adaptasi dengan lingkungan. Namun aspek teknis pemeliharaan ternak kerbau di Indonesia masih dibawah standar sehingga belum menghasilkan keuntungan yang optimal bagi peternak. Maka diperlukan penanganan yang serius dari berbagai pihak dalam upaya peningkatan produksi daging kerbau nasional dalam hal perbaikan teknis pemeliharaan.

Daftar Pustaka

  • Hellyward J, F Rahim, Erlinda. 2000. Pemeliharaan ternak kerbau lumpur ditinjau dari aspek teknis pemeliharaan di Sumatera Barat. Jurnal Peternakan. 6(1): 77-85.
  • [Kementerian Pertanian]. 2017. Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2017.Jakarta (ID): Direktotarat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI.
  • Miskiyah, Usmiati S. 2006. Potongan komersial karkas kerbau: studi kasus di PT. Kariyana Gita Utama-Sukabumi. Jurnal Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Bogor.
  • Mufiidah N,Ihsan NM, Nugroho H. 2013. Produktivitas induk kerbau rawa (Bubalus bubalis) ditinjau dari aspek kinerja reproduksi dan ukuran tubuh di kecamatan tempursari kabupaten lumajang. J. Ternak Tropika. 14(1): 21-28.
  • Suhubdy. 2007. Strategi penyediaan pakan untuk pengembangan usaha ternak kerbau. Wartazoa. 17(1): 1-11.
  • Sari EM, Abdullah NAM, Sulaiman. 2015. Kajian aspek teknis pemeliharaan kerbau lokal di kabupaten gayo lues. Agripet 15(1): 57-60

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Nur Abdillah Siddiq

Nur Abdillah Siddiq

Mahasiswa S3 Fisika ITS, menekuni bidang Optoelektronik dan Elektromagnetika Terapan. Sangat mencintai aktivitas membaca dan mendesain. Profil lebih lengkap dapat dilihat di www.facebook.com/fisrek

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar