Menalar Kejahatan Thanos-Infinity War Secara Ilmiah (Dikupas dari Ilmu Demografi dan Fisika)

Perhatian: Artikel ini mengandung spoiler (jalan cerita film) Infinity War.

Over populasi sudah menjadi isu sejak lama. Bumi, tempat manusia tinggal, memiliki sumber daya yang terbatas. Di sisi lain, jumlah manusia terus meningkat.  Ada ungkapan bahwa “pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur sedangkan pertumbuhan sumber daya alam mengikuti deret hitung”. Hal ini menimbulkan kekhawatiran pada satu titik tertentu bumi tidak mampu lagi menyuplai kebutuhan manusia dan makhluk hidup lainnya. Berbagai upaya untuk mengontrol tingkat pertumbuhan manusia pun dilakukan. Di Indonesia misalnya, ada program Keluarga Berencana.

Film terbaru Marvel Studios, The Avenger : Infinity War, mengangkat topik ini menjadi sebuah plot yang epic. Thanos, karakter antagonis yang menginginkan kedamaian dan keseimbangan alam semesta, mengumpulkan 6 buah infinity stone untuk satu tujuan besar : melenyapkan separuh penduduk alam semesta. Para pahlawan super bersatu untuk menggagalkan rencana Thanos namun gagal. Pemusnahan massal pun tak terelakkan.

Sebagai karakter antagonis di film tersebut, apa yang dilakukan Thanos adalah sebuah bentuk kejahatan, terlepas dari apapun motifnya. Namun apabila kita melihatnya dari sudut pandang lain, mungkinkah ada pembenaran atas perbuatannya?

BUKAN PERMASALAHAN BARU

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, over populasi bukan masalah baru. Sejak abad ke-18 masalah ini telah dibahas. Adalah Thomas Robert Malthus, orang yang menerbitkan jurnal berjudul “Essay on the Principle of Population” pada tahun 1798. Dalam jurnal tersebut Malthus mengkritisi peningkatan jumlah penduduk di Inggris dan kekhawatirannya tentang wabah dan kemiskinan sebagai konsekuensi logis dari over populasi.

Well, jika berbicara tentang kemampuan alam itu sendiri, maka Malthus bisa jadi benar. Akan tetapi satu hal luput dari pembahasan Malthus, yakni kemampuan manusia dalam beradaptasi. Sejak zaman batu, manusia telah berulang kali membuktikan bahwa mereka tidak sama dengan spesies lainnya. Kemampuan adaptasi yang luar biasa membuat manusia bertahan begitu lama dan pada akhirnya mendominasi bumi seperti saat ini. Tidak lama setelah jurnal Malthus terbit, revolusi industri di Inggris terjadi. Beberapa kekhawatiran yang disebut oleh Malthus dalam jurnalnya terselesaikan dengan sendirinya. Kembali, manusia menemukan jalannya untuk bertahan hidup dan setelah itu teori Malthus dianggap tak lagi relevan.

Fig. 1 Jurnal Thomas Malthus

Meski begitu toh kependudukan masih menjadi masalah hingga sekarang. Kontrol kependudukan tetap menjadi agenda di tiap negara, termasuk Indonesia. Dalam jurnalnya saat itu, Malthus menawarkan dua cara dalam mengontrol populasi : Mempercepat kematian dan memperlambat kelahiran. Mempercepat kematian salah satunya melalui wabah, kelaparan, dan perang. Sedangkan memeperlambat kelahiran melalui aborsi dan penundaan pernikahan. Selain itu ia juga mengkritisi soal pemberian sumbangan kepada masyarakat miskin yang menurutnya hanya akan mendorong mereka untuk memiliki anak lebih banyak. Walaupun mendapat pertentangan, pandangan Malthus tersebut pada akhirnya mempengaruhi kebijakan di Inggris dalam masalah sosial. Aturan dalam pemberian sumbangan diperketat, dan lebih mendorong masyarakat miskin untuk bekerja.

MASS EXTINCTION ADALAH CARA ALAM DALAM MENJAGA KESEIMBANGAN

Thanos jelas memiliki pandangan yang sama dengan Malthus, hanya saja dia menawarkan solusi yang jauh lebih sederhana melalui randomly chosen mass extinction. Akan tetapi sebelum menghakimi perbuatannya, ada satu hal yang harus dipahami, bahwa bumi telah mengalami puluhan kali mass extinction. Dari puluhan kejadian tersebut, ilmuwan mencatat ada 5 major event, yang berakibat punahnya lebih dari 70% spesies di bumi. Salah satu dari 5 major event tersebut adalah yang menyebabkan kepunahan dinosaurus.

Fig. 2 Grafik yang Menunjukkan Tanda-Tanda Terjadinya Mass Extinction di Masa Lalu

Oke bisa saja berkata bahwa semua itu adalah fenomena alam sehingga kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Akan tetapi sebagai orang beragama, kita tahu bahwa tidak ada sesuatu yang kebetulan di alam semesta ini. God did it. Lebih lanjut, kata saintis, saat ini kita sedang menuju major event ke-6 dengan manusia sebagai pelaku utamanya. Sebuah jurnal di sciencemag menyebutkan bahwa extinction rate hewan saat ini mencapai 1.000 kali lebih cepat dibanding extinction rate sebelum manusia ada. Faktor utama meningkatnya extinction rate tersebut adalah hilangnya habitat akibat aktifitas manusia. Hah! Now the blame is on us!

KARENA THANOS BUKAN TUHAN

Mengikuti hasil riset di atas, logika Thanos tentu sangat masuk akal. Cara terbaik untuk menyelamatkan alam semesta adalah dengan menghilangkan akar permasalahannya, yakni manusia dan penghuni planet-planet lain. Tuhan telah melakukan hal serupa berulang kali di masa lalu, jadi di mana masalahnya? Menjadi sebuah enigma, kan?

Sebagai protagonis, pahlawan super Marvel menganggap apa yang dilakukan Thanos sebagai tindak kejahatan. Begitu juga bagi para penonton, tindakannya tak lebih dari sebuah pembunuhan massal layaknya Holocaust. Thanos bukan Tuhan. Dia tidak punya hak untuk menjatuhkan palu penghakiman. Dia hanyalah salah satu dari sekian spesies di alam semesta yang kebetulan memiliki perangkat super yang memberinya kemampuan hampir setara Tuhan. “Hampir”, karena ada hal yang tidak bisa dilakukan Thanos bahkan dengan semua Infinity Stone di tangannya.

Beberapa orang mempertanyakan opsi yang dipilih Thanos. Kenapa harus mass extinction? Jika Infinity Gauntlet adalah perangkat maha kuasa, bukankah akan lebih baik jika Thanos menggunakannya untuk menambah jumlah sumber daya yang ada di alam semesta ini? Dengan begitu masalah akan teratasi tanpa harus melakukan pembunuhan massal. Well, seperti yang disebutkan tadi, bahkan dengan Inifity Gauntlet pun Thanos bukan Tuhan. Masih ada hal-hal tertentu yang tidak dapat dilakukannya. Dalam hal ini, batasan Thanos adalah Hukum Termodinamika.

HUKUM TERMODINAMIKA

Hukum pertama termodinamika membahas tentang konservasi energi, bahwa energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lain. Hukum kedua termodinamika membahas tentang entropi. Pada suatu sistem tertutup, entropi akan selalu meningkat sampai sistem tersebut mencapai titik kesetimbangan. Titik kesetimbangan di sini maksudnya adalah kondisi di mana energi di dalam sistem tersebut telah terdistribusi merata dan tidak lagi terjadi pergerakan atau perubahan energi. Pada titik ini, entropi bernilai maksimum.

Hukum termodinamika ini tidak hanya berlaku pada sistem berskala kecil, namun juga sistem skala besar, seperti alam semesta kita. Jika kita ibaratkan alam semesta ini sebagai sistem tertutup, kemudian kita aplikasikan Hukum termodinamika tadi, maka kita akan memperoleh dua kesimpulan penting :

  1. Total energi di dalam alam semesta adalah konstan
  2. Entropi di alam semesta akan selalu meningkat hingga titik kesetimbangan, yang berarti matinya alam semesta.

MENAMBAH SUMBER DAYA BUKANLAH SOLUSI

Sehebat apapun Thanos dengan Infinity Gauntlet, dia tidak bisa melanggar hukum termodinamika. Dia bisa menjungkir balikkan dimensi ruang dengan Space Stone atau memutar balik waktu dengan Time Stone, atau menciptakan ilusi dengan Reality Stone, dan segudang trik sulap lain yang melanggar hukum-hukum fisika. Namun Infinity Stone tetaplah benda yang menjadi bagian dari alam semesta ini. Energi yang terkandung di dalamnya adalah bagian dari total energi alam semesta kita. Semua trik sulap yang dilakukan dengan Infinity Gauntlet hanyalah aktifitas mengonversi satu energi ke bentuk energi lain dan Entropi pun tetap akan meningkat. Kematian alam semesta tak terelakkan sebenarnya.

Fig. 3 Infinity Stones

Thanos bisa saja memperbanyak sumber daya di alam semesta ini, namun dia tahu betul bahwa hal itu bukan solusi. Ada analogi seperti ini : Ketika seseorang mengalami obesitas, mana solusi yang benar, memperbesar ukuran baju dan celananya atau melakukan diet untuk mengurangi kadar lemak?

Tentu saja diet adalah solusi yang benar. Memperbesar ukuran pakaian justru akan membuatnya merasa nyaman dan kemungkinan menjadi lebih gemuk. Logis. Inilah yang dikatakan Malthus tiga abad silam bahwa sumbangan ke orang miskin hanya akan memotivasi mereka untuk memperbanyak jumlah orang miskin. Solusi untuk mengentaskan kemiskinan adalah menyuruh mereka untuk bekerja dan mengenyam pendidikan yang berkualitas.

Thanos pun berpikir demikian. Menambah sumber daya justru akan membuat jumlah penghuni alam semesta semakin banyak. Ini memang akan menyelesaikan masalah untuk sementara. Akan tetapi suatu saat masalah yang sama akan terulang kembali dan ketika hal itu terjadi, masalahnya menjadi jauh lebih besar dari sebelumnya. Terlebih lagi, Thanos tidak mampu menciptakan suplai sumber daya atau makanan tanpa batas dengan Infinity Stone karena dibatasi oleh Hukum Termodinamika. Menghilangkan separuh penduduk adalah opsi yang lebih baik (menurut Thanos) karena dengan ini alam semesta akan mampu mendukung kehidupan lebih lama.

MANUSIA ADALAH SALAH SATU BENTUK ENERGI

Tak bisa dipungkiri, Fisika Kuantum merupakan salah satu penemuan terhebat sepanjang sejarah manusia. Begitu berpengaruhnya sampai-sampai mengubah setiap aspek kehidupan manusia, termasuk agama. Ketika kita berbicara tentang fisika kuantum, artinya kita berbicara tentang sesuatu yang begitu kecil hingga level sub-atomic. Pada level ini, diketahui bahwa manusia sebenarnya tersusun dari paket-paket energi yang berinteraksi satu sama lain. Bahkan ada beberapa orang yang secara radikal berkata “There’s no such thing called matter. Only energy.” Kita sebenarnya tak lebih dari segumpal energi!

If quantum mechanics hasn’t profoundly shocked you, you haven’t understood it yet. Everything we call real is made of things that cannot be regarded as real. – Niels Bohr

Setelah pencarian panjang, Thanos akhirnya berhasil mendapatkan Infinity Stone terakhir yang telah lama ia cari dan menjadi kunci dari rencananya, yakni Soul Stone. Batu ini adalah batu terkuat di antara batu-batu lainnya karena membuat penggunanya mampu mengontrol hidup dan mati seseorang. Dengan didapatkannya batu ini, Thanos berhasil mencapai tujuannya untuk melenyapkan separuh penghuni alam semesta. Sekali lagi, ini hanyalah trik sulap dan mereka tidak benar-benar lenyap. Mereka terkonversi menjadi bentuk energi lainnya, sesuai hukum Termodinamika pertama. Entah bagaimana Marvel Cinematic Universe akan menjelaskannya, tapi dalam Marvel Comic dijelaskan bahwa setiap jiwa yang diambil oleh Soul Stone akan terkumpul ke dalam Soul World yang berada di dalam Soul Stone itu sendiri.

Patut dinantikan kelanjutan dari film ini tahun depan.

Sumber:

[1] An Essay on The principle of Population (https://en.wikipedia.org/wiki/An_Essay_on_the_Principle_of_Population). Diakses pada 6 Mei 2018

[2] Industrial Revolution (https://en.wikipedia.org/wiki/Industrial_Revolution). Diakses pada 6 Mei 2018

[3] Extinction Event (https://en.wikipedia.org/wiki/Extinction_event#cite_note-Alroy2008-5). Diakses pada 6 Mei 2018

[4] Heat Death of The Universe (https://en.wikipedia.org/wiki/Heat_death_of_the_universe). Diakses pada 6 Mei 2018

[5] Gerardo Ceballos dkk. 2015. Accelerated modern human–induced species losses: Entering the sixth mass extinction.

[6] Extinction Rates Soar to 1,000 Times Normal (https://www.livescience.com/45964-extinction-rates-1000-times-normal.html). Diakses pada 6 Mei 2018

Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Hasbulah Zarkasy

Hasbulah Zarkasy

Just a mere homo sapiens who once fell in love with Science, especially Physics...It "WAS" a fun journey, until I stepped into an area that is full of philosophy mumbo jumbo.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar