Beruntungnya Miliki Pendeteksi Gunung Meletus Untuk Minimalisir Korban Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali

Oleh: Ni Luh Rismayanti

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang banyak memiliki gunung yang masih berstatus aktif yang bisa mengeluarkan isi perutnya kapan saja. Tidak ada manusia dengan pikiran biasa yang bisa mengetahui secara pasti kapan gunung akan meletus atau mengalami erupsi. Gunung-gunung di Indonesia yang masih tergolong aktif adalah Gunung Kaba, Gunung Rinjani, Gunung Agung yang terletak di Bali, Gunung Karangetam, Gunung Kerinci, Gunung Egon, Gunung Batur, dan masih banyak lagi gunung di Indonesa yang masih aktif[1].

Salah satu gunung di Indonesia yang baru-baru ini mengumbar isu akan meletus atau mengalami erupsi adalah Gunung Agung yang terletak di Kecamatan Rendang, kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Dimana gunung Agung dinformasikan akan meletus kisaran bulan Oktober sampai saat ini pun masih dinyatakan dalam kondisi erupsi. Akan tetapi erupsi Gunung Agung kali ini sangat berbeda jauh dengan tahun sebelumnya yaitu pada tahun 1963. Dimana saat itu banyak sekali korban yang berjatuhan akibat abu yang tebal dan letusan yang sangat berbahaya. Selain korban jiwa, juga banyak lahan warga yang rusak saat gunung agung meleus tahun 1963. Banyak masyarakat yang berada di daerah Karangasem mengalami kerugian, terutama daerah Rendang yang berada di pangkal Gunung Agung.

Berdasarkan data dari Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Bali, jumlah pengungsi Gunung Agung mencapai 43.358 jiwa yang tersebar di 229 titik pengungsian.[2] Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, meletusnya Gunung Agung yang diikuti peningkatan status Awas mengharuskan warga di 22 desa tersebut keluar dari radius berbahaya sejauh radius 8 hingga 10 kilometer dari kawah gunung[3]. Hal itu tentunya sangat berpengaruh kepada kehidupan sosial masyarakat. Seperti melonjaknya harga bahan-bahan pokok karena sebagian besar sawah petani rusak akibat hujang abu, khususnya di daerah Karangasem dan sekitarnya. Selain itu sekolah-sekolah yang terlintasi oleh zona merah atau KRB (Kondisi Rawan Bencana) ditutup untuk mengurangi resiko yang tidak kita inginkan. Padahal saat itu siswa sedang banyak yang melaksanakan ulangan tengah semester. Dimana mereka harus bersekolah di tempat mereka mengungsi.

Keadaan seperti ini tentunya sangat memprihatinkan, sehingga banyak juga masyarakat yang mendapatkan uluran tangan dari pihak pemerintah maupun warga yang berada di luar daerah Karangasem. Akan tetapi, tetap saja para pengungsi merasa was-was dengan kondisi rumah, lahan, dan hewan peliharaannya yang mereka tinggalkan di rumahnya. Banyak para pengungsi yang nekat pulang sebelum mendapatkan izin dari petugas keamanan, karena mereka tidak betah tinggal di tempat pengungsian dan khawatir dengan rumah dan benda-benda berharga yang mereka miliki. Banyak juga masyarakat yang menderita sakit, seperti sesak, batuk, panas, dan penyakit lainnya. Terlebih pada anak-anak dan bayi yang daya tahan tubuhnya masih sangat lemah dan tidak tahan dengan kondisi seperti itu.

Kondisi atau tragedi meletusnya Gunung Agung sekarang sangat berbeda dengan tahun 1963. Walaupun Gunung Agung yang sekarang hanya mengeluarkan isi perutnya sedikit demi sedikit dan sampai sekarang pun masih belum pasti apakah Gunung Agung sudah meletus atau masih proses. Hal ini sangat berbeda dengan tahun 1963. Dimana warga di sekitar lereng Gunung Agung tidak mengetahui akan terjadi letusan Gunung Agung yang begitu dasyat. Mereka masih tetap beraktivitas seperti mana biasanya. Sehingga hal itu yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa saat peristiwa tersebut.  Pada tahun 1963 juga belum ada alat pendeteksi Gunung Meletus seperti sekarang, sehingga tidak ada pemberitahuan kepada masyarakat sehingga tidak ada ancang-ancang untuk melakukan perlindungan atau mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Dengan perkembangan teknologi yang begitu canggih telah mampu menghadirkan alat pendeteksi Gunung meletus yang bisa memperkirakan kapan gunung itu akan meletus, sehingga masyarakat bisa mempersiapkan diri, seperti mengungsi ke tempat yang lebih aman dan mengamankan barang-barang mereka yang berharga. Sehingga kerugian dan korban jiwa bisa diminimalisir. Dengan adanya alat seperti ini masyarakat juga bisa mengetahui kondisi perkembangan gunung apakah sudah masuk level siaga atau awas.

Pada awalnya alat ini hanya bisa digunakan untuk menentukan dari mana arah gempa bumi terjadi. Akan tetapi dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, maka kemampuan alat ini bisa dikembangkan lagi, sehingga bisa merekam getaran dalam jangkauan frekuensi yang cukup lebar[4]. Alat seperti ini disebut Seismometer Broadband. Berhasilnya sistem pemantauan dan peringatan dini bencana sangat berkaitan dengan perkembangan teknologi. Dua perangkat yang digunakan pada alat ini adalah Seismometer dan Tiltmeter.  Dimana Seismometer adalah alat untuk mengukur gerakan tanah, termasuk gelombang seismik yang dihasilkan oleh gempa bumi, letusan gunung berapi, dan sumber gempa lainnya. Rekaman gelombang seismik memungkinkan seismolog untuk memetakan bagian dalam bumi, serta menemukan dan menentukan ukuran dari sumber gempa yang berbeda. Hasil rekaman dari alat ini disebut seismogram.

Alat yang kedua adalah Tiltmeter, dimana Tiltmeter ini merupakan alat pengukur deformasi gunung yang berfungsi untuk mendeteksi pengembungan atau pengempisan tubuh gunung. Perangkat Tiltmeter sendiri terdiri dari tiga komponen utama, yaitu Pelat Tiltmeter, Portable Tiltmeter, dan Readout Unit. Struktur yang dipandang perlu untuk dilakukan pengukuran dengan metode Tiltmeter adalah struktur yang secara visual telah menunjukkan adanya perubahan posisi secara horizontal atau vertikal agar dapat diketahui intensitas gerakannya.

Dengan adanya perkembangan teknologi seperti ini sangat membantu masyarakat. Alat ini juga bisa menjadi panduan untuk masyarakat dan pemerintah agar selalu waspada dengan setiap bencana yang ada. Tanpa perkembangan teknologi yang begitu tidak akan mungkin bisa menghasilkan alat secanggih ini yang keberadaanya sangat diperlukan oleh masyarakat. Dengan adanya alat ini juga membuat korban jiwa dan kerugian akibat erupsi Gunung Agung bisa diminimalisir.

Daftar Pustaka

  1. https://regional.kompas.com/read/2017/11/21/17385261/gunung-agung-meletus-asap-dan-abu-membubung-setinggi-600-meter, Diakses pada17 Mei 2018
  2. https://nasional.kompas.com/read/2017/11/29/18373761/gunung-agung-meletus-pengungsi-mencapai-43358-jiwa, Diakses pada 17 Mei 2018
  3. https://www.liputan6.com/tekno/read/827259/mengenal-alat-pantau-gunung-berapi-seismometer-amp-tiltmeter, Diakses pada 18 Mei 2018
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Warung Sains Teknologi

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri. Sampai saat ini, sains dan teknologi berkesan ekslusif yang hanya ada di laboratorium dan tidak mampu secara langsung berdampak kepada masyarakat. Akibatnya masyarakat, pemerintah dan industri tidak menjadikan sains sebagai sarana mengatasi permasalahan atau membuat kebijakan. Untuk itu, warstek hadir untuk menjawab tantangan tersebut.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar