PULSA (Pupuk Cair Limbah Sabut Kelapa) : Solusi Terbaik Bagi Petani yang  Aman,  Praktis, dan Terjangkau.

Oleh : Mardian Isnawati

Indonesia adalah negara penghasil kelapa terbesar, oleh karena itu komoditas inilah yang menjadikan penggerak utama perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2008-2012, Indonesia menempati urutan pertama di dunia sebagai Negara produsen kelapa diikuti oleh Filipina, India, Brazil, dan Sri Langka. Selain itu, Indonesia juga berada di urutan pertama sebagai Negara eksportir kelapa di dunia dengan rata-rata kontribusi ekspor selama lima tahun terakhir (2007- 2011) sebesar 141.341 ton. Namun, sejalan dengan semakin meningkatnya produksi kelapa dari tahun ke tahun, tentunya akan meningkatkan pula produksi limbahnya. Umunya limbah pada industri kelapa sawit mengandung bahan organik yang apabila tidak ditangani dengan tepat berdampak pada pencemaran lingkungan[1].

Gambar 1. Limbah sabut kelapa industri.

Pengolahan limbah kelapa sangat perlu untuk diperhatikan, mengingat produksinya yang semakin meningkat. Pengolahan batok pada beberapa daerah dirasa menguntungkan sehingga muncul banyak home industry yang bergerak dibidang pemisahan daging, batok, dan sabut kelapa. Pemanfaatan limbah sabut kelapa pun masih relative kurang terutama dikarenakan minimnya informasi dan pengetahuan tentang pengolahan limbah sabut kelapa. Sedangkan limbah sabut kelapa ini yang dapat dihasilkan setiap hari sekitar 1-2 ton dalam waktu satu minggu, karena memang buah kelapa terdiri dari 45% dari sabut kelapa, sehingga jika ditimbang sabut kelapa akan lebih berat dari batok dan daging kelapa. Home industry juga menjualnya dengan harga yang relatif murah[2].

Di dalam sabut kelapa terkandung unsur-unsur hara dari alam yang sangat dibutuhkan tanaman yaitu kalium (K). selain kalium, unsur lain yang terkandung adalah kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), dan fosfor (P). apabila sabut kelapa direndam, kalium dalam sabut akan larut dalam air sehingga mengahasilkan air rendaman yang mengandung unsur K. Air hasil rendaman tersebut sangat baik jika diberikan sebagai pupuk serta pengganti pupuk anorganik untuk tanaman[3]. Berdasarkan hasil penelitian Wijaya (2017) perlakuan pupuk cair sabut kelapa terhadap tanaman menunjukan hasil bahwa dengan semakin bertambahnya volume pupuk cair yang diberikan maka kelarutan dan ketersediaan hara pada tanaman juga semakin meningkat yang terlihat pada pengaruh nyata terhadap penambahan bobot kering tajuk tanaman [4].

Baca juga:

Cara pembuatan pupuk organik cair sabut kelapa juga terbilang mudah dilakukan oleh masyarakat umumnya, diawali dengan pemotongan dan penguraian sabut kelapa, kemudian sabut kelapa yang telah dibersihkan tersebut dimasukkan ke dalam drum, kemudian air dituangkan kedalam drum hingga mencapai setengah tinggi drum. Drum tersebut ditutup rapat, kedap air dan tidak terkena sinar matahari langsung, rendaman tersebut didiamkan selama 15 hari. Kemudian setelah 15 hari tutup drum dibuka dan diperhatikan air rendaman, jika air rendaman berwarna kuning kehitaman, pupuk cair siap digunakan [5].

Gambar 2. Ilustrasi pembuatan pupuk cair limbah sabut kelapa.

Alternatif penggunaan pupuk cair sabut kelapa sebagai pupuk organik untuk tanaman sangat menguntungkan, karena selain biaya yang murah, mudah di dapat, pembuatan yang praktis, juga aman dan ramah lingkungan, mengingat penggunaan pupuk anorganik (pupuk kimia) dalam jangka panjang menyebabkan kadar bahan organik tanah menurun, struktur tanah rusak, dan tentunya pencemaran lingkungan. Hal ini jika terus berlanjut, bukan tidak mungkin terjadi ketidakseimbangan alam akibat dari menurunnya kualitas tanah dan kesehatan tanah. Dengan demikian, PULSA (Pupuk Cair Limbah Sabut Kelapa) sangat berpotensi sebagai alternatif bagi para petani dalam mencukupi nutrisi tanaman yang memiliki banyak keuntungan dan terutama untuk mengurangi limbah produksi industri kelapa yang tujuannya sama, yaitu menjaga keseimbangan alam dengan mengurangi pencemaran lingkungan.

Referensi

[1]. Direktorat Jenderal Perkebunan. 2013. Statistik Perkebunan Indonesia. Kelapa Sawit 2012-2013. Jakarta(ID): Kementerian Pertanian.

[2]. Hanum MS. 2015. Eksplorasi limbah sabut kelapa (Studi kasus : Desa Handapherang Kecamatan Cijeunjing Kabupaten Ciamis). e-Proceeding of Art and Design 2(2): 930-938.

[3]. Sari SY. 2015. Pengaruh Volume Pupuk Organik Cair Berbahan Dasar Serabut Kelapa (Cocos nucifera) Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Panen Sawi Hijau (Brassica juncea). [Skripsi]: Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

[4]. Wiajaya R, Madjid M, Damanik B, Fauzi. 2017. Aplikasi pupuk organic cair darisabut kelapa dan pupuk kandang ayam terhadap ketersediaan dan serapan kalium serta pertumbuhan tanaman jagung pada tanah Inceptisol Kwala Bekala. Jurnal Agroekoteknologi FP USU 5(2): 249-255.

[5]. Susetya, Darma. 2012. Panduan Lengkap Membuat Pupuk Organik (Untuk Tanaman Pertanian dan Perkebunan). Yogyakarta(ID): Pustaka Baru Press.

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Warung Sains Teknologi

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri. Sampai saat ini, sains dan teknologi berkesan ekslusif yang hanya ada di laboratorium dan tidak mampu secara langsung berdampak kepada masyarakat. Akibatnya masyarakat, pemerintah dan industri tidak menjadikan sains sebagai sarana mengatasi permasalahan atau membuat kebijakan. Untuk itu, warstek hadir untuk menjawab tantangan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *