“Tuhan Tidak Pernah Menciptakan Produk Gagal” : Deteksi Bakat dan Kecerdasan Dengan Sistem Teknologi Dermatoglyphics Multiple Intelegency (DMI)

Oleh: Assyuro Cahya Pertiwi Marsal

“Setiap pribadi normal memiliki kemampuan dan kecerdasan yang berbeda, jika kita menilai ikan dari caranya memanjat pohon maka seumur hidup ikan itu akan merasa dirinya bodoh” 

Sahabat warstek mungkin pernah mendengar kutipan diatas, ya tidak ada pribadi normal yang terlahir kedunia menyandang status bodoh, yang terjadi adalah minat dan bakat seseorang yang tidak ditumbuh kembangkan. Kata “bodoh” terlahir untuk menggantikan definisi orang yang belum menemukan suatu keilmuan tertentu baik dari dirinya sendiri maupun dari wawasan luar. Tuhan tidak pernah menciptakan satupun produk gagal. Bahkan hingga secara lahiriah pun tampak bahwa ciptaan-Nya itu tidak sempurna, akan tetapi pasti ada yang menjadi titik tolak dimana kita akan mengatakan bahwa itu sempurna. Sangat disayangkan ketika sebagian besar dari kita tidak mengetahui bakat, kekuatan serta passion yang kita miliki, yang merupakan kemampuan kita untuk membangun kehidupan yang baik dalam jangka waktu yang panjang. Bahkan tak jarang, dengan panduan dari orang tua, guru-guru, atasan ataupun dipengaruhi oleh media dan teman, kita menjadi bagian dari individu yang melatih kelemahan-kelemahan yang kita miliki dan menghabiskan waktu untuk menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja. Sementara itu, kekuatan atau kelebihan yang kita miliki cenderung diabaikan atau bahkan ditinggalkan. Dan hal-hal seperti ini terus berjalan dan dilakukan secara turun temurun sampai ke generasi berikutnya. Kesalahan utama yang sering terjadi pada sebagian besar pendidik adalah fokus penanganan yang lebih banyak diarahkan untuk memperbaiki kelemahan, bukan malah menyempurnakan kelebihan. Kelemahan dalam matematika seringkali dipaksakan untuk disempurnakan padahal dia punya kelebihan di bakat tertentu yang jika digali akan menghasilkan hasil yang luar biasa. [Assyuro Cahya Pertiwi Marsal, 2018]

Pada abad ke-19 telah dilakukan penelitian terhadap orang-orang yang mengalami luka pada otaknya. Hasil penelitian menunjukkan adanya dugaan bahwa “pusat bahasa” berada pada otak bagian kiri. hal ini diperkuat dengan pengamatan terhadap individu yang mengalami luka pada bagian-bagian tertentu diotak kiri akan mengalami gangguan pada kemampuan berbicaranya. Pembuktian terakhir untuk ini dilakukan oleh Roger W. Sperry dan kolegannya pada tahun 1960, beliau juga mengemukakan tentang Teori Kecerdasan Majemuk Dan Teori Otak Kanan-Kiri. Hasil penelitian ini menghantarkannya mendapatkan perhargaan Nobel dalam bidang Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1981. Dermatoglyphics telah diteliti selama bertahun-tahun dan memiliki data serta hasil penelitian selama 200 tahun. Salah satu penelitian awal dilakukan pada anak-anak yang mengalami Down Syndrome bahwasannya anak-anak tersebut mengalami kesukaran belajar dikarenakan memiliki bentuk atau pola sidik jari yang berbeda dengan anak-anak normal. [1]

Dermatoglyphics Multiple Intelligence (DMI) hadir sebagai ilmu/metoda yang berbasis teknologi canggih (statistika  & program komputer) guna membaca/mendeteksi peta potensi diri melalui sidik jari (fingerprints) sebagai bentuk rasa syukur & ikhtiar manusia atas karunia Tuhan. Deteksi bakat DMI ini bisa digunakan untuk anak usia 2 tahun sampai orang dewasa usia 90 tahun. Prosesnya melalui scan kesepuluh sidik jari tangan lebih kurang 10 menit saja dan tidak melalui tanya jawab serta tidak menjawab soal-soal tes. Tes Dermatoglyphichs Multiple Intelengece (DMI) adalah suatu system yang revolusioner yang membantu individu untuk mengidentifikasi bakat mereka, memahami kekuatan yang mereka miliki dan memenui kebutuhan pokok mereka untuk mengaktualisasikan diri, serta mampu mengidentifikasi potensi bawaan dengan teori genetika yang diturunkan. Berdasarkan penelitian selama beberapa dekade, ilmuwan telah menemukan bahwa sidik jari kita merupakan implikasi dari perkembangan antara sidik jari dengan otak manusia. [2]

Aplikasi penggunaan (fingerprints) DMI

Kedua belahan otak yang bekerja silang, dan pola sidik jari tangan kiri meninterpretasikan fungsi otak kanan serta pola sidik jari tangan kanan menginterpretasikan fungsi otak kiri. Sistem ini nantinya akan mengenalkan dan menghasilkan presentase potensi otak kanan dan kiri, delapan kecerdasan majemuk, kepekaan belajar, modalitas belajar, karakter komunikasi belajar dan gaya manajemen kerja. Dengan adanya kemungkinan akan ribuan kombinasi, tes DMI mampu menunjukkan bagaimana cara terbaik yang harus diberikan atau dilakukan untuk proses pendidikan, pengembangan diri dan karir yang sebaiknya digeluti untuk mencapai kesuksesan. Dalam pengembangan system ini, para ahli dermatoglyphics telah membuat profil-profil pola secara psikologis dan fisiologis pada lebih dari 500 ribu individu sejak tahun 1985 di Cina, Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong, Singapura, Malaysia yang menghasilkan database sebagai studi perbandingan yang mampu membantu individu untuk memahami potensi dirinya. [4]

Contoh hasil kecerdasan majemuk yang diperoleh dari tes DMI

Contoh Persentase Potensi Otak Kanan & Otak Kiri yang diperoleh dari Tes DMI

Passion yang kuat akan melahirkan karya yang kuat tanpa diminta atau dipaksa, begitulah kesimpulannya ketika kita telah dapat menemukan bakat dan kecerdasan yang kita miliki, akan menjadikan kita lebih muda dalam menentukan jalan hidup kedepan meraih cita-cita dan berkarir sesuai passion.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Diakses melalui http://nobelprize.org pada tanggal 21 Mei 2018

[2] 2017. Marsal, Assyuro Cahya Pertiwi. Assessment Report DMI. Yogyakarta

[3] Diakses melalui http://www.dmiprimagama.com pada tanggal 21 Mei 2018

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Warung Sains Teknologi

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri. Sampai saat ini, sains dan teknologi berkesan ekslusif yang hanya ada di laboratorium dan tidak mampu secara langsung berdampak kepada masyarakat. Akibatnya masyarakat, pemerintah dan industri tidak menjadikan sains sebagai sarana mengatasi permasalahan atau membuat kebijakan. Untuk itu, warstek hadir untuk menjawab tantangan tersebut.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar