Menelusuri Peranan Teknologi Lokal nan Potensial

Seiring berjalannya waktu, manusia tak ayal lagi telah mengalami perkembangan yang signifikan dalam pemanfaatan teknologi. Mulai dari hal sesederhana penemuan api pada zaman masyarakat purba, pemanfaatan roda dan pengembangan mesin jahit pada masa revolusi industri, hingga penggunaan beberapa teknologi canggih yang masif di masyarakat saat ini seperti gawai smartphone, drone, printer 3D, dan banyak lagi lainnya. Popularitas semua teknologi tersebut pastinya sangat bergantung kepada efektivitas dan manfaat yang dirasakan oleh para pengguna dan lingkungan sekitarnya. Berbicara tentang manfaat teknologi, ada baiknya kita tetap memperhatikan teknologi tepat guna yang berkembang di tanah air Indonesia tercinta ini. Yuk, langsung saja..

  1. Pengering Biji Cokelat menggunakan Tenaga Surya Hibrid

Proses akhir terhadap komoditi bahan mentah, seperti biji cokelat memerlukan proses pengeringan yang cukup untuk mendapatkan hasil terbaik. Proses ini umumnya masih memanfaatkan sinar matahari, efektif memang, tapi adakalanya jika mentari tidak menampakkan dirinya, atau mendung dan hujan, maka proses ini akan terganggu. Untungnya salah satu komunitas berplatform teknologi telah mengaplikasikan eksperimennya untuk mempermudah proses pengeringan ini.

Tim kopernikus Indonesia memodifikasi fasilitas pengering bertenaga surya hibrid dan telah dilakukan uji coba di daerah Tabanan, Bali. Percobaan ini terbukti mampu mempercepat waktu pengeringan biji cokelat dibandingkan dengan cara pengeringan tradisional yaitu dengan menjemur di atas tanah. Terlebih lagi, menjual biji cokelat yang sudah dikeringkan dan difermentasi memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan menjual biji cokelat mentah[1].

Gambar 1. Ruang Pengering Tenaga Surya Hibrid dan Alat Penguji Kadar Air. (https://facebook.com//kopernikus/)

Pemanfaatan tenaga surya hibrid sendiri adalah penggunaan sumber potensial alam seperti matahari (solar energy) atau tenaga bayu (wind energy), yang keduanya merupakan sumber energi hijau dan ramah lingkungan serta dipadukan dengan mesin pembangkit listrik [2]. Terlebih modern lagi adalah sistem terintegrasi smart hybrid yang mengoptimalkan penggunaan energi terbarukan dengan sistem “real time control” dari berbagai sumber energi yaitu Panel Surya, Baterai, Grid atau Genset.

  1. Pengolahan Tanaman dengan Konsep Aquaponic yang memanfaatkan Limbah Kolam Ikan

Beralih kepada teknologi pengolahan limbah kolam ikan, yang biasanya dibuang ke lingkungan secara periodik. Limbah kolam ikan seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai nutrisi pengganti pupuk untuk tanaman holtilkultura, seperti sawi, kangkung, tomat dan cabai. Solusi ini dapat digunakan sebagai langkah yang tepat untuk mengatasi kekurangan lahan dalam bercocok tanam.

Salah satu percobaan pengolahan limbah kolam ikan ini telah diterapkan kepada masyarakat kelompok petani di daerah dusun Kergan, Bantul, Yogyakarta. Limbah cair yang dihasilkan kolam tersebut dapat mengakibatkan pencemaran terhadap air sumur. Dengan bantuan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Mahasiswa dan komunitas tani tersebut maka terinisiasi lah konsep tanam aquaponic yang memadukan pengolahan kolam ikan dan cocok tanam.

Dalam aquaponic, air kolam ikan yang sebenarnya merupakan limbah akan dialirkan secara terus-menerus sebagai nutrisi bagi tanaman yang ditanam dalam media tertentu, seperti batu, genting, dan arang sehingga berbagai kandungan nutrisi dalam air kolam akan diserap dan dimanfaatkan tumbuhan sebagai bahan metabolisme sel-sel tumbuhan tersebut. Terkait dengan hal itu, tanaman berfungsi sebagai biofilter untuk menyerap amonia, nitrat, nitrit, dan fosfor yang berbahaya untuk ikan. Penanaman talas, tomat, dan bayam air dapat menghentikan polusi air dari limbah cair aquakultur [3]  . Namun, beberapa hambatan tetap terjadi dalam pemanfaatan teknologi ini, seperti biaya awal pembuatan dan pemasangan teknologi yang cukup mahal, penggunaan listrik yang optimal secara terus-menerus, dan sosialisasi pengenalan teknologi kepada masyarakat yang cukup memakan waktu.

Gambar 2. Kolam Ikan yang sudah Dipasa ng Sistem Aquaponik (http://www.pertanian99.com/)

  1. Penyedia Air Bersih menggunakan Pompa Hidrolik Ram (Hidram)

Kebutuhan air bersih selalu menjadi tuntutan primer untuk dipenuhi dalam menyelesaikan aktivitas sehari-hari. Jangkauan air bersih di kota-kota besar umumnya sudah hampir merata di sampai ke sudut-sudut kota. Hal ini kontras sekali dengan  kondisi di daerah pedesaan jauh dari sumber air. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pusat Pengembangan Teknologi Tepat Guna (Pusbang TTG) LIPI telah menelurkan inovasinya, yaitu Pompa Hidrolik Ram (Hidram).

Pompa hidram adalah suatu alat yang digunakan untuk memindahkan air dari tempat rendah ke tempat yang lebih tinggi secara otomatis dengan memanfaatkan airnya sendiri sebagai sumber energi. Kelebihan pompa hidram yaitu tanpa menggunakan energi listrik. Dengan pompa hidram maka kebutuhan masyarakat akan air yang layak dapat terpenuhi khususnya untuk daerah yang terpencil yang jauh dari jangkauan listrik PLN dan masyarakat dataran tinggi yang sumber airnya berada jauh di bawah permukiman. Pusbang TTG LIPI telah memasang dan memanfaatkan hidram di beberapa daerah seperti Bengkulu, Subang, Bali, Enrekang, Lombok, Atambua, dan lainnya.

Untuk mendesain dan menginstalasi pompa hidram perlu dilakukan observasi secara komprehensif di lapangan. Beberapa data seperti debit sumber air (minimum), ketinggian lokasi  pompa hidram dan kemiringan lokasi sumber air, serta kebutuhan air terhadap populasi setempat[4].

Gambar 3. Pompa Hidrolik Ram ( alhytech.blogspot.com)

Demikian lah beberapa ulasan mengenai teknologi tepat guna (TTG) yang kini hadir dan nyata dampaknya di Indonesia. Dan sebenarnya masih banyak lagi mesin TTG yang eksis di negeri ini seperti, Mesin Pengupas Kulit Ari Kedelai, Mesin Penetas Telur Sederhana, Pembangkit listrik tenaga pikohidro di Subang, dan Ekstruder alat pencetak mie non gandum di Sumenep. Semua teknologi tersebut merupakan hasil kerja kerja para penggiat teknologi untuk mengentaskan permasalahan di lingkungan sekitar kita.

Walaupun perkembangan kemandirian teknologi di Indonesia masih terbilang minim, tapi diharapkan akan terus lahir inovasi dan perubahan dari para ahli. Seperti yang dikatakan Prof Rhenald Kasali, bahwa perubahan itu harus menyentuh mindset, sikap mental atau cara berpikir masyarakat dan aparat. Sebab, saat satu komponen berubah, keseluruhan sistemnya pun dituntut berubah [5].

Nah, mesin manakah yang kira-kira paling menarik untukmu?

 

Referensi:

[1]    Pengering Tenaga Surya Hibrid. https://facebook.com//kopernikus/ . (Diakses pada 16 Maret 2018).

[2]  RISTEK. 2009. SAINS & TEKNOLOGI Berbagai Ide untuk Menjawab Tantangan dan Kebutuhan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.

[3]  Maharani, Nur Annisa dan Sari, Pinjung Nawang. 2016. Penerapan Aquaponic Sebagai Teknologi Tepat Guna Pengolahan Limbah Cair Kolam Ikan Di Dusun Kergan, Tirtomulyo, Kretek, Bantul, Yogyakarta. Indonesian Journal of Community Engagement: Yogyakarta.

[4]      LIPI. 2014. Majalah Inovasi Menebar Ilmu dan Teknologi Membangun Kemandirian. LIPI Redaksi: Subang.

[5]    Kasali, Rhenald. 2014. Let’s Change! Kepemimpinan, Keberanian, dan Perubahan. PT. Kompas Media Nusantara: Jakarta.

Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar