Teknologi : Internet Untuk Pengobatan Gangguan Jiwa

Oleh : Wawan Rismawan

Kerjasama interdisipliner sangat dibutuhkan pada jaman sekarang ini, seperti ahli teknologi dapat bekerjasama dengan ahli kesehatan, sehingga menghasilkan produk teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk kemajuan kemajuan bidang kesehatan, hal tersebut terbukti ada beberapa penelitian terkait kolaborasi dua keilmuan di bawah ini.

Kesehatan jiwa masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di dunia, termasuk di Indonesia. Menurut data WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia. Di Indonesia, dengan berbagai faktor biologis, psikologis dan sosial dengan keanekaragaman penduduk; maka jumlah kasus gangguan jiwa terus bertambah yang berdampak pada penambahan beban negara dan penurunan produktivitas manusia untuk jangka panjang. Data Riskesdas 2013 memunjukkan prevalensi ganggunan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk[1].

Hal terpenting pada kasus gangguan jiwa adalah dapat melakukan pencegahan dengan berbagai intervensi yang cocok pada masyarakat, yaitu salah satunya dengan sentuhan teknologi. Berdasarkan hasil survey Asosialsi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017[2] dapat dilihat pada gambar-gambar berikut:

Bagan 1. Pertumbuhan Pengguna Internet

Pada bagan 1. Di atas dapat terlihat pemanfaat teknologi khususnya perkembangan pengguna internet, hal tersebut menjadi peluang yang baik untuk dimanfaatkan sebagai alat intervensi untuk kesehatan, pencegahan ataupun pengobatan penyakit.

Bagan 2. Pengguna Internet berdasarkan Tingkat Usia di Indonesia

Pada Bagan 2. Di atas tampak usia 13-18 tahun merupakan pengguna internet terbanyak sedangkan usia lebih dari 54 tahun pengguna paling sedikit, hal tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan penyakit apa saja yang banyak terjadi pada kelompok usia 13-18 tahun sehingga intervensi berbasis teknologi apa juga yang tepat untuk intervensi pencegahan ataupun pengobatan penyakit tersebut.

Bagan 3. Kepemilikan Perangkat Berdasarkan Karakteristik Kota/Kabupaten

Pada Bagan tersebut di atas tampak bahwa perangkat yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia adalah jenis smartphone/ tablet yang banyak tersebar di Kota. Hal ini merupakan peluang bahwa intervensi kesehatan haruslah berbasis perangkat smartphone/tablet agar dapat lebih menjangkau lapisan masyarakat terbesar.

Bagan 4. Pemanfaatan Internet bidang Kesehatan

Pada Bagan 4 di atas terlihat bahwa pemanfaatn teknologi khususnya internet telah banyak dipakai untuk bidang kesehatan dimana 51,06% dipakai untuk mencari informasi kesehatan sedangkan 14,05% untuk konsultasi dengan ahli kesehatan.

Pada bagan-bagan tersebut di atas terlihat belum adanya intervensi kesehatan yang terlaporkan, hanya sebatas konsultasi, mungkinkan ada intervensi kesehatan berbasis teknologi khususnya internet dapat dikembangkan ?

Untuk menjawab hal tersebut di atas kita lihat beberapa hasil penelitian di dunia sebagai berikut :

DBT (Dialectical Behavior Therapy) SELF HELP merupakan aplikasi berbasis Android dan iOS dapat digunakan di berbagai media termasuk telephone seluler, tablet dan iPod yang bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan dalam pengobatan gangguan jiwa karena masalah pikiran, distress, gangguan emosional, gangguan makan, gangguan bipolar, menderai diri tanpa diagnisa suicide, penyalahgunaan zat dan hubungan yang efektif antar personal[3]. Namun aplikas ini tidak optimal digunakan oleh orang awam, tetap harus dilakukan oleh terapis yang pernah mengetahui dasar-dasar DBT, akan tetapi orang awam pun akan bisa jika telah mendapat penjelasan dan pembinaan terlebih dahulu. Aplikasi mencantumkan link yang dapat terhubung kepada terapis baik melalui website, email ataupun nomor telephone seluler. Aplikasi ini dapat kontraindikasi untuk individu yang terlibat pemakaian secara berlebihan karena dapat disalahgunakan sebagai pengganti interaksi tatap muka sehingga tidak terkontrolnya perkembangan kesehatan mental individu yang bersangkutan[3].

Penelitian RCTs (Randomized Controlled Trial) ini bertujuan untuk menilai efektivitas Internet Mobile Intervention (IMI) dalam menurunkan mayor depression disorder (MDD) pada pasien dengan nyeri punggung kronik. Prinsip yang dipakai dalam IMI adalah Cognitif Behavior Terapy (CBT) dilakukan selama 6 minggu ditambah 3 kali optional dan 2 kali penguat setelah intervensi. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak  406 orang. Penelitian ini ingin membuktikan IMI untuk pencegahan depresi pada sampel pasien sakit kronis. Jika terbukti berhasil efektif, intervensi dapat diintegrasikan ke dalam perawatan rutin dengan biaya minimal dan diperluas dengan penyakit kronis lainnya. Hasil akan memiliki implikasi bagi para peneliti, penyedia layanan kesehatan dan pembuat kebijakan kesehatan masyarakat. Responden yang terus mengikuti semua sesi IMI sebanyak 78,3% dan 82,2% ada perubahan skala depresi[4].

Penelitian berikutnya merupakan hasil dari systematic review dan Metanalisis terhadap artikel-artikel terpublikasi dari tahun 2000-2016 yang bertujuan ingin mengetahui efek dari intervensi elektronik kesehatan (e-Health) dalam mencegah depresi dan kecemasan. Hasilnya  terdapat perbedaan mean keseluruhan antara intervensi dan kelompok kontrol yaitu 0,25 (95% confidence internal ; 0,09, 0,41; p = 0,003) untuk studi hasil depresi dan 0,31 (95% CI: 0,10, 0,52; p = 0,004) untuk hasil studi kecemasan. Efeknya kecil tapi positif dimana mean masing-masing 0,29 dan 0,25. Namun, ada bukti yang tidak memadai pada media untuk efek jangka panjang dari intervensi tersebut, sehingga perlu adanya penelitian lain tentang eksplorasi dampak dari intervensi psikologis eHealth pada tingkat insiden jangka panjang[5].

Review literatur yang dilakukan oleh Naslund dkk terhadap artikel terpublikasi di Medline, PsychINFO, CINAHL, Scopus, Cochrane Central dan Web of Science sampai dengan Juli 2014 khususnya tentang topik intervensi kesehatan jiwa berbasis e-Health dan m-Health menggunakan ponsel, online, atau perangkat lain. Responden dari penelitian adalah orang-orang dengan skizofrenia, gangguan schizoafektif, atau gangguan bipolar. Empat puluh enam studi yang mencakup 12 negara dilibatkan. Intervensi dikelompokkan menjadi empat kategori: (1) manajemen diri dan pencegahan kambuh; (2) mempromosikan kepatuhan terhadap obat-obatan dan / atau perawatan; (3) psikoedukasi, mendukung pemulihan, dan mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan; dan (4) pemantauan gejala yang muncul. Kesimpulannya bahwa intervensi mHealth dan eHealth untuk mengatasi SMI (Serious Mental Illness) memiliki kelayakan dan akseptabilitas yang baik, namun belum bisa mengubungkan tentang efektifitasnya. Penelitian berikutnya diperlukan untuk mengetahui efektivitas dan manfaat biaya pada populasi[6].

Hasil scoping review dari 105 artikel jurnal terpublikasi dengan topik tentang penggunaan perangkat smart (smartphone) dan aplikasi mobile (obile aplication) yang merupakan bagian integral dari semua aspek kehidupan sehari-hari dipakai untuk eHealth. Tujuannya adalah untuk memberikan analisis eksplorasi penggunaan, khasiat dan kontribusi untuk strategi pencegahan konvensional. Hasilnya yaitu tiga dimensi penggunaan perangkat pintar (smarthphone, dll) di bidang kesehatan telah diidentifikasi : 1. Adanya alat kuantifikasi memungkinkan pengguna untuk mengukur kegiatan mereka; 2. Alat self-positioning di masyarakat; 3. Antara dunia medis dan masyarakat perlu adanya modifikasi agar sesuai dengan tingkat pengetahuan responden. Berdasarkan hipotesis bahwa integrasi e-health dalam kebijakan pencegahan sangat menarik namun diperlukan dua isu penelitian: bagaimana dan dalam kondisi apa psiko-sosio-lingkungan yang dapat diberikan intervensi perangkat cerdas (smartphone, ipad, tsb, gaget lainnya) dan bagaimana hubungan / perilaku terhadap perawatan / hubungan profesional pasien dengan perawat[7].

Penelitian ini melaporkan hasil dari uji coba terkontrol secara acak CONSORT-compliant (RCT) untuk mengevaluasi efektivitas myCompass, pengobatan psikologis dipandu diri yang disampaikan melalui ponsel dan komputer, yang dirancang untuk mengurangi depresi ringan sampai sedang, kecemasan dan stres, dan meningkatkan kerja dan fungsi sosial. Ponsel sebagai media intervensi psikologis berbasis telepon memungkinkan secara real time dapat dijangkau secara luas untuk pemantauan diri dan manajemen diri dalam mengatasi masalahnya. Namun, beberapa studi telah difokuskan pada gejala ringan dan sedang. Responden yang mengalami depresi ringan sampai sedang, kecemasan dan / atau stres (N = 720) dibagi dua menjadi kelompok intervensi dan kontrol, intervensi yang dipakai dinamai “program myCompass” dilakukan selama tujuh minggu, sepenuhnya otomatis, tanpa adanya masukan atau bimbingan dari orang lain. Penilaian dilakukan pasca-intervensi dan 3 bulan follow-up. Hasilnya tingkat retensi di pos-intervensi dan tindak lanjut untuk sampel penelitian adalah 72,1% (n = 449) dan 48,6% (n = 350) masing-masing. Kelompok myCompass menunjukkan perbaikan signifikan lebih besar pada gejala depresi, kecemasan dan stres dan dalam pekerjaan dan fungsi sosial relatif baik kondisi kontrol pada akhir fase intervensi 7 minggu (antara kelompok efek ukuran berkisar dari d = 0,22 untuk d = 0,55 berdasarkan cara diamati). Skor gejala tetap pada tingkat normal didekat pada 3 bulan follow-up. Peserta dalam kondisi kontrol perhatiannya (tingkat konsentrasi) menunjukkan perbaikan gejala bertahap selama fase intervensi pasca dan skor mereka tidak berbeda dari kelompok myCompass pada 3 bulan follow-up. Program myCompass adalah program kesehatan masyarakat yang efektif, memfasilitasi perbaikan cepat dalam gejala dan dalam pekerjaan dan fungsi sosial untuk individu dengan masalah kesehatan mental ringan-sedang [8].

Peluang dan tantangan juga hasil study di atas perlu mendapat perhatian, terutama kita sebagai generasi muda agar menjadi generasi penerus pembangunan bangsa Indonesia yang sangat kita cintai ini, tentunya dengan karya-karya science dan teknologi.

REFERENSI

[1]        Kemenkes, “PERAN KELUARGA DUKUNG KESEHATAN JIWA MASYARAKAT,” Biro Komunikasi dan Informasi Masyarakat, 2016.

[2]        I. Jamalul, “Survey Penetrasi dan Pengguna Internet di Indonesia,” 2017.

[3]        M. Washburn and D. E. Parrish, “DBT Self-Help Application for Mobile Devices,” J. Technol. Hum. Serv., vol. 31, no. 2, pp. 175–183, 2013.

[4]        L. Sander et al., “Effectiveness and cost-effectiveness of a guided Internet- and mobile-based intervention for the indicated prevention of major depression in patients with chronic back pain—study protocol of the PROD-BP multicenter pragmatic RCT,” BMC Psychiatry, vol. 17, no. 1, p. 36, 2017.

[5]        M. Deady, I. Choi, R. A. Calvo, N. Glozier, H. Christensen, and S. B. Harvey, “eHealth interventions for the prevention of depression and anxiety in the general population: a systematic review and meta-analysis,” BMC Psychiatry, vol. 17, no. 1, p. 310, 2017.

[6]        J. A. Naslund, L. A. Marsch, G. J. McHugo, and S. J. Bartels, “Emerging mHealth and eHealth interventions for serious mental illness: a review of the literature,” J. Ment. Heal., vol. 24, no. 5, pp. 321–332, 2015.

[7]        A. Petit and L. Cambon, “Exploratory study of the implications of research on the use of smart connected devices for prevention: a scoping review,” BMC Public Health, vol. 16, no. 1, p. 552, 2016.

[8]        J. Proudfoot et al., “Impact of a mobile phone and web program on symptom and functional outcomes for people with mild-to-moderate depression, anxiety and stress: a randomised controlled trial,” BMC Psychiatry, vol. 13, no. 1, p. 312, 2013.

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Warung Sains Teknologi

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri. Sampai saat ini, sains dan teknologi berkesan ekslusif yang hanya ada di laboratorium dan tidak mampu secara langsung berdampak kepada masyarakat. Akibatnya masyarakat, pemerintah dan industri tidak menjadikan sains sebagai sarana mengatasi permasalahan atau membuat kebijakan. Untuk itu, warstek hadir untuk menjawab tantangan tersebut.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar