Bukti-Bukti Terjadinya Big Bang Ini Tidak Akan Teramati di Masa Depan

Sepanjang sejarah, pandangan kita tentang alam semesta senantiasa berubah. Awalnya kita mengira bahwa bumi kita datar. Kemudian kita tahu bahwa ternyata bumi yang tampak datar ternyata bulat dan berada di pusat alam semesta. Awalnya kita menyangka matahari mengelilingi bumi, namun kemudian kita tahu bahwa bumi hanyalah sebuah planet yang mengorbit matahari. Kemudian kita pun tahu bahwa matahari juga hanyalah sebuah bintang biasa yang terletak di pinggiran galaksi bimasakti.

Sampai pertengahan abad 20, inilah pandangan kita tentang alam semesta. Galaksi bimasakti diyakini sebagai keseluruhan alam semesta, sebuah kota bintang yang mengambang dalam kegelapan luas tak terhingga. Sebuah alam semesta yang statik, tak memiliki awal dan akhir.[1]

Pandangan tentang alam semesta yang statik perlahan mulai ditinggalkan seiring dengan ditemukannya bukti-bukti yang menunjukkan bahwa alam semesta ternyata dinamis. Alam semesta tidak kekal melainkan lahir dari sebuah “ledakan” bernama Big Bang. Seperti apa kira-kira bunyi dari Big Bang? Berikut adalah bunyinya dilansir dari howstuffworks.com.

Bukti-bukti adanya Big Bang yaitu mengembangnya alam semesta, radiasi latar gelombang mikro, dan melimpahnya unsur-unsur ringan. Akan tetapi jauh di masa mendatang bukti-bukti ini akan lenyap. Seandainya di masa itu peradaban manusia masih ada maka mereka akan kembali meyakini pandangan pertengahan abad 20 yakni alam semesta statik dan tidak memiliki awal.[2]

Berikut merupakan bukti-bukti terjadinya Big Bang dan bagaimana mereka akan lenyap.

1. Mengembangnya Alam Semesta

Alam Semesta Mengembang

Bukti yang paling langsung mengarah pada Big Bang adalah mengembangnya alam semesta. Saat mengamati galaksi-galaksi jauh, seorang astronom bernama Edwin Hubble menemukan bahwa galaksi-galaksi tersebut bergerak menjauh. Semakin jauh jarak sebuah galaksi dari bumi, semakin cepat galaksi tersebut bergerak menjauh. Hal ini menunjukkan bahwa alam semesta mengalami pengembangan, alam semesta senantiasa bertambah besar. Jika alam semesta bertambah besar maka jauh di masa lalu alam semesta tentunya memiliki ukuran yang sangat kecil, lebih kecil daripada atom, dan menurut teori relativitas umum akan sampai pada sebuah titik tunggal.

Mengompres alam semesta yang sangat besar menjadi satu titik tentu saja membuat kerapatan alam semesta menjadi tak hingga. Akibatnya kelengkungan ruang-waktu juga menjadi tak hingga. Titik ini dikenal dengan istilah singularitas, tempat dimana ruang dan waktu menjadi lenyap. Singularitas ini tiba-tiba meledak dan mengembang menjadi alam semesta seperti yang kita lihat saat ini.

Pada tahun 1998, ditemukan fakta bahwa kecepatan mengembangnya alam semesta semakin bertambah.[3] Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa jauh di masa depan, setiap galaksi akan bergerak menjauh dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya. Akibatnya, cahaya dari galaksi-galaksi tersebut tidak akan pernah sampai ke kita sehingga mereka akan lenyap dari pandangan kita. Astronom di masa itu tidak akan tahu kalau alam semesta mengembang sebab tidak ada galaksi yang bisa diamati.

2. Radiasi Latar Gelombang Mikro

Radiasi Latar Gelombang Mikro
Radiasi Latar Gelombang Mikro

Kita masih belum tahu apakah singularitas itu benar-benar ada. Big Bang sebenarnya bukan merupakan teori tentang asal-usul alam semesta melainkan teori tentang evolusi alam semesta. Singularitas merupakan bagian dari teori Big Bang yang belum terbukti. Asal-usul alam semesta merupakan pertanyaan mendalam yang belum bisa kita jawab. Akan tetapi kita biasa menggunakan istilah Big Bang untuk menyebut waktu ketika usia alam semesta adalah nol. Satu hal yang pasti, semakin kita tarik garis waktu ke belakang, alam semesta tidak hanya semakin kecil dan rapat tetapi juga semakin panas.

Setiap benda memancarkan radiasi yang frekuensinya ditentukan oleh temperatur benda tersebut. Semakin tinggi temperatur sebuah benda, semakin tinggi pula frekuensi radiasi yang dipancarkannya. Tubuh manusia memiliki temperatur rata-rata 37 derajat Celcius sehingga memancarkan radiasi inframerah. Alam semesta awal yang sangat panas tentunya memancarkan radiasi yang lebih tinggi. Jika teori Big Bang memang benar maka saat ini kita seharusnya masih mengamati sisa-sisa radiasi tersebut. Sisa-sisa radiasi ini berhasil ditemukan oleh Arno Penzias dan Robert Wilson tahun 1965 dalam bentuk gelombang mikro yang datang dari segala penjuru langit[4]. Penemuan tersebut diganjar nobel fisika tahun 1978.

Di masa mendatang, alam semesta akan semakin dingin. Gelombang mikro akan turun frekuensinya menjadi gelombang radio, dan akan terus menurun seiring mengembangnya alam semesta. Sisa-sisa radiasi ini akan semakin sulit dideteksi sampai akhirnya tidak bisa dideteksi sama sekali. Astronom di masa itu tidak akan tahu kalau alam semesta dahulu memiliki temperatur yang sangat tinggi karena akan sangat sulit mengamati sisa-sisa radiasi.

3. Melimpahnya Unsur-Unsur Ringan

Sebagian besar unsur yang ada dalam tabel periodik terbentuk di inti sebuah bintang. Tiga menit pertama kelahiran alam semesta hanya membentuk dua unsur yang paling ringan yaitu hidrogen dan helium. Unsur yang berat molekulnya ringan lebih mudah terbentuk sehingga perbandingannya adalah 76% hidrogen dan 24% helium. Ini merupakan prediksi dari teori Big Bang. Bagaimana cara mengetesnya? Dengan cara melihat bintang atau galaksi yang jauh. Hal ini karena cahaya memiliki kecepatan yang berhingga. Semakin jauh kita memandang semakin jauh pula kita mengamati masa lalu. Pengamatan yang telah dilakukan ternyata cocok dengan prediksi tersebut.[2]

Unsur-unsur berat dibuat dengan cara penggabungan unsur-unsur ringan. Akibatnya, unsur-unsur ringan akan semakin berkurang dan unsur-unsur berat akan semakin bertambah. Jauh di masa mendatang jika kita mengamati setiap bintang atau galaksi sejauh apapun mereka, kita sudah tidak akan mendapati perbandingan yang diprediksi oleh teori Big Bang ini. Bukti dari teori Big Bang yang satu ini pada akhirnya akan lenyap juga.

Saat ini kita tidak perlu khawatir. Semua bukti di atas baru akan lenyap sekitar dua triliun tahun lagi. Di masa itu mungkin umat manusia sudah punah dan lahir peradaban baru entah dimana di alam semesta yang luas ini. Tak peduli seberapa maju peradaban itu, mereka akan sampai pada kesimpulan yang salah tentang alam semesta karena memang tidak ada bukti-bukti yang mengarah kepada Big Bang.

Kemampuan untuk mengamati adanya Big Bang patut kita rayakan, sebab ini artinya kita hidup di waktu yang spesial. Sebuah waktu dimana masih ada banyak hal yang bisa diamati. Sebuah waktu dimana alam masih belum bosan bercerita tentang asal-usulnya. Jadi marilah tetap menatap langit, mendengarkan cerita dari semesta sebelum ia terdiam dan membiarkan kita dalam ketidaktahuan.

 

Referensi

[1] Keller, Matthew. 2016. Big Bang Theory – Beyond The Big Bang Explosion (Space Documentary). https://www.youtube.com/watch?v=dBEQmAHMEmU (diakses 14 April 2018)
[2] Krauss, Lawrence M. 2012. A Universe From Nothing. New York: FREE PRESS
[3] CentenaryofCanberra. 2013. Brian Schmidt – The Accelerating Universe & The Hunt for Dark Energy. https://www.youtube.com/watch?v=dQf82LOOm-4 (diakses 14 April 2018)
[4] Richard Dawkins Foundation for Reason & Science. 2009. A Universe From Nothing by Lawrence Krauss , AAI 2009. https://www.youtube.com/watch?v=7ImvlS8PLIo (diakses 14 April 2018)

Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Wahyu Norrudin

Wahyu Norrudin

Mahasiswa fisika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

2 tanggapan untuk “Bukti-Bukti Terjadinya Big Bang Ini Tidak Akan Teramati di Masa Depan

  • Wayan Dadang
    23 April 2018 pada 22:16
    Permalink

    Nanya donk, mengenai Big Bang ini ya, bebebrapa waktu lalu saya sempat membaca usulan teori dimensi 5 yang ada pada black hole, pada paper mereka mengisyaratkan bahwa semakin besar massa black hole semakin kecil pula ukurannya, hal ini sesuai dengan teori singularitas dan medan kuantum dan juga dibahas sedikit teori string.
    Bagaimana tanggapan anda mengenai sangkut paut dengan teori Big Bang?

    Penilaian Komentar
    Balas
    • Wahyu Norrudin
      15 Mei 2018 pada 19:50
      Permalink

      Terimakasih atas pertanyaannya. Saya belum membaca paper yang dimaksud sehingga tidak bisa berkomentar banyak. Tampaknya usulan tersebut memang dapat menjadi pengembangan bagi teori big bang. Akan tetapi bagaimanapun juga, setiap teori harus mampu memberikan prediksi yang dapat diuji oleh eksperimen/observasi agar dapat diterima.

      Penilaian Komentar
      Balas

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar