Gaungkan Riset Tanpa Terpeleset

Oleh: Ukasyah Nh

Komunikasi adalah unsur terpenting dari seluruh profesi yang ada saat ini, tidak melulu soal komunikasi politik oleh pejabat ketika menyampaikan program-programnya atau hanya dimilki seorang reporter ketika live di tempat kejadian perkara, lebih dari itu komunikasi memainkan peran vital dalam menjembatani proses yang telah dilakukan dengan dampak yang akan dihasilkan. Begitu juga bagi para saintis maupun ahli teknologi dalam mempublikasikan hasil riset yang dilakukannya.

Mari kita berkaca dari cerita dua penemu terkemuka dunia yaitu Gregor Mendel dan juga Alexander Fleming yang bisa memberikan bayangan akan pentingnya kemampuan komunikasi penemuan baru. Pada tahun 1866 Mendel memublikasikan papernya tentang peas yang sayangnya tidak ada yang sadar akan penemuannya yang membuka rahasia pewarisan genetic ini akibat kurangnya pemahaman Mendel akan jenis bentuk publikasi yang lain. Penemuannya pun ditemukan jauh setelah dia meninggal dan semenjak itu barulah dia diberi gelar sebagai Father of Genetics.[1]

Begitu juga dengan Penicilin, obat ajaib yang merupakan revolusi hebat pada tahun 1940-an yang faktanya ditemukan oleh Flemming pada tahun 1920-an. Mengapa ada jarak waktu tersebut? Setelah memublikasikan penemuannya dan mendapatkan respon yang kurang bersahabat, Flemming memutuskan untuk bekerja di labnya dibandingkan mengadakan tur promosi akan penemuan hebatnya. Sampai sedekade kemudian Ernst Chain menemukan pekerjaannya dan barulah penicillin dikenal banyak orang. Keterlambatan ini sangat disayangkan karena jutaan orang di perang dunia kedua meninggal akibat infeksi bakteri yang dapat diobati dengan penicillin. Harga mahal yang harus dibayar akibat komunikasi hasil riset yang kurang baik. [2].

Selain minimnya pengetahuan akan bentuk-bentuk promosi yang ada untuk mengomunikaskan hasil riset, kendala lain yang muncul adalah kurang efektifnya penyampaian dalam publikasi terutama pemilihan diksi sehingga menyulitkan masyarakat dalam memahami hasil riset. Sering kita jumpai dalam artikel-artikel maupun buku pelajaran sekolah ketika mendefinisikan suatu hal tentang sains menggunakan istilah-istilah yang hanya dimengerti oleh sesama saintis. Ada juga para penemu kecanggihan teknologi yang ketika menjelaskan cara kerja dari penemuannya memakai berbagai istilah yang baru pertama kali didengar tanpa pemaparan yang sederhana sebelumnya. Hal tersebut tentunya akan mengefek pada terplesetnya riset dari target utama yaitu publik umum akibat rendahnya antusias masyarakat.

Hal itulah yang dipahami betul oleh Richard Feynman seorang fisikawan pemenang nobel pada tahun 1965 sekaligus penyandang gelar The Great Explainer. Feynman memiliki teknik khusus yang bisa kita contoh terutama bagi para saintis yang ingin mengomunikasikan risetnya kepada masyarakat umum. Teknik tersebut ialah coba terjemahkan kata yang terdengar “pintar” menjadi bahasa sehari-hari kita pergunakan, atau coba jelaskan hasil riset kita tanpa menggunakan jargon saintifik dan lihat apakah penjelasan kita itu masih makes sense atau tidak. [3]

Dalam upaya menyederhanakan istilah-istilah saintifik tersebut, terdapat banyak cara lain yang bisa dilakukan. Diantaranya:

  1. Gunakan analogi dan ilustrasi

Analogi adalah senjata ampuh yang kerap dipakai oleh berbagai ilmuwan terkemuka dalam menyampaikan hasil risetnya. Analogi yang dipilih pun merupakan analogi yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari agar mudah masyarakat umum cerna. Setali tiga uang dengan analogi, ilustrasi sebisa mungkin digunakan dalam penyampaian materi yang memang membutuhkan gambaran fisis, ilustrasi yang sederhana dengan guratan hitam putih menjadi salah satu favorit dalam berbagai publikasi.

  1. Fokus pada tujuan utama

Fokus pada tujuan utama adalah cara yang dibutuhkan dalam menangani perbedaan gaya komunikasi dari berbagai kalangan. Bagi para saintis dan pelajar tentunya mengetahui latar belakang suatu infromasi merupakan hal yang peting, namun untuk kalangan umum dan pembesar yang memiliki keterbatasan waktu dan info pendukung tentunya poin utama mesti didahulukan[4].

  1. Menggunakan teknologi serta tren khusus masyarakat

Kemajuan teknologi di era sekarang memberikan ragam pilihan dalam menggunakan media-media pendukung seperti pemutaran video ataupun penyajian data yang unik. Hal tersebut bisa dipadukan dengan tren khusus di masyarakat seperti suara percakapan di gadget ataupun capture dari jalannya aplikasi khusus riset teknologi.

Contoh komunikasi riset yang baik dengan menggunakan bahasa yang down to earth muncul baru-baru ini dari bidang teknologi ketika Google memperkenalkan teknologi terbarunya bernama Google Duplex yang memungkinkan Google Assistant untuk menjalankan tugas-tugas spesifik seperti mengatur jadwal pangkas rambut atau pemesanan meja di restoran dengan percakapan natural seperti bercakap dengan orang sesungguhnya dengan nyaman tanpa mengalami pengalaman seperti berbicara dengan mesin. Hal ini dibuktikan dengan kemampuannya dalam menggunakan kalimat kompleks, interupsi, memakai kalimat yang sama dengan makna berbeda serta kemampuan mutakhir lainnya. [5].

Dalam publikasinya yang dimuat di situs resmi Google, teknologi baru ini dijelaskan dengan berbagai contoh lengkap dengan memanfaatkan fitur audio yang menjalankan ilustrasi yang diberikan, bukan hanya satu ilustrasi saja melainkan diterapkan di tiap kondisi yang dijadikan contoh.

Bagaimana teknologi itu bekerja juga dijelaskan dengan menggunakan diagram panah sederhana yang memudahkan masyarakat awam dalam menerka laju informasi yang diberikan Google Duplex. Jika kurang jelas akan tulisan di situsnya, Google pun telah mempresentasikannya dalam Google I/O 2018.

Perlu dijadikan catatan khusus di akhir bahwa menggaungkan riset dengan bahasa down to earth bukan hanya masalah pemilihan kata saja melainkan juga dari to the point-nya hal yang disampaikan dan komplitnya unsur pendukung lainnya seperti ilustrasi serta keruntutan gagasan.

Daftar pustaka:

[1]  (https://id.wikipedia.org/wiki/Alexander_Fleming), diakses 17 Mei 2018

     (https://id.wikipedia.org/wiki/Gregor_Mendel) , diakses 17 Mei 2018

[2] Randy Olsen (2009). Don’t be such a scientist. Washington: islandpress

[3]  Here’s Richard Feynman’s Simple Technique for Sorting Science From Pesudscience.  (https://www.sciencealert.com/here-s-richard-feynman-s-simple-technique-for-sorting-science-from-pseudoscience ), diakses 16 Mei 2018

[4]  9 tips for communicating science to people who are not scientist. (https://www.forbes.com/sites/marshallshepherd/2016/11/22/9-tips-for-communicating-science-to-people-who-are-not-scientists/#28cbe75466ae), diakses 17 Mei 2018

[5] Google duplex AI system for natural conversation. (https://ai.googleblog.com/2018/05/duplex-ai-system-for-natural-conversation.html_, diakses 16 Mei 2018

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Warung Sains Teknologi

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri. Sampai saat ini, sains dan teknologi berkesan ekslusif yang hanya ada di laboratorium dan tidak mampu secara langsung berdampak kepada masyarakat. Akibatnya masyarakat, pemerintah dan industri tidak menjadikan sains sebagai sarana mengatasi permasalahan atau membuat kebijakan. Untuk itu, warstek hadir untuk menjawab tantangan tersebut.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar