Siringmakar 16: “Riset di Salah Satu Lembaga Riset Terbesar Jepang (NIMS)”

Pemateri : Asep Sugih Nugraha

Moderator : Sofiana Afifah Jamil

Pengantar

Ilmu material adalah ilmu yang terus berkembang dengan pesat. Setiap harinya ditemukan material jenis baru dengan sifat yang baru juga.

Apalagi dalam bidang energi (electrochemical), material memainkan peranan sentral dalam menentukan kualitas suatu perangkat penghasil dan penyimpan energi.

Jepang, sebagai negara maju, terus berpacu dalam mengembangkan material untuk aplikasi electrochemical. Salah satu lembaga riset terbesar di Jepang yang berkecimpung dalam hal ini adalah NIMS (National Institute of Material Science).

Bagaimana atmosfer riset di NIMS?. Bagaimana etos kerjanya?. Benarkah para peneliti Jepang meneliti sampai larut malam bahkan menginap demi terdepan di bidang riset?.

 

Diskusi

Selamat sore semuanya,

Gambar 1. Profil Pemateri [Asep Sugih Nugraha, 2018]

Semoga dalam keadaan sehat wal afiat, ya.

InsyaAllah disini saya akan sharing mengenai pengalaman saya melakukan riset selama dua tahun Study Master saya di salah satu lembaga nasional Jepang.

Jadi, arah sharing-nya cenderung ke pengalaman pribadi saya. Adapun yang ingin mengetahui lebih lanjut, mengenai riset yang saya lakukan dulu di NIMS, sangat diperbolehkan juga untuk bertanya nantinya disini.

Jadi, izinkan saya kembali mengulang perkenalan diri (jika sudah diperkenalkan sebelumnya), saya asli tasikmalaya, dan Alhamdulillah, mendapatkan rezeki berkesempatan untuk melanjutkan studi di negeri yang orang-orangnya kalo menyebut McD itu “Makudonarudo”. Alhamdulillah, studi saya di-support oleh LPDP.

Saya ingin bercerita sedikit mengenai pilihan negara tempat saya studi ini.

Sebetulnya, saya yakin bahwa kampus-kampus di Indonesia itu sangatlah keren-keren, ada ITB, UGM, UI, UB dll yang mampu mengakomodasi kita dan memberikan segala hal yang kita butuhkan untuk mendalami ilmu yang kita tekuni untuk studi master, namun tidak untuk bidang sains dan riset saya pikir, bukan karena para professor nya memiliki kredibilitas yang kurang  sehingga takut kita akan ketinggalan dalam hal kemjuan teknologi di dunia ini, melainkan karena fasilitas penunjang riset yang kurang memadai, berbeda dengan beberapa negara maju seperti US, Jepang, Korea dll yang memiliki fasilitas riset yang sangat “memanjakan” para peneliti, sehingga, saya memilih Jepang sebagai tempat tujuan studi, selain alasan kenangan masa kecil yang sangat kuat terbayang di otak saya. karakter-karakter seperti Tsubasa, Doraemon, Kamen Rider dll yang menjadi alasan emosional pemilihan ini, hehe.

Singkat cerita, saya menjadi mahasiswa di salah satu universitas swasta di Jepang, yaitu Waseda University dengan jurusan Nanoscience and Nanoengineering, nah dari situ lah kesempatan saya bermula, untuk melakukan riset penuh selama 2 (dua) tahun master saya di National Institute for Material Science.

Di Indonesia, praktiknya mungkin seperti seorang mahasiswa dari Universitas “anu” yang diminta oleh pembimbingnya melakukan riset di LIPI atau Batan atau lembaga riset nasional di Indonesia, kurang lebih seperti itu

Nah ini yang menarik, bahasa Jepang saya luntur, hilang sama sekali.

Nanti saya ceritakan lebih lanjut.

National Institute for Material Science (NIMS) atau dalam bahasa Jepang nya “Bushitsu-zairyo Kenyku Kinko” sendiri adalah salah satu lembaga riset terbesar yang ada di Jepang.

Awal didirikan pada tahun 1956, lembaga ini bernama National institute for Metals, khusus untuk pusat penelitian metal seperti magnetic material dll., lalu mengalami pengembangan hingga menjadi NIMS saat ini dengan 3 (tiga) sites yang berlokasi di daerah Tsukuba, Jepang.

Fasilitas penelitian di lembaga riset ini luar biasa banyak, bahkan  memiliki beamline station di Pusat Fasilitas SPring-8 Synchrtotron Jepang. Pengalaman luar biasa bagi peneliti yang meneliti hingga tingkat atomik, seperti structural biologist yang meneliti determinasi struktur protein dan interaksinya dengan obat.

NIMS juga terkenal sebagai salah satu lembagai top-rank tingkat dunia di bidang material science. Dengan jumlah sitasi sebanyak 130.794 sitasi, membuat NIMS menduduki peringkat ke-9 sebagai institusi riset dengan sitasi terbanyak di dunia. Berikut urutannya:

Gambar 2. Ranking Sitasi Universitas di Dunia [2018]

Impact factor dari jurnal-jurnal tempat publikasi paper-nya pun cukup tinggi dengan rata-rata 5, meski memang perlu dicatat bahwa Impact factor bukan parameter utama berkualitas atau tidaknya suatu penelitian.

Gambar 3. Hubungan Jumlah Publikasi dengan Impact Factor [ESI Database, Thomson Reuter, as per April 2016]

Dalam hal pembagian kategori riset, karena NIMS fokus dalam bidang material, maka kimia, fisika, serta material sains menjadi dasar utama kategori riset di NIMS.

Gambar 4. Rasio Penelitian Menurut Bidang Penelitian [www.nims.go.jp, 2015]

Tidak aneh jika raihan-raihan yang dimiliki lembaga riset ini seperti yang saya sampaikan diatas, karena memang ditopang olah banyak sekali Big Name Professor dengan H-index diatas 60 serta fasiiltas penunjang penelitian yang sangat lengkap, mampu memberikan iklim yang kondusif untuk melakukan penelitian disana.

Lalu, bagaimana jika memiliki ketertarikan untuk melakukan penelitian disana?

Ada beberapa skema yang saya ketahui, diantaranya adalah:

Pertama, NIMS memiliki Join Graduate Program bersama beberapa kampus Jepang seperti Kyushu University, Waseda University, Tokyo University, Hokkaido University, Tsukuba University, kita bisa mendaftar kesana. Mengenai hal ini, nanti saya coba ceritakan obrolan warung kopinya kami.

Atau bisa juga melalui kolaborasi riset antara Professor (supervisor) kita dengan Profesor di NIMS. Sebelumnya di grup saya juga ada yang seperti itu.

Ada professor dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menjalin kerjasama riset dengan NIMS, kebetulan NIMS sebelumnya telah memiliki MoU dengan ITB mengenai kerjasama riset ini, membuat mudah dalam prosesnya. Dan ada beberapa mahasiswa dari ITB yang melakukan riset selama periode waktu tertentu dan diberikan kebebasan untuk menggunakan segala macam fasilitas disana. Hasilnya luar biasa, beberapa paper telah terpublikasi dari hasil kerjasama tersebut. Mengindikasikan bahwa memang, orang Indonesia mah pintar-pintar, asal ada alat yang menunjang saja, khususnya di bidang yang saya pelajari.

NIMS itu ada dimana?

Ada di Tsukuba, satu kota kecil di Jepang yang di daulat menjadi Science City nya Jepang.

Gambar 5. Letak Prefektur Tsukuba, Tsukuba University [Google map, 2018]

Banyak sekali lembaga riset yang ada di kota ini, tercatat 30% institusi riset nasional yang di-support oleh pemerintah Jepang, terletak di Tsukuba, dan juga ada 3 (tiga) lembaga pendidikan juga yang terletak di Tsukuba, termasuk salah satunya adalah Tsukuba University.

Bagaimana perasaanya kerja disana?

Jika kawan-kawan semua memiliki passion di bidang penelitian, maka tempat yang saya informasikan disini sangatlah cocok, super cocok bahkan, apalagi sebagai mahasiswa yang sedang berikhtiar untuk mendapatkan gelar, maka tempat ini bisa menjadi tempat berkreasi untuk sebanyak-banyaknya mendapatkan prestasi. Dalam pandangan saya, kerja di lembaga ini sangat berbeda dengan ketika kerja di institusi pendidikan (Universitas), karena merupakan lembaga riset, orang-orang disini ya benar-benar bekerja untuk riset, sehingga mendorong potensi kita dalam hal riset, kedalam batas maksimal yang kita miliki. Mungkin bukan hal yang baru mengenai “Adagium”, dilarang pulang pulang sebelum sensei (sebutan guru atau professor pembmbing) pulang.

Bagi kawan-kawan semua, jika mendengar pengalaman dari seseorang yang melakukan riset di Jepang, di lembaga ini, kawan-kawan semua bisa mendapatkan hal yang lebih dari “Adagium” tersebut demi mendapatkan capaian riset yang membanggakan, seperti itu kesan saya setelah menjalani studi selama 2 tahun disana, meski capaiannya belum sampai sehebat itu, tapi Alhamdulilah pengalaman riset disana mampu memberikan pijakan bagi saya untuk bisa terus bertahan menyuka sains dan teknologi.

Itu saja, sebagai pembuka untuk ngobrol-ngobrol selanjutnya.

 

Sesi Tanya Jawab (QnA)

  1. Q. Felisia_ Kak mau tanya Jurusan kakak ‘kan beda sama S1nya dulu, sulitkah untuk beradaptasi beda jurusan?. Apakah mahasiswa dari sistem informasi, teknologi informasi bisa lanjut ke jurusan nano engineering ?. Topik apa yang sedang hangat diperbincangkan yang berhubungan dengan komputer dan nano science?. A. Kebetulan jurusan yang saya ambil ketika S1 dulu adalah Kimia, sehingga tidak sulit untuk beradaptasi karena jurusan yang saya ambil ketika S2 adalah pengembengan lebih lanjut dari berbagai disiplin ilmu, seperti kimia, fisika dll. Saya tidak begitu tahu apa saja yang Felisia pelajari ketika mengambil S1 jurusan teknologi informasi, sehingga saya tidak bisa menjawab akan mudah atau sulit jika hendak mengambil jurusan nano engineering. saya hanya bisa memberikan gambaran, jika hendak mengambil nano engineering, maka perlu memperhatikan bidang spesifiknya, apakah fabrikasi material (baik secara proses kimia atau secara proses fisika), material komputasi (memerlukan dasar  pengetahun mengenai material sains, kimia, fisika). Secara umum, jika Felisia atau kawan-kawan yang lain tertarik untuk melanjutkan studi, maka silahkan pilih bidang yang dasarnya pernah dipelajari oleh kawan-kawan, agar tidak terlalu terbebani untuk sama sekali belajar dari awal, khususnya di bidang fabrikasi material, pengembangan material katalis untuk fuel cell sangat gencar-gencarnya dilakukan penelitian.
  2. Q. Jumardin_ Salah satu fokus penelitian mas Asep adalah sensor yang berbasis elektrokimia, yang ingin saya tanyakan menurut mas Asep apakah sensor ini akan menggantikan sensor yang berbasis biomolekul (biosensor). Lalu, tolong saya dijelaskan sebenarnya dimana perbedaan spesifik antara sensor dan biosensor mengingat kalau saya baca-baca dalam biosensor itu masih ada penggunaan elektroda kerja yang biasanya kita temui dalam aplikasi elektrokimia. A. Pada suatu saat nanti, ini bisa menggantikan sensor yang mengandalkan enzyme sebagai komponen utama sensornya. Hanya saja, sekarang masih terkendala dalam hal selektifitas sensor tersebut. yang saya fahami, itu hanya masalah nomenklatur saja, alias penamaan. Jika sensor tersebut digunakan untuk mendeteksi biomolekul maka disebut Biosensor, jika digunakan untuk mendeteksi glukosa maka disebut Glucose sensor, jika digunakan untuk mendeteksi gas maka disebut Gas sensor.
  3. Q. Sholihin_ Bagaimana rasa nya sekolah swasta di luar negeri?. Apa bedanya sama sekolah negeri di luar negeri?. Akankah kematerialan di Indonesia akan maju, mengingat hanya sedikit kampus yg membuka teknik material?. Sama kampus yang ada teknik material nya d luar negeri…, yang S1, S2, ataupun S3. A. Tidak ada bedanya mas, karena kebetulan saya dibiayai oleh beasiswa, tapi jika membiayai sendiri maka akan sangat terasa bedanya. ditinjau dari SPP saja, biaya di swasta 2 (dua) kali lipat lebih mahal dibanding ketika kita sekolah di kampus negeri. namun sisanya, tak ada yang berbeda sama sekali. InsyaAllah maju, mas. Saya rekomendasikan Tohoku University jika mas tertarik mendalami material sains, khususnya di Jepang.

Penutup

Mohon maaf atas banyaknya kekurangan saya dalam memberikan informasi, semoga kita semua dimudahkan jalannya untuk menjadi sebaik-baik manusia, khususnya di bidang sains ini, karena insyaAllah Indonesia bisa menghadapi indonesia emas 2045 dengan jumlah angkatan produktif yang luar biasa banyak dengan penguasan sains dan teknologi yang kompetitif jika ada yang ingin berkorespondensi, silahkan jangan sungkan untuk menghubungi alamat email saya yang tertera diatas.

Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Nailul Izzah

Nailul Izzah

Pembelajar | Penikmat kopi | DIII Teknik Kimia Undip Alumni | Semarang | nailul.izzah91@gmail.com

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar