Kebo Budi Pakai SSBDS (Kenali Bom Bunuh Diri Pakai Standoff Suicide Bomber Detection System)

Bagikan Artikel ini di:

Oleh: Gita Widya Wijayanti

PENDETEKSIAN BOM BUNUH DIRI MENGGUNAKAN TEKNOLOGI SENSOR MODEL PLAZA DAN MODELGRID

Baru-baru ini bom diduga aksi bunuh diri meledak di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu pagi, 13 Mei 2018. Menewaskan  sepuluh orang dan 41 orang mengalami luka-luka, dua di antaranya anggota Kepolisian RI. Serangan bom pertama terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya, Kecamatan Gubeng. Disusul serangan bom kedua di Gereja Kristen Indonesia Jalan Raya Diponegoro.  Setelah ledakan, tim Gegana melakukan penyisiran di tiga gereja tersebut. Hasilnya, satu bom masih aktif ditemukan dan didisposal di GKI Jalan Diponegoro dan dua bom aktif berhasil didisposal di Gereja Pantekosta Jalan Raya Arjuno [2]. Tidak hanya peledakan bom di tiga gereja, bom juga meledak di depan pintu masuk Mapolrestabes Surabaya keesokan harinya Senin,14 Mei 2018 dan  dipastikan bom bunuh diri.[3]

Berikut kronologinya :

  1. Dua sepeda motor yang dikendarai lima orang (satu masih anak-anak) menuju tempat pemeriksaan pintu masuk Mapolrestabes Surabaya sekitar pukul 08.50 WIB.
  2. Motor yang dikendarai oleh empat tersangka itu adalah motor bebek berpelat nomor L 5539 G dan motor skutik L 6629 MF.
  3. Saat petugas menghentikan mereka, bom meledak. Lima orang teroris yang termasuk satu keluarga itu terlempar bersama beberapa petugas pos jaga.
  4. Bom meledak dua kali dalam tempo yang hampir bersamaan. Kemungkinan besar, masing-masing motor membawa bom. Saksi mata mengatakan, suara bom keras hingga menarik perhatian orang untuk mendekat.
  5. Empat orang pelaku dinyatakan tewas dalam insiden itu. Sementara anak kecil sempat diselamatkan oleh anggota polisi lain.
  6. Polisi yang terluka adalah Bripda M Maufan, Bripka Rendra, Aipda Umar dan Briptu Dimas Indra.
  7. Bom juga melukai warga sekitar, yakni Atik Budi Setia Rahayu, Raden Aidi Ramadhan, Ari Hartono, Ainur Rofiq, Ratih Atri Rahma dan Eli Hamidah.
  8. Ledakan bom juga merusak mobil hitam Toyota bernopol W 1886 AZ. Kaca bagian samping mobil pecah. Sementara badan mobil rusak akibat serpihan bom. [3]

Setelah aksi teror bom bunuh diri di tiga gereja dan jalan menuju Mapolrestabes Surabaya, penjagaan ketat militer di daerah lain semakin diperketat. Mulai dari pemeriksaan tubuh dengan melepas Jaket yang terjadi daerah Pos Militer TNI AU Abdulrachman Saleh-Malang. Hal itu disinyalir untuk menghindarkan dari aksi teror bom bunuh diri.

Namun, dalam praktik pemeriksaan oleh petugas yang  berinteraksi dengan seseorang yang diperiksa menimbulkan kekhawatiran yang tinggi. Bagaimana tidak, petugas pemeriksa akan terkena ledakan bom bila seseorang yang diperiksa benar adanya membawa bom dan meledakkan diri. Dalam ledakannya akan menyeret petugas yang memeriksa. Hal ini dikarenakan radius ledakan dan jarak antara pemeriksa sangatlah dekat. Walaupun petugas pemeriksaan merelakan diri untuk memeriksa terduga pembawa bom, kita juga harus melindungi keselamatan petugas yang melindungi keselamatan banyak orang.

Melihat banyaknya korban jiwa yang ditimbulkan dalam peledakan bom bunuh diri dan kronologi peledakan di jalur masuk pemeriksaan  Mapolrestabes Surabaya mengingatkan penulis pada penggunaan Standoff Suicide Bomber Detection System (SSBDS) yang dapat mengukur bom radiasi midwave dan gelombang panjang, serta terahertz wavelength, melalui beberapa sensor pada jarak 100 meter dari peletakan sensor. [4]

Gambar 1.1 Ilustrasi pelacakan bom oleh sensor SSBDS. Sumber: www.unian.info

Perangkat ini menunjukkan gambar dalam inframerah hitam dan putih, terahertz oranye terang, dan standar. Seperti bom tersembunyi di rompi bunuh diri, muncul di sensor sebagai bintik-bintik gelap dari ruang negatif, atau lubang di mana seharusnya ada oranye atau putih. SSBDS menggabungkan banyak sensor, yang mengukur gelombang menengah dan radiasi inframerah gelombang panjang, dan panjang gelombang terahertz. [4]

Terdapat dua model dalam pelacakan bom oleh sensor Standoff Suicide Bomber Detection System (SSBDS) yaitu Model  Plaza dan Model Grid. [6]

1. Model Plaza

Sebagai contoh, untuk memastikan bahwa 80% dari bom terdeteksi dengan setidaknya 10 detik tersisa sampai ledakan, ketika waktu bom rata-rata 60 detik antara kedatangan dan ledakan, membutuhkan penggelaran sensor di 79,7% dari persimpangan dalam model grid. Fraksi sensor-penyebaran yang diperlukan dalam model plaza untuk skenario yang sama adalah 92,6%, yang diterjemahkan ke kepadatan sensor fisik 6 × 10 -4 m 2 . Dalam 500 × 500-m plaza, ini akan sama dengan mengerahkan 150 sensor. [6]

 Gambar 1.2 SSBDS Model Plaza. Sumber : www.ncbi.nlm.nih.gov

2. Model Grid

Baca juga:

Model grid mengandaikan tata letak blok 200 m x 200 m yang dipisahkan oleh 10 m jalan dan 4 m lebar trotoar. Seorang pembawa bom tiba di salah satu persimpangan dan berjalan dengan kecepatan v di sepanjang blok yang berisi toko-toko k . Absen deteksi, pembawa bom menyerang toko pertama dinilai cukup menarik dengan memasuki dan melanjutkan ke pusatnya sebelum meledakkan. Probabilitas bahwa setiap toko dianggap cukup menarik sama dengan q . [6]

Gambar 1.3 Gambar Model grid

Sumber : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1177362/&prev=search

Para peneliti dari Badan Penentang-Ancaman Bersama, atau JIDA, pertama-tama mengembangkan sistem untuk melindungi pasukan di pangkalan operasi depan. Semakin banyak contoh serangan teroris di daerah sipil sekarang mengharuskan perangkat semacam ini di luar pengaturan militer. Alur pendeteksian oleh SSBDS :

Dilakukan di lingkungan — dari pemrosesan diskriminasi sinyal-sinyal sensor dan identifikasi suatu ancaman —  Langkah selanjutnya untuk melaporkan ancaman secara positif sebagai keputusan yang dipertimbangkan.

 

Gambar 1.4 Skema Alur Pendeteksian Sensor SSBDS. Sumber : www.ncbi.nlm.nih.gov

Tujuan deteksi adalah untuk mencari lingkungan, secara aktif atau pasif, dan mendeteksi sebanyak mungkin indikasi terjadinya ledakan. Dan pada titik tertentu, ketika indikasi terdeteksi, dapat disimpulkan dengan benar bahwa ada ledakan. Melalui penggunaan alat ini, akan banyak masyarakat yang terselamatkan. Setidaknya, dalam jarak 10 meter dari perangkat, sensor akan mengirimkan sinyal dan penerima sinyal dengan segera dapat menyelamatkan diri. Namun perangkat Standoff Suicide Bomber Detection System (SSBDS) dapat digunakan jika desain dan persyaratan operasional dari sistem memenuhi persyaratan, diantaranya [7] :

1. Identifikasi cepat.

Sistem deteksi harus dapat merespon dengan cepat dengan mendeteksi dan mengidentifikasi ancaman dengan pengiriman.

2. Isolabilitas tipe ancaman.

Isolability adalah kemampuan sistem untuk membedakan antara jenis ancaman yang berbeda.

3. Ketangkasan

Di hadapan kebisingan, ambang batas mungkin harus dipilih secara konservatif.Jadi, seperti yang disebutkan sebelumnya, kebutuhan ketahanan harus diseimbangkan dengan kinerja.

4. Identifikasi kebaruan

Salah satu persyaratan lain untuk sistem identifikasi adalah untuk dapat memutuskan, mengingat kondisi ancaman saat ini, apakah ancaman tersebut adalah tipe yang diketahui sebelumnya atau jenis baru yang tidak diketahui.

5. Adaptasi

Ancaman dan lingkungan ancaman dapat, secara umum, berubah dan berevolusi. Dengan demikian, sistem identifikasi harus dapat beradaptasi dengan perubahan tersebut. [7]

Penulis berharap, Indonesia mengembangkan dan mensosialisasikan penggunaan Standoff Suicide Bomber Detection System (SSBDS) secara luas dalam perlindungan pertama kasus ledakan bom bunuh diri. Dengan begitu, masyarakat non militer dapat merasa aman dari ancaman bom bunuh diri.

DAFTAR RUJUKAN

  1. https://almanhaj.or.id/1678-bom-syahid-atau-bom-bunuh-diri.html ( Diakses pada tanggal 19 Mei 2018 )
  2. http://www.tribunnews.com/nasional/2018/05/14/terungkap-pelaku-bom-bunuh-diri-3-gereja-di-surabaya-teman-dekat-pelaku-bom-di-rusun-wonocolo ( Diakses pada tanggal 19 Mei 2018 )
  3. http://www.tribunnews.com/regional/2018/05/14/beginilah-kronologi-serangan-bom-bunuh-diri-di-mapolrestabes-surabaya-4-pelakunya-tewas ( Diakses pada tanggal 19 Mei 2018 )
  4. https://www.lazone.id/article?id=43680 ( Diakses pada tanggal 20 Mei 2018 )
  5. http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-3327343/The-tool-sniff-suicide-bomber-100-metres-away-Multi-sensor-device-shows-abnormalities-holes-images.html&prev=search   ( Diakses pada tanggal 19 Mei 2018)                      
  6. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1177362/&prev=search ( Diakses pada tanggal 20 Mei 2018)
  7. https://www.nap.edu/read/10998/chapter/5&prev=search ( Diakses pada tanggal 19 Mei 2018 )

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Bagikan Artikel ini di:

Tinggalkan Balasan