Ini Alasan Ilmiah Gagalnya Resolusi Tahunan Anda

Pada tahun 2010 dulu terutama saat tahun baru, di timeline facebook saya banyak yang memasang resolusi awal tahun. Saya kira yang seperti ini hanya ada diseputaran pertemanan saya, ternyata setelah membaca buku karangan Young, saya menjadi tahu bahwa sepertinya di Amerika juga berlaku yang sama. Orang-orang membuat resolusi di awal tahun.

Baca juga: Cara LIPI Menyapa 2018 dan Saran Sains untuk Resolusimu di Tahun 2018

Tragisnya 80 persen dari mereka menyerah di bulan Januari. Salah satu teman saya pun menceritakan bagaimana dia sudah malas membuat resolusi-resolusi karena pencapaian yang tidak maksimal. Kita juga seringkali punya target A, B, C dan D tetapi banyak yang tidak tercapai. Beberapa orang atau motivator mungkin memberikan nasehat bahwa kita kurang bersemangat atau kurang ada niatan. Akan tetapi, hasil riset membuktikan bahwa bukan karena kita kurang niat atau kurang pengetahuan, tetapi kita saja yang tidak mengetahui bagaimana ilmu dari proses perubahan.

Sejak beberapa bulan yang lalu, saya membaca buku tentang kebiasaan atau dalam bahasa Inggrisnya adalah HABIT. Dua buku tersebut adalah The Power of Habit karangan Charles Duhigg dan Stick with it karangan Sean Young. Charles Duhigg adalah seorang wartawan lulusan Yale dan Harvard, salah satu kampus top di Amerika bahkan dunia. Sedangkan Sean Young adalah dosen di UCLA lulusan UCLA dan Stanford. Di Yale, Duhigg mempelajari sejarah dan di Harvard mempelajari bisnis. Young di UCLA mempelajari musik dan di Stanford mempelajari psikologi. Kedua buku ini menurut saya sangat bermanfaat karena tidak hanya membuka wawasan bahwa hal yang selama ini dianggap ilmu kira-kira ternyata memiliki landasan yang amat mendasar.

Resolusi awal tahun. Sumber: malesbanget.com

Karena saya merasa apa yang saya baca sangat bermanfaat, saya mencoba untuk berbagi kepada semua sahabat warstek tentang isi 2 buku yang saya baca (The Power of Habit dan Stick with it). Saya akan mencoba menuliskan sedikit demi sedikit seminggu sekali. Mohon doanya agar bisa istiqomah untuk melanjutkan menulis. Jika ternyata tulisan saya sudah satu minggu belum keluar, mohon jewer saya dengan komentar atau mention saya di akun sosial media agar saya bisa tetap istiqomah.

Baca juga: Bagaimana terjadinya jenis kelamin makhluk hidup?

Kenapa tidak saya foto saja isi bukunya dan saya bagikan agar bisa dibaca semua. Alasan pertama adalah adanya hak cipta. Saya tidak mau melanggar hak cipta. Saya merasa agar ilmu kita berkah dan bermanfaat maka cara mendapatkannya pun harus halal. Kedua, jika langsung saya beri, maka kecil kemungkinan untuk dibaca, apalagi buku tersebut berbahasa Inggris.

Baiklah sekian pendahuluannya.

Proses terbentuknya kebiasaan atau habit

Pertama saya mulai dengan proses terbentuknya kebiasaan. Otak kita Alhamdulillah diberi oleh Allah kemampuan untuk mengefisienkan diri dengan kebiasaan. Dengan adanya kebiasaan, kita tidak perlu pusing memikirkan banyak hal. Misalkan saat menyetir mobil, kita tidak perlu berfikir banyak, tindakan kita seolah otomatis. Apa sebenarnya kebiasaan atau habit itu? Banyak penelitian yang membuktikan bahwa kebiasaan bisa terbentuk karena adanya tiga fase. Fase pertama adalah pemantik, fase kedua adalah tindakan dan fase ketiga adalah hadiah. Seorang perokok misalkan. Biasanya mereka akan merokok saat selesai makan atau karena ada teman atau tamu. Selesai makan atau adanya teman ini adalah pemantik.

Baca juga: “Batman” mampu membuat anak lebih tekun. Bagaimana caranya?

Adanya pemantik membuat otak memanggil program yang sudah dituliskannya untuk melakukan sesuatu yaitu mengambil rokok, menyalakan korek dan merokok. Kafein atau rasa senang yang muncul karena rokok membuat otak mengeluarkan dopamin. Hormon yang berperan dalam rasa senang. Ada juga salah satu dari kita yang tanpa sadar mengarahkan kursor ke logo chrome untuk membuka internet saat menyalakan laptop. Menyalakan laptop adalah pemantik sedangka mengarahkan kursor ke chrome adalah tindakan lalu rasa senang berselancar di dunia maya akan mengundang dopamin.

Bagaimana hubungannya dengan gagalnya resolusi tahunan?

Saat pelatihan pengembangan diri, kita diajarkan untuk membuat target besar yang ingin dicapai kemudian membuat tahapan-tahapan untuk mencapai target tersebut. Usahakan setiap target terukur. Masalahnya, banyak yang tidak tahu seberapa besar sih tahapan-tahapan yang harus dibuat? Banyak yang tidak dapat membedakan antara Dream, Goal dan Step. Dream adalah sesuatu berjangka panjang dan kita belum pernah mencapainya. Goal adalah sesuatu yang berjangka sedang dan kita pernah mencapainya. Step adalah sesuatu berjangka pendek untuk mencapai goal. Tidak peduli seberapa kecil sesuatu itu selama anda belum pernah mencapainya maka itu termasuk dream.

Baca juga: Darah dinosaurus ditemukan di fosil kutu

Seorang programer mungkin ingin agar aplikasinya didownload oleh seribu user. Maka itu adalah dream yang dia impikan tahun ini. Programer lain memiliki dream agar aplikasinya didownload oleh sejuta user. Karena dia memiliki pengalaman aplikasinya di download oleh dua ribu user, maka saat dia membuat tahapan untuk mencapai target seribu user, maka tahapan ini termasuk goal buat dia. Berbeda dengan programer sebelumnya yang tidak memiliki pengalaman sebelumnya.

Bagaimana sains menjawab itu?

Saat kita mencapai atau mendapatkan goal tersebut maka dopamin akan muncul di otak kita. Sayangnya, ternyata otak kita tidak sabar menunggu adanya dopamin. Goal yang tidak dapat tercapai dalam waktu seminggu mungkin akan membuat pikiran kita lelah menunggu dan membuat rentang untuk menyerah secara tanpa disadari. Penelitian membuktikan bahwa jika kita fokus kepada dream dibandingkan kepada goal maka kemungkinan untuk menyerah pun akan lebih besar. Otak kita bersifat relatif dan subyektif. Peneliti mengadakan survey kepada dua kelompok untuk menerka berapa jumlah penduduk Chicago. Kelompok pertama disuruh menebak apakah lebih besar atau kurang dari 200 ribu dan kelompok kedua diminta menebak apakah lebih besar atau kurang dari satu setengah juta. Ternyata, jawaban dari kelompok tersebut berbeda tergantung bagaimana cara bertanyanya. Kelompok pertama tanpa sadar telah menjadikan 200 ribu sebagai ukuran. Pun kelompok kedua juga menjadi satu setengah juga sebagai patokan mereka dalam menebak jumlah penduduk Chicago.

Baca juga: Teknologi baru parfum, semakin berkeringat semakin wangi

Pikiran kita pun demikian saat merespon sesuatu apakah harus mengeluarkan dopamin atau tidak. Seseorang yang dijanjikan uang 10 ribu rupiah ternyata mendapatkan 20 ribu akan lebih senang dibandingkan mereka yang dijanjikan 100 ribu rupiah ternyata mendapatkan 50 ribu. Sesuatu yang sesuai atau lebih besar dari harapan akan mendapatkan dopamin sedangkan yang kurang tidak. Goal yang direncanakan seminggu tetapi tercapai seminggu lebih tidak akan mendapatkan dopamin. Goal yang tercapai tetapi karena memikirkan dream terus menerus riskan untuk tidak mendapatkan dopamin karena apa yang didapat tidak sesuai dengan keinginan.

Bagaimana kalau di bisnis?

Aplikasi yang terlalu banyak mode dan isian yang perlu dijawab pun cenderung menurunkan minat karena kita ingin agar goal-goal tersebut bisa segera tercapai dan mendapatkan hadiah dopamin. Produk-produk yang membuat terlalu lama keluarnya dopamin cenderung ditinggalkan. Saya beri contoh salah satu merk pasta gigi. Di Amerika, awalnya pasta gigi tidak mengandung rasa mint segar. Ini membuat orang-orang malas menggunakan pasta gigi. Kemudian sebuah perusahaan membuat pasta gigi dengan rasa mint. Produk pasta gigi ini membuat penjualan produk sukses besar. Kenapa sebenarnya?

Baca juga: Hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah hidup membuat kita semakin kuat

pasta gigi yang mengandung mint akan mengeluarkan rasa senang dengan sensasi segar dan bersihnya sehingga orang-orang akan jatuh cinta karena adanya dopamin dan segera kebiasaan akan terbentuk. Pasta gigi tanpa rasa mint, membuat orang merasa menunggu untuk mendapatkan hasil gigi yang sehat dan bersih. Contoh lain adalah produk pewangi ruangan. Saat dijual untuk menghilangkan bau pakaian, produk tersebut tidak laku. Tetapi saat dijual sebagai pewangi setelah bersih-bersih rumah, produk pewangi ruangan ini menjadi laku keras padahal saat itu produk ini hanya sebagai pendukung saat bersih-bersih saja. Hal ini karena, setelah bersih-bersih, orang mendapatkan perasaan senang yang lebih dengan adanya wewangian sehingga mereka akan merasa ada yang hilang saat tidak menggunakan produk tersebut.

Maka, cara agar kita bisa terus istiqomah terhadap target kita hingga tercapai mimpi kita adalah buatlah goal-goal selogis mungkin dan sepasti mungkin kita akan mampu mencapainya. Itu kira-kira yang bisa saya bagikan untuk minggu ini. Minggu depan insyaAllah akan dimulai dengan sains dari komunitas bagaimana dia membentuk kebiasaan kita.

Baca juga edisi kedua dari tulisan ini: Membangun dan Memilih Komunitas yang Didasarkan pada “Science”

Referensi:

  1. Charles Duhigg. 2014. The Power of Habit
  2. Sean Young. 2017. Stick with it

Abdul Halim
Mahasiswa Doktor di University of Tsukuba. Dosen di Institut Teknologi Sains Bandung
Founder Warung Sains Teknologi.

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Abdul Halim

Abdul Halim

Menamatkan program ST dan MT di Jurusan Teknik Kimia ITS. Sedang menempuh PhD di University of Tsukuba. Meneliti pemanfaatan bio-nanomaterial untuk pengolahan limbah cair.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *