Teknologi Nanomedicine dalam Pengobatan HIV/AIDS

Oleh: Theresia Ratna Prasetyaningtyas

Nanoteknologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari objek atau material yang berskala nano. Ukuran 1 nanometer setara dengan 1/1.000.000.000 meter (sepersemiliar meter). Nanoteknologi diaplikasikan pada benda-benda yang sudah ada untuk menjadikannya suatu terobosan baru yang bekerja lebih efektif dan efisien, salah satunya pada obat-obatan. Nanoteknologi memang belum dikenal secara luas di Indonesia, namun perkembangan ilmunya sudah mencakup banyak bidang keilmuan, salah satunya di bidang farmasi.

Gambar 1 : Perbandingan material dalam skala nano[1]

Nanomedicine atau obat-obatan yang menggunakan nanoteknologi telah menjadi terobosan yang digencarkan oleh para ahli farmasi di seluruh dunia. Penggunaan nanoteknologi pada bahan obat akan membuat sistem penghantaran obat jadi ke tubuh manusia lebih efektif dan efisien. Saat ini penggunaan nanomedicine mulai diterapkan pada pengobatan berbagai penyakit, salah satunya adalah AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) yang disebabkan oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus).

AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan infeksi virus HIV. Pasien dengan HIV akan kehilangan kekebalan tubuh sehingga mudah terserang berbagai infeksi yang dapat membahayakan nyawanya karena tubuh tidak bisa melawan infeksi tersebut. Penularan virus HIV melalui cairan tubuh terutama melalui darah, air susu, cairan sperma, dan cairan vagina. Pengobatan pasien HIV/AIDS umumnya menggunakan obat minum golongan antiretroviral (ARV). ARV antara lain Lamivudin, Zidovudin, Tenofovir, Efavirenz, Nevirapine, Ritonavir, Lopinavir, dan Saquinavir. Umumnya terapi lini pertama pasien dengan HIV terdiri dari kombinasi 3 obat dan bisa ditambah sesuai kondisi pasien atau dari keberhasilan terapi sebelumnya. Pasien dengan HIV dapat lebih cepat berkembang menjadi AIDS bila tanpa terapi ARV yang tepat[2].

Gambar 2 : Obat-Obatan ARV[3]

Obat-obatan konvensional untuk melawan HIV/AIDS masih memiliki keterbatasan dalam mengobati pasien. Pertama, ARV diminum dalam dosis tertentu yang bisa dikatakan perlu dosis cukup besar agar efektif menghambat perkembang-biakkan virus HIV di dalam tubuh. Perkembangan nanomedicine memungkinkan dosis ARV yang diperlukan menurun tanpa mengurangi keberhasilannya menghambat virus HIV. Hal ini dikarenakan zat aktif sudah diubah dalam skala nano sehingga akan mengurangi massa zat yang diperlukan. Penurunan dosis obat berimbas juga pada penurunan efek toksik obat dalam tubuh. Kedua, nanomedicine dipercaya dapat meningkatkan zat aktif obat untuk menyerang dalam sel-sel target virus secara tepat. Sel-sel target virus sangat kecil dan kompleks sehingga perlu material berskala nano untuk mencapainya. Hal ini akan meningkatkan peluang keberhasilan terapi pasien dengan HIV. Ketiga, pasien seringkali tidak teratur dalam minum obat sehingga kegagalan membasmi virus HIV sangat mungkin terjadi. Nanomedicine berpeluang besar untuk memodifikasi obat agar bekerja secara ‘lepas-lambat’ (sustained-release) dan beraksi panjang (long-acting) di dalam tubuh sehingga pasien tidak perlu setiap hari minum banyak obat untuk mencapai keberhasilan terapi[4].

Gagasan nanomedicine untuk terapi HIV tersebut diperkuat oleh penemuan dua profesor di Inggris. Profesor Andrew Owen dan Profesor Steve Rannard dari University of Liverpool membuktikan bahwa nanoteknologi memang bermanfaat besar dalam efektivitas terapi HIV/AIDS. Pasien yang terinfeksi HIV harus meminum ARV untuk menjaga kondisi tubuhnya agar tetap baik. Banyaknya obat yang harus diminum dalam jangka waktu yang lama pula seringkali membuat pasien tidak patuh dalam minum obat. Apabila terlupa minum obat dapat berakibat pada kegagalan terapi. Selain itu, pengobatan konvensional pada pasien anak yang menderita HIV/AIDS juga belum secara luas tersedia. Penelitian kedua profesor tersebut berfokus pada pengembangan salah satu ARV yaitu Lopinavir yang dimodifikasi dengan teknologi Solid Drug NanopARVicle (SDN). Modifikasi ini dapat meningkatkan penyerapan obat dalam tubuh, mengurangi dosis obat yang harus diminum pasien sehingga biaya obatnya juga menurun. Sayangnya, hasil penelitian ini masih belum bisa diterapkan pada anak-anak dengan HIV/AIDS karena masih digunakan takaran alkohol yang besar untuk proses reformulasi Lopinavir yang sangat sulit larut dalam air. Penelitian akan dikembangkan untuk membuat sediaan nanomedicine yang mudah larut dalam air sehingga aman bagi anak-anak dan pasien pada umumnya[5].

Nanoteknologi di bidang kefarmasian diyakini akan terus berkembang seiring dengan semakin kompleksnya kebutuhan pengobatan pada berbagai penyakit di dunia. Masih banyak PR untuk para ahli dalam mengembangkan nanomedicine di Indonesia sehingga nantinya akan menjadi terobosan baru di bidang medis tanah air. Anda tertarik untuk mengembangkannya?

Daftar Pustaka:

[1] British Society of Nanomedicine, 2018, What is Nanomedicine? diakses melalui http://www.britishsocietynanomedicine.org/what-is-nanomedicine/ pada 22 Mei 2018.

[2] Departemen Kesehatan RI, 2006, Pedoman Pelayanan Kefarmasian untuk Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

[3] Anonim, 2016, Pentingnya Terapi ARV bagi Kesehatan ODHA, diakses melalui https://www.odhaberhaksehat.org/2016/pentingnya-terapi-arv-bagi-kesehatan-odha/ pada 23 Mei 2018.

[4] Curley, P., Liptrott, N.J., & Owen, A., 2017, Advances in nanomedicine drug delivery applications for HIV therapy, Future Science OA, 10.4155/fsoa-2017-0069.

[5] University of Liverpool, 2016, New nanomedicine approach aims to improve HIV drug therapies, diakses melalui https://news.liverpool.ac.uk/2016/10/21/new-nanomedicine-approach-aims-to-improve-hiv-drug-therapies/ pada 22 Mei 2018.

Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Warung Sains Teknologi

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri. Sampai saat ini, sains dan teknologi berkesan ekslusif yang hanya ada di laboratorium dan tidak mampu secara langsung berdampak kepada masyarakat. Akibatnya masyarakat, pemerintah dan industri tidak menjadikan sains sebagai sarana mengatasi permasalahan atau membuat kebijakan. Untuk itu, warstek hadir untuk menjawab tantangan tersebut.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar