Tidak Semua Produk Ikan Kaleng Berbahaya, Hanya 27 Produk Ikan Makarel Kaleng yang Mengandung Cacing Parasit

Dunia pangan Indonesia belum selesai dengan masalah keamanan pangan. Kali ini berita mengenai adanya temuan cacing di dalam ikan makarel kemasan kaleng yang menjadi berita viral di kalangan warganet. Akhirnya tanggal 22 Maret 2018, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) membuat klarifikasi mengenai beredarnya pemberitaan tersebut.

Infografis Warstek

Awal mula kasus cacing ini bermula dari Riau. BPOM berkoordinasi dengan dinas terkait di Provinsi Riau menemukan adanya cacing parasit Anisakis Sp dengan kondisi mati pada produk ikan makarel kaleng ukuran 425 gr, yaitu Merek Farmerjack, IO, dan HOKI. Ketiga produk tersebut telah ditarik oleh importir atas himbauan dari BPOM untuk kemudian dimusnahkan[1].

Ikan makerel kaleng merek Farmerjack, IO, dan HOKI yang terdapat cacing parasit Anisakis Sp

BPOM kemudian melakukan penyelidikan untuk memastikan adanya dugaan cacing dalam produk ikan kemasan kaleng lainnya yang beredar di seluruh Indonesia. Penyelidikan lanjutan oleh BPOM RI ini dilakukan hingga pada tanggal 28 Maret 2018.

Pengujian oleh BPOM telah dilakukan terhadap 541 sampel ikan dalam kemasan kaleng yang terdiri dari 66 merek berbeda. Hasil pengujian menunjukkan 27 merek (138 bets) positif mengandung parasit cacing, terdiri dari 16 merek produk impor dan 11 merek produk lokal. Dari 27 merek tersebut semuanya adalah ikan makarel kalengan, bukan ikan sarden kalengan. Ingat, ikan Makarel berbeda dengan ikan sarden.

Perbedaan ikan makarel dan ikan sarden

Dominasi produk ikan makarel kalengan yang mengandung parasit cacing adalah produk impor dan produk lokal yang bahan bahan bakunya berasal dari luar negeri. Merek produk yang mengandung parasit cacing tersebut dapat dilihat di dokumen ini (link).

Apakah Produk yang Mengandung Cacing yang Sudah Mati Layak Untuk Dikonsumsi ?

Anisakis Sp adalah salah satu penyebab penyakit Anisakiasis, yaitu penyakit yang disebabkan oleh infeksi larva stadium III  cacing nematode anisakis. Penyakit ini dapat menginfeksi manusia (zoonosis). Larva Anisakis sp. yang termakan, kemudian masuk melalui saluran pencernaan manusia dan akan menembus dinding lambung atau usus sehingga mengakibatkan granuloma eosinofilik yang parah.

Untuk mengurangi resiko terinfeksi Anisakis sp. maka daging ikan harus dimasak secara matang pada suhu yang tinggi. Proses dasar pada produk ikan dalam kaleng telah mengalami beberapa proses pengawetan, salah satunya adalah pemanasan pada suhu tinggi. Menurut Ketua BPOM RI, Ir. Penny K. Lukito, MCP, dimungkinkan dalam proses tersebut cacing parasit dan telurnya mengalami kematian. Walaupun demikian, Penny mempertegas bahwa dari segi keamanan pangan, produk yang mengandung cacing tidak layak dikonsumsi dan pada konsumen tertentu dapat menyebabkan reaksi alergi (hipersensitifitas) pada orang yang sensitif[3],[4].

Himbauan: Dalam memakan produk ikan kaleng hendaknya dimasak terlebih dahulu, jangan langsung dimakan seketika setelah kaleng dibuka.

Bagaimana Jika Ada Masyarakat yang Sudah Terlanjur Mengkonsumsi Produk Ikan Makarel yang Mengandung Cacing Parasit?

Apabila masyarakat terlanjur mengkonsumsi ikan Makarel yang mengandung parasit cacing (baik mati maupun hidup), maka dimungkinkan dapat mengalami gangguan pencernaan dengan gejala mual, muntah, dan diare. Selain itu, dimungkinkan pula terjadinya reaksi alergi terhadap cacing Anisakis.

Akan tetapi, sebagian masyarakat yang telah terlanjur mengkonsumsi mungkin juga tidak akan merasakan permasalahan gejala pencernaan apa pun. Apabila masyarakat mengalami gejala-gejala tersebut, sebaiknya segera diberi pertolongan medis di rumah sakit untuk mendapatkan penangan secara cepat dan tepat[5].

Bagaimanakah dengan Produk Ikan Jenis Lain dalam Kemasan Kaleng?

Menurut Ketua BPOM, Ir. Penny K. Lukito, MCP, sampai saat ini BPOM RI hanya menemukan pada 27 merek yang kesemuanya produk ikan Makarel kalengan. Namun BPOM RI terus memantau pelaksanaan penarikan dan pemusnahan, serta melakukan sampling dan pengujian terhadap semua produk ikan dalam kaleng selain Makarel, baik produk lokal maupun luar negeri.

Produk ikan Makarel dalam kaleng ini, baik produk lokal maupun impor, keseluruhannya berasal dari bahan baku ikan yang bukan berasal dari perairan Indonesia, namun berasal dari perairan negara Cina. Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan, juga telah memberikan notifikasi kepada Pemerintah China terkait dengan bahan baku ikan yang mengandung parasit cacing.

Mengapa Parasit Cacing ini Bisa Tidak Terdeteksi Selama Proses Produksi?

Kasus cacing parasit pada ikan makarel kalengan di Indonesia bukanlah yang pertama. Kejadian pertama terjadi di Peru pada awal tahun 2018 dan pihak BPOM sudah berkoordinasi dengan kementerian perikanan dan kelautan mengenai hal ini. Bahkan, terdapat satu kiriman sumber bahan baku ikan Makarel ke Indonesia yang sumbernya sama dengan temuan di Peru, sehingga bahan tersebut  dilarang untuk digunakan di Indonesia dan sudah dikirim kembali ke negara asalnya. Produk jadi dan bahan baku yang berasal dari Cina inilah yang mengandung parasit cacing.

Sebenarnya ikan makarel secara alami mengandung parasit cacing. Menurut Ir. Penny K. Lukito, MCP selaku ketua BPOM, para produsen tidak dapat mendeteksi adanya parasit cacing ini mungkin karena fenomena baru yang terjadi akibat perubahan musim. Namun seharusnya produsen dapat melakukan seleksi terhadap bahan baku yang akan digunakan sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), yakni tidak boleh sama sekali mengandung cacing[4].

Pesan dari BPOM RI Dalam Memilih Produk Makanan

Masyarakat dihimbau untuk lebih cermat dan hati-hati dalam membeli produk pangan. Selalu ingat cek “KLIK” (Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa) sebelum membeli atau mengonsumsi produk pangan. Pastikan kemasannya dalam kondisi utuh, baca informasi pada label, pastikan memiliki izin edar dari BPOM RI, dan tidak melebihi masa kedaluwarsa[2].

Benarkah Cacing pada Ikan Kaleng Kaya Protein?

Ditemui di Gedung DPR Jakarta pada hari Kamis (29/3/2018), Menteri Kesehatan RI yakni Prof.Dr.dr.Nila D.F. Moeloek, Sp.M berkata ”Cacing itu sebenarnya isinya protein”. Namun seberapa banyak proteinnya?

Infografis ini berusaha untuk menjawabnya. Jika ada yang memiliki makalah ilmiah yang membantah atau menambahkan pernyataan pada infografis mohon lampirkan linknya di kolom komentar ya.

Referensi:

[1]Humas Badan Pengawas Obat dan Makana Republik Indonesia. 2018. PENJELASAN BPOM RI TENTANG TEMUAN CACING PADA PRODUK IKAN KALENG. http://www.pom.go.id/new/view/more/klarifikasi/83/PENJELASAN-BPOM-RI—TENTANG–TEMUAN-CACING-PADA-PRODUK-IKAN-KALENG.html. Diakses 1 April 2018

[2] Humas Badan Pengawas Obat dan Makana Republik Indonesia. 2018. Penjelasan BPOM RI Tentang Perkembangan Temuan Parasit Cacing pada Produk Ikan Makarel Kaleng. http://www.pom.go.id/new/view/more/klarifikasi/85/PENJELASAN-BPOM-RI–TENTANG-PERKEMBANGAN-TEMUAN-PARASIT-CACING-PADA-PRODUK-IKAN-MAKAREL-KALENG.html. Diakses 1 April 2018

[3] Wawancara dengan Ketua BPOM RI. METRO PAGI PRIME TIME. 30 Maret 2018 08:58 WIB

[4] Utami, P. 2014. Identifikasi Anisakis sp. pada Beberapa Ikan Laut di Beberapa Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cilacap. Jurnal Matematika, Sains, dan Teknologi. 15(1):21-28.

[5] Anindyaputri, I. 2018. 3 Fakta Penting Seputar Isu Cacing di Sarden Kalengan yang Wajib Anda Tahu. https://hellosehat.com/hidup-sehat/fakta-unik/cacing-di-sarden-kalengan-makarel-bpom/. Diakses 3 April 2018.

 

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Zakaria Husein Abdurrahman

Zakaria Husein Abdurrahman

Indonesian Junior Animal Scientist. Praktisi Pemula di Bidang Peternakan

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar