Pengembangan Bahasa dan Literasi di antara Anak-anak Penderita Autism Spectrum Disorder (ASD)

Oleh: Albertus Kelvin

Artikel ini membahas riset yang dilakukan oleh [1] pada topik autisme. Autisme merupakan gangguan dengan beberapa karakteristik utama seperti kurangnya interaksi sosial dan komunikasi. Salah satu tanda komunikasi yang kurang baik adalah penggunaan kata-kata yang terbatas. Berdasarkan statistik dari Center of Disease Control and Prevention, terdapat 1 dari 68 anak di Amerika Serikat yang menderita autism spectrum disorder (ASD) [2].

Fokus utama yang dibahas oleh [1] adalah pengembangan bahasa dan kemampuan literasi para penderita ASD. Fokus tersebut terbagi ke dalam beberapa bagian, seperti jenis-jenis bahasa dan kemampuan literasi yang dipengaruhi oleh ASD, kemampuan literasi awal, dan lingkungan literasi di rumah para penderita ASD.

PENGEMBANGAN BAHASA DI ANTARA PENDERITA ASD

Terdapat 3 kekurangan yang menjadi karakteristik pengembangan bahasa penderita ASD, yaitu keterlambatan kemampuan berbahasa di masa-masa awal [3], [4], [5], produksi bahasa yang tidak normal [6], [7], dan kesulitan untuk memahami maksud perkataan orang lain (pragmatik) [8] – [10]. Penderita ASD secara umum belum dapat berbahasa sampai usia sekitar 38 bulan, sedangkan anak-anak normal sudah dapat berbahasa pada usia sekitar 8-14 bulan [3]. Dalam kasus ini, berbahasa berarti mengeluarkan kata-kata pertama.

Pengembangan bahasa penderita ASD memiliki beberapa karakteristik tidak normal, seperti echolalia, penggunaan jargon yang berlebihan, dan intonasi yang bervariasi [6], [11]. Echolalia merupakan peniruan dan pengulangan omongan dari lawan bicara [7]. Echolalia dapat menjadi tanda kemajuan dalam proses pengembangan bahasa penderita ASD [7]. Karakteristik echolalia ini umumnya diterapkan penderita ASD dalam berkomunikasi. Komunikasi yang dilakukan yaitu dengan melakukan modifikasi terhadap kata-kata yang dikeluarkan lawan bicara.

Penggunaan jargon (istilah-istilah asing atau tidak normal) lebih sering dilakukan para penderita ASD dibanding mereka yang berkembang secara normal [6], [12]. Umumnya, jargon ini digunakan untuk mengekspresikan diri [6]. Namun demikian, penggunaannya yang berlebihan dapat menjadi pertanda adanya kesulitan dalam memproses informasi [6].

Variasi intonasi yang dimiliki penderita ASD menandakan bahwa mereka mengalami kesulitan dalam memproses hal-hal yang berkaitan dengan prosodi [8], [9]. Selain intonasi, penderita ASD umumnya memiliki paling sedikit 1 dari beberapa karakteristik seperti volume suara yang kurang, suara serak, penekanan kata-kata yang tidak akurat, hypernasality, dan kecepatan bicara yang khas [10].

KEMAMPUAN LITERASI AWAL

Literasi awal berkaitan dengan pemahaman dasar terhadap membaca, serta beberapa kemampuan seperti pengetahuan huruf, kesadaran fonologis, dan menulis. Kemampuan literasi awal penting bagi penderita ASD karena dapat menjadi tolak ukur kesuksesan dalam pengenalan kata-kata (word recognition), pembangunan kosakata (vocabulary acquisition), kelancaran membaca (reading fluency), dan pemahaman (comprehension) [13] – [15].

Kemampuan literasi awal dibagi ke dalam 2 kategori, yaitu kemampuan yang berhubungan dengan kode (code-related skills) dan pengetahuan yang berhubungan dengan makna (meaning-related knowledge) [15]. Beberapa contoh dari code-related skills adalah pengetahuan mengenai abjad, kesadaran fonologis, dan penulisan nama [15]. Sementara itu, beberapa contoh dari meaning-related knowledge adalah narasi lisan (oral narrative) dan kosakata reseptif (receptive vocabulary) [15].

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Westerveld et al., penderita ASD banyak mengalami kesulitan pada kategori meaning-related knowledge [15]. Penelitian tersebut dilakukan dengan membandingkan penderita ASD dengan mereka yang berkembang secara normal [15]. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang cukup signifikan untuk kategori code-related skills [15].

Beberapa penelitian terkait juga dilakukan untuk menemukan pada kategori manakah penderita ASD mengalami kesulitan. Penelitian oleh Lanter et al. menunjukkan bahwa penderita ASD mengalami kesulitan pada narasi oral dan penulisan [16]. Dynia et al. mendapat hasil bahwa kesulitan yang dialami penderita ASD berada pada kategori meaning-related knowledge, tepatnya pengetahuan konsep dan kosakata definisi (definitional vocabulary) [17]. Walaupun demikian, penelitian mereka juga mengindikasikan bahwa penderita ASD mengalami kesulitan pada kategori code-related skills, tepatnya kesadaran fonologis [17]. Berdasarkan beberapa penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesulitan literasi yang dialami penderita ASD didominasi oleh kurangnya kemampuan untuk menganalisis dan mendapatkan makna.

 LINGKUNGAN LITERASI RUMAH

Lingkungan literasi di rumah terdiri dari beberapa komponen, yaitu kesempatan untuk membaca secara individu maupun bersama orang tua, latihan literasi formal dan informal, sumber / bahan bacaan, latar belakang pendidikan orang tua, dan sikap terhadap pengembangan literasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap mereka dengan perkembangan normal, lingkungan literasi di rumah yang suportif sangat penting untuk mempercepat kemampuan bahasa dan literasi bagi mereka yang kesulitan [18] – [21].

Para penderita ASD sangat diuntungkan dengan lingkungan literasi rumah yang suportif. Alasan pertama adalah kemungkinan besar penderita ASD merasa lebih tertarik untuk terlibat dalam aktivitas literasi pada lingkungan yang nyaman dan familiar. Alasan kedua adalah lingkungan rumah dapat lebih mendukung penderita ASD yang memiliki kekurangan pada banyak aspek pengembangan bahasa dan literasi.

Salah satu penelitian yang bertujuan menguji pengaruh lingkungan literasi rumah terhadap pengembangan literasi penderita ASD dilakukan oleh Lanter et al. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa lingkungan literasi rumah berperan penting dalam memotivasi penderita ASD dalam melakukan latihan literasi [16]. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Dynia et al., dimana mereka mengatakan bahwa ketertarikan orang tua yang kuat dalam literasi yang digabungkan dengan kesempatan membaca (individu dan bersama) memiliki hubungan kuat dengan pengembangan pengetahuan abjad [17]. Sementara itu, Westerveld et al. menemukan adanya hubungan yang kuat antara frekuensi aktivitas membaca di rumah dengan narasi oral [15].

Berdasarkan beberapa penelitian tersebut, hasil yang diberikan sama-sama menyatakan bahwa lingkungan literasi rumah yang kuat sangat penting untuk membangun kemampuan literasi penderita ASD. Namun demikian, aktivitas literasi di rumah sangat banyak jenisnya. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang lebih rinci untuk menemukan hubungan antara berbagai aktivitas literasi di rumah dengan pengembangan kemampuan literasi selanjutnya.

KESIMPULAN

Penderita ASD memiliki beberapa karakteristik dalam hal bahasa dan komunikasi, seperti produksi bahasa dan pola interaksi yang tidak normal, serta kesulitan dalam membangun meaning-related knowledge. Pengembangan bahasa harus diimbangi dengan pengembangan literasi. Terdapat 2 area pengembangan literasi yang perlu mendapat perhatian mendalam, yaitu pengembangan literasi awal dan lingkungan literasi rumah.

Selain itu, ada 3 hal yang perlu dilakukan terkait pengembangan penelitian di bidang literasi. Pertama, perlu adanya identifikasi terhadap jenis ASD yang dialami penderita. Kedua, pengamatan terhadap hubungan antara variabel-variabel yang relevan mungkin berbeda jika dilakukan dengan sistem pengukuran berbeda. Ketiga, perlu adanya pertimbangan terhadap variasi budaya dan latar belakang bahasa dari objek penelitian. Hal ini diperlukan agar didapat pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana kemampuan literasi dibangun pada penderita ASD [22], [23].

REFERENSI 

[1] Chen Z, Kuo LJ (2017) Language and Literacy Development among Children with Autism Spectrum Disorder. J Child Dev Disord 3:3

[2] (2017) Centers of Disease Control and Prevention. Autism Spectrum Disorder (ASD)

[3] Howlin P (2003) Outcome in high-functioning adults with autism with and without early language delays Implications for the differentiation between autism and Asperger syndrome. J Autism Dev Disord 33: 3-13

[4] Weismer SE, Lord C, Esler A (2010) Early language patterns of toddlers on the autism spectrum compared to toddlers with developmental delay. J Autism Dev Disord 40: 1259-1273

[5] Hudry K, Leadbitter K, Temple K, Slonims V, McConachie H, et al. (2010) Preschoolers with autism show greater impairment in receptive compared with expressive language abilities Int J Lang Commun Disord 45: 681-690

[6] Eigsti IM, Bennetto L, Dadlani MB (2007) Beyond pragmatics: Morphosyntactic development in autism. J Autism Dev Disord 37:1007-1023

[7] Roberts JM. (2014) Echolalia and language development in children with ASD. Commun Autism 11:55-74

[8] McCann J, Peppé S, Gibbon FE, O’Hare A, Rutherford M (2007) Prosody and its relationship to language in school-aged children with high-functioning autism. International J Lang Commun Dis 42: 682-702

[9] Peppé S, McCann J, Gibbon F, O’Hare A, Rutherford M (2007) Receptive and expressive prosodic ability in children with high-functioning autism. J Speech Lang Hear Res 50: 1015-1028

[10] Shriberg LD, Paul R, McSweeny JL, Klin A, Cohen DJ, Volkmar FR (2001) Speech and prosody characteristics of adolescents and adults with high-functioning autism and Asperger syndrome. J Speech Lang Hear Res 44: 1097-1115

[11] Eigsti IM, de Marchena AB, Schuh JM, Kelley E (2011) Language acquisition in autism spectrum disorders: A developmental review. Res Autism Spec Dis 5: 681-691

[12] Lord C, Paul R (1997) Language and communication in autism. In: Cohen DJ, Volkmar FR (eds.) Handbook of Autism and Pervasive Development Disorders. New York: John Wiley

[13] Davidson MM, Weismer SE (2014) Characterization and prediction of early reading abilities in children on the autism spectrum. J Autism Dev Disord 44: 828-845

[14] Roberts J, Jurgens J, Burchinal M (2005) The role of home literacy practices in preschool children’s language and emergent literacy skills. J Speech Lang Hear Res: 345-359

[15] Westerveld MF, Paynter J, Trembath D, Webster AA, Hodge AM, et al. (2017) The emergent literacy skills of preschool children with ASD spectrum disorder. J Autism Dev Disord 47: 424-438

[16] Lanter E, Watson LR, Erickson KA, Freeman D (2012) Emergent literacy in children with ASD: An exploration of developmental and contextual dynamic processes. Lang Speech Hear Serv Sch 43: 308-324

[17] Dynia JM, Lawton K, Logan JA, Justice LM (2014) Comparing emergent-literacy skills and home-literacy environment of children with ASD and their peers. Topics Early Child Spec Educ 34:142-153

[18] Edwards PA (2007) Home literacy environments: What we know and what we need to know. In: Pressley M, Billman AK, Perry KH, Reffitt KE, Reynolds JM (eds.) Shaping Literacy Achievement: Research We Have, Research We Need. New York, NY: Guildford Press 2007: 42-67

[19] Tichnor-Wagner A, Garwood JD, Bratsch-Hines M, Vernon-Feagans L (2016) Home literacy environments and foundational literacy skills for struggling and non struggling readers in rural early elementary schools. Learn Disabil Res Pract 31: 6-21

[20] Hamilton LG, Hayiou-Thomas ME, Hulme C, Snowling MJ (2016). The home literacy environment as a predictor of the early literacy development of children at family-risk of dyslexia. Sci Stud Read 20: 401-419

[21] Sawyer BE, Justice LM, Guo Y, Logan JA, Petrill SA, et al. (2014) Relations among home literacy environment, child characteristics and print knowledge for preschool children with language impairment. J Res Read 37: 65-83

[22] Matson JL, Worley JA, Fodstad JC, Chung KM, Suh D, et al. (2011) A multinational study examining the cross cultural differences in reported symptoms of autism spectrum disorders: Israel, South Korea, the United Kingdom, and the United States of America. Res Autism Spectr Disord 5: 1598-1604

[23] Zachor D, Yang JW, Itzchak EB, Furniss F, Pegg E, et al. (2011) Cross-cultural  differences in comorbid symptoms of children with ASD spectrum disorders: An international examination between Israel, South Korea, the United Kingdom and the United States of America. Dev Neurorehabil 14: 215-220

Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Warung Sains Teknologi

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri. Sampai saat ini, sains dan teknologi berkesan ekslusif yang hanya ada di laboratorium dan tidak mampu secara langsung berdampak kepada masyarakat. Akibatnya masyarakat, pemerintah dan industri tidak menjadikan sains sebagai sarana mengatasi permasalahan atau membuat kebijakan. Untuk itu, warstek hadir untuk menjawab tantangan tersebut.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar