Satu Hari Satu Apel : Mengurangi Resiko Kanker dengan Flavonoid dan Polifenol

Oleh: Adi Rahmatji

Siapa yang belum pernah memakan buah apel? Buah yang tumbuh subur di daerah dataran tinggi ini telah banyak dikonsumsi masyarakat secara luas diseluruh dunia karena manfaatnya bagi kesehatan tubuh. Apel (Malus sp., Rosaceae) memiliki kandungan “flavonoid” dalam jumlah yang besar [3]. Flavonoid merupakan senyawa alami yang memiliki potensi sebagai antioksidan [5].  Selain flavonoid, apel juga mengandung beberapa senyawa golongan polifenol dalam jumlah yang tinggi. Polifenol dalam apel dan ekstrak yang diperoleh dari jus apel memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Apa saja manfaat tersebut? Mari kita kupas satu persatu.

Jaganathan et al., melaporkan hasil penelitiannya bahwa mengkonsumsi setidaknya satu apel setiap hari dapat mengurangi resiko kanker kolorektal. Kanker kolorektal merupakan jenis kanker yang tumbuh pada usus besar (kolon) atau rektum. Kanker ini umumnya bermula dari polip yang tumbuh di sepanjang dinding permukaan dalam usus besar serta rektum [6]. Menambah jumlah apel yang dikonsumsi setiap harinya disinyalir dapat menurunkan resiko kanker kolorektal lebih dari 50%.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tu et al., senyawa flavonoid dalam apel mampu menghambat proliferasi sel kanker paru-paru. Senyawa lain yang terkandung dalam apel, yaitu phloretin dapat menghambat pertumbuhan kanker hati.  Perlu kita ketahui bahwa proliferasi sel berbeda dengan mitosis. Proliferasi adalah fase sel dimana sel mengalami pengulangan siklus tanpa hambatan [7]. Kemampuan proliferasi inilah yang menjadi salah satu “jurus maut” sehingga menyebabkan sel kanker tumbuh secara tidak terkendali.

Struktur kimia dari flavonoid dan senyawa golongan polifenol ditampilkan pada gambar 1 berikut.

Gambar 1. Struktur kimia flavonoid dan senyawa golongan polifenol [2]

Selain dimakan secara langsung, apel biasanya disajikan dalam bentuk jus. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Schiavano et al., jus apel pelingo memiliki kemampuan yang baik dalam menghambat proliferasi sel kanker payudara. Apel tidak hanya bermanfaat pada bagian dagingnya saja, namun kulit apel juga memiliki manfaat yang tak kalah menarik. Di dalam kulit apel terdapat senyawa asam organik dengan nama 3-beta-trans-cinnamoyloxy-2-alpha hydroxyl-urs-12-en-28-oic acid. Senyawa asam organik yang terkandung dalam kulit apel tersebut terbukti memiliki aktivitas melawan sel kanker payudara dan sel tumor pada kelenjar susu [3].

Bagaimana cara kerja senyawa flavonoid dan polifenol tersebut menghambat pertumbuhan sel kanker? Pertama, senyawa golongan polifenol dalam apel menghambat migrasi sel kanker dan mencegah sel kanker menginvasi sel normal. Sel kanker memiliki kemampuan untuk berkembang biak, dan menyebar ke seluruh tubuh. Penyebaran inilah yang disebut dengan metastasis. Senyawa golongan polifenol dalam apel berpotensi sebagai antimetastasis yang mencegah penyebaran sel kanker ke seluruh tubuh.

Kedua, senyawa golongan polifenol dalam apel mampu menginduksi sel kanker untuk melakukan apoptosis. Apoptosis adalah mekanisme kematian sel yang sudah terprogram dan sangat penting dalam proses biologis [8]. Apoptosis dapat dikatakan sebagai fenomena “bunuh diri” yang dilakukan sel dalam tubuh. Apoptosis digunakan untuk membuang sel yang sudah tidak diperlukan oleh tubuh. Peranan senyawa golongan polifenol adalah sebagai pemberi instruksi kepada sel kanker agar dia melakukan bunuh diri.

Cara kerja ketiga adalah senyawa golongan polifenol bertindak sebagai cell cycle arrest. Cell cycle arrest merupakan kemampuan senyawa polifenol untuk membentuk suatu barrier atau memblokade sel kanker agar tidak menyebar dan menyakiti sel normal. Secara umum, proses penghambatan sel kanker oleh senyawa golongan polifenol (phloretin) ditampilkan pada gambar 2 berikut.

Gambar 2. Polifenol phloretin apel dalam menghambat pertumbuhan sel kanker pada glucose transport tipe 2 [4]

Tidak hanya sebatas sebagai antikanker, senyawa flavonoid dan golongan polifenol pada apel memiliki manfaat sebagai antioksidan. Antioksidan sangat penting dalam menghambat proses oksidasi. Oksidasi merupakan reaksi kimia yang dapat menghasilkan radikal bebas sehingga akan memicu reaksi berantai yang dapat merusak sel. Kekurangan antioksidan dalam tubuh akan berakibat penuaan dini dan meningkatkan resiko terkena kanker.

Jadi, sahabat Warstek,  konsumsilah apel walau hanya satu biji setiap hari, karena yang lebih penting adalah istiqamah mengkonsumsinya. Sayangi kesehatan tubuh anda dan lindungi dari bahaya kanker yang mengintai.

Referensi

[1] Jaganathan, S.K., Vellayappan MV., Narasimhan G., Supriyanto E., Dewi DEO., Narayanan ALT. 2016. Chemopreventive effect of apple and berry fruits against colon cancer. World J Gastroenterol. 20(45):17029-36.

[2] Hyson DA. 2015. A comprehensive review of apples and apple components and their relationship to human health. Advanced Nutrition 2: 408-420.

[3] Qiao A, Wang Y, Xiang L, Wang C, He X. 2015. A novel triterpenoid isolated from apple functions as an anti-mammary tumor agent via a mitochondrial and caspase-independent apoptosis pathway. Journal of Agriculture Food Chem. 63:185-191

[4] Tu, S.H., Chen, L.C., Ho, Y.S. 2016. An apple a day to prevent cancer formation: Reducing cancer risk with flavonoids. Journal of Food and Drug Analysis. 12: 1-6

[5] http://pustakapanganku.blogspot.co.id/2011/05/flavonoid-polifenol.html (diakses pada 19/05/2018)

[6] https://www.alodokter.com/kanker-kolorektal (diakses pada 19/05/2018)

[7]http://www.nano.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1187593839 (diakses 19/05/2018)

[8]http://ccrc.farmasi.ugm.ac.id/wp-content/uploads/mekanisme-dan-regulasi apoptosis1.pdf (diakses pada 20/05/2018).

Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Warung Sains Teknologi

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri. Sampai saat ini, sains dan teknologi berkesan ekslusif yang hanya ada di laboratorium dan tidak mampu secara langsung berdampak kepada masyarakat. Akibatnya masyarakat, pemerintah dan industri tidak menjadikan sains sebagai sarana mengatasi permasalahan atau membuat kebijakan. Untuk itu, warstek hadir untuk menjawab tantangan tersebut.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar