PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA: Hasil Kajian Ilmuwan Hawai dan Ilmuwan California Terhadap Kondisi Perubahan Iklim Indonesia Di Masa Yang Akan Datang.

Oleh: Sudirman Saknar

Iklim dunia secara menyeluruh sedang mengalami kerusakan sebagai konsekuensi dari aktivitas manusia. Hal ini disebabkan oleh peningkatan konsentrasi gas-gas yang menghalangi pantulan energi sinar matahari dari bumi yang menyebabkan peningkatan efek rumah kaca dan mengakibatkan bumi, planet yang kita huni menjadi lebih panas.

Perubahan iklim didefinisikan sebagai perubahan signifikan dari iklim maupun variabilitas iklim yang menetap dalam jangka waktu yang lama (satu dekade) atau seterusnya (IPCC, 2001). Perubahan iklim dapat disebabkan oleh proses perubahan alamiah internal (misalnya badai El Nino) maupun eksternal (seperti perubahan persisten yang diinduksi oleh aktivitas manusia, berupa perubahan komposisi udara dan perubahan peruntukan tanah).

Para ilmuwan membuat model perubahan iklim menggunakan observasi perubahan dimasa lampau terhadap temperatur udara, presipitasi, ketebalan seliput salju dan es, ketinggian permukaan air laut, sirkulasi arus air laut dan udara, dan kejadian ekstrim lainnya. Hal ini adalah data bersejarah yang diukur secara langsung maupun dari data sekunder. Hasil observasi ini selanjutnya dapat digunakan dengan kombinasi model matematika untuk menstimulus apa yang mungkin terjadi dimasa yang akan datang pada vegetasi alamiah, iklim global, iklim regional, dan kejadian berdampak besar yang terjadi sesaat.

Baru-baru ini terdapat sebuah hasil kajian ilmiah yang dilakukan oleh ilmuwan Hawai yaitu Mora dkk tentang Global Risk of Deadly Heat.  Dalam kajian tersebut Mora dkk menyebutkan bahwa Perubahan iklim dapat meningkatkan risiko kondisi yang melebihi kapasitas human thermoregegatory. Mora dkk dalam kajian tersebut melakukan analisis global kejadian panas letal untuk mengindentifikasi kondisi iklim yang berkaitan dengan angka kematian dan kemudian dilakukan proyeksi iklim untuk mengetahui kejadian kondisi iklim yang dapat menimbulkan panas mematikan di masa yang akan datang. Para Ilmuawan Hawai tersebut dalam kajian menyatakan bahwa sebelum melakukan kajian ilmiah mereka telah melakukan proses ulasan (review) dari sejumlah paper yang telah diterbitkan antar tahun 1980 -2014 dan dalam proses review paper yang mereka lakukan , mereka menemukan bahwa terdapat  783 kasus terkait hubungan angka kematian dengan gelombang panas dari 164 kota dalam 36 negara. Data yang digunakan oleh Mora dkk dalam melakukan kajian resiko gelombang panas mematikan tersebut menggunakan data pemodelan iklim berupa data historikal suhu dan kelembapan udara serta data proyeksi suhu dan kelembapan udara. Data Proyeksi yang digunakan tersebut mencakup data proyeksi berupa Reprenstative Concentration Pathway (RCP). RCP dalam dunia perubahan iklim dikenal memiliki beberapa bentuk scenario iklim yaitu RCP 2.5, RCP 4.5 dan RCP 8.5. Dari ketiga scenario RCP tersebut menunjukkan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca dan radiative forcing yang berbeda-beda , semakin tinggi nilai skala RCP nya maka bentuk skenario terburuk yang digambarkan akibat peningkatan gas rumah kaca dan radiative forcing akan semakin tinggi pula seperti RCP 8.5 yang menunjukkan bentuk pengambaran skenario kondisi iklim yang semakin buruk di masa yang akan datang. Selain itu dalam kajian yang dilakukan Mora dkk tersebut digunakan teknik Support Vector Machine (SVM). Teknik SVM ini bertujuan untuk menghasilkan threshold (batas ambang) suhu dan kelembapan udara yang memungkinkan menyebabkan gelombang panas mematika dan dalam paper yang dikaji oleh Mora dkk tersebut menyebutkan bahwa batas ambang suhu yang memungkinkan menyebabkan kematian adalah berada di atas ambang 37 derajat Celcius.

Berdasarkan hasil yang didapat dari penjabaran data dan teknik yang digunakan dalam kajian yang dilakukan Mora dkk menyebutkan bahwa proyeksi jumlah hari per tahun yang melewati batas ambang suhu panas mematikan mengalami peningkatan secara spasial yaitu dari wilayah lintang menengah ke wilayah ekuator. Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut:

Berdasarkan dari hasil grafik proyeksi di atas menyebutkan bahwa pada tahun 2100 mendatang, wilayah lintang menengah ( sekitar lintang 40 derajat LU atau LS akan terekspose gelombang panas mematikan 60 hari setiap tahun. Selain itu pada wilayah lintang menengah ( seperti New York) suhu udara di wilayah  tersebut akan mendekati nilai ambang batas panas mematikan yang terjadi hanya pada saat musim panas dibandingkan wilayah tropis ( Seperti Jakarta ) yang suhu udaranya mendekati ambang batas panas mematikan setiap tahun. Sehingga berdasarkan hal tersebut Mora dkk meyakini bahwa Indonesia akan menghadapi lebih dari 300 gelombang panas setiap tahun. Nasib serupa akan dialami Filipina, Brazil, Venezuela, Sri Lanka, India, Australia dan Nigeria. Dengan temperatur dan kelembapan yang tinggi, hanya butuh sedikit pemanasan untuk mengubah cuaca menjadi mematikan.

Namun meskipun demikian di sisi lain terdapat hasil kajian yang menyebutkan bahwa kondisi iklim Indonesia di masa depan akan mengalami kondisi iklim yang lebih basah. Hal ini ini diungkap oleh ilmuwan yang berasal dari California yaitu James Randerson dkk. Ilmuwan California dalam hasil kajian nya yang diungkap dalam UCI News menyebutkan bahwa hasil pemodelan iklim memprediksi bahwa peningkatan gas rumah kaca akan menyebabkan hutan hujan di wilayah Amazon mongering di masa depan  sedangkan sangat basah akan terjadi di wilayah hutan Afrika dan Indonesia. Dalam hasil kajian yang diungkapkan tersebut menyebutkan bahwa perubahan pola curah hujan dalam skala luas (global) memiliki hubungan terhadap kondisi hutan wilayah tropis dalam merespon  peningkatan konsentrasi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh manusia khususnya di wilayah kerapatan tutupan lahan hutan di wilayah Amazon dan sekitar Asia. Hal ini dikarenakan hutan hujan tropis akan mengurangi konsentrasi gas rumah kaca melalui proses fotosintesis. Sehingga dapat dikatakan bahwa hasil kajian James Randerson ini secara tidak langsung menyatakan bahwa Indonesia akan mengalami kondisi yang sangat basah di masa akan datang jika hanya kondisi ekosistem hutan di wilayah Indonesia dapat terjaga dengan baik dengan kata lain tidak terjadi deforestasi.

Referensi:

  1. Mora dkk. 2017. Global Risk of Deadly Heat. Journal of Nature Climate Change. Hal 501-506 ,Vol: 7. Macmillan Publishers Limited, part of Springer Nature.
  2. https://news.uci.edu/2018/04/27/scientists-project-a-drier-amazon-and-wetter-indonesia-in-the-future/
  3. Kooperman, Gabriel, dkk 2017. Forest response to rising CO2 drives zonally asymmetric rainfall change over tropical continents. Summary . University of California.
  4. http://www.dw.com/id/indonesia-akan-didera-gelombang-panas-mematikan/a-39322802
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Warung Sains Teknologi

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri. Sampai saat ini, sains dan teknologi berkesan ekslusif yang hanya ada di laboratorium dan tidak mampu secara langsung berdampak kepada masyarakat. Akibatnya masyarakat, pemerintah dan industri tidak menjadikan sains sebagai sarana mengatasi permasalahan atau membuat kebijakan. Untuk itu, warstek hadir untuk menjawab tantangan tersebut.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar