Literasi Keuangan dan Investasi Di Pasar Modal            

Penulis: Astrie Krisnawati

Berinvestasi di pasar modal merupakan hal yang masih asing bagi sebagian masyarakat di beberapa negara berkembang. Data Bank Dunia menunjukkan terjadinya perlambatan pada pertumbuhan investasi di negara-negara berkembang secara global. Pertumbuhan investasi mengalami penurunan yang signifikan dalam kurun waktu lima tahun. Pada tahun 2015 pertumbuhan investasi mengalami penurunan menjadi 3,4% dari rata-rata pertumbuhan sebesar 10% di tahun 2010, dan di tahun 2016 juga diperkirakan mengalami penurunan sebesar 0,5%. [1]

Namun fenomena yang berbeda justru terjadi di Indonesia. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia menunjukkan terjadinya peningkatan jumlah investor saham maupun reksa dana pada sektor pasar modal di Indonesia. Dalam kurun waktu tahun 2013 sampai dengan tahun 2016, jumlah investor saham meningkat cukup signifikan yaitu sebesar 59,1% dan jumlah investor reksa dana meningkat sebesar 2,1%. Hingga pada tahun 2016 investor saham mencapai jumlah 509.842 dan investor reksa dana berjumlah 566.234. Data tersebut menunjukkan bahwa produk pasar modal berupa instrumen investasi saham semakin diminati oleh masyarakat Indonesia. Hal ini tentu saja berkaitan pula dengan tingkat literasi keuangan di Indonesia. OJK menyatakan bahwa seseorang akan disebut memiliki tingkat literasi keuangan yang baik (well literate) jika telah menguasai pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga, produk, dan layanan jasa keuangan, serta keterampilan dalam memahami fitur, manfaat, risiko, hak dan kewajiban dari produk serta layanan jasa keuangan. [2]

Data yang dikeluarkan oleh OJK tersebut sejalan dengan hasil penelitian Sivaramakrishnan, Srivastava dan Rastogi (2016). Penelitian ini mengungkapkan bahwa faktor terpenting yang mempengaruhi keikutsertaan seseorang pada investasi di pasar modal (Stock Market Participation) adalah pengetahuan tentang produk keuangan. Pengetahuan akan produk keuangan ini direpresentasikan sebagai literasi keuangan (financial literacy). Literasi keuangan dalam hal ini kemudian dikategorikan menjadi dua, yaitu literasi keuangan obyektif dan literasi keuangan subyektif. Literasi keuangan obyektif yaitu pengetahuan aktual yang dimiliki oleh investor mengenai mekanisme kegiatan di pasar modal beserta seluruh instrumen investasi yang diperdagangkan, sedangkan literasi keuangan subyektif berkaitan dengan tingkat keyakinan investor terhadap pengetahuan investasi yang dimilikinya. Literasi keuangan subyektif seringkali dianggap sebagai penilaian literasi keuangan terhadap diri sendiri (self-assessed literacy), dalam hal ini literasi keuangan yang dimaksud berupa pengetahuan investasi. [3]

Istilah literasi keuangan juga sering digambarkan sebagai kombinasi dari kesadaran, pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku yang diperlukan untuk merumuskan keputusan keuangan yang baik yang pada akhirnya dapat mewujudkan kesejahteraan. Dengan penguasaan literasi keuangan yang baik, maka setiap orang dapat mengambil keputusan terbaik dalam hal keuangannya. Sebaliknya, kurangnya penguasaan literasi keuangan dapat membuat seseorang mengambil keputusan yang buruk dalam masalah keuangannya sehingga dapat berakibat buruk bukan hanya pada diri individu tersebut, namun juga pada masyarakat sekitarnya. [4]

Dalam konteks investasi, ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat literasi keuangan yang dimiliki oleh para investor. Hasil penelitian Kumar dan Kasilingam (2017) menunjukkan bahwa faktor demografi adalah salah satu faktor yang dominan mempengaruhi literasi keuangan investor. Dengan menggunakan perhitungan korelasi kanonis (canonical correlation), diperoleh enam variabel demografi – yaitu jenis kelamin, usia, agama, komunitas, jabatan saat ini di pekerjaan (current grade), dan pendapatan bulanan – yang memiliki pengaruh signifikan dan sebagai penentu utama (major determinant) bagi literasi keuangan investor dengan tingkat determinasi sebesar 36,8%. [5]

Selain faktor demografi, faktor pemahaman terhadap risiko juga merupakan bagian penting dari literasi keuangan yang dapat mempengaruhi keputusan investasi. Secara umum investasi didefinisikan sebagai kegiatan penanaman modal yang digunakan sebagai sumber pendanaan untuk menjalankan suatu bisnis dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dari bisnis tersebut. Sebagaimana halnya prinsip bisnis yang berorientasi pada keuntungan, maka setiap orang maupun organisasi yang melakukan investasi tentu juga mengharapkan keuntungan dari setiap nilai modal yang telah ditanamkannya. Namun tidak ada jaminan bahwa seluruh bisnis akan senantiasa menghasilkan keuntungan seperti yang diharapkan oleh para investor. Selalu ada risiko yang dihadapi oleh setiap bisnis. Dengan demikian, ada dua hal penting yang harus dipertimbangkan oleh investor sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada suatu bisnis, yaitu tingkat pengembalian (return) dan risiko (risk). Return yaitu tingkat pengembalian atau hasil yang diharapkan oleh investor akan diperolehnya setelah melakukan penanaman modal pada suatu bisnis. Return merupakan selisih dari nilai hasil yang diperolehnya dikurangi dengan nilai modal yang telah ditanamkannya. Jika selisihnya bernilai positif, berarti investor mengalami keuntungan. Namun jika selisihnya bernilai negatif, berarti dalam hal ini investor mengalami kerugian. Kerugian merupakan salah satu risiko dalam berinvestasi. Maka risiko (risk) dapat pula didefinisikan sebagai penyimpangan (deviasi) atau ketidaksesuaian antara hasil yang diharapkan dengan kenyataan hasil yang diterimanya.

Terdapat suatu prinsip mendasar yang berlaku umum dalam investasi, yaitu hasil pengembalian yang tinggi dapat diperoleh jika kita bersedia menanggung risiko yang tinggi pula. Prinsip ini seringkali disebut sebagai, “high risk, high return”. Agar dapat meminimalkan peluang terjadinya kerugian dan mengoptimalkan nilai keuntungan, maka setiap investor harus memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengantisipasi risk dan memperkirakan return dari investasi yang akan dilakukannya. Pengetahuan yang dibutuhkan dalam pengelolaan risk dan return ini membutuhkan pemahaman dan keahlian dalam hal pengelolaan keuangan yang merupakan bagian dari literasi keuangan. Penelitian yang dilakukan oleh Awais et al (2016) menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan yang tinggi dapat memberikan kemampuan pada investor untuk menganalisis informasi yang tersedia yang berkaitan dengan pilihan investasi yang dihadapinya. Dengan demikian, investor yang memiliki tingkat literasi keuangan yang tinggi akan lebih mampu memahami dan mengelola risiko secara efisien dari setiap pilihan investasi yang ada, sehingga ia akan lebih berani mengambil keputusan untuk berinvestasi pada instrumen yang memiliki risiko tinggi untuk mencapai hasil yang lebih tinggi pula. [6]

Referensi

[1] World Bank, “Global Growth Edges Up to 2.7 Percent Despite Weak Investment: Public Investment Can Bring Private Investment off the Sidelines,” http://www.worldbank.org/en/news/press-release/2017/01/10/, Washington DC, 2017.

[2] Otoritas Jasa Keuangan, “Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (Revisit 2017),” Otoritas Jasa Keuangan, Indonesia, 2017.

[3] S. Sivaramakrishnan, M. Srivastava and A. Rastogi, “Attitudinal Factors, Financial Literacy, and Stock Market Participation,” International Journal of Bank Marketing, vol. 35, no. 5, pp. 818-841, 2016.

[4] I. Hussain and S. Sajjad, “Significance of Financial Literacy and Its Implications: a Discussion,” Journal of Business Strategies, vol. 10, no. 2, pp. 141-154, 2016.

[5] V. R. Kumar and D. R. Kasilingam, “Does the Demographics and Selected Investor Profile Factors Influence Financial Literacy? – An Investor Perception Study,” SUMEDHA Journal of Management, vol. 6, no. 2, pp. 75-89, 2017.

[6] M. Awais, M. F. Laber, N. Rasheed and A. Khursheed, “Impact of Financial Literacy and Investment Experience on Risk Tolerance and Investment Decisions: Empirical Evidence from Pakistan,” International Journal of Economics and Financial Issues, vol. 6, no. 1, pp. 73-79, 2016.

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Warung Sains Teknologi

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri. Sampai saat ini, sains dan teknologi berkesan ekslusif yang hanya ada di laboratorium dan tidak mampu secara langsung berdampak kepada masyarakat. Akibatnya masyarakat, pemerintah dan industri tidak menjadikan sains sebagai sarana mengatasi permasalahan atau membuat kebijakan. Untuk itu, warstek hadir untuk menjawab tantangan tersebut.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar