Aplikasi Kecerdasan Buatan dalam Dunia Hukum, Pengacara Kecerdasan Buatan Lebih Cepat dan Akurat dibanding Pengacara Manusia

Hukum dibuat untuk mengatur perilaku manusia. Lebih luas lagi, tujuan dibuatnya hukum adalah agar tercipta ketertiban dan keadilan dalam masyarakat. Oleh sebab itu, dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, hukum merupakan sebuah keharusan. Namun, bagaimana jika masyarakat mengalami permasalahan hukum?

Apabila terjerat permasalahan hukum, masyarakat akan memakai jasa pengacara untuk menuntut keadilan. Namun bagaimana jika pengacaranya bukan manusia, melainkan sebuah perangkat lunak yang bisa berpikir?

Gambar 1. Simbol Hukum[2]

Selama ini, kita tahu bahwa pengacara hukum semuanya dilakukan oleh manusia, tanpa ada campur tangan dari teknologi perangkat lunak yang mampu berpikir.

Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh pengembang LawGeex yang berbasis kecerdasan buatan, mereka berkonsultasi dengan profesor hukum dari beberapa universitas, seperti Universitas Stanford, Sekolah Hukum Universitas Duke, dan Universitas California Selatan.

Perangkat kecerdasan buatan LawGeex tersebut dilatih untuk mengevaluasi sebuah kontrak hukum yang kemudian “diadu” dengan dua puluh pengacara yang berpengalaman dalam mengevaluasi kontrak hukum.

Dalam dunia hukum, pengacara menangani suatu masalah pidana yang memiliki tujuan untuk mengambil keputusan yang tepat dalam memecahkan suatu kasus. Perangkat hukum tidak akan bekerja jika hanya ada pengacara tanpa ada kasus, begitu juga sebaliknya. Hal inilah yang di uji cobakan pada Buatan LawGeex, memecahkan beberapa kasus hukum.

Dalam risetnya, LawGeex bersaing dengan pengacara berpengalaman dalam mengidentifikasi 30 masalah hukum (terdiri dari 11 halaman A4, 153 paragraf, dan 3.213 klausa) dan diberi waktu selama empat jam. Adapun permasalahan hukumnya meliputi arbitrase (penyelesaian suatu sengketa), kerahasiaan hubungan, hingga masalah ganti rugi. Penilaian dari riset tersebut adalah perbandingan seberapa akurat Lawgeex dalam mengidentifikasi dan menangani suatu masalah hukum dibandingkan manusia.

Hasil akhir dari riset tersebut adalah pengacara manusia mencapai nilai rata-rata akurasi sebesar 85%, sedangkan pada Lawgeex mencapai tingkat akurasi hingga 94% dalam mereview dan mengidentifikasi masalah hukum. Hasil juga diukur dari segi waktu, yaitu seberapa cepat kedua belah pihak tersebut mampu mereview masalah hukum. Hasilnya pengacara manusia membutuhkan waktu rata-rata 92 menit dalam menganalisis 30 masalah hukum, sedangkan Lawgeex hanya membutuhkan waktu rata-rata 26 detik.[1][2][3].

Gambar 2. Perbandingan hasil tingkat akurasi antara pengacara manusia dengan kecerdasan buatan dalam mengidentifikasi kasus hukum[4].

Berdasarkan hasil tersebut, terbukti bahwa Lawgeex (yang merupakan kecerdasan buatan) memiliki performa yang lebih baik dari pada manusia dalam hal mereview dan mengidentifikasi permasalahan hukum. Dari segi hasil, kecerdasan buatan memang lebih baik, tetapi bukan berarti kecerdasan buatan langsung menggantikan posisi manusia menjadi seorang pengacara, karena dalam dunia hukum mampu mereview dan mengidentifikasi saja tidaklah cukup untuk memenangkan suatu kasus.

Kecerdasan Buatan merupakan produk hasil buatan manusia yang tergantung dari bagaimana manusia memasukkan data dan melatihnya (training), seperti pada Lawgeex, telah dikonsultasikan dan dilatih dengan profesor hukum dari beberapa universitas terkemuka, seperti Universitas Stanford, Sekolah Hukum Universitas Duke, dan Universitas California Selatan.

Kedepan Kecerdasan Buatan akan dikolaborasikan atau bekerja sama dengan pengacara manusia dalam menangani suatu kasus. Tujuannya agar kedua kecerdasan antara manusia dengan kecerdasan buatan dapat dipadukan untuk mencapai hasil yang jauh lebih akurat, lebih cepat, dan lebih baik.

 

Referensi:

  1. Nicholson, Sibel. 2018. “AI Proves to Be 10% Faster and More Accurate Than Top Human Lawyers“. Interesting Engineering, 27 Februari 2018 (https://interestingengineering.com/ai-proves-to-be-10-faster-and-more-accurate-than-top-human-lawyers) diakses pada 9 Maret 2018
  2. LawGeex, AI vs. Lawyers (https://www.lawgeex.com/AIvsLawyer/) diakses pada 9 Maret 2018
  3. LawGeex. 2018. “Comparing the Performance of Artificial Intelligence to Human Lawyers in the Review of Standard Business Contracts“. Februari 2018 (PDF)
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Wayan Dadang

Wayan Dadang

Mahasiswa S1 Teknik Elektro Universitas Sriwijaya, menekuni Kecerdasan Buatan, Sistem Kontrol, dan Robotika. Mencintai kegiatan membaca Paper Sains, Belajar, Menulis, dan Riset.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *