Bagaimana Menilai Performance Welder Lewat Welding Simulator?

Oleh: Nurul Laili Arifin

Kebutuhan akan tenaga kerja welder yang berkualifikasi belum banyak terpenuhi hingga saat ini dikarenakan untuk membentuk welding skill memerlukan biaya yang sangat tinggi. Tingginya biaya ini disebabkan oleh kebutuhan bahan habis pakai untuk proses latihan Oleh karena itu pembentukan welding skill dengan biaya yang relatif murah menjadi tantangan para pencetak tenaga kerja baik perguruan tinggi maupun lembaga-lembaga pelatihan. Untuk meminimalisir biaya dan penggunaan material yang banyak dalam pelatihan welding, maka pelatihan welding dapat dilakukan dengan menggunakan welding simulator  seperti yang tergambar pada Gambar.1 [1],[2],[3]

Gambar 1. Gambar Mesin Welding Simulator

  1.  Apakah welding Simulator itu?

Welding simulator atau yang sering dikenal dengan alat virtual welding, merupakan alat untuk melatih orang yang akan belajar bagaimana cara mengelas. Pada  welding simulator, sesorang dapat memilih  parameter-parameter pegelasan seperti posisi pengelasan yang akan digunakan,  bentuk sambungan las, besarnya sudut pengelasan yang diinginkan, dan lain-lain. Parameter-parameter yang disediakan mesin, dibuat sama dengan parameter lapangan seperti halnya ketika welder  akan mengelas benda. Sehingga kelebihan dari alat ini adalah pengguna dapat  meminimalisir biaya dan penggunaan material selama proses pelatihan welding. Tidak hanya itu, pengguna dapat meminimalkan limbah logam dan meminimalkan polusi udara yang ditimbulkan akibat proses pengelasan. Seperti alat kerja lainnya, welding simulator juga memiliki kelemahan, operator dituntut untuk fokus pada simulator.

Gambar 2. Variasi Poisisi Pada Mesin Simulator Welding

  1. Lalu, Apakah Performa welder itu ?

Performa welder merupakan  suatu penilaian untuk menentukan apakah welder mahir (terkualifikasi) ataukah masih amatir dalam melakukan proses pengelasan yang disesuaikan dengan kualifikasi yang ditentukan sebelumnya. Tidak semua orang dapat orang dapat memenuhi standar dalam kriteria welder. Hal ini dikarenakan variabel penilaiannya telah ditentukan oleh kode/standar, seperti AWS D1.1 atau  ASME XI (untuk standar Amerika).

Kalau kita mencoba membuka kode AWS D1.1. terdapat variabel penting (essential variabel ) untuk menentukan performa welder diantaranya proses pengelasan (SMAW,FCAW, GTAW,dll), posisi pengelasan (1G,2G,3G), jenis specimen yang akan dilas (plate atau pipe), F-numer (jenis elektroda yang dipakai), sudut yang digunakan, penggunaan backing, tipe sambungan (joint),dll [4].  Selain itu, orang yang menilai   harus memiliki sertifikat welding engineer ataupun welding inspector .

  1. Bagaimana Welding simulator dapat digunakan untuk mengetahui performa welder?

Welding simulator menyediakan menu untuk melihat dan menilai hasil las yang telah dilakukan oleh operator. Visual yang bekerja pada welding simulator  menyediakan informasi melalui tampilan warna yang diberikan, jika posisi tangan welder telah benar akan terlihat gambar titik berwarna hijau selama mengelas. Ini menandakan posisi tangannya dalam posisi yang baik, bila ada titik kuning maka dalam pengelasan sudah agak menjauhi dari area yang akan dilas dan warna merah berarti sangat jauh dari area pengelasan, seperti ilustrasi pada Gambar 3.

Gambar 3. Titik Fokus Pengelasan: (A) Posisi Pengelasan Menjauhi Area Dan (B) Posisi Pengelasan Yang Baik

Selain menyediakan terdapat beberapa variabel yag dapat digunakan user untuk berlatih, diantaranya bentuk lasan ( weld shape : butt atau grove), posisi lasan ( weld position), tebal material yang akan di las (material type/thickness) seperti parameter yang digambarkan pada Gambar 4.

Gambar 4. Parameter pada Welding Simulator

Pada Gambar 4, terdapat menu welding position, menu inilah yanga dapat digunakan untuk mengukur performa welder. Kemudian dilakukan pengambilan responden, untuk memperagakan alat welding simulator. Seperti dalam sebuah publikasi diketahui bahwa penggunaan alat welding simulator yang menggunakan tiga bentuk posisi yaitu flat, vertikal dan over head dapat diukur menggunakan HRV (Heart Rate Variability) sebagai penilaian objektif dan SSQ (Simulator Sickness Quesioner) sebagai penilaian subjektif. Pengukuran kedua hal tersebut diketahui ada atau tidaknya hubungan atau pengaruh manusia terhadap penggunaaan alat tersebut terhadap performance operator simulator welding. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mencari hubungan antara posisi penggunaan welding simulator,VIMS (Visual Induced Motion Sickness) dan performance welding.  Pada penilaian HRV, ternyata heart rate berpengaruh secara signifikan terhadap penggunaan alat welding simulator yaitu didapatkan hasil sebesar (F(2,23) = 3.670, p<0.05), sedangkan pada SSQ dalam analisis statistik RM ANOVA tidak ada pengaruh secara signifikan untuk gejala oculomotor dan disorientation tetapi pada gejala nausea berpengaruh secara signifikan karena didapat hasil nausea (F(2,23)=3.598, p<0.05) oculomotor (F(2,23)=0.459, p>0.05), disorientation (F(2,23)=1.467, p>0.05 dan total (F(2,23)=0.242, p>0.05) . Hasil ini menunjukkan bahwa dalam penggunaan welding simulator dalam jangka waktu yang lama akan berpengaruh pada kestabilan heart rate pada welder sedangkan dari segi subjektif faktor mual atau gangguan pada pencernaan sangat tinggi, untuk itu dianjurkan dalam penggunaan welding simulator pada saat kondisi fit atau sehat yang pada dasarnya gejala mual terkait dengan nausea sebagai variabel yang paling mendekati signifikan. Dari pengukuran tersebut menunjukkan hasil yang berbanding terbalik dimana performance welder dengan score 1344,35 memiliki nilai tertinggi pada posisi vertical yang menunjukkan bahwa posisi vertical adalah posisi yang paling mudah dikuasai oleh responden tetapi memiliki heart beat yang tinggi sedangkan posisi flat merupakan posisi tersulit dengan skor 1239,96 namun menghasilkan heart beat yang paling rendah dan over head merupakan posisi yang seimbang antara heart beat dengan performance yang berada pada posisi sedang dengan skor sebesar 1181,73[5].

Gambar 5. Performance Welding Simulator Score

Daftar Pustaka

  • Wibirama, S., dan Hamamoto, K.(2014) 3D Gaze Tracking on Stereoscopic Display Using Optimized Geometric Method,” IEEJ Transactions on Electronics, Information and Systems.134, no.3, pp.345–352.
  • Wibirama, S., Wijayanto, T., Nugroho, H.A., Bahit, M., dan Winadi, M.N.(2015). Quantifying Visual Attention and Visually Induced Motion Sickness During Day-Night Driving and Sleep Deprivation. International Conference on Data and Software Engineering.
  • Dziuda, L., Biernacki, M.P., Baran, P.M., dan Truszczynski, O.E.(2014). The Effect of Simulated Fog and Motion on Simulator Sickness in a Driving Simulator and the Duration of After-Effects. Journal Applied Ergonomics 45 : 406-412.
  • AWS( American Welding Societie). 2015. Structural Welding Code Steel- AWS D.1.1.
  • Fedia Restu dan Nurul Laili Arifin (2018). Analisis Pengaruh Heart Rate Variability Dalam Penggunaan Welding Simulator Terhadap Performance Welder. Journal Integrasi. Vol 8.
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Warung Sains Teknologi

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri. Sampai saat ini, sains dan teknologi berkesan ekslusif yang hanya ada di laboratorium dan tidak mampu secara langsung berdampak kepada masyarakat. Akibatnya masyarakat, pemerintah dan industri tidak menjadikan sains sebagai sarana mengatasi permasalahan atau membuat kebijakan. Untuk itu, warstek hadir untuk menjawab tantangan tersebut.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar