Rekam Jejak Demografi dan Ekologi : Kepunahan Badak Sumatra dari Masa ke Masa

Bagikan Artikel ini di:

Oleh: Ulya Zulfa

Fakta sejarah tentang kepunahan spesies di Jaman Es sepertinya telah diilustrasikan di dalam film animasi Ice Age. Dalam film tersebut, spesies mamalia Mammouth diceritakan akan mengalami kepunahan karena perubahan iklim, kelangkaan makanan, serta perburuan manusia. Beberapa frame dari atmosfer memperlihatkan bahwa daratan di bumi masih menyatu. Tidak jauh berbeda dari film, rekam jejak kepunahan Badak Sumatra secara signifikan terjadi pada Jaman Es. Pada periode tersebut juga terjadi perubahan geografis dari hamparan daratan Asia dalam sejarah Pangaea menjadi pecahan kepulauan Indonesia, semenanjung Malaya, dan benua Asia saat ini.

Gambar 1. Analisis Pairwise Sequentially Markovian Coalescent (PSCM) dengan sekuense genetik Badak Sumatra yang dikonversikan ke dalam unit demografi

Sepanjang sejarah peradaban, bumi telah menjadi tempat kepunahan berbagai spesies penghuninya. Umur bumi diukur dan didefinisikan menjadi beberapa jaman, mulai dari Pliocene, Pleistocene-Glacial, Holocene, dan peradaban modern saat ini. Studi analisis sekuense genetik terbaru mencakup sekuense genetik lengkap Badak Sumatra dan data tersebut disimpan dalam Gen Bank: PEKH00000000 [2]. Analisis genetik menggambarkan bahwa jejak demografi spesies Badak Sumatra, Dicerorhinus sumatrensis and Rhinoceros spp., telah ada sejak jaman pertama, tepatnya pada seperempat akhir masa Pliocene. Jumlah spesies Badak Sumatra sangat fluktuatif saat memasuki jaman selanjutnya. Ledakan populasi di awal Jaman Pleistocene (2.58 Ma, diterjemahkan menjadi 2.58 juta tahun) disebabkan oleh migrasi dan ekspansi populasi Badak Sumatra ke wilayah benua Asia bagian utara, bagian tenggara, sampai daratan Sunda. Fosil purbakala Badak Sumatra telah banyak ditemukan pada kawasan migrasi tersebut. Selain itu, bukti sejarah juga mendukung bahwa badak banyak menghuni kawasan Cina, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Semenanjung Malaya, juga pulau Sumatra dan Kalimantan. Namun, ledakan populasi tersebut tidak berlangsung dalam jangka panjang dan secara drastis mengalami kemerosotan spesies yang tinggi bahkan sebelum memasuki Era Glacial atau Jaman Es. Pada akhirnya, kepunahan spesies Badak Sumatra terus berlanjut secara perlahan dalam jangka panjang pada akhir Jaman Es (12 ka, diterjemahkan menjadi 12 ribu tahun). Perubahan iklim dan kenaikan air laut pada akhir Jaman Es dihubungkan dengan kepunahan berbagai spesies seperti buaya, burung, dan mamalia, termasuk badak.

Tabel 1. Ukuran Populasi Efektif (Ne) pada jaman Pleistocene-Glacial [2]

Baca juga:

Penelusuran genetik modern [1], jejak fosil, dan dokumen sejarah digunakan sebagai model prediksi pola persebaran demografi Badak Sumatra dan kondisi ekologi yang mempengaruhinya [2]. Informasi tersebut digabungkan dengan membandingkan data saat ini dengan data pada Jaman Es (Pleistocene-Glacial), khususnya Last Interglacial Period (LGM:120-140 ka, diterjemahkan menjadi 120-140 ribu tahun) dan Last Glacial Maximum (LIG:22 ka, diterjemahkan menjadi 22 ribu tahun). Hasil gabungan sumber informasi tersebut dibuat menjadi gambar peta Ecological Niche Models (ENMs) yang secara menyeluruh mengambarkan perbedaan bentang daratan dimana daratan Asia, Semenanjung Malaka, Indonesia (Sumatra, Kalimantan, Sunda, Jawa) masih menyatu pada periode LGM. Secara ekologi, kecocokan peta persebaran populasi Badak Sumatra sangat tinggi di wilayah Indonesia dan Asia Tenggara (ditunjukkan dengan kepekatan warna biru, hijau, dan jingga) dibandingkan dengan  wilayah lain. Kecocokan Badak Sumatra terhadap habitat hutan tropis sangat tinggi karena iklim tropis yang nyaman untuk perkembangan populasi Badak Sumatra. Namun, Pada periode LGI, kesatuan bentang daratan telah terpisahkan oleh Laut Cina, Selat Malaka, Selat Karimata, dan Laut Jawa. Secara geografis, terjadi isolasi endemik spesies Badak Sumatra di berbagai pulau Indonesia (Sumatra, Kalimantan, Sunda, Jawa, Sulawesi). Sayangnya, selama periode Pleistocene-Glacial, populasi Badak Sumatra sudah mengalami kemerosotan sejumlah 28.500- 54.000 ekor menjadi 1.300-3.600 ekor menurut perhitungan Ukuran Populasi Efektif (Ne) [2]. Namun demikian, saat ini terhitung <216 ekor jumlah Badak Sumatra yang tersisa dan kepunahan tersebut dipengaruhi peradaban manusia. Oleh karena itu, Badak Sumatra yang merupakan spesies asli Indonesia sangat perlu dilestarikan sebagai kekayaan fauna.

 Gambar 2. Prediksi Distribusi Badak Sumatra [2]

Gambar 3.  Badak Sumatra. Sumber: The IUCN Red List of Threaten Species [3].

Referensi :

[1] Gautier, M., Moazami, M. K., Leveziel, H., Parinello, H., Grohs, C., Rialle, S., Kowalczyk, R., and Flori, L. 2016. Deciphering the wisent demographic and adaptive histories from individual. Molekuler Biology Evolution, DOI: 10.1093/molbev/msw144.

[2] Mays H. L. Jr., Hung C. M., Shaner P. J., Fan J., Rekulapally S., Primerano D. A. 2018. Genomic Analysis of Demographic History and Ecological Niche Modeling in the Endangered Sumatran Rhinoceros Dicerorhinus sumatrensis. Current Biology, DOI:10.1016/j.cub.2017.11.021.

[3] The IUCN. 2018. The IUCN Red List of Threaten Species. Diakses dari: http://www.iucnredlist.org/details/6553/0 pada 22 Mei 2018.

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Bagikan Artikel ini di:

Tinggalkan Balasan